Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Syirik Dalam Hukum Seperti Syirik Dalam Ibadah #3

Apakah negara ini menerapkan hukum Islam atau Undang-Undang buatan? Apakah sekuler atau Islam? Sekuler itu kafir.

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata: “Bergabung dengan paham-paham ilhadiyyah (kafir), seperti komunis, sekuler, kapitalisme, dan paham-paham kafir lainnya adalah kemurtaddan dari Islam. Bila intima (bergabung) dengan paham-paham itu mengaku Islam maka ini tergolong nifaq akbar, karena sesungguhnya kaum munafiqin itu intima kepada Islam secara dhahir sedangkan di bathin mereka itu bersama orang-orang kafir.” (Muqarrar At Tauhid: 3/76)

Memang orang-orang demokrat, nasionalis, pancasilais dan lain-lain mereka itu mengucapkan kalimah syahadat, shalat, haji dan lain-lain, tapi sebenarnya mereka itu berada di deretan kaum kuffar.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Hadi Al Mishriy berkata: “Sesungguhnya sekuler itu secara ringkas adalah sistem thaghut jahiliy kafir yang bertentangan dan bersebrangan sekali dengan syahadah Laa ilaaha illallaah dari dua sisi:

Pertama: Dari sisi keberadaannya sebagai hukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan.

Kedua: Dari sisi keberadaannya sebagai syirik dalam ibadah kepada Allah.”[1]

Syaikh Ali Ibnu Khudlair Al Khudlair hafidhahullah tatkala menyebutkan kelompok-kelompok yang mengaku Islam yang padahal mereka adalah bukan orang-orang muslim, beliau berkata seraya menyebutkan orang-orang di antara mereka, yaitu orang-orang sekuler dengan seluruh ragamnya, sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir meskipun mengaku diri sebagai orang Islam atau menyatakan kami adalah negara Islam dan penguasa muslim, padahal hakikat mereka adalah orang-orang sekuler yang kafir. Dan kelompok-kelompok kaum sekuler adalah seperti Al Hadatsin, kaum demokrat, para anggota parlemen, kaum Bath, kaum nasionalis, komunis, dan sosialis. Mereka seuanya adalah orang-orang kafir, baik mereka itu para jurnalis, atau wartawan, atau politikus, kaum yang menyebarkan informasi, atau para cendikia, atau para militer atau para ekonom, dan sebagainya. Dan di antara mereka ada yang disebut Islamiyyin (golongan Islam) namun ada kekafiran pada mereka, seperti para Islamiyyin yang membolehkan penyandaran hak hukum kepada selain Allah, atau orang-orang yang berkoalisi dengan orang-orang sekuler sedangkan koalisinya bersama kaum sekuler ini mengharuskan mereka untuk melakukan kekafiran seraya mereka mengetahuinya, maka mereka adalah orang-orang kafir meskipun mengaku bahwa mereka itu Islamiyyin (baca partai-partai). Dan termasuk kelompok ini adalah golongan yang dinamakan Al Ushreniyyin, mereka adalah orang-orang yang menyerukan modernisasi syari’at agar selaras dengan zaman atau medernisasi ushul fiqh agar selaras dengan masa dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan yang melakukan kekafiran dari mereka itu.”[2]

Syaikh Abdullah Ibnu Qu’ud berkata: “Sesungguhnya mengganti hukum-hukum syari’at dari hukum-hukum Islam yang sudah diketahui hukumnya dari dienil Islam secara pasti dan menempatan Undang-Undang buatan manusia yang menyelisihinya serta menjadikannya sebagai pemutus hukum di antara manusia dan membawa mereka untuk berhukum kepadanya, sesungguhnya hal itu adalah syirik terhadap Allah dalam hukum-Nya.”[3]

Syaikh Abdurrahman Al Muhammad Ad Dausariy dalam khatimah Ath Thab’i: “Dan orang yang menengok kepada wahyu Allah dengan tengokan hati yang sedikit saja, pasti dia mengetahui bahwa syirik terhadap Allah itu bukan terbatas pada peribadatan berhala, akan tetapi itu terwujud dalam pemalingan hati kepada selain Allah yang berbentuk apa saja yang diagungkan lagi dicintai yang bisu atau yang bisa bicara, karena hati manusia bila dipalingkan kepada hal-hal itu maka ia menyerahkan wajahnya kepadanya, keterikatannya kepadanya, serta kecintaannya kepadanya. Sungguh jauh sekali dia dari tauhidullah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya.”[4]

Dan berkata juga: “Kebusukan syirik ini telah menjadi-jadi pada zaman ini dan mengenakan baju yang berbeda dengan baju-baju yang pernah ditanggulangi dan diberantas Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dan anak cucunya -semoga Allah mengampuni mereka-. Pada zaman mereka dan beberapa kurun sebelumnya, Latta dan ‘Uzza serta Manat dan Dzatu Anwath juga yang lainnya menjelma dalam wujud orang-orang yang sudah mati dikubur, pohon-pohon, pengkultusan-pengkultusan dan yang lainnya. Namun pada zaman ini Latta, ‘Uzza, dan yang lainnya berwujud pemahaman-pemahaman nasionalisme, aliran-aliran materi, thaghut-thaghut, berhala-berhala yang bisa bicara yang memimpin paham-paham dan aliran-aliran yang telah menjelma dalam bentuk sosok-sosok figur mereka yang mana merekaitu dipuja-puja (diibadati) selain Allah dengan sebabnya. Banyak dari manusia memasrahkan wajah-wajah mereka kepadanya dengan penuh kecintaan dan pengagungan yang tidak Allah dapatkan hal itu dari mereka. Dan mereka itu selalu menerima apa yang tergulir dari mereka dengan penuh penerimaan dan lapang dada seraya mengklaim bahwa hal itu tidak menyelishi ad dien, mereka setia dan kuat untuk selalu menerapkan apa yang digulirkan oleh mereka berupa Undang-Undang dan SK-SK dengan penuh sambutan dan perencanaan.” (84-85).

Kemudian berkata: Dan tidak ragu lagi sesungguhnya sistem sekuler itu merobohkan Millah Ibrahim yang merupakan dienullah dari beberapa sisi:

Pertama: Pengharusan mengingat persaudaraan dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashara, Shabi’ah dan yang sebangsanya dari kalangan orang-orang mulhid, paham-paham yang menyimpang dengan bentuk ikatan persaudaraan yang tenag-terangan mengutamakan mereka dengan dalih nasionalisme, cinta tanah air atas kaum muslimin yang bukan penduduk asli dan yang tidak bergabung dengan nasionalise mereka. Sedangkan ini menyalahi apa yang ditunjukan oleh dua kalimah syahadat berupa pembatasan loyalitas dan permusuhan atas dasar dien yang haq dan iman yang shahih, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)

Di negeri ini ada aturan yang mengatakan bahwa hak dan kewajiban warga negara adalah sama di hadapan negara, meskipun berlainan dien.

Lihatlah Ibrahim imam kaum musliin dan para nabi yang bersamanya bagaimana mereka tegas-tegasan menyatakan permusuhan dan kebencian kepada kaumnya karena Allah tidak membolehkan bagi mereka loyalitas dan mengikat persaudaraan dengan mereka dengan alasan nasionalisme apapun tujuannya sampai mereka merealisasikan iman kepada Allah, secara ucapan, amalan dari keyakinan”

Kedua: Tipu daya mereka yang jelas dengan ucapannya (agama bagi Allah dan tanah air milik semua), sedangkan tauhid yang haq mengharuskan atas kaum muslimin untuk mengatakan (Dien hanya bagi Allah dan tanah air hanya bagi Allah), syari’at ditegakkan di dalamnya, dan hudud direalisasikan di dalamnya. Dan setiap tanah air yang menyalahi keadaan ini, maka bukanlah tanah air bagi orang muslim. Oleh sebab itu Dia bersumpah dengan Dzat-Nya Yang Maha Tinggi atas penafian iman dari orang yang tidak merujuk syari’at-Nya dengan lapang dada dan penuh penerimaan, sebagaimana dalam ayat 65 surat An Nisa:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisa: 65)

Kemudian dia berkata seraya menjelaskan bahwa kekafiran mereka itu lebih dahsyat dari kekafiran kaum musyrikin penyembah berhala; itu dikarenakan sesungguhnya orang musyrik itu mengagungkan Allah pada hakikatnya, namun kejahilan akan hakikat pengagungan ini telah menggiringnya untuk mengangkat para perantara yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Adapun (orang-orang musyrik) modern penerus budaya penjajah sungguh tak ada sedikitpun sikap pengagungan pada diri mereka itu, akan tetapi mereka itu dengan berbagai alirannya, baik kaum naisonalis, Bath, dan komunis, semuanya bersatu dalam hal ilhad (kekafiran) akan nama-nama Allah, penolakan dien-Nya, dan pencampakkan wahyu-Nya. Namun komunis terang-terangan mengingkari Allah karena kuat negaranya dan dahsyat kebusukannya. Sedangkan yang lainnya mengakui Allah dengan pengakuan lisan tanpa (mau) terikat dengan satupun dari perintah-perintah-Nya, jadi dia mengakui Allah, namun dia tertolak lagi tidak ditaati perintah-Nya, hukum-Nya tidak digubris, dan hudud-Nya tidak dihargai. Jadi apa arti tuhan seperti ini?

Ketahuilah sesungguhnya itu adalah kemurtaddan yang baru dan kekafiran yang nista yang ada di tengah keluarga-keluarga Islamiyyah, seperti kekafiran zionisme Yahudi, karena mereka berkuasa dalam setiap bidang, untuk menghantam kaum muslimin dan mencabut dien ini dari akar-akarnya.” (Aqidatul Muwahhidin 78)

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdilllah Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Dan dengan dalil-dalil Al Qur’an dan ijma para ulama yang kami sebutkan, maka si penanya dan yang lainnya mengetahui bahwa orang-orang yang mengajak kepada paham sosialis atau komunis atau paham-paham lainnya yang menghancurkan lagi merobohkan hukum Islam adalah orang-orang kafir lagi sesat yang lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani karena mereka itu malahidah (orang-orang kafir sekali) yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan seorangpun dari mereka tidak boleh dijadikan sebagai khathib dan imam di mesjid kaum muslimin dan tidak sah shalat di belakang mereka. Setiap orang yang membantu mereka atas kesesatannya, memperindah apa yang mereka serukan, mencela para da’i Islam dan melecehkan mereka adalah kafir lagi sesat yang mana hukumnya adalah sama dengan kelompok yang mulhid (kafir) yang mana ia berjalan di atasnya dan membantunya dalam permintaannya itu, sedangkan para ulama Islam sudah ijma bahwa orang yang membantu dan menopang kaum kuffar atas kaum muslimin dengan bentuk bantuan apa saja, maka dia kafir seperti mereka.”[5]

Dan berkata juga tatkala ditanya tentang Saddam Husein Presiden Iraq: Dia kafir meskipun mengucapkan Laa ilaaha illallaah, termasuk meskipun dia shalat, shaum selama ia belum bara’ dari prinsip-prinsip Bath yang kafir dan selama belum mengumumkan taubatnya bahwa taubat kepada Allah darinya dan dari yang diserukannya. Itu dikarenakan Bath itu adalah kekafiran dan kesesatan. Selama dia belum belum mengumumkan ini maka dia kafir, sebagaimana Abdullah Ibnu Ubay juga kafir padahal dia shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, namun dia tetap sebagai di antara manusia yang paling kafir dan hal-hal itu tidak ada manfaatnya baginya karena kekafiran dan kemunafikannya. Jadi orang-orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dari kalangan penghusung aliran-aliran kafir seperti Bath, komunis dan lain-lain dan mereka shalat untuk tujuan-tujuan duniawi, maka ini tidak melepaskan mereka dari kekafirannya, karena itu nifaq dari mereka”. (3/536)

Al Ustadz Umar Ibnu Mahmud Abu Umar (Syaikh Abu Qatadah Al Filisthiniy) berkata: Orang-orang yang mengatakan keterbebasan umat yang mengaku Islam ini dari syirik adalah orang-orang jahil akan hakikat tauhid lagi tidak mengetahui tauhid ini kecuali sekedar lafadhnya. Dan untuk menjelaskan hal ini karena sangat penting maka kami harus menuturkan beberapa hadits yang ma’shum yang menunjukan atas apa yang telah kami kemukakan, dan bahwa kelompok-kelompok dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini akan bergabung bersama kaum musyrikin. Ibnu majah dan Abu Dawus dengan sanad shahih telah meriwayatkan dari Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan di antara apa yang aku takutkan atas umatku para imam yang menyesatkan. Dan kabilah-kabilah dari umatku akan menyembah berhala dan kabilah-kabilah dari umatku akan bergabung dengan kaum musyrikin”

Ini adalah hadits yang sangat agung faidah-faidahnya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi Jawami’ul Kalim (kalimat yang singkat padat), beliau telah membedakan antara dua hal dari bentuk syirik, dan kedua-duanya tergolong akbar.

Pertama: Ucapannya “kabilah-kabilah dari umatku akan menyembah berhala”

Dan kedua adalah: Ucapannya “dan kabilah-kabilah dari umatku akan bergabung dengan kaum musyrikin.”

Yang padahal hasilnya adalah satu, yaitu Al Kufru dan Asy Syirku, namun sarana yang menghantarkannya kepada hasil ini adalah berbeda. Dan bukan sia-sia bila dilakukan perincian dalam menjelaskan dua gambaran ini. Mari kita berjalan sebentar dalam penggamblangan perbedaan antara dua keadaan ini karena di dalam keduanya terkandung faidah-faidah yang agung yang bisa membukakan bagi orang muslim kelompok-kelompok kufur pada masa sekarang yang mana dai itu hidup di dalamnya.

Syirik pertama: Syirik peribadatan kepada berhala.

Berhala adalah patung. Mujahid berkata: Patung (shanam) adalah yang dipahat dalam suatu bentuk tertentu, sedangkan berhala (watsan) adalah bentuk lain.

Peribadatan pada patung dan berhala adalah perlakuan orang yang cenderung pada tadayyun (sikap ritual) yang rusak pada zaman kita ini dari kalangan Shufiyyah dan Quburiyyah. Sesungguhnya syaitan telah memasang di tengan jalan mereka berbagai macam fenomena syirik yang dengannya dia menyesatkan banyak manusia, sehingga engkau bisa melihat banyak dari kalangan orang-orang yang rajin adalah orang-orang musyrik dengan berhala-berhala dan tempat-tempat ibadah ini, termasuk jazirah Arab yang mana Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab telah berjihad di sana untuk menghilangkan berhala-berhala ini darinya, sekarang berhala-berhala ini telah kembali ke sana. Negara (yang diklaim negara tauhid) maz’um di sana tidak melihat pengganti dalam mematikan dakwah Syaikh di sana selain memejamkan mata dari thariqat-thariqat Shufiyyah dan majlis-majlis syirik yang diadakan di Mekkah dan Madinah oleh kelompok-kelompok Shufiyyah di sana.

Penulis kitab Qurratu ‘Uyuurul Muwahhidin berkata: Telah terjerumus ke dalamnya -yaitu syirik- orang-orang pandai dari umat ini setelah generasi-generasi terbaik, dibuatlah patung dan diibadati…. ibadah-ibadah dengan berbagai macamnya dipalingkan kepadanya dan itu dijadikan sebagai dien (ajaran)….” Namun anehnya pemimpin jama’ah Islamiyyah terbesar yaitu “Al Ikhwan Al Muslimin” pengacara Umar At Tilimsaniy menganggap bahwa ibadah kepada kuburan dan meminta pertolongan kepadanya, nazar di sisinya serta thawaf di sekelilingnya adalah masalah dzauqiyyah (selera). Ini adalah kadar apa yang dia pahami dari tauhid yang dengannya para nabi diutus, dan sesungguhnya penasehat hukum Undang-Undang Salim Al Bahansawiy menetapkan dalam kitabnya “Syubuhat Haulal Fikril Islamiy Al Mu’ashir” bahwa tauhid di benak-benak kaum muslimin adalah lebih terang dari sinar matahari jam 4 sore, dan dia mengingkari keras terhadap orang yang mengatakan bahwa umat ini telah jahil akan tauhid dan tuntutannya. Kita seandainya mau mengumpulkan perkataan imam, baik dahulu maupun sekarang tentang jahilnya manusia akan tauhid, tentu menghasilkan berjilid-jilid kitab. Dan cukup kita mengulang-ngulang perkataan Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab saat berkata:

فَلاَ يَأْمَنُ مِنَ الْوُقُوْعِ فيِ الشِّركِ إِلاَّ مَنْ هُوَ جَاهِلٌ بِهِ وَمَا يُخْلِصُهُ مِنْهُ

 “Maka tidak ada yang merasa aman dari jatuh ke dalam syirik kecuali yang mana ia itu jahil akannya dan dari apa yang bisa menyelematkan darinya.” (Fathul Madjid).

Syirik kedua: Syirik Luhuq (kebergabungan) dengan orang-orang musyrik. Dan ini memiliki banyak bentuk yang beraneka ragam yang selalu datang baru di setiap zaman dan sejalan dengan  kaum musyrikin pada zaman itu. Sedangkan kaum musyrikin pada zaman ini telah memiliki keistimewaan dengan satu macam syirik, dan syirik ini adalah yang telah masuk ke dalamnya banyak dari kalangan kelompok-kelompok yang mengaku Islam, yaitu syirik qadla (putusan) dan tahakum (perujukan hukum). Sesungguhnya banyak dari kalangan yang mengaku Islam tidak bergabung dengan syirik Arab dari sisi dia menjadi Nasrani atau Yahudi, dan ini -tanpa diragukan- adalah syirik dan kekafiran. Akan tetapi apa syirik yang terjerumus di dalamnya kelompok-kelompok (umat ini) pada masa-masa sekarang? Sesungguhnya ia tanpa diragukan adalah syirik dustur dan qawanin (wadl’iyyah) Watsaniyyah (Undang-Undang buatan berhala).

Telah bergabung kelompok-kelompok dari umat ini dengan syirik dan kekafiran ini, dan mereka sampai masuk tenggelam lehernya. Inilah syirik manusia pada masa sekarang dan pada umumnya.

Bila syirik orang-orang yang rajin beribadah adalah syirik peribadatan pada berhala, yaitu syirik orang-orang ahli ibadah dari kalangan Shufiyyah, Quburiyyah, dan Khurafiyyah. Maka syirik kelompok-kelompok sisanya dari kalangan yang berpaling dari tadayyun (ritual) dan ibadah adalah syirik luhuq dengan metode-metode, Undang-Undang, dan aturan-aturan kaum musyrikin, serta masuk dalam kelompok mereka seperti bergabung dengan komunis, sekularis, bath, kebangsaan, nasionalisme, dan yang lainnya dari macam-macam kemusyrikan dan kekafiran akbar. Syirik macam ini banyak sekali pada masa sekarang dan lebih menjadi-jadi daripada syirik yang lainnya. Dan ini tanpa diragukan lagi adalah gambaran yang baru dengan begitu banyaknya yang tidak pernah dialami oleh umat kita dengan banyak dan kejelasan seperti ini. Dan karena banyak dari manusia telah mati padanya kemampuan untuk membongkar fenomena-fenomena syirik dan perkembangan yang selalu baru dalam kehidupan manusia. Mereka senantiasa terus memerangi syirik dengan gambaran bentuk yang diatasi oleh orang-orang terdahulu, berupa peribadatan kepada qubur dan yang lainnya. Dan adapun bila manusia mendatangkan syirik baru yaitu syirik taat dan perujukan hukum kepada selain Allah, maka sungguh mereka tidak menganggapnya dan tidak ambil peduli dengannya.

Kemudian beliau setelah beberapa baris mengatakan: Orang-orang seperti mereka selalu mengingkari dengan keras terhadap syirik kuburan-kuburan, -padahal sesungguhnya mereka telah kehilangan kejelasannya dalam hal ini- dan adapun syirik Undang-Undang dan aturan maka mereka tidak memperhatikannya. Ini menunjukan bahwa tauhid yang dibawa para nabi telah banyak terkontaminasi dalam benak-benak kaum muslimin pada hari ini.

Kita mengambil kesimpulan dari hal-hal berikut:

  1. Bahwa umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena oleh apa yang telah menimpa umat-umat terdahulu berupa syirik akbar. Dan yang tidak mungkin adalah sepakatnya umat atas kekafiran dan syirik ini.
  2. Syirik yang terjadi pada umat ini pada masa sekarang memiliki dua bentuk:
  • Syirik Kuburan, terjatuh ke dalamnya kelompok-kelompok yang rajin ibadah.
  • Syirik istana/aturan, terjatuh ke dalamnya kelompok-kelompok yang dinamakan sekuler (Yang tak ambil peduli dengan dien ini)
  1. Sesungguhnya jama’ah-jama’ah yang mendapat hidayah adalah yang berlepas diri dari kaum musyrikin semuanya, bukan dari salah satu dari keduanya kemudian terjatuh pada yang salah satunya lagi.
  2. Sesungguhnya perseteruan jama’ah muhtadiyyah (yang mendapat petunjuk) adalah perseturuan antara tauhid vs kufur dan iman vs syirik, dan bukan perseteruan ekonomi dan politik, dan bukan juga perseteruan Hanbali vs Hanafiy atau Malikiy vs Syafi’iy atau untuk membela madzhab lain atau pendapat fiqh atas pendapat fiqh yang lainnya.”[6]

Syaikh Muhammad Syakir Asy Syarif berkata: Dan di antara bentuk syirik modern dalam hal taat atau ketundukan atau pembuatan hukum yang tidak diketahui oleh banyak manusia adalah apa yang disebut pada masa sekarang dengan demokrasi atau sistem Demokrasi”[7]

Setelah ini kami akan hadirkan perkataan para ulama dan ijma yang sharih dalam masalah peminggiran syari’at ilahiy dan penetapan qawanin wadl’iyyah pada tempatnya di antara manusia.

Al Imam Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: “Siapa yang menyalahi apa yang telah diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya, dimana dia memutuskan di antara manusia dengan selain apa yang telah Allah turunkan atau ia meminta hal itu demi mengikuti apa yang disukai dan diinginkannya maka dia telah mencopot ikatan Islam dan iman dari lehernya meskipun dia mengaku bahwa dia itu mukmin.” (Fathul Majid: 370)

Al Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al Ahkam: Tidak ada perbedaan di antara dua orang dari kalangan kaum muslimin bahwa orang yang memutuskan dengan injil yang mana tidak ada nash yang menunjukannya maka dia itu kafir musyrik keluar dari Islam.”[8]

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٥٠)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Beliau berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam lagi mencakup setiap kebaikan lagi melarang setiap keburukan, dan dia justeru berpaling kepada yang selainnya berupa pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh orang-orang tanpa sandaran dari syari’at Allah sebagaimana yang digunakan rujukan hukum oleh ahlul jahiliyyah berupa kesesatan-kesesatan dan kejahilan-kejahilan yang mereka tetapkan berdasarkan pendapat-pendapat dan hawa nafsu mereka, dan sebagaimana yang dijadikan rujukan hukum oleh Tattar berupa politik-politik pengaturan kerajaan yang diambil dari raja mereka Jenggis Khan yang membuat Yasiq[9] bagi mereka. Ia adalah kitab yang merangkum hukum-hukum yang diambil dari berbagai syari’at dari Yahudi, Nasrani, Millah Islamiyyah dan banyak di antaranya adalah hukum-hukum yang dia ambil dari sekedar pandangan dan keinginannya. Kemudian itu menjadi aturan yang diikuti di kalangan anak-anaknya, mereka mengedepankannya atas hukum dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan siapa yang melakukan hal itu di antara mereka maka dia kafir yang wajib diperangi hingga ia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain hukum-Nya tidak boleh dijadikan acuan hukum dalam hal yang sedikit dan banyak”. (Tafsir Al Qur’an Al Adhim 3/131)

Dan beliau berkata dalam tafsir ayat 59 dari surat An Nisa: maka ini menunjukan bahwa orang yang tidak merujuk hukum dalam persengketaan kepada Al Kitab dan As Sunnah dan tidak kembali kepada keduanya dalam hal itu, dia itu bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. (2/346)

Dan di dalam Al Bidayah beliau berkata: “Siapa yang meninggalkan hukum yang muhkam yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia justeru merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum yang sudah dihapus, maka dia kafir. Apa gerangan dengan orang-orang yang merujuk kepada Ilyasa dan lebih mendahulukannya daripada (ajaran Muhammad). Siapa yang melakukan hal itu maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin”.[10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Dan orang dikala menghalalkan yang haram yang sudah diijmakan, atau mengharamkan yang halal yang sudah diijmakan, atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka ia kafir murtad dengan kesepakatan para fuqaha”. (Majmu Al Fatawa: 3/267)

Legalitas dan pemberian izin bagi judi, khamr, zina di tempat-tempat tertentu adalah bentuk penghalalan. Riba dilindungi secara hukum, murtad termasuk hal asasi yang dilindungi hukum thaghut, bahkan yang lebih dahsyat adalah dijadikannya selain Al kitab dan As Sunnah sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Abdullathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata dalam risalah Tahkim Al Qawanin: “Sesungguhnya termasuk kekafiran yang nyata adalah menempatkan Undang-Undang terlaknat pada posisi apa yang dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril) pada hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya beliau menjadi pemberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dalam memutuskan dengannya di antara seluruh alam dan mengembalikan kepadanya saat persengketaan orang-orang yang bersengketa, (ini) sebagai pengguguran dan pembangkangan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa 59) (Tahkim Al Qawanin: 5 Dar Al Muslim cet I 1411 Dzul Hijjah)

Kemudian beliau tuturkan bahwa perujukan hukum kepada syari’at adalah syarat dalam perealisasian iman, dan beliau jelaskan bahwa: “Tahakum (perujukan hukum) kepada selain apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berkumpul bersama iman pada hati seorang hamba sama sekali, bahkan salah satunya menafikan yang lainnya.” (Ibid, 8)

Kemudian beliau berbicara bahwa: “Termasuk yang mustahil bila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamakan orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan sebagai orang kafir kemudian tidak kafir, akan tetapi ia itu kafir secara mutlaq. Ya, bisa kufur ‘amaliy dan bisa kufur i’tiqadiy. Dan apa yang datang dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu dalam tafsir ayat ini dari riwayat Thawus dan yang lainnya menunjukan bahwa yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan adalah kafir, baik kafir i’tiqadliy yang mengeluarkan dari Al Millah (Islam) dan bisa jadi kufur ‘amaliy yang tidak mengeluarkan dari Al Millah.” (Ibid, 13)

Kemudian beliau menuturkan enam macam bagi kekafiran i’tiqadliy yang mengeluarkan dari millah, empat di antaranya berkisar seputar istihlal, juhud dan ingkar pada syari’at Allah. Kemudian beliau menyebutkan yang kelima yang berkaitan dengan taqnin (pembuatan Undang-Undang) dan tasyri’ (pembuatan hukum/aturan) yang merupakan bahasan kita di sini dan beliau tidak mengembel-embel dengan juhud, istihlal qalbiy dan pengingkaran, beliau berkata: “Dan ini adalah yang terbesar, yang paling menyeluruh dan yang paling nyata pembangkangannya akan syari’at, (yang paling nyata) penolakannya akan hukum-hukumnya, (yang paling nyata) penentangannya terhadap Allah dan rasul-Nya, serta (yang paling nyata) penentangannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta (yang paling nyata) penyerupaan terhadap lembaga-lembaga hukum syari’at dari sisi persiapan, imdad (pembuatan pasal), irshad (pengawasan), ta-shil (penetapan dasar pokok), tafrii’ (pembuatan hukum cabang), tasykil (pembuatan badan hukum), tanwi (pengragaman badan hukum), putusan, pengharusan, sumber-sumber dan sandaran-sandarannya. Sebagaimana mahkamah-mahkamah syari’at memiliki sumber-sumber rujukan dan sandaran-sandaran yang mana rujukannya adalah semuanya pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka begitu juga mahkamah-mahkamah (Undang-Undang) ini memiliki rujukan-rujukan, yaitu: Undang-Undang yang diambil dari hukum-hukum yang beraneka ragam dan Undang-Undang yang banyak, seperti Undang-Undang Perancis, Undang-Undang Amerika, Undang-Undang Inggris, dan Undang-Undang yang lainnya juga diambil dari sebagian ahli bid’ah yang mengaku ahli syari’at dan lain-lain. Mahkamah-mahkamah ini banyak di negeri-negeri Islam telah disiapkan dengan sedemikian rupa dan dilengkapi serta selalu terbuka pintu-pintunya, dan orang-orang pun masuk ke dalamnya secara bergiliran, para hakim memutuskan di antara mereka dengan aturan yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah dari putusan Undang-Undang itu, putusan itu mengharuskan mereka untuk menerimanya, mengakuinya dan mewajibkan mereka untuk mengambilnya. Maka kekafiran apa yang melebihi kekafiran ini? Dan pembatal syahadah Muhammad Rasulullah mana yang lebih dahsyat dari ini?” (Ibid, 17-18.)

Dan beliau rahimahullah berkata dalam Al Fatawa 6/189: Seandainya orang yang memutuskan dengan Undang-Undang mengatakan: “Saya yakin ini bathil,” maka ucapan ini sama sekali tidak ada pengaruhnya, namun itu adalah pengguguran akan syari’at sepeti seandainya seseorang berkata: “Saya beribadah pada berhala, dan saya yakin bahwa ini adalah bathil.” (Raf’ul laimul ‘An Fatawa Lajnah Ad Daimah Muhammad Salim Ad Dausari, catatan kaki 16, Dar Alam Al Fawaid cet I hal 61)

Dan berkata juga dalam Al Fatawa 12/280 dan 6/189: “Dan adapun yang dikatakan di dalamnya kufrun duna kufrin bila dia merujuk hukm kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa dia itu maksiat dan bahwa hukum Allah adalah benar, maka ini adalah benar, maka ini adalah yang terkadang muncul dari dia sekali-kali. Adapun yang menjadikan Undang-Undang dengan tersusun rapi dan dengan sedemikian rupa, maka ini adalah kekafiran (akbar) meskipun mereka mengatakan: “Kami telah salah dan hukum syari’at adalah yang paling utama.” (Ibid, 16 catatan kaki)

Bersambung….


[1] Mauqif Ahli Sunnah Wal Jama’ah Minal Ilmaniyyah

[2] Az Zanad Syarh Lum’ah Al Itiqad dalam ucapan Ibnu Qudamah rahimahullah: “Dan kami tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat.”

[3] Ahadits Jum’ah 4/56 dari Innallaha Huawal Hakam: 49.

[4] Aqidatul Muwahhidien 73. Maktabah Ath Tharafain cet I 1411 H

[5] Majmu Al Fatawa 3/994, Darul Wathan cet I 1416.

[6] Al Jihad Wal Ijtihad 24-27, Darul Bayariq, Aman Yordania cet I 1419.

[7] Innallaha Huwal Hakam 125, Darul Wathan cet I 1413.

[8] Dari kitab Syarh Nawaqidlul Islam Al ‘Asyrah, Ali Al Khudlair.

[9] Yasiq adalah kitab hukum buatan seperti KUHP.

[10] Al Bidayah Wan Nihayah 13/119, Maktabah Al Ma’arif, Beirut cet III 1411 H.

Filed under: BANTAHAN, SALAFY, SYIRIK, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID

One Response

  1. Assalamu ‘alaikum…
    Alhamdulillaah…,
    bersyukur saya menemukan blog ini. Benar-benar banyak manfaat yg dapat saya serap dalam setiap artikelnya. Dan, demi memperluas wawasan tentang ajaran Islam sesungguhnya, sesuai dengan apa yg disyariatkan Rasulullah.

    Terima kasih banyak untuk Admin, semoga berkah dan ridha Allah melimpah dan menyertai kita, aamiin…

    Syukron…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,030,760 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 274 other followers

%d bloggers like this: