Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

FAKTOR KEBODOHAN & Pengaruhnya Terhadap Hukum-Hukum Keyakinan (Pasal VII) Tema Kedua

Tema Kedua:

Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy

Penegasan Para Ulama Madzhab Malikiy Perihal Tidak Ada Pengudzuran Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masail Dhahirah

(14) Al Imam Al Qarafiy Al Malikiy berkata dalam konteks pembicaraannya tentang macam-macam kebodohan, dan apa yang dianggap sebagai udzur dan apa yang tidak dianggap sebagai udzur, dimana beliau berkata: “Macam kedua adalah: kebodohan yang mana pemilik syari’at ini tidak memberikan kelapangan terhadapnya di dalam syari’at ini, dan tidak memaafkan orangnya. Sedangkan batasan bakunya adalah bahwa setiap hal yang tidak sukar menghindar darinya dan tidak sulit atas dirinya maka ia tidak dimaafkan dan taklif untuk mengerjakan tidak lenyap. Dan macam ini berlaku di dalam ushuluddien atau i’tiqadiyyat dan ushulul fiqh dan sebagian ahkam fiqhiyyah far’iyyah. Adapun ushuluddien maka kebodohan tidak dianggap di dalamnya, namun wajib mengetahui aqidah yang benar dengan belajar dan bertanya, dan barangsiapa menganut aqidah bersama kebodohan maka dia telah memikul dosa yang nyata, karena Musyarri’ (Allah) telah memberikan pengetatan yang besar di dalam ‘aqaid ushuluddien, sampai pada tingkat bahwa seseorang seandainya mengerahkan segenap kemampuannya dan bersusah payah di dalam mengenal aqidah yang benar namun upaya kerasnya ini tidak menghantarkannya kepada (kebenaran) itu, maka dia itu dosa lagi kafir menurut pendapat yang masyhur dari berbagai madzhab, dan dia tidak diudzur dengan sebab kesalahannya dalam ijtihad, karena orang itu dituntut untuk menepati kebenaran dalam aqidah, dan dalam mengenal dalil-dalil Wahdaniyyah Allah serta dalam rincian ushuluddien. Ini berbeda dengan furu’ fiqhiyyah yang mana ia bukan termasuk ushul, maka syari’at ini telah memaafkan kekeliruan di dalamnya setelah ijtihad dan pencarian, berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد”

“Bila seorang hakim berijtihad terus ia menepai kebenaran maka ia mendapat dua pahala, dan bila ia keliru maka dia mendapat satu pahala.”[1]

(15) Dan beliau rahimahullah berkata juga:

“ولذلك لم يعذره الله بالجهل في أصول الدين إجماعاً “

“Dan oleh sebab itu Allah tidak menudzurnya dengan sebab kejahilan di dalam ushuluddien berdasarkan Ijma.”[2]

(16) Dan beliau berkata di dalam apa yang telah dinukil darinya oleh Ibnu Hajar Al Haitamiy seraya mengakuinya di dalam Al I’lam saat berbicara tentang doa-doa Shufiyyah yang di dalamnya terdapat ucapan yang syirik dan kekafiran yang mengeluarkan dari agama Islam, dimana beliau berkata: “Dan ketahuilah bahwa kebodohan terhadap apa yang ditimbulkan oleh doa-doa ini adalah bukan udzur di sisi Allah ta’ala; karena sesungguhnya kaidah syar’iyyah telah menunjukan bahwa setiap kebodohan yang bisa dihindari oleh orang mukallaf adalah tidak bisa menjadi hujjah bagi orang bodoh, kemudian beliau berkata: “Ya, kebodohan yang menurut kebiasaan tidak mungkin bisa dilenyapkan oleh orang mukallaf adalah menjadi udzur, seperti seandainya seorang pria menikahi saudarinya yang dia kira wanita ajnabiyyah (lain)…. sedangkan sumber kerusakan yang masuk terhadap orang di dalam doa-doa ini adalah kebodohan, maka hati-hatilah kamu terhadap kebodohan itu dan berambisilah untuk memiliki ilmu, karena ilmu itu adalah keselamatan dan hindarilah kebodohan karena ia itu kesesatan.”[3]

(17) Ucapan Ad Dardir Al Malikiy, berkata dalam Asy Syarh Ash Shaghir:

“ولا يُعذر بجهل، أو سكر، أو تهور، أو غيظ، أو بقوله: أردت كذا، قال في الشرح: (ولا يعذر الساب بجهل)؛ لأنه لا يعذر أحد في الكفر بالجهل”

“Dan tidak diudzur dengan sebab kebodohan, atau mabuk, atau serampangan, atau kedongkolan atau dengan sebab ucapannya: Saya maksudkan begini. Berkata di dalam Asy Syarh: (Dan orang yang menghina (Rasul) tidak diudzur dengan sebab kebodohan); karena sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan.”[4]

(18) Ucapan Al Qadliy ‘Iyadl Al Malikiy, beliau rahimahullah berkata:

“لا يُعذر أحد في الكفر بالجهالة، ولا بدعوى زلل اللسان، ولا بشيء مما ذكرناه، إذا كان عقله في فطرته سليمة، إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان، وبهذا أفتى الأندلسيون على من نفى الزهد عنه صلى الله عليه وسلم”

“Tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan, dan tidak pula dengan sebab klaim keterpelesetan lidah, serta tidak pula dengan sebab sesuatu dari hal-hal yang telah kami utarakan, bila akalnya masih waras, kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tentram dengan keimanan. Dan dengan inilah para ulama Andalusia telah mengeluarkan fatwa terhadap orang yang menafikan sikap zuhud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5]

(19) Ucapan Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’iy seraya mengakui ucapan Al Qadliy ‘Iyadl yang lalu, beliau berkata dalam kitab Al I’lam setelah menukil ucapan Al Qadliy yang tidak mengudzur dengan sebab kebodohan di dalamnya: Dan apa yang beliau sebutkan itu dhahirnya sejalan dengan qawaid madzhab kami, karena patokan di dalam vonis kafir itu adalah terhadap hal-hal yang dhahir, dan tidak perlu meninjau kepada maksud dan niat, serta tidak perlu memperhatikan kepada qarinah-qarinah keadaannya. Ya, diudzur orang yang mengklaim kebodohan bila dia diudzur karena kondisinya baru masuk Islam atau jauhnya dari tempat orang-orang yang berilmu, sebagaimana hal itu diketahui dari apa yang saya ungkapkan darinya dalam Ar Raudlah, dan diudzur juga menurut pendapat yang kuat dengan klaim sabqullisan (ketidaksengajaan lidah) berkaitan dengan pengangkatan vonis bunuh darinya, walaupun tidak diudzur di dalamnya berkaitan dengan keterjadian thalaq dan pemerdekaannya, sedangkan perbedaannya adalah bahwa itu adalah hak Allah ta’ala yang mana ia itu dibangun di atas sikap memaafkan, berbeda dengan dua hal ini.”[6]

Maka lihatlah pengakuan Ibnu Hajar Al Haitamiy terhadap ucapan Al Qadliy ‘Iyadl Al Malikiy, dan ucapannya bahwa hal itu sejalan dengan madzhab kami serta pengakuannya terhadap ucapannya: “Karena tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan,” serta pengecualiannya pada keadaan-keadaan khusus yang keluar dari kaidah ini, di antaranya: orang yang baru masuk Islam atau orang yang hidup di pedalaman yang jauh dari negeri kaum muslimin atau jauh dari orang-orang yang berilmu; maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan sebab kebodohan. Dan begitu juga orang yang terpeleset lidahnya sehingga muncul kekafiran dari ucapannya, maka pengkafiran orangnya menjadi ajang perselisihan di antara ulama, dimana Al Qadliy ‘Iyadl dan fuqaha Malikiyyah di Andalusia memvonisnya kafir, sedangkan Al Haitamiy dalam kitab Al I’lam tidak memvonisnya kafir, dan inilah yang kuat sebagaimana yang telah dijelaskan di banyak tempat dari kitab ini.

(20) Al Imam Syamsuddin Ibnu ‘Arafah Al Malikiy yang terkenal dengan nama Ad Dasukiy berkata dalam penjelasannya terhadap ktab Asy Syarhul Kabir, dalam konteks pembicaraannya tentang riddah dan penjelasannya bahwa di dalamnya tidak ada udzur dengan sebab kebodohan. Beliau rahimahullah berkata:

“قوله: أو شك في ذلك أي سواء كان ممن يُظّنُّ به العلم أو لا؛ لأن الحق أنه لا يُعذر في موجبات الكفر بالجهل، كما صرح به أبو الحسن المالكي في شرح رسالة محمد بن أبي زيد القيرواني”

“Ucapannya: atau ragu di dalamnya hal itu, yaitu baik hal tersebut muncul dari orang yang diduga memiliki ilmu ataupun tidak; karena yang benar adalah bahwa tidak diudzur dengan sebab kebodohan di dalam hal-hal yang mengkafirkan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Abul Hasan Al Malikiy dalam Syarh Risalah Muhammad Ibni Abi Zaid Al Qairuwaniy.”[7]

(21) Al Imam Shalih Ibnu Abdis Sami’ Al Abiyy Al Malikiy berkata dalam kitab Jawahir Al Iklil Fisy Syarh Mukhtashar Khalil:

“إما لجهل، أو سكر أو تهور –أي توسع ومبالغة في كثرة كلامه، وقلة مراقبته وعدم ضبطه، فلا يعذر بالجهل، ولا بدعوى زلل اللسان”

“Baik karena kebodohan atau mabuk atau tahawwur -yaitu serampangan dan berlebihan dalam banyak bicaranya dan kurang pengawasannya serta tidak ada pengendaliannya- maka tidak diudzur dengan sebab kebodohannya dan tidak pula dengan klaim keterpelesetan lidah.”[8]

(22) Al Qarafiy Al Malikiy berkata dalam konteks pembicaraannya tentang Faktor Kebodohan: “Adapun furu bukan ushul maka pemilik syari’at ini telah memaafkan hal itu, dan barangsiapa mengerahkan segenap kemampuannya di dalam furu’ terus ternyata dia keliru maka dia mendapat satu pahala, dan barangsiapa menepati kebenaran maka dia mendapat dua pahala sebagaimana yang ada dalam hadits. Ulama berkata: Dan ushul fiqh diikutkan kepada ushuluddien. Abul Husen berkata dalam Al Mu’tamad Fi Ushulil Fiqhi: “Sesungguhnya ushul fiqhi itu khusus berkaitan dengan tiga hukum tentang fiqh, bahwa orang yang benar di dalamnya adalah satu, dan orang yang keliru di dalamnya adalah dosa, serta tidak boleh taqlid di dalamnya. Dan tiga hal yang beliau hikayatkan ini adalah sama sepenuhnya di dalam ushuluddien, sehingga nampaklah di hadapanmu perbedaan antara kaidah suatu yang mana kebodohan adalah udzur di dalamnya dengan kaidah suatu yang mana kebodohan adalah bukan udzur di dalamnya.”[9]

(23) Beliau rahimahullah berkata juga seraya membedakan antara masail yang mana mukallaf diudzur dengan sebab kebodohan di dalamnya dengan masail yang tidak diudzur di dalamnya, dimana beliau berkata:

“Dan keempatnya: Barangsiapa yang membunuh seorang muslim yang ada di barisan orang-orang kafir yang dia mengiranya orang kafir harbi, maka sesungguhnya tidak ada dosa terhadapnya dalam ketidaktahuannya terhadapnya dikarenakan kesulitan menghindar dari hal itu dalam kondisi seperti itu, dan seandainya dia membunuhnya dalam kondisi lapang tanpa melakukan pengecekan hal itu tentu dia dosa.

Dan kelimanya: Hakim memutuskan dengan landasan para saksi palsu sedang dia tidak mengetahui keadaan mereka, maka tidak ada dosa atasnya dalam hal itu karena sukarnya penghindaran dari hal itu atasnya, dan silahkan engkau qiyaskan terhadap hal itu apa yang muncul di hadapanmu dari hal yang semisal ini, sedangkan selainnya adalah dibebankan kepadanya, dan barangsiapa melakukannya bersama kebodohan maka dia telah dosa, terutama di dalam hal-hal keyakinan; karena pemilik syari’at ini telah melakukan pengetatan yang sangat di dalam ushuluddien, di mana seandainya seseorang mengerahkan segenap usahanya dan menuangkan maksimal kemampuannya dalam melenyapkan kejahilan dari dirinya perihal suatu Shifat Allah ta’ala, atau perihal sesuatu dari ushuluddien yang wajib diyakini dan kemudian kejahilan itu tidak terangkat, maka sesungguhnya dia itu dosa lagi kafir dengan meninggalkan keyakinan itu yang mana ia itu termasuk deretan iman, lagi dia dikekalkan di neraka menurut pendapat yang masyhur dari berbagai.”[10]

(24) Dan di dalam kitab Bulghatus Salik Li Aqrabil Masalik ila Madzhab Al Imam Malik milik Ahmad Ibnu Muhammad Al Malikiy di dalam konteks pembicaraannya tentang riddah:

“ولا يعذر الساب (بالجهل)؛ لأنه لا يُعذر أحد في الكفر بالجهل”

“Dan orang yang menghina Rasul tidak diudzur (dengan kebodohan); karena sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan” …..hal ini diakui oleh pemilik kitab itu.[11]

Maka terbuktilah dari penegasan para ulama madzhab Malikiy bahwa di sana ada kaidah umum -menurut mereka- yang mencakup orang yang menghina (Rasul) dan yang lainnya, yaitu: (Sesungguhnya tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan), sebagaimana ia adalah ungkapan pemilik “Bulghatus Salik” dan pemilik “Asy Syarhu Ash Shaghir” dan pemilik “Jawahir Al Iklil”. Dan bila engkau mengamati ucapan Al Imam Syamsuddien Ibnu ‘Arafah “Karena yang benar adalah bahwa tidak diudzur dengan sebab kebodohan di dalam hal-hal yang mengkafirkan,” dan penukilan kaidah ini dari Al Imam Abul Hasan Al Malikiy, maka nampak jelaslah kesalahan pendapat orang yang mengklaim bahwa ulama mengecualikan orang yang menghina Nabi dan orang yang memperolok-olok ajaran dan mereka tidak mengudzur keduanya tapi mengudzur selain keduanya.

(25) Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdul Aziz Hamd Alu Mubarak Al Ahsai, berkata:

“لا يعذر الساب بجهل، لأنه لا يعذر أحد في الكفر بالجهل ولا يعذر بتهور، وهو كثرة الكلام بدون ضبط، ولا يعذر بغيظ، ولا يقبل منه دعوة سبق اللسان، ولا دعوى سهو ولا نسيان. قلت: “ومحل هذا ما لم تقم قرينة وإلا فيعذر بذلك”

“Orang yang menghina Nabi tidak diudzur dengan sebab kebodohan, karena tidak diudzur seorangpun di dalam kekafiran dengan sebab kebodohan, dan tidak diudzur dengan sebab tahawwur, yaitu banyak berbicara tanpa kendali, dan tidak diudzur juga dengan sebab kedongkolan, dan tidak diterima darinya klaim keterpelesetan lisan, juga klaim lalai dan lupa. Saya berkata: Dan posisi ini adalah selagi tidak ada qarinah, dan bila ada qarinah maka diudzur dengan sebab itu.”[12]

* * *


[1] Al Furuq 2/144 dan yang sesudahnya, dan Tahdzib Al Furuq, “Telah lalu kami katakan bahwa pada sebagian ucapan Al Qarafiy itu ada koreksi, dan bahwa yang benar adalah bahwa orang yang mengerahkan segenap kemampuannya dan menupahkan maksimal upayanya, maka bisa jadi diudzur dengan sebab kebodohannya sesuai apa yang telah ditetapkan oleh para ulama perihal status hukum orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan orang yang tidak memiliki kesempatan.”

[2] Syarh Tanqih Al Fushul: hal: (439)

Faidah muhimmah:

Malikiyyah menyendiri dari para ulama lain, dimana Malikiyyah ini tidak mengudzur dengan sebab kebodohan termasuk di dalam banyak permasalahan fiqh, seperti nikah, syuf’ah, hudud, lian, kaffarat, thalaq, dan yang lainnya. Silahkan dalam hal ini rujuk (Kitab Masail Laa Yu’dzaru Fiha Bil Jahli ‘Ala Madzhabil Imam Malik) Syarh Al ‘Allamah Al Amir Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Abdil Qadir As Sanbawiy ila qith’ah Bahram Ibnu Abdillah ‘An Abdil Aziz, terbitan Dar Al Gharbi Al Islamiy, Beirut, tahqiq Asy Syaikh Ibrahim Al Mukhtar Ahmad Umar Al Jibritiy Az Zaila’iy.

[3] Al ‘Ilam, hal 76 terbitan Asy Sya’bi.

[4] Asy Syarh Ash Shaghir Bab Riddah hal 347.

[5] Syarh Asy Syifa 2/438 dan Al I’lam hal 63.

[6] Al I’lam  Bi Qawathi’il Islam, hal 65 terbitan Asy Sya’bi.

[7] Hasyiyah Ad Dasukiy ‘Ala Asy Syarhil Kabir Fi Fiqhil Malikiyyah 4/302 terbitan Al Babiy Al Halabiy.

[8] Jawahir Al Iklil Fisy Syarh Mukhtashar Khalil Fil Fiqhil Malikiyyah 2/281 terbitan Isa Al Halabiy.

[9] Al Furuq milik Imam Al Qarafiy 2/150 terbitan A’lamul kitab – Beirut.

[10] Ibid, 1/150-151.

[11] Bulghatus Salik Li Aqrabil Masalik ila Madzhab Al Imam Malik 3/453 milik Asy Syiakh Al Imam Ahmad Ibnu Muhammad Al Malikiy, terbitan Al Babiy Al halabiy.

[12] Rujuk Tabyin Al Masalik Syarh Tadrib As Salik ila Aqrabil Masalik 4/484, terbitan Dar Al Gharb Al Islamiy.

Filed under: AQIDAH, BANTAHAN, FATWA, FIRQAH, JIHAD, MANHAJ, MURJI'AH, SALAFY, SYIRIK, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,030,912 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: