Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Seri – 12 (Siapa ULIL AMRI Itu…?)

Siapakah Ulil Amri Yang Wajib Ditaati ?

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”.

(QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Aalamiin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul yang paling agung Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para shahabatnya seluruhnya.

Ikhwani fillah… kali ini kita akan meluruskan pemahaman yang ada di masyarakat berkenaan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”. (QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Ayat ini adalah ayat yang sering kita dengar dan digunakan oleh banyak orang dalam rangka mewajibkan masyarakat untuk taat kepada pemerintah Republik Indonesia ini. Oleh karena itu perlu kiranya kita meninjau kembali atau meluruskan posisi ayat ini secara proporsional dalam kehidupan nyata di negeri ini. Mari kita pahami siapa orang-orang yang beriman dalam ayat tersebut dan kaitannya dengan realita Pemerintahan Republik Indonesia ini…

Tinjauan ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”. (QS. An Nisaa’ [4]: 59)

“Hai orang-orang yang beriman”, ini adalah khithab (seruan) terhadap orang-orang yang beriman. “taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kalangan kalian”, maksud ulil amri di sini adalah ulil amri dari kalangan kalian, yaitu pemimpin muslim atau pemimpin yang mu’min, itu adalah pengertian sederhananya.

Jadi, pemimpin yang harus ditaati ─tentunya selain dalam maksiat─ adalah pemimpin muslim, karena Allah mengatakan “min kum” (dari kalangan kalian) setelah mengkhithabi “hai orang-orang yang beriman”.

Orang yang beriman atau orang muslim yang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma adalah orang yang beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut, berikut ini adalah penjabarannya.

A.    Dalil Dari Al Qur’an

1.    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang teguh pada al ‘urwah al wutsqa”. (QS. Al Baqarah [2]: 256)

Al ‘urwah al wutsqa adalah buhul tali yang amat kokoh, yaitu Laa ilaaha illallaah, artinya barangsiapa kafir kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia itu adalah orang yang mengamalkan Laa ilaaha illallaah, orang yang sudah masuk Islam, karena pintu masuk Islam adalah dengan perealisasian Laa ilaaha illallaah sebagaimana ini adalah rukun Islam yang pertama.

Orang tidak dikatakan beriman, kecuali jika dia beriman kepada Allah dan kafir kepada thaghut. Jika orang beriman kepada Allah tapi dia tidak kafir kepada thaghut, maka ia bukan orang yang beriman, ia bukan muslim… itu berdasarkan nash Al Qur’an. Maka dari itu Allah dalam ayat ini mendahulukan kafir kepada thaghut Barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah supaya tidak ada orang yang mengklaim behwa dirinya beriman kepada Allah padahal dia belum kafir kepada thaghut pada realita yang dia kerjakan.

2.    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali Imran [3]: 64 :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (Muhammad): “Hai ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai arbaab (tuhan-tuhan) selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”.

Jadi, yang diserukan kepada ahli kitab adalah pengajakan untuk berkomitmen dengan Laa ilaaha illallaah, ibadah kepada Allah dan meninggalkan penyekutuan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di ujung ayat Allah menyatakan; “jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”, maksudnya jika mereka berpaling dan tidak mau meninggalkan para arbab itu, maka saksikanlah bahwa kami ini orang muslim dan kalian bukan orang muslim.

Berdasarkan ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang tidak merealisasikan apa yang dituntut oleh ayat ini, yaitu ibadah hanya kepada Allah, meninggalkan sikap penyekutuan sesuatu dengan-Nya dan meninggalkan sikap menjadikan selain Allah sebagai arbaab, maka orang yang tidak mau meninggalkan hal itu adalah bukan orang muslim.

3.    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. (QS. At Taubah [9]: 5)

Taubat dari apa…? Taubat dari kemusyrikan dan segala kekafiran… Yang maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum muslimin untuk melakukan pembunuhan, pengepungan dan pengintaian apabila orang-orang itu sudah taubat dari segala kemusyrikan dan kekafiran, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berarti orang muslim itu tidak boleh diganggu. Maka orang yang tidak taubat dari kemusyrikannya berarti dia itu bukan orang muslim.

4.    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian satu agama”. (QS. At Taubah [9]: 11)

Jika mereka bertaubat (dari kemusyrikannya), maka mereka adalah saudara satu agama, maksudnya mereka itu orang-orang muslim, karena sesama muslim adalah saudara, sebagaimana dalam surat Al Hujurat [49]: 10 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.

Berarti jika sebaliknya, dia tidak mau meninggalkan kesyirikannya meskipun dia shalat, zakat, dan melakukan ibadah lainnya, maka dia bukan ikhwan fiddin (saudara satu agama) dan berarti dia bukan orang mu’min, karena ukhuwah imaniyyah itu tidak terlepas dengan dosa-dosa biasa, akan tetapi dengan kesyirikan dan kekufuran. Dan dalam surat Al Baqarah [2]: 178 dikatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya…”

Dalam ayat ini, sang pembunuh dan keluarga yang dibunuh tetap dipersaudarakan. Membunuh sesama muslim adalah dosa besar, tapi tidak menjadikan seseorang keluar dari Islam selama dia tidak menghalalkannya.

Demikianlah beberapa dalil tentang orang yang beriman dari Al Qur’an, sedangkan berikut ini adalah:

B.   Dalil Dari As Sunnah

A.    Dalam hadits Al Bukhariy dan Muslim Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilaah (yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, bila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga darah dan hartanya dari saya, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka adalah atas Allah”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti memerangi manusia sampai mereka komitmen dengan Laa ilaaha illallaah, iman kepada Allah dan kufur kepada thaghut serta mengakui risalah yang dibawa beliau kemudian membenarkannya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ini sama dengan penjelasan sebelumnya.

B. Dalam hadits Al Bukhariy dari Abu Malik Al Asyja’iy radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedang perhitungannya atas Allah ta’ala”.

Seseorang dikatakan haram darah dan hartanya, dalam arti dia itu dikatakan muslim, bila komitmen dengan Laa ilaaha illallaah ─iman kepada Allah dan kafir kepada thaghut─, yaitu kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka barulah dikatakan muslim mukmin.

C.  Dalil Dari Ijma Ulama Ahlus Sunnah

  • Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah mengatakan: “Para ulama salaf dan khalaf, dari kalangan shahabat, tabi’in, para imam dan seluruh Ahlus Sunnah telah ijma, bahwa seseorang tidak menjadi muslim, kecuali dengan mengosongkan diri dari syirik akbar dan berlepas diri darinya”. (Ad Durar As Saniyyah, 11/545-546).

Dalam hal ini orang tidak dikatakan muslim bila tidak mengosongkan dirinya dari syirik akbar, tidak berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Ini adalah ijma’ (kesepakatan) ulama, maka perhatikanlah…!

Oleh sebab itu, jika masih atau belum berlepas diri dari kemusyrikan, maka dia itu belum muslim meskipun dia melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang lainnya. Dan selagi dia belum mengosongkan diri dari kesyirikan, maka dia belum muslim walaupun dia shalat, zakat, haji, dan yang lainnya…

  • Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan: “SEKEDAR mengucapkan Laa ilaaha illallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan konsekuensinya berupa komitmen dengan Tauhid dan meninggalkan syirik akbar serta kafir terhadap thaghut, maka sesungguhnya (pengucapan) itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma” (nukilan ijma’ dari kitab Taisir Al ‘Aziz Al Hamid)

Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dia shalat, zakat, shaum dan walaum haji berkali-kali, akan tetapi jika dia tidak meninggalkan syirik akbar, tidak kafir terhadap tahghut, maka dia itu bukan muslim dan tidaklah bermanfaat pengucapan Laa ilaaha illallaah-nya.

  • Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah mengatakan: “Ulama ijma’ (sepakat), bahwa orang yang memalingkan satu macam dari dua do’a kepada selain Allah, maka dia telah musyrik walaupun mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dia shalat dan zakat serta mengaku muslim”. (Ibthalut Tandid Bikhtishar Syarh Kitab Tauhid, hal: 67)

Do’a ada dua macam; yaitu do’a yang berupa permohonan yang biasa kita ketahui, dan do’a berupa ibadah seperti; shalat, shaum, zakat, haji, penyandaran hukum, dan lain-lain.

Jadi, bila seseorang memalingkan satu macam ibadah saja kepada selain Allah, maka dia itu musyrik, meskipun mengucapkan kalimat tauhid, shalat, shaum, zakat dan mengaku sebagai seorang muslim.

  • Syaikhul Islam Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan tentang para pengikut Musailamah Al Kadzdzab: “Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kembali menyembah berhala seraya mengatakan: “Seandainya dia (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) itu adalah Nabi, tentulah tidak akan mati”. Dan di antara mereka ada yang tetap di atas dua kalimah syahadat, akan tetapi dia mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan bahwa beliau shalallahu‘alaihi wa sallam menyertakan dia di dalam kenabian, ini karena Musailamah mengangkat para saksi palsu yang bersaksi baginya akan hal itu, namun demikian para ulama ijma’ bahwa mereka adalah orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtaddan mereka, maka dia kafir” (Syarh Sittati Mawadli Minash Shirah dalam Mujmu’atut Tauhid, hal. 23)

Bila saja orang yang tidak melakukan kesyirikan, akan tetapi mengangkat seorang manusia biasa sederajat dengan nabi, maka ia telah divonis murtad dan segala amal ibadahnya tidak dianggap, dan bahkan diperangi oleh Abu Bakar Ash Shiddiq dan para shahabat lainnya radliyallahu ‘anhum… maka apa gerangan dengan orang yang mengangkat makhluk pada derajat uluhiyyah (ketuhanan) dengan cara memberikan satu atau beberapa macam dari sifat-sifat khusus ketuhanan…?? Maka ini lebih syirik lagi, lebih kafir lagi dan lebih murtad lagi jika sebelumnya dia mengaku muslim!

  • Beliau (Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab) rahimahullah juga menukil ijma tentang pengkafiran penguasa ‘Ubaidiyyin di Mesir. Beliau berkata dalam suratnya kepada Ahmad Ibnu Abdil Karim Al Ahsaa’iy, beliau menjelaskan: “Di antara kisah yang terakhir adalah kisah Bani ‘Ubaid, para penguasa Mesir dan jajarannya, mereka itu mengaku sebagai ahlul bait, mereka shalat jama’ah dan shalat jum’at, mereka juga mengangkat para qadliy dan mufti, akan tetapi ulama ijma akan kekafiran mereka, kemurtadannya, keharusan untuk memeranginya, serta bahwa mereka adalah negeri harbiy, wajib memerangi mereka meskipun mereka (rakyatnya) dipaksa lagi benci kepada mereka”. (Tarikh Nejd,  346)

Pada saat itu kajian ada, kesempatan belajar juga ada, shalat juga mereka lakukan bahkan mereka (Bani ‘Ubaid) yang menjadi imamnya, akan tetapi ulama ijma bahwa mereka itu orang-orang murtad kafir harbiy, karena mereka menampakkan kesyirikan akbar.

Demikianlah dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma yang mengatakan bahwa orang tidak dikatakan sebagai orang muslim, kecuali jika dia beriman kepada Allah dan kafir terhadap thaghut. Sedangkan thaghut yang paling besar di antara thaghut-thaghut zaman sekarang ini adalah thaghut hukum dan perundang-undangan berikut para pembuat hukum dan pemutus hukum yang berpedoman dengannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan dalam surat An Nisaa’ [4]: 60 :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?. Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir kepada thaghut itu…”

Dalam ayat tersebut tersirat keheranan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena ada orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an dan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci serta pedoman hidup, akan tetapi ketika ada masalah, mereka malah merujuk kepada hukum thaghut… padahal hukum thaghut bukanlah hukum yang Allah turunkan, sedangkan Allah sudah memerintahkan untuk kafir dan menjauhi thaghut.

Hukum yang dibuat oleh manusia merupakan bisikan syaitan jin, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya:

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya…” (QS. Al An’am [6]: 121)

Dan digulirkan oleh syaitan-syaitan manusia, maka itulah thaghut yang dimaksudkan firman Allah dalam surat An Nisaa’ [4]: 60. Maka segala hukum produk manusia dengan segala bentuknya, baik yang dibuat dalam bingkai demokrasi atau yang lainnya, maka selama itu hukum yang bukan berasal dari Allah berarti itu adalah thaghut, karena hanya ada dua macam hukum; hukum Allah atau hukum thaghut. Sedangkan seseorang tidak dikatakan muslim jika tidak kafir kepada thaghut hukum ini, atau pembuatnya dari kalangan syaitan manusia atau pembisiknya dari kalangan syaitan jin.

Jika kita sudah memahami bahwa orang muslim itu adalah orang yang berlepas diri dari kesyirikan. Orang muslim adalah orang yang mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan, maka dia adalah seorang mu’min dimana saja dan kapan saja. Sebaliknya, jika orang tidak merealisasikan hal ini, dalam arti walaupun dia beribadah kepada Allah akan tetapi di samping beribadah kepada Allah dia tidak kafir kepada thaghut, tapi justeru malah membela-bela atau loyal kepada thaghut, maka dia bukan orang muslim.

Kemudian mari kita lihat realita pemerintahan NKRI ini, apakah mereka kafir kepada thaghut dan iman hanya kepada Allah sehingga mereka mendapat predikat mu’min, sehinggga mereka menjadi ulil amri yang wajib ditaati sebagaimana penjelasan surat An Nisaa’: 59  tadi ? atau justeru sebaliknya…?

Tinjauan Realita Pemerintah NKRI

Bila Dipandang Dari Sisi Tauhid

A.    Mereka Menjadi Thaghut

Kenapa demikian? Karena mereka dengan dewan legislatifnya dan sebagian eksekutifnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh ansharnya.

1.     Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan  mengingkari thaghut itu”. (QS. An Nisaa’ [4]: 60)

Masyarakat atau anshar thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah ataukan kepada hukum selaim hukum Allah? tentu mereka mengajukannya kepada hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut tadi di gedung Palemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutif maupun para pemutusnya di dewan yudikatif.

Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah dalam Risalah Fi Ma’na Thaghut, bahwa pentolan thaghut yang ke dua adalah Penguasa Zhalim Yang Merubah Ketentuan (Hukum,ed) Allah. Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah… mulai dari hukum pidana, perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak memakai hukum yang Allah turunkan. Sedangkan sesesorang tidak bisa dikatakan sebagai orang muslim kecuali bila kafir kepada thaghut. Sedangkan dalam hal ini mereka sendiri adalah thaghutnya.

2.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah [9]: 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis :

  1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka telah musyrik
  5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagai rabb/arbaab.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim (seorang shahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy Ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan: “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”, Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis bahwa kami telah mempertuhankan mereka atau kami telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka. Maka Rasul mengatakan: “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”. Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi: Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib)

Ketika mereka menyandarkan hak hukum dan pembuatan hukum (tasyri’) kepada selain Allah, maka yang mengaku memiliki hak membuat hukum ini disebut arbaab, yaitu yang memposisikan dirinya sebagau tuhan pengatur selain Allah. Saat hukum itu digulirkan dan diikuti, maka itu adalah arbab yang disembah. Orang yang sepakat di atas hukum ini atau yang mengacu atau yang merujuk pada hukum yang mereka gulirkan itu adalah orang yang Allah vonis sebagai orang musyrik yang menyembah atau mengibadati atau mempertuhankan mereka serta telah melanggar Laa ilaaha illallaah.

3.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang keharaman bangkai, dan Allah juga menjelaskan tentang tipu daya syaitan. Kita mengetahui bahwa bangkai adalah haram, namun dalam ajaran orang musyrik Quraisy mereka menyebutnya sebagai sembelihan Allah.

Dalam hadits dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu: Orang musyrikin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Hai Muhammad, kambing mati siapa yang membunuhnya?”, Rasulullah mengatakan: “Allah yang membunuhnya (mematikannya)”, kemudian orang-orang musyrik itu mengatakan: “Kambing yang kalian sembelih dengan tangan kalian, maka kalian katakan halal, sedangkan kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang Mulia dengan pisau dari emas kalian katakan haram, berarti sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah”.

Ini adalah ucapan kaum musyrikin kepada kaum muslimin, dan Allah katakan bahwa itu adalah bisikan syaitan terhadap mereka (Dan sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu) untuk mendebat kaum muslimin agar setuju atas penghalalan bangkai, lalu setelah itu Allah peringatkan kepada kaum muslimin jika menyetujui dan mentaati mereka, menyandarkan kewenangan hukum kepada selain Allah meski hanya dalam satu hukum atau kasus saja (yaitu penghalalan bangkai) dengan firman-Nya: maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”.

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa:

  1. Hukum yang bukan dari-Nya adalah wahyu syaithan.
  2. Para penggulirnya (yang mengklaim dirinya berhak membuat hukum) dari kalangan manusia disebut wali-wali syaithan.
  3. Yang menyetujuinya atau yang taat atau yang merujuk kepadanya disebut musyrikun.

Bila satu hukum saja dipalingkan dalam hak pembuatannya kepada selain Allah, maka berdasarkan ayat tadi, bahwa orang yang membuat hukum itu disebut wali-wali syaithan (thaghut) yang telah mendapat wahyu atau wangsit dari syaithan, sedangkan orang yang mentaatinya atau setuju dengan hukum buatan tersebut divonis sebagai orang musyrik.

Sedangkan yang ada di NKRI ─dan negara-negara lainnya─ adalah bukan satu, dua, tiga, sepuluh, atau seratus hukum saja, akan tetapi seluruh hukum yang ada di sini adalah bukan dari Allah, tapi dari wali-wali syaitan yang mendapat wahyu dari syaitan jin, baik wali-wali syaitan itu dahulunya orang Belanda (yang mewariskan KUHP) ataupun wali-wali syaitan zaman sekarang yang duduk di kursi parlemen, yang membuat, yang merancang, yang menggodok, atau apapun namanya dan siapapun yang membuat hukum, maka pada hakikatnya mereka adalah wali-wali syaitan dan hukum yang mereka gulirkan hakikatnya adalah hukum syaithan.

Perhatikanlah… jika saja orang-orang yang SEKEDAR mentaati mereka, maka Allah memvonisnya sebagai orang musyrik, maka apa gerangan dengan pembuatnya atau orang yang memutuskan dengannya atau orang yang memaksa masyarakat untuk tunduk kepadanya dengan menggunakan besi dan api (kekuatan dan senjata)…?!!

4.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dalam dien (ajaran/hukum) ini apa yang tidak diizinkan Allah ?”. (QS. Asy Syuura [42]: 21)

Dalam ayat tersebut, siapa saja yang membuat syari’at atau hukum atau undang-undang atau ajaran yang tidak diizinkan oleh Allah dinamakan syurakaa (sekutu-sekutu), karena mereka memposisikan dirinya untuk diibadati dengan cara menggulirkan hukum agar diikuti. Mereka merampas hak pembuatan hukum dari Allah, mereka merancang, menggodok, dan menggulirkan di tengah masyarakat. Sedangkan orang-orang yang mentaati atau mengikuti hukum itu disebut orang yang menyembah syuraka tersebut.

B. Mereka berhukum dengan selain hukum Allah atau memutuskan dengan hukum thaghut

Mereka berhukum dengan hukum thaghut, karena selain hukum Allah yang ada hanyalah hukum jahiliyyah atau hukum thaghut, ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Maaidah [5]: 44 :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir”.

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”  (QS. Al Maaidah [5]: 50)

Dalam ayat-ayat di atas, orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan adalah orang-orang kafir, sedangkan pemerintah di negeri ini tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, akan tetapi memutuskan dengan hukum thaghut. Maka merekapun divonis kafir berdasarkan ayat-ayat seperti ini, bahkan Allah mevonis orang-orang yang seperti ini sebagai orang-orang zhalim dan fasiq dalam surat Al Maaidah [5]: 45 & 47.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Risalah Fie Makna Thaghut, tentang Ru-usuth Thawaghit (tokoh-tokoh para thaghut) yang ke tiga yaitu: Yang Memutuskan Dengan Selain Apa Yang Allah Turunkan.

Jadi pemutus hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah adalah bukan sekedar thaghut, akan tetapi termasuk pentolan thaghut. Sedangkan iman kepada Allah tidak sah kecuali dengan kafir terhadap thaghut, lalu bagaimana mungkin Pemerintah NKRI ini dikatakan sebagai pemerintah muslim mu’min, sedangkan mereka bukan sekedar thaghut, akan tetapi salah satu tokohnya thaghut… maka mereka bukan hanya sekedar kafir, tapi amat sangat kafir !.

C. Mereka merujuk kepada hukum thaghut, baik thaghut lokal, regional maupun internasional

Saat menghadapi masalah, masalah apa saja, maka pemerintah ini tidak merujuknya kepada hukum Allah, tapi kepada hukum thaghut yang bersifat lokal (seperti Undang Undang Dasar atau undang-undang atau yang lainnya), atau hukum-hukum regional, atau hukum-hukum yang ditetapkan oleh mahkamah Internasional PBB. Sungguh… mereka tidak merujuk kepada Al Qur’an atau As Sunnah, akan tetapi merujuk kepada selainnya. Sedangkan dalam surat An Nisaa’ [4]: 60 tadi; Allah merasa heran atas klaim orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab Allah sebelumnya, orang-orang yang ketika punya masalah justeru ingin berhakim (mengadukan urusan) kepada thaghut. Perhatikanlah, dalam ayat tersebut sekedar ingin berhukum kepada thaghut sudah Allah nafikan keimanannya. Imannya dianggap sekedar klaim dan kebohongan belaka, maka apa gerangan dengan orang-orang yang benar-benar bersumpah untuk merujuk kepada hukum thaghut…?!

Pemerintah ini, ketika masuk PBB diwajibkan untuk berikrar setuju atas segala peraturan yang digariskannya, begitu juga ketika jajaran pemerintahan dewan legislatif, eksekutif, yudikatif terbentuk, setiap orang diwajibkan bersumpah setia untuk menjalankan hukum negara, inilah syahadat mereka ! inilah bai’at mereka. Apakah di Negara ini ada bai’at untuk taat setia kepada Al Qur’an dan As Sunnah ? tentu jawabannya tidak ada ! maka dari itu setelah bai’at kepada Undang Undang Dasar selesai, mereka selalu mengacu kepadanya, jika seorang Presiden misalnya menyimpang, maka DPR/MPR akan memprotesnya dan mengatakan : “Presiden telah melanggar Undang Undang Dasar atau undang-undang atau… atau…” dan tidak akan mengatakan “Presiden telah melanggar Al Qur’an ayat sekian…” Andaikata seluruh isi Al Qur’an dilanggarpun, maka mereka tidak akan mempermasalahkannya, asal tidak melanggar “kitab hukum suci” mereka, yaitu Undang Undang Dasar 1945 dan undang-undang turunannya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang berhakim dengan hukum Allah yang telah dihapus adalah kafir, beliau menyatakan: “Barangsiapa meninggalkan hukum yang muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu ‘Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada hukum-hukum (Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang mengacu kepada Ilyasa (Yasiq) dan dia mendahulukannya daripada ajaran Allah, maka dia kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin” (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119)

Ilyasa adalah kitab hukum yang dibuat oleh Jengis Khan raja Tartar. Kitab ini merupakan kumpulan hukum yang sebagiannya diambil dari Taurat orang Yahudi, Injil orang Nashrani, Al Qur’an dan ajaran ahli bid’ah ditambah dengan hasil buah fikirannya lalu dikodifikasikan menjadi sebuah kitab yang disebut Ilyasa atau Yasiq. Para ulama muslimin sepakat mengatakan bahwa siapa saja yang merujuk kepada kitab hukum ini, maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin. Maka demikian pula dengan Yasiq ‘Ashri (Yasiq Modern), yaitu Undang Undang Dasar, KUHP, dan lain-lain, dimana hukum itu diambil dari orang-orang Nashrani (seperti orang Belanda dengan KUHP-nya), dan ada juga dari Islam seperti dalam masalah pernikahan.

Jadi ternyata serupa… maka siapa saja yang merujuk pada Yasiq Modern ini, maka iapun kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin, sedangkan perujukan-perujukan ini telah dilakukan oleh pemerintah NKRI ini…!!

D.    Mereka menganut sistem Demokrasi

Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kedaulatan/kekuasaan). Sistem ini merupakan penyerahan hak hukum atau kedaulatan kepada rakyat. Sistem perwakilan yang ada di dalamnya memberikan hak ketuhanan kepada wakil rakyat yang duduk di parlemen untuk membuat, menetapkan dan memutuskan hukum.

Demokrasi merupakan salah satu bentuk perampasan hak khusus Allah dalam At Tasyri’ (pembuatan, penetapan dan pemutusan hukum atau undang-undang). Hak ini adalah hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hak khusus rububiyyah dan uluhiyyah Allah, hak khusus yang seharusnya disandarkan oleh makhluk hanya kepada Allah. Akan tetapi demokrasi merampasnya dan justeru hak itu diberikan kepada makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Hak memutuskan hukum itu hanyalah khusus kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf [12]: 40)

Firman-Nya “Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia” bermakna: Kalian diperintahkan untuk tidak menyandarkan hukum kecuali kepada Allah, karena Allah-lah yang berhak untuk membuatnya, untuk menentukannya. Dan dalam ayat ini penyandaran hukum kepada Allah disebut ibadah. Sedangkan dalam demokrasi; hukum disandarkan kepada rakyat melalui wakil-wakilnya, maka demokrasi adalah sistem syirik, karena memalingkan ibadah penyandaran hukum kepada selain Allah.

Demokrasi adalah sistem syirik yang membangun pilar-pilarnya di atas sekulerisme, di atas kebebasan; bebas meyakini apa saja walaupun pendapat syirik atau kekafiran sekalipun. Demokrasi tidak mewajibkan menusia untuk taat kepada ajaran Allah, tapi harus taat kepada kesepakatan rakyat, tatanan perundang-undangan yang berlaku, yang mana notabene adalah hukum buatan manusia.

E. Mereka memiliki Ideologi/ falsafah/ asas/ pedoman/ petunjuk hidup/ nafas bangsa, yaitu Pancasila.

Pancasila adalah dien, karena dien adalah jalan hidup, agama, aturan dan pedoman hidup, falsafah atau silahkan orang menyebutnya apa saja… tapi yang jelas Pansacila adalah dien. Ini singkat saja kita tinjau.

Dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi kita tidak tahu siapa Tuhan Maha Esa yang dimaksud, karena Pancasila mengakui berbagai agama dengan tuhan-tuhannya masing-masing yang beraneka ragam. Maka cukuplah falsafah ini menjadi sesuatu yang rancu bagi orang yang berakal.

F.    Tawalliy (loyalitas penuh) kepada kaum musyrikin

Mereka loyal kepada Perserikatan Bangsa Bangsa, tunduk kepada undang-undang internasional dan peraturan lainnya yang ada dalam tubuh PBB. Apapun yang ditetapkannya maka otomatis diikuti. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum muslimin untuk loyal kepada orang-orang kafir, Allah menyatakan dalam surat Al Maaidah: 51 :

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Siapa saja yang tawalliy di antara kalian terhadap mereka maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka”

G.    Mereka memperolok-olok ajaran Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang segala bentuk kemungkaran, sedangkan pemerintahan Negara ini justeru memberikan izin bagi beroperasinya tempat-tempat kemungkaran dengan dalih tempat hiburan, membiarkan berkembangnya media-media penebar kesyirikan, kekufuran, kerusakan dan kebejatan (dengan dalih kebebasan pers dan kebebasan berekspresi) dan lain-lain. Itu adalah beberapa perolok-olokan terhadap ajaran Allah, sedangkan memperolok-olok ajaran Allah adalah kekafiran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At Taubah [9]: 65-66).

Intinya, jelaslah bahwa Negara dan pemerintahan ini kekafirannya berlipat-lipat. Setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak tunduk pada aturan Allah, maka negara tersebut adalah negara kafir, negara zhalim, negara fasiq dan negara jahiliyyah berdasarkan firman-firman Allah tersebut. Begitu juga pemerintahnya, karena tidak akan berdiri suatu negara tanpa ada pemerintah pelaksananya.

Setelah memahami hal ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa TIDAK BENAR memerintahkan kaum muslimin untuk loyal kepada pemerintah semacam ini dengan menggunakan dalil surat An Nisaa’ [4]: 59, karena ulil amri dalam ayat tersebut adalah “dari kalangan kalian” yang berarti dari kalangan orang-orang yang beriman, sedangkan pemerintahan NKRI ini sudah kita ketahui bahwa mereka BUKAN orang-orang yang beriman, akan tetapi justeru mereka adalah thaghut, orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang murtad. Jadi, jelaslah isi ayat itu tidak sesuai dengan pemerintah ini.

Akan tetapi yang tepat bagi pemerintah semacam ini adalah:

1.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”. (QS. At Taubah [9]: 12)

Jadi yang tepat bukan harus ditaati, bukan pula diberi loyalitas, akan tetapi yang semestinya ada adalah sikap qital (perang).

2.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ

“Maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS. At Taubah [9]: 5)

Jika mereka bertaubat, maksudnya bertaubat dari kemusyrikannya, dari kethaghutannya, dari kekafirannya, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah mereka jalan dan jangan diganggu. Sedangkan jika pemerintahan ini tidak bertaubat dari kethaghutannya, dari Pancasilanya, dari demokrasinya dan dari kekufuran lainnya, maka mereka masih masuk ke dalam cakupan ayat tadi.

3.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan itu” (QS. An Nisaa’ [4]: 76)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dalam rangka mengokohkan hukum Allah, menjunjung tinggi ajaran-Nya, sedangkan orang-orang kafir ─yang di antaranya adalah pemerintahan NKRI ini dan ansharnya─ mereka berjuang, berperang, berkiprah dengan segala cara dalam rangka mengokohkan sistem thaghut. Jadi, mereka berperang di jalan thaghut, maka bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin? Allah menyatakan: “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu !”.

Perhatikanlah… mereka bukan ulil amri, akan tetapi mereka adalah wali-wali syaitan yang Allah perintahkan untuk memeranginya.

4.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka itu, sampai tidak ada fitnah, dan dien (ketundukan) hanya bagi Allah semata” (QS. Al Baqarah [2]: 193)

Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, tidak ada lagi ideologi syirik, tidak ada lagi kekafiran, tidak ada lagi penghalang kepada jalan Allah, tidak ada lagi penindasan terhadap kaum muslimin yang taat kepada Allah… bukan taat kepada Pancasila atau Undang Undang Dasar atau demokrasi, tapi hanya taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selama Ad Dien (ketundukan) belum sepenuhnya kepada Allah, maka al qital (perang) belum berhenti… Selama fitnah (bencana) terhadap kaum muslimin yang taat dan berkomitmen dengan ajaran Allah masih dikejar-kejar atau dipersempit hidupnya, masih ditangkapi, dipenjarakan dan masih dibunuhi… maka berarti masih ada fitnah…! Selama kemusyrikan didoktrinkan maka fitnah masih ada…! Selama fitnah masih ada maka al qital tidak akan berhenti…!

5.   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ (٣٨) وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu (dibinasakan)”. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu semata-mata untuk Allah”. (QS. Al Anfal [8]: 38-39)

Jadi, al qital tidak akan berhenti terhadap para penguasa yang menentang aturan Allah, yang menyebar fitnah (bencana) kemusyrikan dan penindasan terhadap kaum muslimin, merampas dan memeras harta kaum muslimin, baik dengan cara kasar maupun halus, maka qital tidak akan berhenti terhadap pemerintah yang seperti ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً

 “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas dari kamu” (QS. At Taubah [9]: 123)

Perangilah orang-orang yang ada disekitar kamu, yang ada di dekat kamu dan dalam realitanya bukan hanya dekat, akan tapi mereka telah menguasai harta, diri, dan tanah air kita. Merekalah thaghut penguasa negeri ini, merekalah orang-orang kafir itu. Mereka telah sekian lama memerangi, menindas diri dan merampas harta kaum muslimin. Mereka mewajibkan ini dan itu yang bertentangan dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Merekalah orang-rang kafir yang dekat, maka tidak usah jauh-jauh pergi berperang untuk mencari orang kafir, ini yang dekat justeru sudah memusuhi dan memerangi semenjak dahulu. Bahkan para ulama sepakat bahwa memerangi penguasa murtad adalah lebih harus didahulukan memeranginya daripada orang-orang kafir asli, apalagi orang-orang kafir yang jauh…

6.   Hadits ‘Ubadah Ibnu Shamit

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kami, maka kami membai’atnya, maka di antara yang beliau ambil janjinya atas kami adalah kami membai’at(nya) untuk senantiasa mendengar dan taat, saat senang dan saat benci, di waktu sulit dan waktu mudah kami, serta saat kami diperlakukan tidak adil dan agar kami tidak merampas urusan dari yang berhak (penguasa) “kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah  yang ada pada kalian”. (HR. Bukhari dam Muslim)

Sedangkan kita sudah banyak melihat bentuk-bentuk kekafiran yang dianut dan masih senantiasa dilakukan penguasa negeri ini, sehingga tidak layak berdalil dengan surat An Nisaa’ [5]: 59 untuk menggelari pemerintah ini sebagai ulil amri, akan tetapi yang tepat adalah ayat-ayat yang baru saja dibahas dan ditambah dengan hadits ini.

Para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak sah untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Bila pemimpin tersebut asalnya muslim kemudian muncul kekafiran darinya, maka wajib untuk mencopotnya dan menggantinya dengan pemimpin yang muslim. Bila tidak mampu mencopotnya karena mereka menggunakan kekuasaan untuk mempertahankannya, maka wajib diperangi.

Namun dalam relaita zaman ini, kekafirannya bukanlah kekafiran yang bersifat personal, akan tetapi kekafiran yang kolektif dan sistematis, sehingga jika penguasa yang satu mati dan sistemnya belum mati maka orang-orang setelahnya akan menggantikan dia, karena sistem kafirnya tidak mati dan tetap mengakar.

Tugas kita adalah wajib menggalang kekuatan dengan langkah awalnya adalah mengerahkan segala kemampuan dalam menggencarkan dakwah Tauhid yang berkesinambungan untuk mencabut akar-akar loyalitas terhadap thaghut di tengah masyarakat, sehingga thaghut tidak mempunyai tempat lagi di tengah-tengah masyarakat ini.

Jihad terhadap thaghut ini haruslah menjadi opini kaum muslimin, kaum muslimin harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah ini, sehingga tidak hanya dipikul oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Bukan berarti seluruh kaum muslimin harus terjun dengan menenteng senjata, tapi yang paling penting bagi mereka adalah harus memahami betul bahwa penguasa negeri yang mana mereka hidup di dalamnya adalah penguasa murtad kafir yang tidak boleh diberikan loyalitas, sehingga dengan kesadaran itu lunturlah dukungan kepada para thaghut dan tumbuhlah loyalitas kepada orang-orang yang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila ini terwujud, maka kondisi akan berubah, dukungan kepada thaghut akan berganti dengan penentangan, sehingga mudahlah untuk menjatuhkan para thaghut itu.

BERSABARLAH…!!! Proses ini tidak mudah dan tidak akan terjadi begitu saja, tahap awal yang patut dilakukan adalah memberikan bayan (penjelasan) atau penyampaian risalah tauhid, karena perlu penyadaran terhadap masyarakat tentang kenapa penguasa negeri ini dikatakan sebagai penguasa kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ

“Dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu” (QS. Al Baqarah [2]: 191)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka pernah mengusir kaum muslimin. Rasulullah diperintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka telah mengusir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan… para thaghut itu telah mengeluarkan orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam dari jajaran masyarakat dengan cara menanamkan image negatif tentang mereka, memprovokasi, memfitnah dan membodoh-bodohi masyarakat dengan menuduh orang-orang yang bertauhid sebagai orang-orang bodoh, tidak memahami Islam secara utuh, orang yang dangkal pikiran atau orang yang haus dunia dan kekuasaan, maka menjadi wajiblah pula bagi kaum muslimin untuk mencopot para thaghut ini dari benak masyarakat dengan cara menyebarkan ilmu syar’iy, khususnya tentang tauhid dan kewajiban memerangi penguasa semacam itu.

Begitu pula dalam masalah harta, sebagaimana para thaghut itu telah menjauhkan orang-orang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari harta mereka, bahkan thaghut selalu berupaya mempersulit hidup mereka, maka wajib pula bagi orang-orang yang bertauhid yang komit terhadap ajaran-Nya untuk menjauhkan thaghut dari harta yang mereka miliki, karena sebagian besar harta yang jatuh ke tangan thaghut digunakan untuk mempersenjatai tentara mereka untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan orang-orang Quraiys agar dilanda paceklik, dengan tujuan agar mereka mendapatkan kesusahan sehingga tidak lagi menindas kaum muslimin dan dana yang mereka keluarkan tidak digunakan untuk mendukung hal itu. Maka haramlah atas setiap muslim untuk membayar atau menyerahkan harta kepada penguasa kafir dalam bentuk apapun, kecuali dalam kondisi terdesak atau dipaksa, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al Maaidah [5]: 2)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“Janganlah kalian menyerahkan harta-harta kalian kepada orang-orang bodoh itu” (QS. An Nisa [4]: 5)

Perhatikanlah… jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang menyerahkan harta kaum muslimin kepada orang-orang yang tidak bisa menggunakannya dengan benar dan bodoh, sedangkan bentuk kebodohan yang paling dasyat adalah orang-orang yang tidak suka dengan ajaran tauhid, salah satunya yaitu para thaghut. Allah menyatakan:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang benci kepada Millah Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri” (QS. Al Baqarah [2]: 130)

Jadi, seharusnya harta yang diambil dari kaum muslimin, mereka pergunakan di jalan Allah, bukan di jalan thaghut yang digunakan untuk memerangi Allah dan kaum muslimin.

Hendaklah diketahui bahwa pemerintahan thaghut ini adalah pemerintahan yang tidak sah, tidak syar’iy, tidak diakui secara Islam. Mereka adalah pemerintah yang memaksakan diri, begitu pula hukum dan undang-undangnya tidak sah, oleh sebab itu kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk taat pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah thaghut ini, bahkan bebas untuk melanggarnya selama memenuhi dua syarat, yaitu: selama tidak melakukan sesuatu yang dilarang syari’at dan selama tidak menzhalimi orang muslim lainnya.

Demikianlah sikap kita kaum muslimin terhadap para thaghut penguasa negeri ini, bukan loyal dan taat kepada mereka, tapi ingatlah bahwa kita adalah orang-orang yang ditindas, diperangi dengan berbagai cara kasar dan halus, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, tapi… sungguh banyak kaum muslimin tidak menyadarinya. Ini karena kebanyakan kaum muslimin belum memahami hakikat Laa ilaaha illallaah. Mereka mengira penguasa negeri ini adalah muslim, karena para thaghutnya itu shalat, shaum, zakat, bahkan haji berkali-kali, padahal penguasa negeri ini telah melanggar hal yang paling penting dan fundamental, yaitu syahadat Laa ilaaha illallaah…

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat serta para pengikutnya sampai hari kiamat. Alhamdulillaahirrabbil’aalamiin…[1]

 


[1]  Saduran dari rangkaian kajian materi-materi tauhid (Nov.2006)


67 Responses

  1. Paladin tobat says:

    Janganlah bermain main terhadap kebenaran, contohnya pada NKRI ini, Negara tersebut seakan berkompromi dengan menyembunyikan kebenaran. Cahaya yang semestinya bersinar malah diredupkan, Bertobatlah wahai pendukung NKRI. Janganlah kebenaran itu disamar samarkan.

    Ketuhanan yang maha esa yang bagaimanakah? penjelasan dari agama apakah Ketuhanan yang maha esa tersebut?

    Kenapa tidak dijelaskan saja! Apa ruginya?

    “Katakanlah apa adanya walaupun kenyataan itu pahit”.

  2. Paladin tobat says:

    Kebodohan yang terpelihara parah, apakah mesti masuk kepada lubang yang sama.

    Bila membangun rumah maka pondasilah terlebih dahulu diperhatikan, apabila pondasi itu jebol maka yang diatasnya akan runtuh pula. Capek2 sholat, puasa, zakat…tapi masih kafir!!!apalah gunanya???

  3. Paladin tobat says:

    Maaf, saya lupa memberi salam,

    -

    Assalamualaikum wr wb

  4. Ar-Ribath says:

    Loh jika negeri ini thaqut dan negeri kafir dan hukum-hukumnya kafir?

    mengapa kalian tidak mengangkat kaki dan hijrah dari negeri ini?

    Tapi kalian betah dan tinggal dinegeri yang katanya thogut dengan beranak cucu..kawin mawin sampe banyak? gimana sih

    Negeri ini sudah dijajah 300 tahun sama belanda dan Kalian dan buyut2kalin tetap disini

    Kalau komit dengan sunnah rasulullah berhijrah dari negeri kafir kepada negeri islam..

    sementara kalian? tetap tinggal terusss

    ——————————————————————–

    millahibrahim:

    Negeri ini adalah bagian dari bumi Allah yang diwariskanNYA untuk kaum muslimin, namun musuh-musuh Allah dari kalangan thaghut dan para penolongnya merampas dan menjajahnya dengan cara membuang dan menginjak-injak syariat-NYA. Kaum muslimin lebih berhak hidup di negeri ini daripada orang-orang kafir, merekalah yang seharusnya pergi dari negeri ini bahkan seharusnya mereka tidak layak hidup di muka bumi ini.

    Hijrah dari darul harbi ke darul Islam adalah kewajiban syari’i yang harus dilakukan jika memiliki kemampuan dan mengetahui jalan, namun kewajiban itu akan gugur jika mampu idzharuddin (menampakkan keyakinan) ditengah umat dan dihadapan thaghut.

    Wallahu A’lam

  5. Ar-Ribath says:

    Kalau masih mau tinggal di negeri ini jangan buat ONAR…Jangan Buat KEKACAUAN…Jangan MENGGANGGU KEAMANAN…kalau mau menegakkan kebenaran dan syariat ISLAM pakai CARA-cARA yang DIsyariatkan ….bukan BOM sana SINI DAN MAKAR…MEMBERONTAK…jelas ini mengganggu KEAMANAN …dan tidak setuju kami dengan cara semacam itu….

    Kaum muslimin yang mana?
    tidak semua orang berbicara seenaknya dengan mudah mengajak orang untuk menumpahkan darah dan memerangi pemerintah seperti anda-anda ini…Memangnya dengan apa anda memberontak kepada Pemerintah? dengan pisau dapur, sendok dan garpu. ATau dengan BOM lantas syariat islam bisa tegak?

    jelas kami juga muslim dan ingin tegak hukum islam tapi kami ga setuju dengan cara-cara dan sikap2 anda seperti itu? Ga setuju dengan cara-cara Yang ga ada perhitungannya …tau-tau ngajak orang MEMBERONTAK

    Syaikh bin baz atau syaikh utsaimin yang notabenenya ulama saja tetap menyuruh manusia untuk bersabar dan menasihati pemerintah bukan memerangi….baca aja fatwa syaikh bin baz kepada sikap partai FIS yang membunuh-bunuhi pegawai negeri di aljazair karena disebut sebagai antek thogut dan halal darahnya.

    Syaikh bin baz mengingkari cara-cara partai FIS memerangi pemerintah…dan disuruh partai FIS itu berdakwah dengan cara menasihati pemerintah

    Lah anda-anda ini kan bukan ulama kok berani-beraninya mengeluarkan fatwa mengajak manusia untuk menumpahkan darah?

    sudah jelas dalam para ahli fiqih siapa yang paling berani berfatwa maka ia paling berani masuk neraka…

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    millahibrahim:

    Yang membuat onar itu anda di blog ini, tunjukkan dibagian mana di blog ini kami mengajak untuk menganggu keamanan membuat bom sana sini dan menumpahkan darah…?

    Satu lagi orang yang tersesat karena taklid kepada ‘ulama bayaran thaghut Saudi -semoga Allah mengampuni ibnu Baz dan ibnu Utsaimin- yang telah menyesatakan ribuan bahkan jutaan pemuda seperti anda…

    Alhamdulillah dengan taufik dan hidayah-Nya kami tidak menganggap mereka sebagai ‘ulama rujukan dan tidak akan pernah merujuk kepada mereka… masih banyak ‘ulama rabbani yang lebih takut kepada Allah daripada mereka yang dapat kami jadikan rujukan…

    Pemerintahan mana yang harus kami nasihati…? tentunya kami akan memberikan nasihat kepada pemerintah Islam sebagaimana manhaj Ahlussunnah… sedangkan pemerintah NKRI ini adalah pemerintah thaghut kafir… silakan antum buka Siapa Ulil Amri Itu…?

    Kami nasihatkan anda untuk ikhlas dan berlapang dada dalam menuntut ilmu dan mencari kebenaran, lihatlah dalil yang melandasi ucapan bukan melihat siapa yang membawa ucapan… jangan mencari dalih dari pemahaman anda sekarang…

    Silakan ikuti dan baca terus seluruh isi blog ini, tanyakan hal-hal yang tidak anda pahami dengan cara yang baik dan sopan.

    Untuk selanjutnya jika anda masih berkomentar yang kasar dan tidak sopan… komentar anda akan kami hapus…

  6. abu sthabita says:

    mas Admin yang dirahmati Allah SWt Amin ,
    Pendapat Ar-Ribath tadi karena dia belum tahu apa itu IZharuddin, mungkin saja dia ngaji di salafy anti jihad, atau korban pembodohan oleh orang parte parte sesat, seperti PKS partai kafir syirik itu, atau dengan kajian kajian yang hanya mengupas tafsir bukan tauhid, padahal tauhid amat utama disamping ilmu ilmu yang lain, biar dia berenang dulu dalam membaca blog ini dan semoga dia tampil nanti sebagai mujahid yang militan dan ikhlas amin.

  7. Ar-Ribath says:

    Ya kalau Ulama seperti Syaikh bin Baz dan Syaikh Utsaimin sudah anda sebut sebagai Ulama bayaran Thogut atau Antek Thogut..ya wa salam deh.
    apa lagi sampai mengatakan mereka ulama yang menyesatkan orang……jelas sudah bahwa tidak ada lagi di belahan dunia ini negara islam…paling kalian bilang negara kafir..dunia ini negara kafir semua.

    Tapi yang jelas jika kalian muncul membuat keonaran dan memberontak, dengan alasan menegakkan syariat islam. Ketahuilah bahwa kami juga ingin syariat islam itu tegak…namun tidak dengan cara-cara yang kalian tempuh…

    karena jika ada kekuatan tentu orang2 seperti kalian akan menganggu keamanan, membuat onar dan memerangi pemerintah baik secara lisan maupun dengan tangan. Seperti Bom2 bali lah…
    Dengan dalih menegakkan syariat islam…

    sesungguh kami tidak setuju dengan cara-cara makar walau kalian anggap itu JIHAD. Jika pemerintah itu KAFIR sekalipun (walaupun itu belum pasti) bukan caranya begitu untuk merubah keadaan… karena dengan apa kalian memerangi pemerintah? mengimport sejata ILEGAL? atau dengan pisau dapur, sendok dan garpu? atau dengan merakit bom yang dilakukan amrozi dan Aman abdurrahman?

    jadi jika kalian mengganggu keamanan, merusak perdamaian dan menumpahkan darah…dengan dalih untuk berhukum dengan hukum alloh.
    tentu kami juga akan menghentikan cara-cara makar kalin yang tidak benar itu.
    walau kalian tidak suka…

    karena kami tidak setuju dengan cara memberontak dan membuat onar , merusak keamanan dengan lisan dan perbuatan seperti yang akan kalian cita-citakan untuk wujudkan jika ada kemampuan..karena keyakinan anda menghalalkan untuk memerangi pemerintah dan menumpahkan darah

    karena apa lagi yang dilakukan orang kalau sudah kafir2kan pemerintah kalau bukan MEMBERONTAK dan MEMBUAT HURU HARA…yang pastinya hanya menumbulkan kekacauan dan kerusakan yang lebih rusak dari Hukum Sekuler yang rusak itu.

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    milahibrahim:

    Satu lagi pemuda ingusan yang tersesat oleh ulama su’ bayaran thaghut Al Albani yang melarang untuk menjihadi pemerintah yang sudah jelas kekafirannya dengan dalih kekuatan tidak seimbang (karena hanya punya pisau dapur , sendok dan garpu….???) bahkan untuk sekedar i’dad pun dia larang, jika kamu memang kamu mau mencari kebenaran silakan baca bantahan syubhat lemah tersebut yang sudah saya muat ke dalam 3 bagian di blog ini.

    Kamu ini persis seperti tukang becak di pinggir jalan yang hanya mengenal AA Gym, Yusuf Mansyur, Zainudin ZM dll sebagai ustad-ustad yang paling mengerti agama dan bisa dijadikan oleh mereka sebagai rujukan dan tempat bertanya, coba tanyakan kepada mereka apa mereka mengenal Hakim Abdat, Yazid Jawas, Umar Sewed, Jafar Shaleh dll…?, begitupula kamu yang hanya kenal Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al Albani dan lain-lain sebagai ulama besar yang harus dijadikan rujukan dan kamu talklid membabi buta kepada mereka…. apakah kamu kenal Syaikh Asy Syinqithi, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al Maqdisiy dan masyaikh lain yang bisa bahkan lebih layak kamu jadikan rujukan…??? sehingga jika kami tidak menjadikan ulama idola kamu sebagi rujukan bahkan kami sesatkan… seolah-olah dunia ini menjadi begitu penuh kegelapan dan kebodohan…!!! Allah Musta’an… seungguh bodoh dan sesat kamu ini… semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada kamu….

    Kamu dan kelompok kamu akan menghentikan kami jika suatu hari kami ‘ilan jihad secara terbuka kepada thaghut NKRI…???!!! oh sungguh kesesatan dan kebodahan yang berlipat telah menjerumuskan sebelah kaki kamu ke dalam kekufuran… hati-hati dengan ucapan dan niat kamu ini…!!! bisa menjerumuskam kamu ke dalam kekafiran…!!!

    Satu lagi bukti kebodohann kamu terhadap Dien ini, kamu anggap terbunuh dan binasanya manusia akibat jihad dalam menegakkan tauhid lebih buruk dan rusak daripada hukum sekuler itu sendiri…!!! oh sungguh kasihan kamu ini… baca dan perhatikan baik-baik hai orang bodoh… Syaikh Sulaiman ibnu Sahman menafsirkan kalimat Wal Fitnatu Asyaddu (Akbaru) Minal Qatli… dalam surat Al Baqarah ayat 191 dan 217: ” Jika seandainya dua kelompok kaum muslimin saling berselisih lalu berperang hingga binasa semuanya itu lebih baik bagi mereka daripada mengangkat thaghut untuk mendamaikan dan menyelesaikan perselisihan mereka… (Ad Durar As Saniyyah: 10/510).

    Lalu kamu jadikan apa kisah Ashabul Ukhudud…? tidakkah kamu mendapat pelajaran…??? atau kamu memang belum tahu kisah tersebut…? ketahuilah di dalam kisah tersebut si Ghulam dan seluruh kaum muslimin yang mengikutinya binasa tidak tersisa satupun dibunuh oleh raja kafir… namun Allah puji tindakan dan dakwah si Gulam dalam surat Al Buruj karena berhasil berdakwah ditengah masyarakat dan raja kafir menegakkan tauhid walaupun harus ditebus musnah dan binasanya dia dan kaum muslimin tidak tersisa satupun…

    Apakah kamu masih berani mengatakan bahwa TEGAKNYA TAUHID lebih buruk dan lebih rusak daripada terjadinya kekacauan dan binasanya manusia…???

    Inilah bukti kebodohan dan ketersesatan kamu sebagi akibat taklid buta kepada ulama su’ sesat dan menyesatkan Al Albani…

    Semua syubhat yang ada pada kamu insya Allah kami memiliki jawabannya… semua tergantung kepada kamu apakah ingin mendapatkannay atau tidak…!!! semoga Allah membuka mata hati kamu dan memberi kamu hidayah…

  8. Abu Ukasyah says:

    ya akhi, sebaiknya antm ga tinggal di Indonesia,cepat2 aja hijrah….

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    millahibrahim:

    memang kenapa kalo ga hijrah…???

  9. Ar-Ribath says:

    Oh ya saya sedikit pun tidak takut dengan ancaman takfir kalian kepada diri saya…karena yang berhak mengkafirkan hanya alloh dan rasulnya bukan hawa nafsu kalian. Takfir kalian tidak berbahaya sedikit pun….

    Mana bisa cara-cara rusak kalian (yang dilabeli Jihad) memperbaiki keadaan yang memang sudah rusak?

    mana bisa?

    Baik Ilmu maupun kekuatan, kalian tidak memilikinya? bagaimana mungkin kondisi rusak suatu negara dan bangsa dapat diperbaiki oleh kerusakan cara dan metode kalian?
    Mana bukti keampuhan metode kalian?

    Sadarlah
    kalian hanya akan menambah kerusakan demi kerusakan? keluarnya kalian dengan pemberontakan hanya berujung pada kerusakan yang lebih besar dan munculnya hukum rimba ketika keonaran dan kekerasan menjadi tidak terkendali…
    hancurnya kemaslahatan agama, darah dan harta…

    sementara islam menjaga agama, darah dan harta
    manusia dan syariat dan hukum alloh itu menjaga kemaslahatan manusia…

    Membunuh aparat pemerintah malah yang tegak bukan hukum islam malah HUKUM RIMBA ..kacau dan onarnya masyarkat.

    cara-cara kalian tidak kami setujui…
    cara-cara yang rusak…

    jika memang memberontak adalah millah para nabi tentunya Musa sudah memprovokasi masyarkat untuk memberontak kepada fir’aun…

    Ibrahim sudah memprovokasi massa untuk memberontak kepada namrud…

    ………… edited

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    millahibrahim:

    “…karena yang berhak mengkafirkan hanya alloh dan rasulnya…” memang betul hak takfir adalah hak Allah dan Rasul-Nya… lalu bagaimana menurut kamu aplikasinya…? saya mau bertanya sama kamu, jika kamu sudah menerima lamaran seorang pemuda untuk dinikahkan dengan anak perempuan kamu dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan misalanya hari Senin, tiba-tiba pada hari Ahad kamu melihat calon mantu kamu itu berada di gereja mengikuti kebaktian… apa yang akan kamu lakukan…? rasul sudah tidak ada… jika kamu langsung membatalkan rencana pernikahan berarti kamu sudah mentakfir dia…!!!??? atau tegakkan hujah dulu… lalu bagaimana jika bersikukuh…??? tidak ada jalan lain kamu pasti mentakfir dia…!!! menurut keyakinan kamu… kamu tidak berhak… lalu bagaimana…??? oh… tanya ulama dulu… lha ulama kan bukan rasul…!!! tentunya di tidak punya hak juga dong…!!! lalu bagaimana…??? jawablah hai pemuda BAHLUL…!!!

    Semakin berkomentar semakin nampak KEBAHLULAN kamu terhadap dien ini… baca dan camkanlah wahai BAHLUL… ketahuilah bahwa syariat Jihad baru ada setelah nabi Musa diselamatkan dari Fir’aun sebelum itu Allah tidak mensyariatkan jihad kepada para nabi dan rasul-Nya… jadi dalih kamu dengan kisah nabi Ibrahim dan Musa sebelum diselamatkan Allah… tidak nyambung… mereka tentu tidak akan “memprovokasi” masa untuk “memberontak” kepada Namrud dan Fir’aun karena belum di syariatkan…

    Inilah bukti bahwa kamu tidak paham atas apa yang kamu ucapkan dan bodoh atas hakikat dien ini yang sebenarnya… semua itu akibat kamu bersikap taklid dan jumud kepada ulama sesat dan menyesatkan serta kepada asatidz salafy yang juga sesat dan menyesatkan sehingga kamu dan para pemuda yang seperti kamu terjerumus ke dalam kesesatan… Allah Musta’an…

    Kembali kamu jadikan akibat jihad yang kamu sangka sebagai kekacauan dan keonaran di mayarakat sebagai dalih UNTUK TIDAK BOLEH menjihadi thaghut kafir… apa kamu tidak paham juga tentang tafsir Syaik Sulaiman ibnu Sahman dan kisah Ashabul Ukhdud yang sudah saya sampaikan…??? atau malah kamu tidak baca…!!! ya tidak heran kamu menjadi JAHIL bin BAHLUL…

    Allahu Yahdik

  10. Ar-Ribath says:

    Mana Proses penegakan HUJJAH KEPADA PENGUASA?
    oleh kalian? MANA…kalian cuma bisanya mengumpat dan mencela dari balik layar?
    bagaimana bisa hujjah tegak?

    harusnya millah nabi itu dalam dakwah.. menghadapi dan datangi penguasa sebagaimana nabi musa, nabi ibrahim, nabi isa, dan sulaiman mendatangi dan mendakwahi para penguasa kafir.
    katanya millah ibrahim…sementara ibrahim itu mendatangai dan menegakkan hujjah secara langsung kepada penguasa kafir…tanpa takut dibunuh. Kalian takut?

    sementara kalian cuma mengumpat dibelakang
    mana itu millah ibrahimnya? HAH? apakah ibrahim kerjanya cuma takfir-takfir saja tanpa penegakkan hujjah secara langsung kepada penguasa?

    NABI MUSA, IBRAHIM, NUH di utus kepada KAUM YANG KAFIR PENYEMBAH BERHALA…NAMUN mereka tidak kerjanya cuma MENTAKFIR, MENTAKFIR FIR’AUN, NAMRUD. ia menegakkan hujjah dan mendakwahkan TAUHID kepada Kaum fir’aun/Namrud untuk menyembah alloh saja…
    padahal fir’aun, namrud itu JELAS-JELAS KAFIR dan THOGHUT. Loh kalian gimana? kok cuma vonis2 kafir terus kerjanya?

    Yah ada ada aja nih mas…saya katakan anda mau mencap saya kafir, bodoh bahlul itu saya tidak berfaedah apa-apa mas…ga masalah bagi saya celaan anda itu ga masalah.

    anda lah yang tidak nyambung bicaranya…masa membuat perumpamaan dengan orang yang memeluk agama nasrani dan menyembah salib digereja?
    ga nyambung…mereka sih jelas-jelas mengakui bahwa agama mereka nasrani bukan islam.

    sementara seorang muslim..keislamannya adalah yakin dan tidak dapat di hapuskan kecuali dengan hal yang yakin pula..sebagaimana kaidah

    al-yakin tidak dapat di hapus dengan keraguan..

    harus ada burhan dan bukti yang nyata tentang kekafiran orang islam yang dituduh telah murtad tersebut dari al-quran dan sunnah dengan pemahaman sahabat. bukan sekedar menduga2

    dan harus ada penegakan hujjah hingga hilang kejahilan dari orang yang jahil, dan syubhat dari orang yang menakwil, dan tidak ada paksaan dari fihak lain dari perbuatan yang kafir tersebut…

    dan harus ada proses penegakan hujjah ILMIAH
    baru takfir…itu pun bukan dikerjakan sama orang-orang yang ilmunya setengah2 kaya kalian

    orang-orang yang ilmu agamanya cetek yang berlagak seperti ulama..dan mengambil hak vonis kafir yang sebetulnya hak HAKIM/ULAMA SYARIAH

    serahkan masalah ini pada ulama yang berguru juga dari ulama bukan pada ustadz lokal yang bergaya sok ulama..
    yang belajarnya aja cuma di indonesia dan cuma otodidak

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    millahibrahim:

    Inilah akibatnya jika orang menilai kebenaran dizaman fitnah ini dengan kacamata kuda, tidak mau lagi melihat sekitarnya sehingga matahatinya menjadi buta untuk dapat melihat kebenaran… apakah kamu tidak tahu hai ar-ribath bahwa jika kamu menuntut penegakkan hujjah kepada penguasa sebelum ditakfir… sesungguhnya ust Abu Bakiar Baasyir sudah melakukan hal itu baik secara tertutup maupun terang-terangan… kamu bisa baca di buku Surat Kepada Penguasa jika memang kamu mau jawaban jelas dan pasti mengenai penegakkan hujjah…

    Apalagi syubhat yang kamu miliki hai Ar-Ribath…, apa kamu akan katakan bahwa penegakkan hujjah itu harus sampai paham… sebagaimana pahamnya para sahabat…???, berarti kamu ini memang amat sangat bodoh bin bahlul… cape saya ngelayani kamu…

    Terkait dengan contoh yang saya tanya ke kamu… apa kamu yakin dia sudah pindah agama nasrani…? bagaimana jika dia mengatakan “saya ikut kebaktian karena untuk menghormati teman yang nasrani yang mengajak saya ke gereja… sungguh saya tidak pindah agama… saya masih Islam kok…”, maka bagaimana sikap kamu… tidak mengkafirkan dia karena masih meyakini Islam dan tetap menikahkan anak kamu dengannya…??? maka itu adalah aqidah Murji’ah… atau kamu mentakfir dia… maka kamu tidak konsisten dengan keyakinan kamu bahwa takfir adalah hak ulama…!!!???

    Sekarang begini saja, jika memang kamu berniat ikhlas mencari ilmu… bismillah silakan kamu baca artikel-artikel dibawah ini DENGAN IKHLAS & BERLAPANG DADA UNTUK MENCARI ILMU DAN KEBENARAN tidak usah khawatir terkena syubhat, karena kamu dikaruniai akal untuk dapat memilih jika menurut kamu tidak benar silakan kamu kembali ke keyakinan kamu dan jika memang benar maka tobat dan rujuklah karena itu jalan yang terbaik…

    Sebelumnya saya ingin ingatkan kamu tentang kisah masuk Islamnya Thufail bin Amru Ad Dausy radliallahu’anhu… Dia orang terpandang, penyair yang cerdas dan menjadi pemimpin kabilahnya, ketika beliau datang ke Mekkah dan mendengar peringatan kaum Quraisy agar tidak mendengar dan menutup kedua telinga jika bertemu Muhammad saw karena ucapannya akan menyihir dia, pada awalnya dia mengikuti saran kaum Quraisy tersebut namun kemudian dia berfikir bahwa dia memiliki akal dan fikiran untuk bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, maka datanglah dia kepada Rasulullah saw dan mendengar tentang Islam… maka selanjutnya masuk Islamlah dia… coba kamu bayangkan apa jadinya jika dia mengikuti saran kaum Quraisy… keadaan inilah yang terjadi saat ini terhadap kamu dan para pemuda yang seperti kamu… ditahdzir untuk tidak mendengar, menutup mata dan telinga kebenaran dan dalil dari pihak lain selain dari kelompok dan ustadznya… Allahu Musta’an…

    Sungguh demi Allah saya dahulu sama persis seperti kalian…, namun dengan rahmat dan hidayahNYA saya bisa meninggalkannya…

    1. APAKAH PELAKU SYIRIK AKBAR KARENA KEJAHILAN, TAQLID, TAKWIL ATAU IJTIHAD DI UDZUR?
    2. IQAMATUL HUJJAH
    3. HAKIKAT TEGAK & SAMPAINYA HUJJAH
    4. TAKFIR MU’AYYAN DALAM SYIRIK AKBAR
    5. NAMA MUSYRIK & NAMA KAFIR
    6. STATUS MUSYRIK PELAKU PERBUATAN SYRIK WALAU BELUM ADA HUJJAH
    7. TAKFIR MU’AYYAN DALAM SYIRIK AKBAR & MASALAH DZAHIRAH (JELAS)

    Allahu Yahdik

    Wallahu A'lam

  11. az zarqowi says:

    Ar-Ribath ini dari segi uslub menunjukkan esistensinya sebagai BANYAK BACOT BIN JAHIL BIN BAHLUL tak berilmu yang mana berkoar-koar dibalik ketempurungan syaikh syaikh maz’uminnya.

    jadi lebih baik diam dirumah bantu istri didapur, kenakan celak mata serta sanggul istrimu maka itu jauh LEBIH BAIK daripada komentar-komentar yang sangat memalukan itu, yang mana artinya menunjukkan KEBODOHANMU sendiri.

    P A H A M ?

  12. abu sthabita says:

    @AR-RIBATH,
    Saya lihat nama sandi kamu bagus, artinya orang yang berjaga jaga, mau kah kamu dialog terbuka dengan Ustadz Abu sulaiman ? supaya ak ada keraguan atau tahunya hanya kata orang sana sini tentang ustadz abu sulaiman, kalau ia kami siap memfasilitasi, agar jelas Gajah yang ada di pelupuk mata kamu, secara dalil tenyata kamu sudah KO oleh jawaban2 dan bantahan bantahan yang diberikan mas Admin. tapi dasar manusia taklik maka sirah sirah terdahulu tak mampu untuk menjauhkan kamu dari kekeliruanmu. kami Jamaah dakwah, tauhid dan jihad siap 100 % untuk dialog dgn pentolan salafi di negara thagut indonesia ini, untuk antum ketahui dulunya ustad Aman itu pro PKS, pindah Salafy dan sekarang ya seperti apa yang antum lihat sendiri, udah dipenjara karena tauhid, tapi Alhamdulillah dakwah beliau semakin mantap. malah kalau di surabaya ada mantan salafi yang udah tobat dari manhaj salafinya yang anti jihad, anti demokrasi yes tapi hasil demokrasi dia jadikan jadi amirnya Innalillahi Wa inna Ilaihi Rajiun…kami tunggu ya akh Ar-ribath dialognya… apabila kamu berbeda pendapat maka kembalilah pada Allah SWt dan RasulNYA… NAH ITU YANG KAMI CARI WALLAHUALAM…

  13. Ar-Ribath says:

    Az Zargowi
    Ya kamu juga sama bahkan dua kali lipat.
    paham !

  14. Ar-Ribath says:

    Setahu saya Aman abdurrahaman Cs membuat Lembaga pendidikan Tahfidz quran yang namanya millah Ibrahim…Yang ternyata tetap menggunakan dasar hukum dengan Akte notaris juga.

    Padahal kita semua tahu bahwa Akte notaris diatur dalam Undang2 dan bagian dari hukum positif..dan punya nilai hukum/kesaksian dalam pengadilan hukum thogut positif. KUHP/perdata

    Dan tetap saja secara prosedural kalian tunduk pada prosedur hukum negara ini.

    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    millahibrahim:

    Pada dasarnya UU buatan manusia itu terdiri atas idary (peraturan-peraturan) yang tidak diatur di dalam Qur’an dan Sunnah seperti KTP, SIM, Surat Nikah, Lalu lintas, Akta Notaris, Akta Jual Beli dan sebagainya serta syar’i (syariat) yang sudah diatur di dalam Qur’an dan Sunnah seperti Hudud, Qishah, Nikah, Riba dan sebagainya yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah (musyrik jika dipalingkan).

    Pada dasarnya hukum asal taat kepada orang kafir adalah haram, jika terpaksa untuk menjalaninya maka HARAM jika dalam rangka ketaatan tapi HARUS/WAJIB dalam rangka kebutuhan dan menghindari madlarat bagi diri sendiri atau orang lain selama TIDAK DISYARATKAN DALAM MENDAPATKAN/MELAKUKANNYA DIHARUSKAN MELAKUKAN KEKUFURAN TERLEBIH DAHULU (misalnya BERSUMPAH/TANDA TANGAN KESETIAAN KEPADA NKRI), sehingga jika MISALNYA pada malam hari dalam keadaan sepi dan tidak ada anshar thaghut (polisi) maka boleh bahkan dianjurkan untuk melanggar lampu merah sebagai bentuk amal shaleh kufur kepada thaghut.

    Wallahu A’lam

  15. abu sthabita says:

    @ MAS ADMIN HAFIZHAHULLAH AMIN,
    AKH AR RIBATH YANG SAMA2 BELAJAR…ana juga thalabul ilm
    Tampaknya antum udah mendapatkan brosur lembaga tahfiz qur’an yang dibina ustadz Aman Abdurrahman, ana yakin antum tahu betul kami dan orang orang kami.
    dulu ustadz Abu sulaiman itu imam masjid jami’ Assofwa lenteng agung, kalau ada shaikh2 saudi datng bertamu beliau termasuk yang melayani dan menterjemahkan ucapan shaikh2 tsbt, dll.
    antum lihat kelihatannya enak kan ? ada jabatan imam mesjid yayasan milik saudi semua orang pingin jabatan tersebut. kalau masalah uang tak usah pikir, rumah gratis ada maisah lagi, tapi sayang seribu sayang setelah ustad aman mengenal salah seorang shaikh dari arab saudi daurah di sanlat dekat sukabumi, maka beliau meminta ustadz aman untuk baca kitab AQIDATUL MUWAHIDIN, MAJMUAH TAUHID, ADDURAR STHANIYAH DAN BANYAK KITAB LAINNYA MAKA ADA PERUBAHAN DI DALAM MANHAJ USTAD AMAN, kalau mau sedikit diskusi minta rujukan rujukan ustadz aman agar antum juga bisa baca. ustadz aman yang ana kenal sangat rendah hati, bicara lembut dan tidak pandai dalam bikin orang tertawa tapi isi kajiannnya adalah penyambung dakwah AIMMATUD DAKWAH, coba lah di cari tahu baru menyimpulkan dan jangan ambil kesimpulan apa kata orang. dulu buku2 terbitan darul haq ustad aman yang murojaah dan itu adalah uang masuk dalam ilmu matematika. Ustadz Aman tinggalkan itu semua karena bathinnya bergejolak berontak dan marah, antum lihat saja berapa banyak umat islam dibantai dihinakan dan dibunuh hanya karena dia islam, china, jerman, kasmir, dll. setelah dirunut masalahnya adlah karena kelirunya pemahaman tauhid orang islam, wala dan bara tak ada lagi, termasuk oleh negara saudi yang membiarkan amerika leluasa di timur tengah dan arab itu sendiri. jadi kami ini bukan pemeberontak bukan takfiri, bukan kelompok yang hujat menghujat saja mauanya, tapi ini semua dengan dalil akh…Sunnah rasul SAW yang mulia masih ada dihadapan kita, Alquran kalam ALLAH swt juga masih ada dan tak berubah sejak turunnya sampai sekarang. ana kaget tetangga ana ngaji salafy sama radio Roja, eh ternyata pada pemilihan thagut yang kemaren baik parlemen syiriknya dan amir thagutnya yang baru berlangsung dia ikut sebagai panitia inti di kelurahannya, jenggot panjang dan tak isbal… coaba antum bayangkan dan dia sangat meng idolakan ustd Yazid, Ustadz Hakim radio Roja’ nya.. nah menurut antum ini bagaimana ? dia itu bukan lulusan sd tapi sarjana pintar dan cerdas, apa hujah belum sampai ? kesimpulannya buka lah sedikit kran antum untuk tabayyun, kalau ustad Aman ngotot dak pake dalil ngomongnya antum katai dia dan dia tak akan marah …. dan kami tunggu. Allah Yahdi mayyasyak
    amin.

  16. Ar-rifa'i says:

    akh ribath, antm ko kaya preman yang baru masuk Islam,to?
    kalao antm sudah lama kenal Islam, harusnya lebih tahu adab & kesopanan toh.. jadi setidaknya antm (jika masih mengaku Islam)tunjukkanlah adab antm terhadap sesama muslim!
    cobalah antm ikuti kajian ustad Amman 1X saja. insya Alloh antm akan dapatkan penjelasan & jawaban2 atas kegelisahan antm selama ini dari Ustad Aman dengan sangat jelas bagaikan terangnya matahari di siang bolong saat langit cerah…
    semoga antm berani mencobanya & bukan termasuk pengecut. Dan semoga Alloh memberikan pencerahan terhadap antm.
    Wallohu A’lam

  17. Kalau memang anda mencari kebenaran datang ke rumah ana kita banyak bicara

    hubungi saya 081226699990

    saudaramu karena Allah
    Abu salma

    Berikutnya ;

    Ketahuilah Syaikh-syaikh yang anda sebutkan itu hidup pada masa kapan dan di negara mana ?

    Contoh : Syekh Abdul wahhab Berliau tinggal di Suudi yang merupakan kerajaan, kita mengetahui bersama kerajaan laisa minal islam Khilafah yang merupakan sistem Islam, mengapa Syekh Abdul wahhab taat pada pemerintahnnya bahkan bekerja sama ?

    Akhi ….kalau pedomannya adalah pemerintah itu berhukum dengan hukum Allah maka saya katakan semenjak Muawiyyah (semoga Allah meridhoinya) tidak ada lagi pemerintah yang berhukum dengan hukum Allah seluruhnya di sana ada penyimpangan-penyimpangan. Jadi apakah mereka semua bukan pemimpin bukan ulil amri ?

    Banyak-banyaklah belajar !
    Mari kita berkenalan lebih dekat lagi kalau perlu datanglah ke rumah saya, tidak cukup dengan sepoerti ini saja !
    Wasalamu ‘alaikum

  18. abiqon says:

    antum semua semangatnya sepanjang jenggot kalian, namun khawatir ilmunya sependek celana antum semua, untuk itu sudahi saja jidal ini

  19. petugaskm says:

    Ass.WW., Saudaraku yg dirahmati ALLOOH SWT…

    Dalam kehidupan dunia ini semua manusia mempunyai sistem kepemimpinan masing masing sesuai dengan keyakinannya. jika manusia itu ditakdirkan sebagai manusia atheis maka ia punya sistem kepemimpinan komunis dan juga yang lainnya seperti sosialis kapitalis, liberalis dam sebagainya. terus bagai mana dengan orang-orang yang mengaku dan ditakdirkan terlahir atau karena hidayah dari Allah ia sebagai muslim?! tentu ia punya ideologi dalam kepemimpinannya !!!! lantas apa ideologi kepemimpianannya itu? Apakah seorang muslim itu pantas berkepemimpinan kepada sistem selain sistem Islam? sadar atau tidak kita mempunyai sistem kepemimpinan yakni Khilafah Islamiyyah. yang dulu pernah jaya berabada-abad lamanya, yang kemudian hancur pada tahun 1924 M, oleh seorang manusia keturunan Yahudi yang bernama Mustafa Kemal Attatruk.

    Saudaraku…..Hanya dngan dalam sistem maka “bs membuat” satu, kita butuh dukungan orang2 berilmu spt antum, ALHAMDULILLAAH KHILAFAH ISLAMIYAH sudah ditegakkan kembali th 1418 H.,mulai hari ini marilah kita bangkit kembali untuk menata tahap demi tahap, sedikit demi sedikit Khilafah Islamiyyah sesuai dengan kemampuan kita.

    Jika ada hal2 yg kiranya tidak/belum berkenan,kami bharap dan dgn senang hati jika antum mau tabayun & mbuak diri untuk berdialog,n diharapkan bisa tatap muka, Melalui Jama’ah Khilafatul Muslimin ini kta songsong kejayaan ummat Islam dimasa yang akan datang ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !Masuklah dalam blog KHILAFATUL MUSLIMIN,mudah2an tulisan2 ini bmanfaat,dan juga saya ucapkan terima kasih byk atas phatiannya, JAZAKALLOOHU KHOIRON KATSIR..

  20. abu yusuf sandi says:

    bab takfir memang bab yang sangat berbahaya…
    ana hanya bisa bersifat tawaquf..
    semoga kita semua diberikan hidayah oleh Allah…

  21. Abu salma says:

    Ikhwah baca yang ini http://abasalma.wordpress.com/2009/08/29/sindrom-khowarij/

    = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Silakan kepada ikhwan/akhwat semua untuk mengunjungi blog tersebut, tapi ingat semua syubhat yang ada di dalam blog tersebut insya Allah sudah ada jawabannya semua di blog ini. Beginilah keadaan mereka para salafiyuun maz’um selalu tidak mau membaca dan mendengar hujjah yang nyata dan jelkas jika tidak datang dari kelompok mereka, datang ke blog ini dengan tanpa membaca dahulu isi blog ini… tapi langsung memberikan komentar dengan menyebarkan syubhat-syubhat rapuh andalan mereka… seandainya mereka mau sedikit meluangkan waktu membaca dengan niat ikhlas… inysa Allah terjawab semua syubhat mereka…

    Syubhat yang mereka usung berputar-putar disekitar udzur jahil pelaku syirik akbar dan takfir mu’ayan, semua itu insya Allah ada jawabannya di blog ini, silakan antum semua baca tulisan-tulisan berikut:

    1. APAKAH PELAKU SYIRIK AKBAR KARENA KEJAHILAN, TAQLID, TAKWIL ATAU IJTIHAD DI UDZUR?
    2. IQAMATUL HUJJAH
    3. HAKIKAT TEGAK & SAMPAINYA HUJJAH
    4. TAKFIR MU’AYYAN DALAM SYIRIK AKBAR
    5. NAMA MUSYRIK & NAMA KAFIR
    6. STATUS MUSYRIK PELAKU PERBUATAN SYRIK WALAU BELUM ADA HUJJAH
    7. TAKFIR MU’AYYAN DALAM SYIRIK AKBAR & MASALAH DZAHIRAH (JELAS)
    8. SIAPAKAH ORANG MUSYRIK ITU…?

    Mereka itu termasuk Aba Salma ini bodoh akan hakikat sebenarnya aqidah Khawarij… bagi mereka sifat utama Khawarij adalah mengkafirkan penguasa muslim… mereka menganggap peguasa sekarang masih muslim dengan mengudzur kekafiran penguasa tersebut berdasarkan syubhat-syubhat tersebut di atas… dan ciri utama lainnya adalah memberontak kepada penguasa muslim… padahal sejarah membuktikan bagaimana peralihan kekuasaan dari mulai bagaimana Mu’awiyyah mengambil alih kekuasaan sampai kepada bagaiman bani Utsman mengambil alih kekuasaan dari bani Abbasiyyah… semua itu dengan melakukan pemberontakkan… apa lantas mereka disebut Khawarij…?

    Wallahu A’lam

  22. abu sthabita says:

    @ abu salma
    ana harapakan antum belajar dulu sejarah kerajaan arab saudi baru antum ikut ningrum di blog ini
    rujukan dan shaik yg disebut sebut tadi adalah ulama kerajaan arab saudi awal pemebentukannya oleh keluar suud yang pertama, bukan yg sekarang ( kalau yg sekarang jongosnya ammaerika )
    ngaca dulu baru berkicau sukran

  23. fuad says:

    Allah SWT berfirman : “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, ( QS . A n nisaa : 88 – 89 )

  24. aku says:

    Sy dukung Ustadz Aman. soalnya teman sy yg punya ideologi sosialis komunis skrg Alhamdulillah jd tobat stlah mndengar MP3 ceramah Tauhid Ustadz Aman . kata teman sy itu ceramah Ustadz Aman mmg bagus dan penyampaiannya tenang,Antara dalil, logika, fakta dan realita memang sejalan. Insya Allah kebenaran Ilmiah.

  25. jaljalat says:

    perdebatanya hot banget, tapi alhamdulilah saya bisa menilai mana salafi yang sesungguhnya dan mana salafi bayaran, salafi bayaran pasti akan taat pada tuannya dari kalangan thogut yang mereka anggap ulilamri, ini bisa dijadikan standar penilaian..nggak usah bingung…

  26. JAGOAN NEON says:

    SALAFI GADUNGAN MMG HARUS DIHABISI SYUBHAT2NYA AGAR TDK MENYEBAR SPTI VIRUS FLU BABI YG TERNYATA JG SENGAJA DI SEBARKAN OLEH KAFIR AMERIKA…..
    KAMI SANGAT MENCINTAI MASYARAKAT AWAM DAN SENANTIASA BERLEMAH LEMBUT KPD MEREKA,MEREKA PUN SENANG DGN KAMI ,MENERIMA DAN MENDUKUNG DAKWAH KAMI, BUKAN SEPERTI SALAFI GADUNGAN..DAKWAH MEREKA HANYA ..MEMBAWA… Baca Selengkapnya … Baca SelengkapnyaKPD PERPECAHAN,DAKWAH MEREKA HANYA SERING MENYAKITI HATI MASYARAKAT AWAM BUKAN MALAH BERBEKAS DIHATI. MEREKA GAMPANG MENYIRIK2AN ORANG AWAM DAN SERING MENJELEK2AN SELURUH TANDZIM DAN PERGERAKAN ISLAM,TP THD TOKOH2 PEMIMPIN THOGUT SPT SBY DAN BUDIYONO TIDAK,PDHAL SBY JG BERGELIMANG KLENIK2, TANYAKAN SJ PD MUI JK TIDAK PERCAYA TTG SBY KONSUMEN KLENIK, KH KHOLIL RIDWAN DR MUI JG SANGAT BENCI THD SBY……MENGAPA MEREKA MEMBEDA2KAN INI??..ITU DI AKUI OLEH KEBANYAKN MASYARAKAT AWAM YG MEMBENCI CARA DAKWAH MUSALAFISUN(NGAKU2 SALAFI) YG JAUH DR KESEJUKAN..

    MASIH INGAT KEJADIAN AMERIKA SAAT MNYERANG IRAK? YANG TENTARANYA NUMBANG BOBOK DISAUDI ARABIA?BAHKAN MEMBUAT PANGKALAN MILITER DISANA DAN PARA US ARMY TENTARA AMERIKA CABUL ITU SAMPAI MENIKAH DISANA ,DAN BERANAK CUCU & CICIT HINGGA SAAT INI….ITU SMW DEMI MEMBUNUH SAUDARA2 MUSLIM KITA DI IRAK, YG ULAMA2 MEREKA MEMBERIKAN FATWA MEBOLEHKAN TENTARA2 CABUL TSB BERCOKOL DAN BERMUKIM DISANA DAN KEBANYAKAN DRPD PEMBEO2 MUSALAFISUN MENYETUJUI KEPUTUSAN BEJAT ITU..DEMI ALLAH KEPUTUSAN ITU AKAN MEREKA PERTANGGUNG JAWABKAN DISISI ALLAH SWT KELAK. SEPERTINYA PEMERINTAH SAUDI MALAH LEBIH MEMILIH BERMAKMUM KPD THOGUT2 INTERNASIONAL,EROPA AMERIKA DAN ANTEK2 MEREKA….lLIHATLAH KEMUNAFIKAN REZIM SAUDI YG TANGAN MEREKA BERLUMURAN DARAH KAUM MUSLIMIN DI IRAK,MESJID2 SUNNY IKUT HANCUR,MUSLIM SUNNY BANYAK YG JADI KORBAN KEBIADABAN MEREKA..JANGANLAH MEREKA MENCARI2 KESALAHAN MUJAHIDIN ,JANGAN SAMPAI KUMAN DI UJUNG LAUTAN TAMPAK ,GAJAH DIPELUPUK MATA TAK NAMPAK!! OH..SUNGGUH IRONIS..MALING TERIAK MALING,,SESAT TERIAK SESAT…LIHATLAH KISAH DAN AMBILLAH HIKMAH!!!

  27. Simpatisan mujahidin says:

    Assalamu ‘alaikum.wr.wb

    Saya sangat sakit hati saat salafi maz’um selalu saja membacakan hadist berikut pd umat Islam yg masih awam…

    Rasulullah SAW Bersabda :

    “Barang siapa yang tidak suka dari penguasanya suatu perkara maka bersabarlah, karena tidaklah seorang keluar dari ketaatan pada penguasanya (memberontak) sejengkal saja, kemudian ia mati maka matinya mati jahiliyah”. (HR. Bukhari)…..

    Ya Allah..Hadist2 itu adalah nash2 Khilafah atau Penguasa yg memerintah berdasarkan Islam..Jangan kalian dipukul rata dan paksakan Hadist itu thd seluruh sistem Iblis : demokrasi, sosialis komunis, isme2 sesat dan falsafah2 batil penguasa saat ini.Salafi maz’um zholim (tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya)demi membela tuan mereka para thogut penjajah aqidah

    Salafi maz’um
    Sebelum mengarahkan panah-panah beracun itu terhadap kami..arahkan dulu panah-panah beracun itu diri kalian sendiri..

    Rasulullah SAW Bersabda :

    مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُوْنَ شُرُوْطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ مَا كَانَ مِنْ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ قَضَاءُ اللهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللهِ أَوْثَقُ

    Tiada gunanya orang mempersyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah. Syarat apapun yang tidak ada dalam Kitabullah adalah batil meskipun seratus syarat. Ketetapan Allah lebih layak (diikuti) dan syarat Allah lebih kuat (dipegangi) (HR al-Bukhari, Malik dan Ibn Majah)

    مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُوْنَ شُرُوْطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ شَرَطَ مِائَةَ مَرَّةٍ شَرْطُ اللهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ

    Tiada gunanya orang mempersyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah. Siapa saja yang mensyaratkan suatu syarat yang tidak ada dalam Kitabullah maka tidak ada hak baginya (atas syarat itu) meskipun ia mensyaratkannya seratus kali. Syarat Allah lebih layak (diikuti) dan lebih kuat (untuk dipegangi) (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).

    Imam al Qurtubiy menjelaskan tentang pemerintahan Islam, bahwa bai’at, syarat dan akad yg wajib ditunaikan pelaksanaannya adalah yg sesuai Kitabullah, yaitu dienullah.Apabila nyata-nyata menyelisihinya maka ia tertolak ( Al Jami’ li Ahkam al Qur’an : 6/32-33 )…

    Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. Yusuf : 40 )

    APAKAH MEREKA TIDAK TAKUT AKAN AYAT INI ???

    Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar ( QS. Al Mu’min : 12 )

    Mereka kejam!!Mengapa??Karena mereka telah berdusta atas nama Allah dan terlalu cepat menuduh setiap mukmin yang berjihad memusuhi penguasa adalah mati dalam keadaan Jahiliyah, walaupun sejengkal saja, Masya Allah!Penguasa yg mana dulu? Padahal Hadist2 kataatan itu hanya boleh mereka pakai dan pergunakan saat berdirinya sebuah Daulah dan Khilafah Islamiyah, karena itu adalah nash-nash dalam pemerintahan Islam. Akan tetapi Point terpenting dlm Syahadat yaitu “Hanya Menegakkan Kalimatullah Islam yang kita yakini” justru mereka singkirkan.Tapi ironisnya..Hadist-hadist tsbut malah mereka pakai, mereka paksakan dan mereka terapkan thd penguasa2 yg terang-terangan menghalang-halangi cahaya Allah SWT dan tegaknya Dienullah serta memusuhi syariat-syariat-Nya..Takutlah kepada Allah salafi maz’um..!Pahamilah dengan hati yang bersih, jujur dan ikhlas tentang eksistensi penguasa thogut2 yg selalu mereka bela eksistensi dan keberadaannya!Sehingga tega-teganya memfitnah kita..

    Allah SWT Berfirman :
    Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum JAHILIYAH yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS. Al Ma’idah : 49-50)

    Apakah Hadist itu bertentangan dgn ayat diatas??Siapakah yg jahiliyah? Penguasa2 mereka yang membangkang dan menghalang2i tegaknya Hukum Allah…ataukah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir,Ustadz Aman, Ustadz Abu Jibril dan da’i2 penyeru Tauhid yg jujur yg justru memperjuangkan tegaknya Hukum Allah?

    Salafi maz’um ..Fakkir qobla an ta’mal..berfikirlah engkau sebelum bertindak!!Dasar Salafiyyun palsu dan ulil amri palsu…sama-sama Jahiliyahnya. Setali tiga uang..

  28. umarhadid says:

    Akhi @ar ribath & @ abu salma ;
    menurut antum berdua apakah orang2 yang berperang melawan AS di Afghanistan, Somalia,Iraq atau melawan Rusia di Chechnya apakah mereka khawarij???
    Bukankah mereka memerangi Amerika & Rusia tanpa izin presiden mereka, Hamid karzai (afganistan), Nuri al Maliki (Iraq), syarif ahmed (somalia) dan Ramzan kadyrov (Chechnya)???
    Mohon di jawab !!!

  29. almartir says:

    …isya Alloh menjadi pelajaran telak untuk Salafy palsu,semoga dibukakan hatinya Oleh Alloh,bagi yg mereka niat ibadahkarena Alloh,bukan karena selainnya…Amin

  30. jan- - - mania says:

    Akhi @ar ribath & @ abu salma ;
    menurut antum berdua apakah orang2 yang berperang melawan AS di Afghanistan, Somalia,Iraq atau melawan Rusia di Chechnya apakah mereka khawarij???
    Bukankah mereka memerangi Amerika & Rusia tanpa izin presiden mereka, Hamid karzai (afganistan), Nuri al Maliki (Iraq), syarif ahmed (somalia) dan Ramzan kadyrov (Chechnya)???
    Mohon di jawab !!!
    (dah 2 x nanya blm dijawab2 !!!)

  31. umarhadid says:

    Pertanyaan bagi salafy Maz’um :
    Jika seorang presiden yang KTP-nya Islam dan sholat 5 waktu di negara yang mayoritas penduduknya Islam, tetapi dia dalam memerintah menggunakan Injil sebagai dasar negara dan sumber hukum, sehingga semua peraturan diatur berdasarkan Injil, dalam urusan umum,hubungan manusia dengan manusia, dengan negara, urusan halal-haram, darah, harta,dll. Tetapi untuk urusan pribadi manusia untuk memeluk agama dan beribadah dia jamin kebebasasannya, selain itu maka semua aturan diterapkan berdasarkan Injil.
    1.apakah presiden ini masih dianggap sebagai ulil amri yang sah dan harus kita ta’ati?
    2.apakah status negeri tersebut? daarul Islam atau daarul kufri??

    Jika antum menjawabnya dengan mengatakan bahwa presiden tersebut masih ulil amri yang sah dan negerinya adalah daarul islam maka ana tidak ada komentar kecuali aqidah antum berada dalam kondisi gawat sehingga harus segera dilarikan ke UGD/ICU untuk dioperasi.
    Jika antum menjawab bahwa presiden tersebut telah kafir dan negeri tersebut daarul kufri, maka pertanyaannya adalah :itu kalau Injil yang masih ada sedikit unsur wahyu didalamnya, lalu bagaimana dengan sumber hukum yang seluruhnya hasil pemikiran manusia (Qowaniin)??? apakah tidak lebih parah kekafirannya???

  32. sunan says:

    NII tetap NII, sangat konyol.
    - Mengangkat diri menjadi Khalifah tapi nggak punya kekuasaan, yang dimiliki hanya semangat dan kebodohan, mana ada raja atau kerajaan tanpa kekuasaan, anak kecil juga ngerti.
    - Kalo anda tahu, Hisbut Tahrir pun mempunyai khalifah sendiri lho, level nasionalnya juga ada, IM juga punya Kahlifah, hehehe, pilih yang mana bung? NII,HT, IM sama2 pemecah belah agama.
    - Kerajaan Saudi Arabia adalah turunan dari raja suud semasa syekh muhammad bin abdul wahhab yang sering kalian jadikan rujukan (sebagian, sebagian diingkari). Jelas ini adalah kerajaan islam yang menegakkan hukum islam seperti yang kalian cita2kan dan perjuangkan walaupun dengan kebodohan. Namun sebuah kerajaan/negara pasti mempunyai kelemahan, dan terkadang sang Rajanyapun mempunyai kedzoliman, wajar kita harus bersabar.
    Di saudi hukum hudud tegak, riba haram, musik haram, gambar bernyawa haram (kecuali pd mata uang, ini kelemahan), aurat wanita haram. Lantas apalagi yang belum?
    Sepertinya NII lebih pro pada iran (syiah)/ mesir (liberal)?
    - Raja Najasyi telah masuk Islam, dan beliau belum mennegakkan syariat islam, Beliau meninggal dan dikuburkan dengan cara nasrani, namun rasulullah tetap mensholati beliau (sholat ghaib). Kalo menurut NII (khowarij)pasti raja najasyi tapi sudah dianggap kafir.
    - Apakah kalian mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak sepakat dengan kalian (ikut jamaah takfiri NII), sudah ditegakkan hujjah kepada mereka?
    mereka itu ngga ngerti tentang islam pak, baca qur’an juga ngga bisa, boro2 paham tentang islam, yang mereka tahu syariat islam itu seram dan menakutkan, ditambah lagi ulah khalifah islam yang tanpa kekuasaan (NII/khowarij) suka nge bom sana sini.
    yang mereka tahu Alloh itu maha pemberi ampun, dosa apapun akan diampuni yg penting udah syahadat, parah kan? itulah kewajiban kita memberikan taklim pada mereka, bukannya malah NT Kafir!!!, taklim dulu, beri keteladanan ahlak, berikan hujjah dg makruf dan sabar, kalo mereka menolak silahkan vonis dia sebagai fanik, munafik, musrik, atau kafir.
    - Saya juga mau tanya, selama ini kaum muslimin bangsa Indonesia menikah dengan cara islam, adzan dengan cara islam, sholat, zakat, aqiqah,bahkan sampai pada bid’ah2nya, apakah ini semua bukan syariat islam? bukankah adzan adalah syiar islam tertinggi, dimana seorang hamba ketika sholat adalah terdekat dengan tuhannya?
    hudud hanyalah sebagian hukum islam, dan itu butuh media kekuasaan sebagai sarana, bukan tujuan.
    ==============================================
    Admin:

    Seorang muslim hendaknya berkata sesuai kebenaran, mengemukakan pendapat sesuai dengan bukti. Jika tidak, maka hanyalah sebuah kedustaan besar & sebuah tuduhan tanpa bukti. Sedangkan yang kau bawakan hanyalah tuduhan2 tanpa bukti. “Katakanlah: Tunjukilah bukti kebenaran kalian jika kalian adalah orang-orang yang benar,” Al Baqarah:111

    Kau salah tempat bung…. kami bukan NII. Lagipula NII yang kami ketahui juga tidak seperti tuduhanmu.

    Kerajaan saudi sekarang bukan kerajaan Islam, hukum yang berlaku disana bukanlah hukum Islam (walaupun sebagian hukumnya merujuk ke Islam). Baca artikel2 ini:
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-pertama-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-kedua-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/19/seri-ketiga-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-keempat-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-kelima-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-keenam-kekafiran-negara-saudi/
    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-terakhir-kekafiran-negara-saudi/

    Sebutkan & jelaskan kepada kami dengan nash yang shahih lagi sharih qath’iyy dilalahnya bahwa Najasyiy itu tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan setelah keislamannya!
    Wajib diketahui bahwa sesungguhnya Najasyi telah menghukumi dengan apa yang Allah turunkan yang sampai kepada dia. Baca artikel:
    http://millahibrahim.wordpress.com/2009/02/27/syubhat-demokrasi-2-raja-najasyi-tidak-berhukum-dengan-hukum-allah/

    Kau ini sungguh ngawur, kau menuduh kami mengafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak sepakat dengan kami. Mana bukti dari tuduhanmu? Pernyataan atau artikel mana dari blog ini yang menjelaskan seperti itu?!?!

    Penegakan hudud bukanlah tujuan kami. Tegaknya Dienulloh di atas muka bumi ini adalah apa yang kami usahakan melalui dakwah ilalloh & jihad fi sabilillah.

    Hadakalloh

  33. Anti Khilafah says:

    Awalnya artikel ini menarik. Setelah dibaca lebih lanjut,rupanya point-counterpointnya gak berimbang. Menunjukkan pemamahaman penulis yg masih sangat rendah dlm bidang sistem pemerintahan selain khilafah Islamiyah.
    Kalau mau mempengaruhi org lain ya mbok lebih cerdas lagi caranya,jgn cuma hambur-hambur dalil dgn penafsiran egois khas golongan pengusung khilafah.
    Nih saya beri salah satu contoh komedi dlm artikel ini…
    “Pancasila adalah dien, karena dien adalah jalan hidup, agama, aturan dan pedoman hidup, falsafah atau silahkan orang menyebutnya apa saja… tapi yang jelas Pansacila adalah dien. Ini singkat saja kita tinjau.

    Dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi kita tidak tahu siapa yang dimaksud, karena Pancasila mengakui berbagai agama dengan tuhan-tuhannya masing-masing yang beraneka ragam. Maka cukuplah falsafah ini menjadi sesuatu yang rancu bagi orang yang berakal.”

    Pancasila adalah dien? Ckckck,cuma org dungu yg akan mengistilahkan Pancasila sebagai dien.
    Kalian tinggal,makan,sekolah,beranak,dlsb di Indonesia. Namun berani2nya mendiskreditkan dasar negara. Mana nyali kalian di era Orba?
    ================================
    Admin:
    sebenarnya jawabannya ada pada kutipan anda sendiri.
    Pengertian dien adalah jalan hidup, agama, aturan dan pedoman hidup, falsafah.
    Apakah kamu tidak mengetahui bahwa negara ini telah menempatkan pancasila sebagai jalan hidup, pedoman hidup??
    Maka cukuplah falsafah ini menjadi sesuatu yang rancu bagi orang yang berakal

    Ini kutipan dari artikel seri materi tauhid:
    NKRI berlandaskan Pancasila
    Pancasila -yang notabene hasil pemikiran manusia- adalah dasar negara ini, sehingga para thaghut RI dan aparatnya menyatakan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, dasar negara RI serta sumber kejiwaan masyarakat dan negara RI, bahkan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia dan setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan serta lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah. (Silahkan lihat buku-buku PPKn atau yang sejenisnya).

    Jadi dasar negara RI, pandangan hidup dan sumber kejiwaannya bukanlah Laa ilaaha illallaah, tapi falsafah syirik Pancasila thaghutiyyah syaithaniyyah yang digali dari bumi Indonesia bukan dari wahyu samawiy ilahiy.

    Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

    “Itulah Al Kitab (Al Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al Baqarah: 2)

    Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila, pedoman hayati bagi bangsa dan pemerintah Indonesia. (Inilah Pancasila, tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi bangsa dan pemerintah Indonesia)

    Kemudian kami katakan kepada mereka: Inilah Pancasila, sungguh tak ada keraguan, sebagai pedoman kaum musyrikin Indonesia.

    Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

    “……..Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia..” (Al An’am: 153)

    Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila Sakti, maka hiasilah hidupmu dengan moral Pancasila.
    kutipan selesai…..
    http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-13-masihkah-engkau-ragu/

    Cukuplah seseorang itu menjadikan pancasila sebagai pedoman hidupnya/jalan hidupnya, maka ia telah menjadikan pancasila itu sebagai diennya.

    Kalian tinggal,makan,sekolah,beranak,dlsb di bumi ALLOH. Namun berani2nya meninggalkan Dienulloh dan menjadikan dien pancasila sebagai pedoman/jalan hidup.

    Hadakalloh

  34. mirsha says:

    assalamu ‘alaikum
    @admin
    afwan ana mw bertanya pd antum
    bagaimana hukumnya berharakah? apakah harakah itu =firqah?
    mohon jawabannya
    syukron

  35. mujahid says:

    Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat “ulul amri” pada QS An-Nisa:59. Pertama, ulil amri bermakna umara (para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan). Ini merupakan pendapat Ibn Abbas, as-Sady, dan Abu Hurairah serta Ibn Zaid.

  36. mirsha says:

    adanya negara islam adalah sebuah keharusan. karena untuk mengaplikasikan hukum(islam) secara total haruslah ada institusi yang melaksanakannya. dan dikatakan negara islam karena ideologi dan landasan negara tersebut adalah syariat islam yang utuh.
    sesuai dengan apa yang dikatan oleh Umar bin Khatab ra “tiada islam tanpa jama’ah, tiada jama’ah tanpa kepemimpinan…” maka keberadaan pemimpin dalam sebuah negara harus adanya. hanya saja pemimpin yang diakui oleh syariat adalah pemimpin yang taat pada Allah, pada Rasul, dan mengembalikan/memutuskan segala perkara berdasarkan alquran dan sunnah dan haruslah mengaplikasikan hukum islam secara total dan menyeluruh (QS AlBaqarah 208)
    Bila negara tidak berlandaskan syariat islam maka tidak disebut negara itu sebagai negara islam. dan pemimpinnya tidak disebut sebagai pemimpin kaum muslim (khalifah)
    wallahu ‘alam

  37. Ahmad Al-Aukali says:

    ALLAHUMMAHDINAA FIMANHADAIT…..
    ALLAHUMMAN SHURIL ISLAM
    ALLAHUMMAN SHUR IKHWANAL MUJAHIDIN FI KULLI MAKAAN YA RABBAL ‘ALAMIN

  38. joko purnomo says:

    Assalamu ‘alaikum…
    Pak Ustadz, saya mau bertanya mengenai tokoh2 ulama yang harus menjadi rujukan yang berdasarkan Qur’an dan Hadist, agar saya tidak salah merujuk kepada beliau…
    Ketika saya membaca sebuah artikel tentang Membongkar Kedok Sufi : Ilmu Laduni
    Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425, yang di mana dalam kalimat terakhir menyebutkan mengenai Hadits-Hadits Dho’if dan palsu yang tersebar di kalangan umat, salah satunya adalah:

    Hadits Ali bin Abi Thalib:
    عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
    “Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

    Keterangan:
    Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227)

    1. Yang saya mau tanyakan adalah, apakah Ibnul Jauzi, Adz Dzahabi dan Asy Syaikh Al Albani termasuk ke dalam tokoh ulama su’ dan sesat?
    2. Lalu ada teman saya yang mengomentari mengenai Hadits Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan, “trus al-Bani dianggap lebih alim dari Imam Bukhari…apa ndak… salah itu?”
    3. Apakah Syaikh Al Albani di sini.., sama dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang di mana beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Dan juga Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits?

    Oleh karena itu, saya mohon penjelasannya Pak Ustadz…, agar saya tidak salah dan tersesat di dalam memilih tokoh ulama yang benar sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadist…, Jazakallah…
    Saya (joko) yang masih dhoif dan terus belajar mengenai islam..:)

  39. jornalis says:

    maka benarlah apa yang dikatakan oleh….. (melainkan orang yang ditutup rapat2 hatinya oleh alloh, dari cahaya wahyu)…. mari kita dukung para mujahid…. dan mendo’akan kebaikan bagi mereka, dan semoga kita bisa sepertimereka atau bahkan menyusul mereka…..

  40. Al-Fakir says:

    saya mau tanya…..
    berarti sby, boediono, anggota dpr, dan orang yang menjadikan selain islam jalan hidup semuanya kafir,,
    apakah benar begitu….
    tapi walaupun begitu mereka khan masih ada keimanan walaupun sedkit,
    terus saya juga mau tanya bagaimana jika ada orang muslim yang kurang paham masalah ini, sehingga menyatakan loyalitas kepada hukum bentukan manusia (kurang paham agama), apakah ia juga dihukumi kafir…
    maaf masih belajar islam, butuh penjelasan lebih lanjut, agar saya tak salah memahami….

  41. sekarsidan says:

    @Al-Fakir
    Iman terbegai menjadi menjadi 3 bagian, sesuai dengan martabatnya. Sebelumnya akh al-Fakir harus tahu bahwa iman adalah perbuatan hati DAN perbuatan lisan DAN perbuatan anggota badan, bukan sekedar Tashdiq (pembenaran). Iman juga dapat batal karena amalan mukaffiroh hati ATAU amalan mukaffiroh lisan ATAU amalan mukaffiroh anggauta badan.
    Ibnu Taimiyyah mengklasifikasikan Iman menjadi :
    1. Ashlul Iman : Adalah bagian iman yang harus ada pada setiap muslim, kebalikan dari iman yang pokok adalah dosa-dosa mukaffiroh. Barangsiapa mengamalkan dosa mukaffiroh, maka gugurlah ashlul imannya, sehingga gugur pula seluruh keimanannya. Orang yang meninggalkan ashlul iman adalah orang Kafir.
    2. Iman Wajib : Adalah bagian iman yang apabila ditinggalkan maka tidak menyebabkan kekafiran, kecuali dengan pengingkaran atau penghalaln/pengharaman atas apa-apa yang telah disyariatkan. Kebalikan dari Iman Wajib adalah dosa-dosa besar yang tidak mukaffiroh. Orang yang meninggalkan Iman Wajib disebut sebagai orang fasiq.
    3. Iman Mustahab : Adalah bagian iman yang merupakan sunnah-sunnah yang dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak mendapat dosa. Jelas sekali bahwa orang yang meninggalkan iman ini tidak dapat disebut sebagai fasiq apalagi kufur.

    Jadi yang dilakukan oleh aparatur negara thoghut ini adalah pembatal ashlul iman, keislaman mereka batal, walaupun mereka masih shalat. Shalat mereka tidak berguna seperti halnya shalat Ahmadiyah, sebab syahadat mereka telah batal.

  42. muslim says:

    artikel-artikelnya sangat mencerahkan di jaman penuh fitnah dan penuh ulama salafy irja’i.

    tetap semangat para penyeru tauhid dan para mujahid :D

  43. al-Faqir says:

    kalau begitu mereka yang saya sebutkan di atas kekal di neraka, apakah benar ???
    Mohon penjelasannya

  44. sekarsidan says:

    @al-Faqir
    SBY dan Boediono, kalau tidak bertaubat maka akan kekal di neraka!!! haram bagi seorang kufur untuk masuk surga!!! Ust Mukhlas at-Tinjuluni berfatwa seperti ini secara muayyan.
    Sedangkan bagi anggota DPR maka secara hukum muthlaq jika mereka tidak bertaubat maka hukumnya juga kekal di neraka. Adapun secara muayyan, maka perlu peninjauan lebih lanjut.

  45. alaydrouz says:

    Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)”. Kemudian beliau (Nabi) diam.”

    (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).

    bagaimana dgn hadist ini???

  46. Saifa Kecil says:

    subhanalloh…. ana sepakat dengan pemahaman ini. benar bagaimana hukum yang ada di NKRI ini, adalah hukum thogut

  47. abu fadhil says:

    Maaf, admin. Jika anda bermaksud mengajak orang pada kebenaran, kenapa sikap anda tidak mencerminkan orang yang berdiri di atas kebenaran dengan mencaci orang2 yang berbeda pendapat dengan anda seperti mengatakan mereka bahlul, bodoh dan sebagainya? Apakah ini sikap seorang pembela kebenaran? Apakah kata2 yang anda ucapkan itu adalah iman yang berkata ataukah nafsu? Apakah anda ingin kami mengikuti orang yang mengikuti hawa nafsunya seperti anda?

  48. penimba ilmu Islam says:

    Undang-Undang No 10 Tahun 2004 pasal 2 menegaskan ” Pancasila merupakan Sumber dari segala Sumber Hukum Indonesia”.

    Merupakan pasal dan ayat yang menduduk-kan pancasila setara bahkan diatas Al Qur’an, di republik Indonesia

    Undang-undang dan pasal yang secara tidak langsung memberangus/mengebiri umat Islam di Indonesia untuk mengamalkan :

    “Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59)

    Karena di Indonesia setiap aturan yang mengatur perselisihan atau tidak, haruslah merujuk pada pancasila.

    Halal kata pancasila, harus halal pula kata rakyatnya, dan haram kata pancasila harus haram pula kata rakyatnya.

    Allahul-Musta’an..

  49. riki says:

    NKRI Memang jauh dr sempurna. Tp di NKRI gw bebas beribadah kpd ALLAH SWT tanpa rasa takut. Smoga ALLAH SWT trus menjaganya. Kl ada pihak yg coba2 ganggu NKRI, cukuplah ALLAH sebagai pelindung.

  50. alina says:

    Alhamdulillah… semoga Allah merahmati penulis blog ini. Sungguh banyak manfaat yang bisa saya petik. Dari komen2 yang ada saya juga bisa mengambil pelajaran tentang sifat2 manusia, sebagian berhati lunak sehingga mudah menerima petunjuk, sebagian lagi berhati keras seperti batu sehingga ketika menerima nasihat bangkitlah kesombongannya.

  51. zahra says:

    BILA MANUSIA TIDAK MAU TUNDUK PADA HUKUM ALLAH
    BAIK DALAM KEADAAN RELA ATAUPUN TERPAKSA
    MAKA..
    MANUSIA AKAN TERSERET TUNDUK PADA HUKUM THAGHUT
    BAIK DALAM KEADAAN RELA ATAUPUN TERPAKSA

  52. sumahan says:

    Gini aj deh,coba ente liat.kelompok “salahfikir” ada ga yg bersimpati dgn mujahidin yg menegakkan kalimatullah di seluruh penjuru bumi ini,spt di afghan,palestine,iraq,kashmir,somalia,mali,yaman,dll?..yg ad mereka berfatwa mujahidin di palestine ga usah lawan yahudi disuruh minggat aj dr palestine karena ga seimbang..mereka ga sadar ap ya,Rosululloh dan para sahabat ketika perang badar bgm perbandingannya dgn kaum musyrikin?perang yarmuk bgm perbandingan kekuatannya?..jujur aj ya,mereka golongan “salahfikir” dah enak hidup di dunia dgn fasilitas kemewahannya..

  53. sumahan says:

    Ulama robbani semisal ust abu bakar ba’asyir,ust aman dikatakan khawarij..thoghut dibela.lidah mereka sangat gampang mentahdzir ulama2 yg lurus…ente jadi kafir lebih aman berteman dgn mereka..benar2 syubhat abad ini golongan “salahfikir” penggembos jihad abad ini dgn berbagai macam syubhatnya..sependapat dgn admin syubhat2 mereka insya Alloh dengan mudah dipatahkan di blog ini bagi mereka yg mau cari kebenaran

  54. udah om jangan taqlid buta sama Ulama dan bersikap hormat pada Ulama

  55. alfaqiirah says:

    assalamu’alaykum…
    bagaimana hukum bai’ah/muahadah pada saat ini sedangkan tidak adanya ulil amri dan khilafah belum tegak, berkaitan dengan hadits “man maata wa laisa fii ‘unuqihi bai’ah maata miitatan jahiliyyah”…????
    jazakumullah

  56. alfaqiirah ilallah says:

    assalamu’alaykum..
    bagaimanakah hukum berbai’ah/muahadah saai ini sedangkan tidak adanya ulil amri dan khilafah belum tegak, berkaitan dengan hadits “man maata wa laisa fii ‘unuqihi bai’ah maata miitatan jahiliyyatan”
    jazakumullah

  57. Bangun Belajar says:

    Assalamu’alaykum afwan ust klu bleh ana mau nanya,, kata ust Aman,, (rt) itu trmasuk anshor thogut,, lalu bagaimana hukumny sholat dg (rt), di mesjid daerah ana Dkm-ny rt dan terkadang jdi imam,, apakah semua anshor thogut itu sama?
    JazakAlloh khir sblumnya.
    _____________
    Admin:
    Wa’alaikum salam warahmatullohi wabarokatuh….
    ust. aman tidak pernah menyatakan langsung seperti itu, jika ada harap diberitahu di mana letak penyataan tersebut.

  58. ghaziyah says:

    assalamu’alaykum…afw, apakah semua mufti kerjaan saudi termasuk ulama bayaran thaghut?kemudian kepada siapa seharusnya mengambil fatwa yg bisa dijadikan rujukan?
    juziitum khoiron…
    ______

    Admin:
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.
    Tidak semua ulama Saudi demikian, masih banyak sekali ulama-ulama tauhid di sana yang menyuarakan al haq tanpa takut kepada manusia… yang tidak loyal kepada thaghut Saudi.

  59. Aris says:

    Semoga Alloh merahmati mukminun, serta memberikan hidayah dan nur. dan atas terimakasihku semoga admin dirahmati Alloh…

  60. pitopangsan hassan jannisary says:

    assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
    bismillah,
    ya akhi fillah yang insyaalloh diberkahi

    bagaimana status 2 kota suci ummat islam yakni makkah dan madinah menurut pemahaman admin ? apakah dikatakan negara kafir juga ya akhi admin ? apakah 2 kota suci ini terpisah dari bagian negara saudi ? mohon paparannya.
    ______

    Admin:
    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh.
    Dulu sebelum futuh Mekkah, apa status Mekkah?
    Dulu saat dikuasai kafir quraisy, adalah negara kafir. Dalam fase melemahnya dinasti Abassiyyah, Mekkah pernah dikuasai Qaramithah yang mulhid lagi kafir dan hajar aswad mereka copot dan mereka bawa selama 20 tahun, bahkan dalam hadits shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam katakan: “Hari kiamat tidak akan tiba sampai tidak dilakukan haji ke Al Bait,” artinya Mekkah jadi Dar Kufr. Itu bisa walau setelah Rasul diutus bila dikuasai penguasa kafir, dan dulu saat Mekkah dikuasai Syarif Husen yang merupakan boneka Inggris adalah haji dar kufr juga dan begitu juga sekarang saat dinasti Sa’ud boneka Amerika dan Inggris…

  61. padma says:

    Assalamualaikum, bismillah. mas admin, sepertinya yang saya ketahui, surat an Nisa ayat 59 tidak sependek itu deh, agak panjang sedikit, kemudian saya mau nanya, konsekwensi sebagai orang iman, siapakah ulil amri mas admin ?
    _______

    Admin:
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh
    Ulil Amri itu adalah pemimpin Islam dan para ulama…

  62. kalau muhammad mursi dari ikhwanul muslimin apakah ulil amri bagi umat islam di mesir ?
    _______

    Admin:
    Mursi itu thaghut bukan ulil amri, karena terapkan hukum thaghut dan demokrasi.

  63. Rafi Affandi says:

    Assalaamu’alaikum..
    afwan akhi ana minta artikelnya hehehe..
    _________
    Admin:
    Wa’alaikumussalam..
    silahkan, semoga bermanfaat.

  64. Assalamu’alaykum warahmatullah wa barokatuh.. Maha benar ALLAH dg segala firman Nya, ayat diatas sungguh sangat jelas menerangkan pada kita siapakah kafirin dan siapa muslim, yang perlu digaris bawahi disini adalah, kenapa semua itu terjadi? kenapa banyak pemimpin islam tak paham akan aqidahnya? lantas bagaimanakah ISLAM menyelesaikan problem ini?, kita semua sepakat bahwa AGAMA ini “ISLAM” telah diturunkan secara sempurna oleh ALLAH SWT, Setiap problem pasti sudah tersedia solusinya,

    pertanyaannya:
    Adakah di dalam ISLAM Mencacai orang yang musyrik tanpa dia sadar kemusyrikannya, apakah itu satu2nya cara?
    Adakah dalam ISLAM berjuang dg JIHAD OFENSIF sebelum adanya daulah ISLAM?

    Kita semua ingin ISLAM TEGAK, SEMANGAT anda patut diberikan apresiasi namun ISLAM TIDAK AKAN TEGAK JIKA HANYA BERBEKAL SEMANGAT, TANPA STRATEGI YG JITU.

    Bismillah, salam ukhuwa fillah,,, keep fighting dan mari menjadi yang lebih baik demi tegaknya ISLAM.

    ———-

    Admin:
    Semoga kita tergolong orang-orang yang beramal dalam iqmatuddien di atas ilmu dan amal.. anda bertanya tapi sudah punya jawaban sendiri..jadi tidak perlu kami jawab..

  65. firdaus says:

    silahkan pemerintah RI mengatur saya dalam segala hal, karena saya adalah warga negara RI.

    Tapi pemerintah RI tidak berhak mengatur ibadah saya, keyakinan saya tentang agama. Dalam hal ini, aturan yang harus saya taati adalah ketentuan yang datangnya dari Allah, bukan yang datangnya dari kesepakatan sekelompok orang.

    Akan tetapi, jika ketentuan Allah yang ditaati adalah benar-benar orisinil dari Allah, dan jika aturan pemerintah juga dibuat oleh orang-orang beriman, insyaallah aturan pemerintah RI tidak akan bertentangan dengan ayat-ayat Allah

    ——-

    Admin:
    Sepertinya saudara belum memahami siapa itu yang membuat hukum dan undang2..yang berwenang membuat hukum dalam sistim demokrasi di negeri ini adalah para anggota legislatif dan sebagian eksekutif, yang mana mereka itu adalah para perampas hak khusus Allah, yaitu tasyri’ (pembuatan hukum), mereka itu bukan orang orang beriman tapi mereka adalah para thaghut yang mana hukum buatan mereka itu adalah hukum thaghut walau pada satuannya kadang ada yang seperti hukum islam, tapi kemiripannya dgn islam tidak menjadikan hukum itu sebagai hukum Allah atau hukum yang benar..

  66. thaifah al-manshurah says:

    alhamdulilah ilmuny bermanfaat

  67. thaifah al-manshurah says:

    alhamdulilah untuk kesekian kali ana berdiskusi dengan pengaku ngaku salaf yang sering menfitnah mujahidin salah satunya ini https://m.facebook.com/Wong.Nyunnah?refid=46 dan ana ajukan pertanyaan kepadanya

    berdasarkan apakah sistem pemerintahan
    indonesia itu dijalankan?
    A. berdasarkan syariat islam (Al quran dan
    sunnah Nabi muhammad saw)
    B. berdasarkan Demokrasi ( UUD 45 &
    pancasila).

    dia langsung kabur terbirit birit padahal dia mengaku bermanhaj salaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,186,567 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 324 other followers

%d bloggers like this: