Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Bahasan Singkat Perihal Hukum Berjabat Tangan Atau Mengucapkan Salam Kepada Orang-Orang Kafir

Apa hukum mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan tentara thaghut dan kaum kafir serta musyrikin lainnya?[1]

Dan apakah anda mengharuskan setiap orang muslim untuk menampakkan sikap permusuhan terhadap orang-orang kafir…?

Dan apakah anda mengkafirkan orang yang mudahanah (berbasa-basi) kepada mereka atau berjabat tangan dengan mereka…?

Apakah boleh mengucapkan salam kepada mereka atau menjabat tangan mereka demi melunakkan hati mereka untuk mendakwahi mereka?

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sesungguhnya kami telah mengutus ada setiap umat itu seorang Rasul (mereka berkata kepada kaumnya): “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut” (An Nahl: 36)

Ini adalah inti dakwah para Nabi dan pusat putaran rodanya, dan ia itu terdiri dari dua rukun: ibadah kepada Allah saja dan menjauhi thaghut. Dan tidak ragu lagi bahwa Allah memiliki hikmah yang agung dalam penyebutan kata menjauhi” bagi thaghut dan tidak membatasinya hanya dengan menjauhi ibadah saja, akan tetapi dia memutlakkan kata tersebut agar masuk di dalam hal itu juga kewajiban menjauhi nushrah dan tawalliy kepadanya, dan (kewajiban) menjauhi rasa cinta, kasih sayang dan pengagungannya, dan begitu juga (kewajiban) menjauhi rasa takut, dan berharap atau cenderung kepadanya, mudahanah terhadapnya dan berdebat dalam rangka membela-belanya.

Dan seperti itu pula: menjauhi tindakan-tindakan yang bisa menghantarkan kepada pintu-pintu seperti ini seperti menjauhi sikap mencintai dan berkasih sayang dengan aparat-aparat thaghut, menjauhi kecenderungan kepada abdi-abdi thaghut dan ansharnya, serta menjauhi sikap mengakui kebatilan mereka, kemungkaran mereka, kemusyrikan mereka dan pembelaan mereka kepada thaghut.

Dan tidak diragukan bahwa hal-hal ini semuanya tidak berada pada tingkatan status yang sama dan tidak semuanya hukumnya sama, di mana peribadatan kepada thaghut baik berupa sujud atau doa permohonan atau sembelihan atau ketaatan pada hukum buatan, dan begitu juga nushrah thaghut dan tawalliy kepadanya, semuanya adalah kekafiran yang tidak bisa disamakan dengan sikap mudahanah kepada thaghut, atau sedikit cenderung kepada aparat-aparatnya atau bersikap lemah lembut kepada mereka, maka wajib membedakan antara hal-hal yang menyebabkan pelakunya kafir dengan dosa-dosa yang di bawah itu, dan tidak boleh mencampur adukkan antara ini dan itu, karena tauhid itu memiliki ushul (inti-inti) dan rukun-rukun yang wajib direalisasikan, dan barangsiapa merobohkan sesuatu darinya maka dia telah merobohkan agamanya.

Dan juga tauhid memiliki pelengkap-pelengkap dan penyempurna-penyempurna yang barangsiapa merealisasikannya murni karena Allah maka ia tergolong kalangan khusus kaum mukminin, akan tetapi barangsiapa melakukan keteledoran pada sesuatu dari hal-hal penyempurna atau cabang-cabang itu, maka tidak boleh tegesa-gesa mengkafirkannya, namun di antara hal-hal itu ada suatu yang tergolong kewajiban-kewajiban tauhid yang mana orang yang teledor di dalamnya mendapatkan dosa dan tidak di kafirkan, dan di antara hal-hal itu ada suatu yang tergolong mustahabbat (hal-hal yang di anjurkan) yang tidak berdosa dan tidak di kafirkan orang yang teledor di dalamnya. Akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala menuturkan kata menjauhi di sini adalah Dia menginginkan kesempurnaan tauhid bagi hamba-hamba-Nya, dengan bentuk mereka memutus seluruh hubungan, ikatan dan kaitan dengan thaghut, ansharnya dan aparat-aparatnya, kecuali sesuatu yang dilakukan dalam rangka dakwah atau transaksi duniawi yang dibolehkan.

Oleh sebab itu maka kesempurnaan penerapan tauhid ini adalah dengan cara mencontoh dan mentauladani Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dan di atas jalannya serta millahnya dari kalangan para Nabi dan shalihin.

Allah ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya saat mereka berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadati selain Allah, kami ingakari (kekafiran)mu, dan telah nampak antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Perhatikanlah bagaimana Allah ‘Azza Wa Jalla mengedepankan penyebutan bara-ah (keberlepasan diri) dari kaum-kaum yang musyrik yang menyembah selain-Nya terhadap keberlepasan diri dari para thaghut mereka dan sembahan-sembahan mereka yang bathil, di mana Dia berfirman: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Dan begitu juga firman-Nya ta’ala:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah” (QS. Maryam: 48)

Dan firman-Nya ta’ala:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah” (QS. Maryam: 49)

Dan begitu juga dalam firman-Nya tentang pemuda Ashabul Kahfi:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah” (QS. Al Kahfi: 16)

Allah mengedepankan sikap meninggalkan kaum musyrikin, menjauhi mereka dan bara’ah dari mereka dalam itu semuanya terhadap sikap menjauhi sembahan-sembahan mereka yang bathil, kemudian Dia menguatkan hal itu di mana Dia berfirman sesudahnya: “Kami ingkari (kekafiran) kamu” terus berfirman “Dan telah nampak” yaitu jelas, nyata, gambalang dan terang-terangan, dan tidak disembunyikan atau dirahasiakan dan disamarkan, karena dien ini tidak nampak dan dakwah itu tidak terang dan tidak terkenal kecuali dengan kejelasan dan penampakkan semacam ini. Oleh sebab itu datang hadits tentang sifat kelompok yang menegakkan diennullah di setiap zaman “Akan senantiasa sekelompok dari umatku nampak di atas perintah Allah…” karena sesungguhnya para pemegang kelompok ini adalah kalangan khusus para pengikut para Rasul yang mengikuti Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dalam ucapan mereka “Dan telah nampak antara kami dengan kamu permusuhan dan kebencian”, maka asal pada dakwah yang benar yang Allah menginginkan kita agar mentauladani para Nabi di dalamnya adalah keberadaan para penganutnya dan para musuh dakwah ini sebagai barisan yang berlawanan “Antara kami dengan kamu” dan dua kelompok yang berselisih serta dua golongan yang bermusuhan, yang nampak jelas permusuhannya di jalan Allah, Alah ta’ala berfirman:

هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka salingbertengkar mengenai tuhan mereka” (QS. Al Hajj: 19)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ (٤٥)

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Saleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan” (QS. An Naml: 45)

Dan Allah ta’ala:

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالأعْمَى وَالأصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٤)

“Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidaklah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?” (QS. Hud: 24)

Jadi bagi orang yang ingin menegakkan dien ini menampakkan millah ini mestilah keberadaan permusuhan dan kebencian antara dia dengan musuh-musuh Allah itu nampak jelas lagi terang. Dan perhatikan bagaimana Allah ta’ala mengedepankan sikap permusuhan terhadap kebencian dalam ayat Al Mumtahanah, dan itu tidak lain adalah karena permusuhan itu lebih penting dalam penampakan keberlepasan diri dari mereka dan dari kemusyrikan mereka, dan lebih jelas dari kebencian, karena kebencian itu biasanya tempatnya adalah hati, adapun permusuhan adalah ia nampak pada anggota badan dan lisan serta dijalankan secara praktik dengan jihad dan senjata.

Ini secara ringkas adalah rambu-rambu terpenting dari rambu-rambu dakwah para Nabi dan Rasul dan ikatan iman yang paling kokoh serta pilar terpenting Millah Ibrahim,[2] di mana dien dan tauhid ini tidak nampak, tidak menyebar dan tidak menang kecuali dengan metode ini yang telah Allah firmankan tentangnya:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang benci kepada Millah Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri” (QS. Al Baqarah: 130)

Di dalamnya terdapat maslahat dakwah yang sebenarnya dan ia adalah ucapan yang paling baik yang mana Allah telah memuji orang-orangnya, dan di dalamnya terdapat hikmah, dan pelajaran yang baik yang mana Allah telah memerintahkan untuk berdakwah dan membantah dengannya, serta di atas jalan inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara baik berada. Kemudian sesungguhnya datang setelah itu orang-orang yang menelantarkan millah yang agung ini, di mana orang-orang yang zhalim itu mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka, dan mereka menyimpang dari jalan yang lurus ini dan tuntunan yang nampak jelas ini, sehingga mereka malah menjadi anshar, kaki tangan dan tentara bagi thaghut itu, mereka tawalliy kepadanya, membantunya, mencintainya dan membela-bela kebatilannya.

Kemudian bila engkau memperhatikan keadaan manusia bersama mereka, maka engkau mendapatkan orang yang paling baik jalannya di antara mereka adalah orang yang tergolong tersohor –di tengah mereka– dengan keilmuan dan penjelasan, dan dia merasa dengan kepahaman dalam dakwah dan pengetahuan terhadap realita, dan dia mengklaim bahwa dia tidak membantu para thaghut, tidak mencintai mereka dan tidak tawalliy kepada mereka, bahkan dia mengkafirkan mereka dan berlepas diri dari mereka, akan tetapi engkau melihat dia pada hakikat realita yang sebenarnya menjadi kekasih dan kawan dekat bagi anshar dan aparat para thaghut itu, dia tidak mengingkari kebathilan mereka dan tidak berlepas diri dari kekafiran mereka padahal sesungguhnya mereka itu adalah tentara bagi orang yang memerangi Allah dan agama-Nya dan anshar (aparat) bagi orang yang memusuhi syari’at-Nya dan wali-wali-Nya, kemudian engkau melihat mereka itu membela-bela kebathilan mereka, melegalkan sikap pembelaan mereka kepada syirik dan orang-orangnya, menambali (kebathilan) mereka dengan syubhat-syubhat mereka yang rendah, dan mengada-adakan bagi mereka udzur-udzur (alasan-alasan) yang mayoritasnya sama sekali tidak pernah terbesit di benak pikiran para thaghut dan kaki tangannya itu.

Padahal sesungguhnya perseturuan dan permusuhan yang Allah menginginkan kita agar mentauladani dan mencontoh para Nabi di dalamnya adalah menuntut –sebagaimana yang telah lalu– agar orang muslim itu berada di suatu barisan, kelompok, batas, dan lembah sedangkan syirik dan ansharnya berada di barisan lain, serta kelompok, batas dan lembah yang berlainan, di mana dia memutus terhadap mereka segala jalinan muwalah (loyalitas), kecintaan dan kasih sayang, dan dia menampakkan keberlepasan dirinya dari mereka, serta dari kekafiran dan kebatilan mereka, serta dia menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap orang-orang yang membangkang lagi memerangi di antara mereka.

Gambaran ini adalah gambaran yang bersinar dan yang disyariatkan antara orang-orang muslim dengan musuh-musuh agamanya. Orang yang bertauhid tinggal memilih, apa ia menampakkannya dan sabar menanggung segala resikonya serta ia menjadi tergolong bagian dari kelompok yang nampak lagi menegakkan diennullah, atau ia beralasan dengan ketertindasan terus ia menjauhi mereka, karena Allah tidak membebani satu jiwa pun melainkan apa yang dia mampu.

Maka hendaklah ini terbukti nampak lagi jelas, dan kami tidak mengatakan wajibnya menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh Allah atas setiap muslim… sama sekali tidak[3] karena sungguh di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah ada orang yang menampakkan tauhidnya di tengah kaum musyrikin secara terang-terangan dan di antara mereka ada yang bersembunyi-sembunyi dengan agamanya, dan menyembunyikan keislamannya, akan tetapi seluruh mereka adalah tergolong ansharuddin baik sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Oleh sebab itu kami mengatakan, sesungguhnya orang yang tidak mampu dari menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh Allah di suatu waktu, maka tidak halal baginya menampakkan kebalikannya, seperti kasih sayang dan segala saran-sarananya, serta sikap setuju dan fenomena-fenomenanya, tanpa ada paksaan yang sebenarnya, apalagi kalau menampakkan kebencian kepada anshar dakwah ini, keberlepasan diri dari mereka serta celaan terhadap mereka dan terhadap dakwah mereka, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau hendaklah ia diam) Muttafaq ‘alaih.

Ia tinggal memilih: yaitu ia mengatakan al haq dan menampakkan dien dan millah ini sesuai metode para Nabi dan tuntunan mereka, sehingga ia tergolong kalangan Ath Thaifah Adh Dhahirah atau ia menjauhi segala kebathilan dan diam, maka ini lebih bisa menjadi udzur baginya di sisi Allah dari pada dia mengganti gambaran yang bersinar itu dengan dalih ketertindasan dengan gambaran yang coreng-moreng, di mana dia menampakkan kasih sayang dan kecintaan atau ridla terhadap orang yang mengumumkan perang terhadap agama Allah dan wali-wali-Nya, atau dia melakukan suatu yang bisa menghantarkan kepada kasih sayang dan kecintaan, karena Allah ta’ala berfirman:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ

“Kamu tidak mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mereka menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka itu bapak-bapak…” (QS. Al Mujadilah: 22)

Dan dalam hadits shahih (Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah).

Dan ada ungkapan:   Apa kamu mencintai musuh Allah dan kamu juga mengklaim kecintaan kepada-Nya, sungguh itu tidaklah mungkin.

Sebagaimana bahwa Allah menginginkan dari kita untuk mencintai dan tawalliy kepada orang yang mencintai dan tawalliy kepada-Nya, maka begitu juga Dia menginginkan dari kita agar membenci orang yang membenci Dia, dan memusuhi orang yang memusuhi-Nya dan memerangi ajaran-Nya, atau sesuai kadar iman yang paling rendah kita membenci mereka di hati kita dan menjauhi mereka di mana lisan-lisan dan anggota-anggota badan kita tidak menampakkan sikap setuju atau kasih sayang atau ridla.

Bila ini sudah jelas maka tidak ragu bahwa pengucapan salam itu termasuk jalan-jalan yang menghantarkan kepada kasih sayang dan kecintaan sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Ash Shadiqul Mashduq (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Demi dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya. Kalian tidak masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai, maka apa kalian mau saya tunjukkan kepada sesuatu yang bila kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah secara marfu’)

Kaum muslimin diperintahkan untuk memperkokoh ikatan-ikatan kecintaan dan ukhuwah serta menyuburkannya di antara mereka, dan oleh sebab itu mereka telah diperintahkan untuk menyebarkan salam di antara mereka satu sama lain, akan tetapi mereka sebagaimana yang lalu telah dilarang dari menjalin kasih sayang dan kecintaan dengan kaum musyrikin dan oleh sebab itu maka telah dilarang dari sarana-sarana yang bisa menghantarkan kepada hal yang dilarang ini. Kemudian bila pengucapan salam terhadap musuh-musuh Allah itu adalah sarana dan jalan yang menghantarkan kepada kasih sayang, maka wajiblah memutus jalan dan sarana yang menghantarkan kepada hal yang dilarang itu.

Dari ‘Uqbah Ibnu ‘Amir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya besok saya akan berkendaraan mendatangi orang-orang Yahudi maka janganlah kalian mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka dan bila mereka mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah: wa ‘alaikum”. (HR. Ahmad).

Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Janganlah kalian mengucapkan salam terlebih dahulu kepada Yahudi dan Nasrani” dan dalam riwayat Muslim juga: “Bila kalian bertamu dengan kaum musyrikin maka janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada mereka”. Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam musnadnya dan Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrid, dan dalam riwayat lain Ahmad (2/263) Zubair berkata: Saya berkata kepada Suhail: Kaum Yahudi dan Nasrani? Maka beliau berkata: “Kaum musyrikin. Dan lafadz ini lebih luas dari dua hadits sebelumnya, sehingga masuk di dalamnya setiap orang musyrik dan di antaranya adalah para abdi UUD dan kaum musyrikin undang-undang.[4]

Bila hal ini sudah jelas maka hukum asal adalah tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada mereka dan bahwa hal itu adalah haram lagi tidak halal kecuali saat darurat, sedangkan darurat itu dibatasi sekedarnya saja, dan disertakan dengan pengucapan salam adalah berjabat tangan, karena ia (jabatan tangan) itu termasuk penghormatan, maka termasuk kesempurnaan sikap pemboikotan, penjauhan diri, penghindaran diri, pengingkaran dan permusuhan terhadap musuh-musuh Allah dan musuh-musuh ajaran-Nya, serta terhadap anshar para thaghut adalah sama. Da’i yang menampakkan diennya tidak meletakkan tangannya pada tangan mereka, dan dia menjadikan hal itu sebagai bagian dari pengingkaran dia terhadap kebathilan mereka, kemusyrikan mereka dan realita mereka serta sebagai penampakkan sikap permusuhan terhadap mereka.

Dan kami menggunakan hal ini terhadap tentara thaghut dan ansharnya, di mana kami meninggalkan berjabat tangan dengan mereka dan kami memeberitahukan kepada mereka serta menyatakan di hadapan mereka akan alasan hal itu, dan bahwa kami tidak meletakkan tangan kami pada tangan mereka, karena mereka telah menelantarkan ajaran Allah dan memeranginya serta mereka telah berada di barisan thaghut sebagai anshar bagi undang-undang buatan dan sistim/falsafah yang syirik.

Dan kami nyatakan terang-terangan di hadapan mereka bahwa kami meninggalkan berjabat tangan dengan mereka sebagaimana kami meninggalkan pengucapan salam terhadap mereka sebagai bentuk pengingkaran terhadap kemunkaran mereka yang besar serta sebagai bentuk keberlepasan diri dari kemusyrikan dan kebathilan mereka. Dan kami menyatakan terang-terangan kepada mereka bahwa kami tidak meletakkan tangan kami pada tangan mereka yang terkontaminasi nushrah syirik dan para ahlinya, sampai mereka mensucikan diri dari hal itu dengan memurnikan tauhid dan melepaskan diri dari tandid (syirik). Dan kami sengaja menampakan dan menjaharkan keberlepasan itu dalam rangka menampakkan dakwah kami, dien kami dan millah kami, supaya manusia semuanya mengetahui bahwa dikarenakan kami adalah anshar bagi syari’at Allah sedangkan para aparat dan tentara itu adalah anshar bagi syari’at thaghut, maka kami berada di suatu barisan  dan parit sedangkan mereka berada di barisan dan parit yang lain, dan bahwa kami telah memutus ikatan-ikatan kecintaan dan kasih sayang antara kami dengan mereka, dan kami telah memutus jalan-jalan yang menyampaikan kepada hal itu, berupa salam, jabatan tangan dan yang lainnya, sampai mereka melepaskan diri dari kebathilan mereka, bara’ dari kemusyrikan merka, kafir kepada thaghut, meninggalkan nushrah-nya dan menjauhi penjagaan undang-undangnya yang kafir, kemudian mereka beralih menjadi bagian tentara syari’at dan barisan pembela tauhid. Dan di saat itu saja mereka menjadi ikhwan dan kawan  kami, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kami, dan ini adalah makna firman-Nya ta’ala dalam ayat-ayat yang lalu:

وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Dan telah nampak antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Dan metode ini dikuatkan dan dimaknakan kepadanya segala yang ada pada sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hadits-hadits yang memutus sarana-sarana dan jalan-jalan yang menghantarkan kepada sikap kecintaan dan kasih sayang, seperti meninggalkan sikap meminta pertolongan atau bantuan kepada kaum musyrikin,[5] meninggalkan tasyabbuh dengan mereka,[6] menolak hadiah mereka[7] dan hal-hal serupa itu. Sungguh Imam Ahmad Ibnu Hanbal telah di tanya tentang menjabat tangan orang-orang kafir dzimmiy maka beliau membencinya,[8] maka bagaimana dengan musuh-musuh Allah yang memerangi lagi terang-terangan memusuhi Islam dan pemeluknya…?

Akan tetapi dikarenakan jabatan tangan di dalamnya tidak ada nash-nash yang sharih lagi shahih, sebagaimana nash-nash yang telah lalu sebagiannya perihal memulai pengucapan salam, maka kami tidak menyikapi keras di dalamnya sebagaimana sikap keras kami perihal pengucapan salam, yang memang telah ada dalam hal ini beberapa hadits marfu’ seandainya ia shahih tentu kami dalam hal ini memiliki pendapat lain.

Di antara hal itu adalah apa yang diriwayatkan At Tirmidziy dan Al Hakim dari Asy Sya’biy dalam kisah pengaduan Ali radliallahu ‘anhu kepada Al Qadli Syuraih perihal orang Nasrani yang beliau jumpai menjual beberapa baju besi di pasar yang di antaranya ada baju besi yang dikenali Ali, dan bukti dalil dalam kisah ini adalah ucapan Ali: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Jangan kalian menjabat tangan mereka dan janganlah kalian mengucapkan salam kepada mereka serta janganlah kalian menjenguk mereka yang sakit….)[9]

            Asy Syaukani berkata dalam Nailul Authar: (Dan dalam Isnadnya ‘Amr Ibnu Samurah dari Jabir Al Ju’fiy, dan keduanya adalah lemah).

Dan hadits (Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) adalah jabatan tangan) diriwayatkan oleh At Tirmidziy dari Abdullah Ibnu Mas’ud secara marfu’ dan berkata: Hadits gharib.[10]

            Mundziriy berkata dalam At Targhib Wat Tarbib: (diriwayatkan oleh At Tirmidziy dari seorang laki-laki yang tidak ia sebutkan namanya darinya).

Dan hadits (Termasuk kesempurnaan ucapan salam kalian di antara kalian adalah berjabatan tangan)

            Al Hafidh Ibnu Hajjar berkata dalam Fathul Bari (Kitabul Isti-dzan) bab Al Mushafahah: dikeluarkan oleh At Tirmidziy dengan sanad yang lemah dari hadits Abu Umamah, yang beliau marfu’kan.

Dan hadits ‘Atha Al Khurasaniy bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Saling berjabat tanganlah tentu lenyap kedengkian dari kamu, serta saling memberi hadiahlah kalian tentu kalian saling mencintai dan lenyaplah permusuhan”.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam tempat yang lalu: ia ada dalam Al Muwaththa dari Mursal ‘Atha Al Khurasaniy dan kami tidak mendapatkannya maushul.

Al Mundziriy berkata dalam At Targhib dan At Tarhib: diriwayatkan oleh Malik secara mu’dlal seperti ini, dan telah dimusnadkan dari jalan yang ada perbincangan di dalamnya.

Dan diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits: “Jabatan tangan itu menambah kecintaan dan membersihkan kaum mukminin”, namun saya tidak mendapatkannya dalam kitab-kitab sunnah dan fiqih yang ada di saya akan tetapi saya mendapatkannya dalam sebagian kitab-kitab Al ‘Adab (Diwanul Ma’aniy) secara maqhtu’ dari ucapan Al Hasan Al Bashriy.

Dan dalam atsar yang mauquf apa yang diriwayatkan oleh Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Amr ibni Abi Sufyan Ats Tsaqafiy dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan untuk memata-matai dan beliau menunjuk ‘Ashim Ibnu Tsabit sebagai amir… dan beliau menuturkan kisah mereka yang ada dalam Shahih Al Bukhari di perang Raji’ dan keterbunuhan ‘Ashim… sampai ucapannya: (Dan adapun ‘Ashim maka Quraisy mengirim orang-orang untuk mendatangkannya di mana dahulu ‘Ashim itu pernah membunuh ‘Uqbah Ibnu Abi Mu’aith al Umawiy di perang Badar dan juga membunuh Musafi’ Ibnu Thalhah dan Kilab saudaranya, dan keduanya menandainya, terus mendatangi Ibunya Sulafah dan berkata: Saya mendengar seorang laki-laki saat menembak saya berkata: Ambillah, dan aku adalah Ibnul Aqlah, maka ibunya bernadzar bahwa bila Allah ta’ala memberikan kesempatan menguasai kepala ‘Ashim, maka dia akan minum khamr dengan memakai kepalanya. Kemudian tatkala ‘Ashim terbunuh di perang Raji’, maka mereka hendak mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah, namun Allah mengirim kepadanya rombongan lebah seperti awan sehingga melindunginya dari utusan Quraisy, dan mereka tidak mampu mendekatinya, kemudian tatkala mereka tidak mampu mereka berkata: Sesungguhnya lebah itu akan pergi bila malam datang, maka Allah mengirim hujan dan terus datang banjir sehingga membawanya hanyut dan tidak bisa ditemukan, dan ia sebelumnya telah berjanji kepada Allah untuk tidak menyentuh orang musyrik dan disentuh orang musyrik, maka Allah ta’ala melindunginya dengan lebah liar setelah ia meninggal, kemudian ia dinamakan (penjagaan lebah…) selesai secara ringkas dari Asadul Ghabah karya Ibnul Atsir.

Dan akhir kisah adalah bukti yang dijadikan dalil. Dan Al Bukhari telah menuturkan kisah ‘Ashim dan penjagaan lebah itu tanpa ada tambahan yang di akhir yang menjadi bukti dalil…di (Bab Ghazwatur Raji’, Ri’l, Dzakwan dan sumur ma’unah) dan Al Hafidh Ibnu Hajar berkata padanya dalam Fathul Bari: (Dan dalam riwayat Ibnu Ishaq dari ‘Ashim dari ‘Ashim Ibnu Umar dari Qatadah, berkata: adalah ‘Ashim Ibnu Tsabit telah berjanji kepada Allah untuk tidak disentuh orang musyrik dan tidak menyentuh orang musyrik selamanya maka ‘Umar berkata tatkala sampai kepadanya beritanya: (Allah mencegah hamba yang mukmin setelah kematiannya sebagaimana ia menjaga-Nya saat dia hidup)

Dan ini andaikata shahih, maka dibawa kepada sikap sangat serius ‘Ashim radliallahu ‘anhu untuk memutus dan berkonfrontasi dengan kaum musyrikin yang memerangi, bukan atas keyakinannya bahwa hal itu haram, dan tidak apa-apa mencontohnya. Dan telah lalu sikap kami yang senang memutus hubungan dengan musuh-musuh Allah dengan hal itu dan sikap kami menggunakan cara itu, sebagai bentuk penampakkan dan pernyataan keberlepasan diri kami dari mereka dan dari kemusyrikan mereka, sedangkan ini adalah termasuk jenisnya dan bisa menjadikan pegangan yang mendekatkan akan tetapi wajib diketahui bahwa ini –bila memang shahih– maka ia adalah sekedar perbuatan seorang sahabat dan bukan dalil syar’iy sehingga orang yang menyelisihinya tidak boleh diingkari atau dikecam, apalagi divonis bid’ah atau dikafirkan!!!

Terutama sesungguhnya ucapannya (Dan tidak disentuh orang musyrik), sungguh telah bersikap ringan di dalamnya orang yang lebih bertakwa, lebih berilmu dan lebih wara’ (hati-hati) daripada Ashim Ibnu Tsabit dan dari manusia seluruhnya, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam kisah perjanjian Hudaibiyah yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya (Fi Kitab Asy Syuruth) (Bab Asy Syurut Fil Jihad Wal Mushalahah Ma’a Ahlil Harbi Wa Kitabatisy Syurut), dan bukti dalil darinya adalah ucapannya tentang ‘Urwah Ibnu Mas’ud: (Maka ia mulai mengajak bicara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap kali ia mengajaknya bicara, ia memegang jenggot beliau sedangkan Al Mughirah Ibnu Syu’bah berdiri di dekat kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia memegang pedang dan mengenakan topi besi. Dan setiap kali ‘Urwah hendak mengulurkan tangannya kepada jenggot Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia memukul tangannya dengan sarung pedangnya, dan berkata kepadanya: (Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dan Ibnu Ishaq menambahkan: (Jangan sampai ia menyentuhmu) dan ‘Urwah Ibnu Az Zubair menambahkan dalam Maghazi’nya riwayat Abul Aswad darinya: (Karena sesungguhnya tidak layak bagi orang musyrik menyentuhnya). Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari: (Dan kebiasaan orang-orang arab ialah seorang laki-laki memegang jenggot orang yang sedang ia ajak bicara apalagi saat bercengkrama, dan biasanya hal itu dilakukan oleh orang yang sepadan dengan yang sepadan, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan ‘Urwah dari melakukan itu dalam rangka menarik dan melembutkan (hati)nya, sedangkan Al Mughirah menghalanginya demi memuliakan dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Saya berkata: Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu terhadap Al Mughirah.

Maka yang benar adalah orang yang mengambil kemudahan dalam hal ini tidak boleh mengingkari terhadap orang yang melarangnya dan begitu juga sebaliknya, kecuali bila perbuatan orang musyrik itu dalam rangka penyepelean, pelecehan, penghinaan dan pencemoohan, maka tidak layak bagi orang muslim mengambil kemudahan dalam hal semacam itu, selagi dia mampu untuk mengingkari dan menampakkan ‘izzah orang muslim, karena sesungguhnya ‘izzah itu milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik kaum mukminin.

Dan penggabungan dalam bab ini adalah dibedakan antara sentuhan yang disebutkan tadi dalam rangka pelunakan hati, maslahat dan penarikan simpati, dengan yang dilakukan dalam rangka penghinaan, pelecehan dan penyepelean, dan antara kondisi saat memilki kekuatan atau kemampuan dan keleluasaan untuk mengingkari, dengan saat kondisi-kondisi taqqiyyah dan ketertindasan.

Dan dari yang telah lalu maka engkau mengetahui bahwa masalahnya dalam hal jabatan tangan dan yang serupa dengannya seperti menyentuh orang kafir atau berbaur dengannya tanpa mengakuinya atau membantunya terhadap kemunkaran, adalah rujuknya kepada siyasah syar’iyyah, maslahat dan mafsadah, karena tidak ada satu nash yang sharih pun yang memastikan keharamannya.

Dan darinya engkau mengetahui juga bahwa hal itu kembalinya bukanlah seperti apa yang dikira oleh sebagian orang kepada najasa hissiyyah (najisnya badan) orang musyrik. Sedangkan apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Ibnu Waqi’, berkata: (Telah mengabari kami Ibnu Faudlail dari Asy’Ats dari Al Hasan Al Bashri: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” beliau berkata: (Janganlah kalian menyalami mereka, dan barangsiapa menyalami mereka maka hendaklah ia berwudlu) maka ini tidak lebih dari sekedar ijtihad seorang tabi’in, dan ia itu bukan dalil syar’iy saat ada perselisihan. Dan jumhur ulama memandang bahwa badan orang kafir bukanlah najis hissiy (konkrit), karena Allah ta’ala telah menghalalkan sembelihan ahli kitab dan kaum muslimin tidak diperintahkan baik dalam kitabullah maupun sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersuci setelah menyentuh orang-orang kafir atau saat menggunakan bejana-bejana mereka atau saat makan makanan mereka atau mencium, bersentuhan dan menggauli isteri yang berasal dari ahli kitab, dan andaikata itu wajib tentulah Allah tidak akan membiarkannya:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (٦٤)

“Dan Tuhanmu tidaklah lupa” (QS. Maryam: 64)

Kesimpulannya: engkau mengetahui bahwa masalahnya di sini adalah tergantung kepentingan dakwah sehingga kami keberatan dari menyatakan keharaman jabatan tangan, karena tidak adanya dalil yang shahih lagi sharih tentang hal itu, kecuali bila hal itu menghantarkan kepada sikap mencintai dan jalinan kasih sayang terhadap kaum musyrikin, maka ini dilarang demi menutup jalan kepada hal yang terlarang.

Dan begitu juga halnya berkenaan dengan apa yang sudah lalu berupa sikap meminta bantuan orang-orang kafir dalam beberapa pintu masalah atau tasyabbuh dengan mereka atau memberi mereka hadiah dan menerima hadiah-hadiah mereka, maka ini semua dilarang sebagaimana yang telah lalu bila ini menjadi jalan kepada sikap kasih sayang dan kecintaan terhadap mereka.

Adapun bila jalan penghantar ini tidak ada dan aman, dan sedangkan dalam sesuatu dari hal itu terdapat maslahat[11] atau pelunakkan hati untuk dakwah[12]maka pintu ini telah dibuka lebar oleh Allah yang menetapkan syariat sedangkan apa yang dibuka lebar oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka kami pun membukanya lebar dan apa yang telah Dia tetapkan batasan-batasan baginya maka kita tidak halal melampauinya… dan oleh sebab itu maka rujukannya sebagaimana yang telah kami katakan adalah kepada syiasyah syar’iyyah dan pertimbangan mafsadah dan maslahat selagi tidak menghantarkan kepada jalan penghantar yang dilarang, maka kalau keadaannya seperti ini maka tidak halal mengecam terhadap orang yang menyelisihi dalam masalah ini.

Kami walaupun menginginkan bagi saudara muwahhid bila dia mampu menampakkan dien dan tauhidnya untuk tidak meletakkan tangannya di tangan mereka, dan untuk terang-terangan menyatakan bahwa sebab hal itu adalah karena keberadaan mereka sebagai anshar undang-undang kafir dan aparat kemusyrikan, serta mengajak mereka untuk meninggalkan perbuatan mereka membela syirik dan para pelakunya, dan taubat dari hal itu serta lari kepada Allah, kemudian bila mereka telah melakukan hal itu maka mereka menjadi ikhwan dan kekasih kami, dan bila tidak maka di antara kami dengan mereka tidak ada salam. Tidak ada kasih sayang dan tidak ada kecintaan sampai mereka mentauhidkan Allah saja dan kafir terhadap segala yang mereka persekutukan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam hal hukum, mereka tidak membelanya dan mereka tidak tawalliy kepadanya atau menjadi tentara dan aparat baginya, karena sesungguhnya ini adalah tergolong sarana terbesar penampakan tauhid, penyuaraannya serta penjelasan Millah Ibrahim dan penampakkannya[13]akan tetapi penampakkan dan penyuaraan terang-terangan ini, meskipun kami menjadikannya sebagai manhaj dan mengajak kepadanya serta kami mencintainya bagi ikhwan kami dalam metode dakwah illallah, akan tetapi kami tidak mengharuskan setiap muslim dengannya, terutama dalam kondisi istidlaf (ketertindasan) yang kita hidup di dalamnya. Allah ta’ala berfirman:

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…” (QS. Ali Imran: 28)

Ulama berkata tetang firman-Nya ta’ala: “Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka” ialah orang muslim yang tertindas dalam kekuasaan orang-orang kafir, maka boleh baginya menyembunyikan keislamannya atau menutupi diri dengan keyakinan dan diennya di mana ia tidak terang-terangan dengan sikap permusuhanya terhadap mereka, akan tetapi dia boleh bersikap lembut dan ramah kepada mereka demi menghindari kejahatan mereka, tanpa ia jatuh dalam kekafiran atau membantu terhadap kekafiran itu atau membantu mereka atas orang muslim.

Bila hal ini boleh dalam kondisi taqiyyah (siasat melindungi diri) dan ketertindasan, maka seperti hal itu adalah jabatan tangan, sehingga kami tidak mengingkari jabatan tangan yang dilakukan orang muslim dalam keadaan-keadaan seperti ini, kami tidak mengecam dia dengan sebabnya atau kami memboikotnya atau mencapnya sebagai ahli bid’ah apalagi kami mengkafirkannya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan orang-orang yang berlebihan…

Maka bagaimana dengan realita penjara yang berdasarkan kesepakatan ia itu adalah tempat taqiyyah dan ketertindasan biasanya.[14] Dan bila saja kami tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan salam kepada mereka, padahal telah lalu nash-nash yang shahih lagi sharih (tegas) perihal pelarangannya,[15] sedangkan penetapan dosa dan pengharaman itu adalah sesuatu di luar pengkafiran, maka bagaimana halnya dengan jabatan tangan yang mana engkau telah mengetahui pendapat kami di dalamnya.

Taqiyyah, kondisi terjepit, ketertindasan dan saat ditawan adalah memiliki hukum-hukum yang tidak untuk kondisi lapang, memiliki kekuasaan, kekuatan, dan tamkin, akan tetapi kami mengarahkan orang muslim bila dia memang harus mengucapkan salam kepada mereka agar dia menjauhi mengucapkan salam kepada mereka dengan salam yang disyariatkan dan dalam hal itu para ulama memilki banyak pendapat yang terkenal.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: (Adapun bila dia mengucapkan salam kepada mereka dengan lafaz yang menuntut keluarnya mereka darinya, umpamanya seperti dia mengatakan: as salamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin, maka ia boleh, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada Heraclius dan yang lainnya: salamun ‘ala manittaba’al huda. Dan Abdurrazzaq mengeluarkan dari Ma’mar dari Qatadah, ia berkata: As salamu ‘ala ahlil kitab bila saya masuk ke rumah mereka: as salamu ‘ala man ittaba’al huda. Dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan dari Muhammad Ibnu Sirin hal serupa, dan dari jalur Abu Malik: Bila kamu mengucapkan salam kepada kaum musyrikin maka katakanlah: as salamu ‘alaina wa’ala ‘ibadillahish shalihin, sehingga mereka mengira bahwa kamu mengucapkan salam kepada mereka, padahal kamu telah memalingkan salam dari mereka) selesai[16].

Dan yang lain berkata: mengucapkan salam keberpalingan dan perpisahan di mana ia mengatakan “salamun ‘alaik” tanpa bentuk ma’rifat, sebagaimana firman-Nya:

سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ (٥٥)

“Salaamun ‘alaikum (selamat tinggal, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (QS. Al Qashash: 55)

Dan di antara manusia ada orang yang merukshahkan mengatakan kepada mereka (selamat pagi) atau (selamat datang)… atau ucapan-ucapan yang lainnya yang biasa digunakan oleh orang-orang awam atau orang-orang ‘ajam dan ia bukan tergolong salam syar’iy yang dilarang mengucapkannya kepada mereka, akan tetapi tanpa berlebihan atau tambahan dalam menampakkan pertanyaan tentang mereka dan tentang keadaan mereka, karena ini hanya dilakukan dengan penuh antusias dan perhatian lebih terhadap kaum muslimin dalam rangka menambah jalinan kasih sayang.

Adapun terhadap kaum musyrikin, maka sesungguhnya menghindari sikap memperluas di dalamnya, Abu Dawud berkata, saya berkata kepada Abu Abdillah (Al Imam Ahmad) apa engkau membenci kepada orang yang mengatakan kepada kafir dzimmiy: “Bagaimana kondisimu pagi ini? Atau bagaimana keadaanmu? Atau hal serupa ini?” Beliau berkata: “Ya, ini bagi saya lebih dari sekedar salam. Selesai dari Al Mughniy 8/536

Dan sebagian salaf adalah mengutarakan salam kepada mereka secara isyarat, sebagaimana Al Bukhari meriwayatkan dalam Al Adab Al Mufrad (1104) dengan sanad shahih dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa beliau mengucapkan salam secara isyarat terhadap para pendeta.

Adapun bila di tempat atau di majelis itu ada campuran dari muslimin dan musyrikin serta anshar mereka, maka tidak apa-apa dalam keadaan seperti ini dari mengucapkan salam…

Dari Usamah radliallahu ‘anhu: (Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati suatu mejelis yang di dalamnya ada campuran dari kalangan muslimin dan musyrikin para penyembah berhala dan kaum Yahudi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam) Muttafaq ‘alaih.

Oleh sebab itu Ya’qub Ibnu Bukhtiyan berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Ahmad Ibnu Hanbal), di mana saya berkata: “Kami interaksi dengan kaum Yahudi dan Nasrani, kami mendatangi mereka di rumah-rumah mereka, sedang disamping mereka ada kaum muslimin, apakah saya mengucapkan salam kepada mereka”? Beliau berkata: “Ya, kamu meniati salam kepada kaum muslimin. Selesai dari Al Mughniy 8/536. Ini tentang pengucapan salam kepada mereka.

Adapun jawaban terhadap salam mereka, maka sungguh sebagian sahabat telah mempermudah di dalamnya, dan sebagian ulamapun mengatakannya, berdasarkan firman-Nya ta’ala:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (٨٦)

 “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu” (QS. An Nisa: 86)

Ia adalah nash yang umum, akan tetapi di tafsirkan lagi dikhususkan dengan sunnah, di mana telah ada dalam Ash Shahihhain dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (bila orang-orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian sesungguhnya orang di antara mereka mengatakan ”as saamu’laikum” (semoga kalian mati) maka katakanlah “wa’alaika” (dan kamu juga). Ath Thabari telah menuturkan dalam ayat yang lalu pendapat-pendapat salaf seperti Ibnu Abbas, Qatadah dan yang lainnya bahwa makna (maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik) adalah pemeluk Islam (atau balaslah dengan yang serupa) terhadap orang-orang kafir.

Dari Abu Utsman An Nahdiy berkata: (Abu Musa menulis surat kepada seorang pendeta seraya mengucapkan salam terhadapnya di dalam suratnya maka dikatakan kepada beliau: apa engkau mengucapkan salam terhadapnya sedangkan dia itu kafir? Beliau berkata: sesungguhnya dia telah menulis surat kepada saya seraya mengucapkan salam terhadap saya, maka saya membalasnya) dikeluarkan Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrid (1101).

Sebagian ulama telah berdalil dengan keumuman ayat itu terhadap kebolehan[17]menjawab salam orang-orang kafir dengan ucapan kita (wa’alaikumus salam) saat mereka secara jelas mengucapkan salam syar’iy[18]dengan alasan bahwa pencukupan dengan ucapan kita (wa’alaikum) adalah karena alasan yang diutarakan dalam hadits yang lalu yaitu saat mereka mengucapkan (as salamu’alaikum), sedangkan hukum itu ada dan tidak adanya berputar bersama alasannya. Bila alasan ini tidak ada dan mereka terang mengucapkan salam, maka ini adalah penghormatan dari mereka dan mereka masuk dalam keumuman firman-Nya ta’ala “atau balaslah (dengan yang serupa”, akan tetapi ini diangap isykal dengan sebab apa yang diriwayatkan Al Imam Ahmad dari ‘Uqbah Ibnu’Amir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sesungguhnya besok saya akan mendatangi orang-orang Yahudi, maka jangan kalian ucapkan salam kepada mereka, dan bila mereka mengucapkan salam kepada kalian maka katakanlah: wa’alaikum).

Dan begitu juga hadits Muttafaq ‘alaih dari Anas radliallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Bila ahli kitab mengucapkan salam terhadap kalian maka katakanlah: wa’laikum) dan ini adalah mutlak lagi tidak dibatasi dengan alasan itu yang ada dalam hadits-hadits yang lain, kecuali bila dikatakan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan alasan itu adalah mentafsirkan, menjelaskan, lagi membatasi hadits-hadits ini. Dan bagaimanapun keadaannya, barangsiapa menjawab salam dengan ucapan (wa’alaikum) maka ia telah memenuhi panggilan perintah Allah dan firman-Nya ta’ala: “atau balaslah (dengan yang lebih baik). An Nawawiy berkata dalam Syarh Muslim (bab larangan mengucapkan salam terhadap ahli kitab dan bagaimana menjawab salam mereka) 14/145:

(Ulama berselisih tentang membalas salam dan mengucapkan salam terhadap orang-orang kafir, maka madzhab kami adalah haramnya mengucapkan salam terhadap mereka dan wajibnya membalas salam mereka dengan mengucapkan (wa’alaikum) atau (‘alaikum saja). Sedangkan dalil kami tentang pengharaman pengucapan salam terhadap mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Janganlah kalian mengucapkan salam terhadap Yahudi dan Nasrani) dan tentang kewajiban membalas salam mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Maka katakanlah: wa’alaikum). Dan apa yang kami utarakan tentang madzhab kami adalah dikatakan juga oleh mayoritas ulama dan keumuman salaf). Selesai.

Al Hafidh berkata dalam Fathul Bari dalam (Kitabul Isti-dzan) 11/45: (Jama’ah dari salaf berpendapat bahwa saat membalas salam mereka boleh dikatakan “‘alaikumussalam” sebagaimana menjawab salam orang muslim. Dan sebagian mereka berhujjah dengan firman Allah ta’ala:

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٨٩)

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: salam (selamat tinggal)...” (QS. Az Zukhruf: 89)

Dan Al Mawardiy, menghikayatkan suatu pendapat dari sebagian Syafi’iyyah, akan tetapi tidak boleh mengatakan (wa rahmatullah), dan ada yang mengatakan boleh secara mutlak, dan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Alqamah: boleh hal itu saat darurat… sampai ucapannya: (Dan dari sebagian mereka ada perbedaan antara kafir dzimmiy dengan kafir harbiy) selesai. Dan dalam Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah milik Syaikhul Islam: (ucapan Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah berbeda-beda perihal membalas salam kafir dzimmiy, apakah dibalas dengan yang serupa atau cukup wa ‘alaikum saja, dan boleh dikatakan ahlan wa sahlan (selamat datang). Selesai dari (bab ‘Aqdl Adz Dzimmah Wa Akhdzil Jizyah).

Bila hal yang lalu ini telah jelas, maka mungkinlah menjawab pertanyaan si penanya (dan bolehkah mengucapkan salam kepada orang-orang kafir atau menjabat tangan mereka dalam rangka meluluhkan hati mereka dan dalam rangka mendakwahi mereka?) maka kami katakan: Bila hubungan dengan orang-orang kafir itu adalah hubungan dakwah dan bayan. Maka adapun pengucapan salam terhadapnya maka sungguh engkau telah mengetahui bahwa larangan darinya telah datang dengan tegas, sehingga kami meskipun madzhab kami adalah melupakan di dalamnya pada kondisi taqiyyah dan ketertindasan karena (darurat itu membolehkan suatu yang dilarang) dan (bila urusan itu sempit maka ia menjadi lapang) sebagaimana ia dalam kaidah fiqih, akan tetapi sesungguhnya kami memperketat dan mempersempit di dalamnya dalam moment istishlah (penganggapan maslahat) dan istihsan aqliy (penilaian baik menurut akal) atau apa yang disebut oleh orang-orang sekarang sebagai (maslahat dakwah) karena ia adalah urusan yang tidak pernah dilakukan oleh orang yang lebih antusias daripada kita terhadap dakwah dan maslahatnya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh tuntunannya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini adalah beliau mengucapkan salam kepada orang-orang yang beliau dakwahi dengan ucapannya (“as salamu ‘ala manit taba’al huda) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya dalam surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraclius: (Bismillahirrahmanirrahim dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Heraclius Pembesar Romawi[19] salamun ‘ala manit taba’al huda, amma ba’du, sesungguhnya saya mengajak kamu kepada Islam…) Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (sabdanya salamun ‘ala manit taba’al huda dalam riwayat penulis dalam Al Isti-dzan (as salam) dengan bentuk ma’rifat, dan ia telah disebutkan[20] dalam kisah Musa dan Harun bersama Fir’aun, sedangkan dhahir konteksnya menunjukan bahwa ucapan itu tergolong apa yang diperintahkan untuk diucapkan oleh keduanya) selesai.

Adapun balasan salam, maka engkau telah mengetahui dalam uraian yang lalu ucapan-ucapan ulama tentangnya dan bahwa pengketatan di dalamnya tidaklah seperti pengucapan salam, di antara manusia ada yang membolehkan pengucapan kepada mereka selamat datang atau marhaban atau selamat pagi atau isyarat dengan tangan atau yang lainnya, yang bisa digunakan dalam rangka menarik hati si mad’u (orang yang didakwahi) bahkan di antara ulama ada yang membolehkan jawaban salam dan yang serupa bila ucapan salam orang kafir itu jelas, berdasarkan firman-Nya ta’ala: “Atau balaslah (dengan balasan yang serupa)”. Dan bahwa balasan dengan ucapan kita wa’alaikum adalah boleh berdasarkan kesepakatan, bahkan wajib menurut sebagian ulama.

Dan adapun jabatan tangan maka tidak apa-apa melakukan kemudahan dengannya untuk kepentingangan dakwah, karena tidak adanya nash yang shahih lagi sharih tentang pelarangan darinya sejauh pengetahuan kami.

Dan ketahuilah bahwa berinteraksi dengan orang yang membangkang dakwah dan menyingsingkan lengan permusuhan, peperangan, tipu daya dan perolok-perolokan terhadap dakwah dan penyerunya, tidaklah selayaknya seperti berinteraksi dengan orang yang datang mencari al haq, atau orang yang mendengar firman Allah dan tidak memperokok-oloknya atau memperolok-olokan para pemeluknya. Dan termasuk kekeliruan dan kezaliman adalah menyamakan mereka ini dengan orang-orang itu dalam hal perlakuan, sungguh Allah ta’ala telah berfirman:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (٨)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(QS. Al Mumtahanah: 8)

Dan firman-Nya ta’ala:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. An Nahl: 125)

Dan firman-Nya ta’ala:

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka…” (QS. Al Ankabut: 46)

Dan firman-Nya ta’ala:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ (٦)

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (QS. At Taubah: 6)

Dan masalah ini, tidak ada dosa di dalamnya dalam rangka pelunakan hati orang yang datang untuk mendengar firman Allah ini tidak apa-apa dari menyambutnya sebagai tamu, menjamunya, memberinya pakaian, berbuat baik kepadanya, bersikap ramah dan baik kepadanya.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamu seorang tamu yang kafir, beliau memerintahkan agar memerahkan susu seekor kambing baginya, maka kambing itu diperah dan orang itu meminum air susunya, kemudian kambing lain, sampai dia meminum perah tujuh kambing, kemudian pagi harinya dia masuk Islam, terus beliau menyuruh agar diperahkan seekor kambing baginya, maka ia meminumnya terus kambing lain namun ia tidak sanggup menghabiskannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sesungguhnya orang mukmin makan dalam satu lambung sedangkan orang kafir makan dalam tujuh lambung) (inti hadits ini ada dalam Shahih Al Bukhari secara ringkas tanpa kisah itu).

Dan begitu juga hadiah, tidak apa-apa diberikan dalam rangka melunakkan hati sebagian mereka. Dan telah kami utarakan kepada anda bahwa menerima hadiah orang-orang kafir adalah tidak apa-apa bila hal itu tidak menjadi jalan yang menghantarkan kepada sikap mencintai mereka yang terlarang yang dengan dalil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerima sebagian hadiah orang-orang kafir.

Adapun bila hadiah dari orang muslim kepada orang kafir itu menjadi sarana kecintaan orang kafir kepada orang muslim atau kasih sayangnya kepadanya dan rasa simpatinya terhadap akhlaknya sehingga akhirnya ia terpengaruh dengan agamanya, maka apa salahnya orang muslim dalam hal ini…? Dan apa penghalangnya dari syari’at yang menghalanginya?

Dan dalam Shahih Al Bukhari (bab Al Hadiyyah Lil Musyrikin) dan firman-Nya ta’ala:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (٨)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)

Di dalamnya ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim kain sutera kepada Umar Ibnul Khaththab terus beliau mengingkarinya saat ia memakainya, maka Umar mengirimkannya kepada saudaranya yang berada di Mekkah sebelum masuk Islam. Dan ia menuturkan juga dalam bab itu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Asma: Berbuat baiklah kepada ibumu tatkala ibunya datang kepadanya sedangkan dia itu wanita musyrik di masa perjanjian damai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Quraisy].

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam komentarnya terhadap ayat yang digunakan Al Bukhari sebagai pembuka bab ini: (Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari As Suddiy bahwa ia turun berkenaan dengan sejumlah kaum musyrikin yang mana mereka sangat lembut sikapnya terhadap kaum mukminin dan sangat baik akhlaknya) selesai. Dan berkata: (Berbuat baik, sopan dan lembut tidak memastikan adanya saling mencintai dan saling menyayangi yang terlarang dalam firman-Nya ta’ala:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menjalin kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al Mujadilah: 22)

Karena sesungguhnya ia itu umum berkaitan dengan orang yang memerangi dan orang yang tidak memerangi, wallahu ‘alam), selesai.

Seandainya kita memanggil mereka dengan kun-yah (sebutan) mereka untuk pelunakan hati atau kebutuhan terhadap hal itu, maka tentunya tidak apa-apa juga dalam hal itu, karena panutan kita dalam dakwah dan dalam al wala, al bara serta dalam dien ini secara keseluruhan adalah telah melakukannya.

Al Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya (Kitabul Adab) (bab Kunyatil Musyrik) hadits Usamah Ibnu Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat campuran dari kaum muslimin dan musyrikin, para penyembah berhala, dan Yahudi…) Dan yang menjadi dalil darinya adalah ucapannya setelah itu… (Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: wahai Sa’ad apa engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Khabbab, maksudnya Abdullah Ibnu Ubay…), Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: (dan dia saat itu belum menampakkan keislaman, sebagaimana ia jelas dari konteks hadits dan nampak di akhirnya…), selesai.

            Dan Al Bukhari berhujjah dalam bab ini juga dengan kunyah Abu Thalib dan sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari Al ‘Abbas dan yang lainnya saat menggunakannya, dan telah berulang-ulang penuturannya dalam banyak hadits, sedangkan namanya adalah (Abdu Manaf). Dan An Nawawiy dalam Al Adzkar berupaya membatasi hal itu dengan keadaan andaikata orang kafir itu tidak dikenal kecuali dengan kunyahnya atau khawatir fitnah bila disebutkan namanya.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata (Dan ucapan beliau ini telah dikoreksi bahwa masalahnya tidak hanya yang beliau sebutkan saja, akan tetapi kisah Abdullah Ibnu Ubay dalam penyebutannya dengan kunyah-nya tidak dengan namanya yang masyhur bukan karena khawatir fitnah, karena orang yang menyebutkannya dengan hal itu adalah sangat kuat dalam Islam, sehingga tidak ada kekhawatiran timbul fitnah andaikata menyebutkan Abdullah dengan namanya, namun ia itu dilakukan dalam rangka pelembutan hati, sebagaimana yang dipastikan Ibnu Baththal, beliau berkata: (Di dalamnya ada kebolehan memberikan kunyah terhadap kaum musyrikin dalam rangka melunakkan hati baik diharapkan keislamannya ataupun untuk meraih manfaat dari mereka), selesai.

Dan begitu juga Abu Lahab, dia telah disebutkan dalam Al Qur’an dengan laqab-nya yang terkenal dengannya, padahal kunyah-nya adalah Abu ‘Utbah, sedangkan Abu Lahab diberi laqab dengannya karena wajahnya berseri-seri dan menyala tampan, dan penyebutan dengan laqab-nya ini sejalan dengan konteks ancaman baginya dengan ancaman neraka yang menyala-nyala. Dan seperti itu juga apa yang telah kami utarakan pada anda, yaitu surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraclius dengan laqab (gelar) pembesar Romawi.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: (Gelar bagi non arab sama seperti kunyah (sebutan) bagi orang arab) selesai.

            Dan dalam Al Mughniy karya Ibnu Qudamah: (Al Imam Ahmad berkata; kepada thabib Nasrani hai Abu Ishaq, dan beliau berkata: bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala masuk menemui Sa’ad Ibnu Ubadah telah berkata: Apa pendapatmu tentang apa yang dikatakan Abul Hubab, dan beliau berkata kepada Uskup Najran: (Masuk Islamlah wahai Abdul Harits, dan Umar berkata kepada orang Nasrani: (Wahai Abu Ihsan masuk Islamlah tentu kamu selamat), selesai. 8/533. Dan masalah-masalah ini dan yang lainnya telah dibicarakan oleh para ulama, dan mereka melakukan rincian di dalamnya.

Dan barangsiapa yang menginginkan tambahan maka silahkan merujuk ke tempat-tempatnya. Karena ilmu itu melenyapkan kebutaan dari hati orangnya sebagaimana bulan melenyapkan kegelapan malam.

Dan jangan sekali-kali orang mengira bahwa saya menuturkan apa yang saya tulis ini agar saya mendorong untuk mudahanah atau rukun (cenderung) kepada musuh-musuh Allah, sama sekali tidak, dan saya berlindung kepada Allah.

Saya mengetahui bahwa sisi tasahul (mengentang-enteng) dan tafrith (teledor) di tengah umat pada hari ini, dan barangsiapa menyepelekan agamanya, menelantarkan ikatannya yang paling kokoh, serta teledor dalam al wala’ dan al bara’ adalah sama sekali tidak peduli dengan dalil dan dia tidak mencarinya atau perhatian terhadapnya. Kemudian bila dia melakukan hal itu dan dia mengais-ngais lembaran-lembaran kami untuk menambal kebatilannya, maka da’i tidak akan mendapatkan apa yang dia cari dalam apa yang saya tulis, kecuali bila dia memenggal-menggal tulisan itu dan mengambilnya seraya memalingkan maknanya. Dan cara ini telah dilakukan oleh orang-orang sesat dalam menyikapi firman Allah Rabbul ‘Alamin, namun demikian perbuatan mereka ini tidaklah membahayakan Al Qur’an akan tetapi terhadap dirinyalah mereka telah berbuat zalim.

Dan terakhir, sesungguhnya di sana ada perbedaan yang jauh lagi jelas antara mudahanah dengan mudarah,[21] dan antara sikap santun untuk melembutkan hati, bijaksana dan pelajaran yang baik dalam dakwah dengan pengkaburan al haq dengan al bathil atau penyembunyian al haq dan pencorengannya, sebagaimana di sana ada perbedaan yang nyata lagi jelas antara kecintan kepada kebaikan dan hidayah bagi manusia, ihsan kepada mereka serta pendekatan kepada mereka dalam rangka meluluhkan hati mereka dan mendakwahinya, dengan kecintaan dan kasih sayang kepada mereka sedangkan mereka ada di atas kekafirannya.

Dan bagaimanapun keadaannya, maka saya tidak menulis apa yang saya tulis di sini bagi orang-orang yang mengenteng-enteng itu, karena sungguh saya telah membantah terhadap orang-orang semacam mereka itu di dalam banyak tempat yang lain, akan tetapi saya menulisnya dan panjang lebar berbicara di dalamnya hanyalah dalam rangka nasehat dan pengingat bagi golongan lain dari para pemuda yang kadang cenderung ghuluw dan berlebihan, di mana sebagian mereka tergesa mencap kafir atau sesat dan bid’ah orang yang mencari keringanan dan menyelisihi dia dalam sebagian kewajiban dan bisa saja dia berhujjah untuk hal itu dengan sikap keberlepasan total kami dari aparat-aparat syirik dan anshar para thaghut, terus dia ingin mengharuskan umat seluruhnya agar mengumumkan sikap itu.

Dan saya menulisnya juga untuk melenyapkan sebagian kesamaran yang menimpa sebagian orang tatkala dia melihat sebagian tulisan-tulisan kami yang bersifat dakwah lagi global yang dengannya kami mengkhithabi anshar syirik dan aparat undang-undang. Dan ucapan yang global yang ada di sana, maka di sini ada sebagian penjelasan dan rinciannya.

Saya memohon Allah ta’ala agar memberikan manfaat bagi saya dan ikhwan saya dengan apa yang ia tulis dan agar memberikan karunia ikhlas, kelurusan dan hidayah bagi kami dalam ucapan, amalan dan niat… sesungguhnya dia adalah pengatur hal itu dan yang kuasa atasnya.

Segala puji hanya bagi Allah di awal dan di akhir.

Ditulis oleh:

Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Penjara Sawaqah Ramadlan 1417 H

 

Penterjemah:

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

Selesai di LP Kelas 1 Sukamiskin Bandung UB-30. Siang Senin 14 Rabi’ul awwal 1428 H.

* * *

Baca juga artikel lainnya:


[1] Ini adalah pertanyaan-pertanyaan beraneka ragam yang ditujukan kepada saya di penjara Sawaqah dari sebagian ikhwan narapidana yang baru mengenal dan komitmen dengan dakwah ini, maka saya menjawabnya dengan apa yang Allah ta’ala mudahkan bagi saya dengan jawaban yang saya pandang sejalan dengan al haq dan dalil, sehingga jawaban yang haq maka ia berasal dari Allah, dan yang tidak seperti itu maka ia berasal dari saya serta saya memohon ampunan kepada Allah dari kekeliruan. Dan insya Allah saya sangat amat mudah dan ringan dari rujuk dari kekeliruan itu bila saya diingatkan kemudian nampak di hadapan saya al haq dan dalil.

[2] Bila engkau ingin tambahan dan rincian seputar hal itu maka silahkan lihat kitab kami (Millah Ibrahim)

[3] Ingat, bahwa pembicaran adalah perihal penampakkan, pernyataan dan pengumuman… tidak perihal mutlak keberadaannya.

[4] Bahkan salaf melarang dari mengucapkan salam kepada orang-orang yang lebih ringan keburukannya daripada kaum musyrikin, yaitu orang-orang fasiq dan orang-orang jahat yang terang-terangan dengan perbuatan maksiat dari kalangan pemeluk islam, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Al Bukhari secara ta’liq dari Abdullah Ibnu ‘Amr radliallahu ‘anhu, berkata: “Jangan kalian ucapkan salam kepada para pemimpin khamr” dan diriwayatkan oleh Said Ibnu Manshur secara marfu’ dengan tambahan, ia berkata: “Jangan kalian ucapkan salam kepada orang yang minum khamr dan jangan menjenguk mereka bila mereka sakit serta jangan kalian menshalatkan mereka bila mereka mati”, dan itu semuanya sebagai pengingkaran terhadap kemunkaran dan supaya membuatnya jera darinya.

[5] Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya : (Kembalilah, kami tidak akan meminta bantuan orang musyrik)

[6] Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan yang lainnya dari Abdullah Ibnu Umar secara marfu’ “…barang siapa tasyabbuh dengan suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan dalam kitabnya “Iqtidla Ash Shirathil Mustaqim Mukhalafah Ashhabil Jahim”: bahwa penyerupaan pada dhahir mewariskan macam kasih sayang, kecintaan dan loyalitas dalam batin”.

[7] Sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya aku dilarang dari pemberian kaum musyrikin” diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidziy dan beliau menshahihkannya. Dan di antara yang bisa dijadikan dalil bahwa hadiah itu bisa menghantarkan kepada jalan tersebut adalah apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrid, Al Baihaqi dan yang lainnya dari Abu Hurairah secara marfu’: (Saling memberi hadiahlah tentu kalian saling mencintai)} dan Al Hafidh Ibnu Hajar telah menghasankan isnadnya dalam Fathul Bari (Kitabul Hibah Wa Fadlluha)

[8] Lihat Al Mughniy 8/536.

[9] Dan ini berlawanan dengan hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Abu Dawud (Bahwa seorang anak kecil Yahudi selalu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia sakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguknya, terus beliau duduk dekat kepalanya kemudian berkata kepadanya: “Masuk Islamlah!”, maka anak itu menengok kepada ayahnya, maka ayahnya berkata kepadanya: Taatilah Abul Qasim! Maka ia pun masuk Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata: “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari neraka”. Dan Al Bukhari telah memberi baginya judul dalam (Kitabul Mardla) dengan ucapannya (bab menjenguk orang musyrik) dan beliau menuturkan juga bersamanya ucapan Sa’id ibnul Mussayyab dari ayahnya: (Tatkala kematian akan menjemput Abu thalib maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya) Ibnul Bathar berkata: (Membesuknya hanyalah diisyaratkan bila diharapkan dia memenuhi ajakan masuk islam, dan adapun bila tidak diharapkan akan hal itu maka tidak). selesai. Namun ucapan ini dikoreksi oleh Al Hafidh, di mana ia berkata: (Dan yang nampak adalah bahwa hal itu berbeda-beda… tergantung ragamnya maksud, di mana bisa saja terjadi maslahat lain dengan sebab penjengukannya). Selesai.

[10] Dan telah didapatkan dengan kesimpulan penelitian bahwa apa yang dikatakan At Tirmidziy tentangnya ”gharib” begitu saja, maka ia itu dha’if.

[11] Oleh sebab itu ada dalam sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta bantuan orang-orang kafir dalam beberapa kondisi pada masalah-masalah tertentu, seperti sikap beliau meminta bantuan Abdullah Ibnu Ura’iqith sebagai pemandu jalan dalam hijrahnya, dan beliau meminta pinjaman dari Sufyan Ibnu Umayyah saat ia masih musyrik. Dan para ulama mengkhususkan dengan hal itu keumuman larangan yang lalu, jadi hukum asal adalah haramnya meminta bantuan yang menjadikan jalan bagi orang-orang untuk menguasai kaum mukminin, sedangkan ini adalah gambaran-gambaran parsial yang dikhususkan dari hukum asal itu dengan syarat tidak menghantarkan kepada hal-hal yang dilarang itu. Dan para ulama telah menuturkan syarat-syarat lain dalam bab ini yang bisa diketahui di tempat-tempatnya. Dan begitu juga halnya dengan tasyabbuh dengan mereka, maka hukum asalnya adalah keharaman terus menerus di atasnya. Dan Syaikhul Islam telah menuturkan dalam kitabnya “Iqtidla Ash Shirathil Mustaqim Mukhalafah Ashhabil Jahim” kebolehan hal itu pada kondisi-kondisi tertentu di Darul Kufri.

[12] Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah-hadiah orang kafir, di mana Al Bukhari telah menuturkan kisah Sarah isteri Ibrahim dan  ia (Sarah) menerima Hajar sebagi hadiah dari raja yang kafir di (Kitab Al Hibah) (bab menerima hadiah dari kaum musyrikin) kemudian ia menuturkan hadiah raja ialah berupa keledai putih bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits Anas Ibnu Malik tentang wanita Yahudi yang memberi hadiah bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa kambing yang dibubuhi racun kemudian beliau makan darinya, juga hadits Abdurrahman Ibni Abu Bakar bahwa seorang laki-laki musyrik melintasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kambing-kambing yang dia giring, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Apakah penjualan atau pemberian, atau beliau berkata: hibah? Orang itu berkata: Tidak, akan tetapi penjualan.”. Maka beliau membeli darinya seekor kambing… Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (dalam hadits ini ada penerimaan hadiah orang musyrik, karena beliau bertanya kepadanya apakah ia penjualan atau menghadiahkan, dan dalam hadits ini ada penjelasan kerusakan pendapat orang yang melarang menerima hadiah orang paganisme (watsaniy) tidak orang kitabiy, karena orang arab badui ini adalah watsaniy). Dan Al Hafidh telah menuturkan pendapat-pendapat ulama tentang penggabungan antara hadits-hadits perihal penerimaan hadiah-hadiah orang-orang kafir dan hadits-hadits lain tentang penolakannya, kemudian beliau menguatkan pendapat orang yang mengatakan: (Bahwa penolakkan itu bagi orang yang dengan hadiahnya itu menginginkan pendekatan kasih sayang dan muwalah, sedangkan penerimaan itu adalah berkaitan dengan orang yang dengan hal itu diharapakan kecenderungannya dan pelembutan (hatinya) untuk menerima Islam).

[13] Bila orang tidak menampakkan dakwah dan akidahnya atau dia pada kondisi tertentu tidak memiliki kesempatan dari menjelaskan sebab yang mendorong dia untuk menolak tangan orang yang mengulurkan tangannya kepadanya, dan dia tidak memiliki peluang dari mengutarakan dakwahnya sesuai cara tersebut karena alasan tertentu dan kekhawatiran mafsadah yang mungkin mucul karena penyamaran hal itu, seperti tuduhan tidak beradab, atau sombong dan menyepelekan orang lain, terutama bila orang yang menyalami adalah tergolong lanjut usia atau yang semacam itu, maka penolakkan mafsadah adalah lebih utama terutama dalam kondisi semacam ini, apalagi setelah kamu mengetahui bahwa masalah dalam hal jabatan tangan adalah tidak ada nash, dan bahwa kami meninggalkannya terhadap orang-orang kafir dalam rangka dakwah murni yang diperhitungkan berdasarkan maslahat dan siasat syar’iyyah… maka ingat selalu hal ini dan hendaklah tujuanmu itu penampakkan dakwah yang mahal ini dan menjaganya dengan wajahnya yang bercahaya. Dan yang dimaksud dengan meninggalkan jabatan tangan di sini menurut kami bukanlah penghinaan dan penyepelean manusia… sama sekali tidak… ini bukan akhlak dakwah kami, akan tetapi yang dimaksud sebagaimana yang kamu ketahui adalah mengingkari realita kemusyrikan mereka dan sikap antusias untuk mengeluarkan mereka darinya serta mengajak mereka untuk menjadi barisan tentara tauhid dan tidak tetap menjadi sebagian aparat syirik.

[14] Akan tetapi kami mengingkari sikap mudahanah terhadap mereka dan sikap berlebihan dalam ramah terhadap mereka, dari orang yang tidak mengingkari kebathilan mereka tanpa darurat, dan sudah maklum bahwa darurat digunakan sekadarnya saja, dan pengingkaran ini sangat ditekankan bila hal itu muncul dari orang yang melakukannya yang pada sisi balik jarang sekali kamu melihat dia ramah atau murah senyum di hadapan kaum muwahhidin, bahkan bisa saja dia malah menampakkan di hadapan muwahhidin sikap permusuhan, kebencian, pemboikotan dan sikap berpaling, sehingga ia sangat menyerupai ucapan orang: (singa terhadap saya dan burung unta di dalam peperangan…)

[15] Bagaimana sedangkan madzhab sebagian sahabat dan sekelompok ulama adalah bolehnya mengucapkan salam terhadap kafir dzimmiy: Sungguh An Nawawiy telah berkata dalam Syarh Muslim 14/145: Sekelompok ulama berpendapat bahwa boleh kita mengucapkan salam terhadap mereka. Hal itu diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abu Umamah, Ibnu Muhairiz serta ia adalah pendapat sebagian sahabat kami, ini dihikayatkan oleh al Mawardiy akan tetapi ia berkata: dia mengatakan, as salamu ‘alaik, dan tidak mengatakan ‘alaikum dengan bentuk jamak… dan sebagian sahabat kami mengatakan makruh mengucapkan salam kepada mereka, dan tidak haram… dan yang benar adalah haramnya mengucapkan salam kepada mereka, dan Al Qadli menghikayatkan dari jama’ah, bahwa boleh mengucapkan salam kepada mereka karena darurat dan karena kebutuhan atau karena suatu sebab, dan ia adalah pendapat Al Qamah dan An Nakha’i, dan dari Al Auza’i bahwa ia berkata: Bila saya mengucapkan salam maka orang-orang salih juga telah mengucapkan salam dan bila saya meninggalkan maka orang-orang salih juga telah meninggalkan. Dan sebagian sahabat kami mengatakan: boleh mengatakan ‘wa’alaikumuss salam’ dalam menjawab salam mereka, tapi tidak boleh mengatakan ‘warah matullahi’, ini dihikayatkan oleh Al Mawardiy, sedangkan pendapat ini adalah lemah lagi menyelisihi banyak hadits, wallahu ‘alam) selesai secara ikhtishar. Dan apa yang beliau utarakan dari Abu Umamah adalah dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya darinya bahwa ia pernah mengucapkan salam kepada orang yang beliau jumpai, terus ia ditanya tentang hal itu, maka ia berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan salam sebagai penghormatan bagi umat kita dan sebagai keamanan bagi ahli dzimmah kita, kemudian Al Baihaqi berkata: (Ini adalah pendapat Abu Umamah, sedangkan hadits Abu Hurairah tentang pelarangan mengucapkan salam terhadap mereka adalah lebih utama). Selesai. Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan bahwa ‘Aun Ibnu Abdillah bertanya kepada Muhammad Ibnu Ka’ab tentang salam terhadap ahli dzimmah, maka ia menjawab: tidak apa-apa mengucapkan salam kepada mereka. Saya berkata: Kenapa? Ia berkata: Karena firman-Nya ta’ala: “Maka berpalinglah (Hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam”” Az Zukhruf: 89

At Thabari mengeluarkan dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al Qurthubiy dalam tafsir surat Maryam pada firman Allah ta’ala tentang Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku” Maryam: 47

Dari Sufyan Ibnu Uyainah bahwa dikatakan kepadanya: Bolehkah mengucapkan salam kepada orang kafir? Maka ia berkata: ya, Allah ta’ala berfirman:  “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah: 8)

dan berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

dan Ibrahim berkata kepada ayahnya: Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu (QS. Maryam: 47).

Selesai. Dan ketahuilah bahwa saya tidak menuturkan ini semuanya sebagai pembelaan kepadanya, karena sungguh telah lau pendapat kami tentang pengucapan salam kepada orang-orang kafir secara umum, akan tetapi saya hanya menuturkannya agar pencari kebenaran mengetahui bahwa hanya orang yang tergesa-gesa lagi bodohlah yang mengkafirkan orang yang menyelisihi dalam masalah ini!!!

[16] Fathul Bari Kitabul Isti-dzan (bab pengucapan salam terhadap majelais yang di dalamnya ada campuran dari muslimin dan musyrikin).

[17] Bahkan saya mendengar sebagian mereka mewajibkan hal itu dalam keadaan ini, karena konteks ayat adalah perintah, sedangkan hukum asal pada perintah adalah wajib selagi tidak ada dalil yang memalingkan hal itu.

[18] Lihat Ahkam Ahlidz Dzimmah karya Ibnul Qayim 1/199-200.

[19] Al Hafidl berkata dalam Al Fath (Bad-ul Wahyi): (sabdanya Pembesar Romawi”di dalamnya terkandung sikap keberpalingan dari penyebutannya dengan raja atau pemimpin, karena ia terlengserkan dengan hukum Islam, akan tetapi beliau tidak mengosongkannya dari penghormatan untuk maslahat penarikan hati), selesai.

[20] Yaitu dengan bentuk ma’rifat, yaitu firman-Nya ta’ala: maka datanglah kamu berdua kepadanya (fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka, sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu, dan as salamu (keselamatan itu) dilimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (dilimpahkan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”. (QS. Thaha: 47-48).

[21] Al Bukhari berkata dalam (bab mudarah bersama manusia): dan disebutkan dari Abu Ad Darda: (Sesungguhnya kami tersenyum di hadapan orang-orang padahal sesungguhnya hati kami melaknat mereka) Al Hafidh Ibnu Hajar berkata: Al Kasyru adalah nampaknya gigi, dan biasanya digunakan saat tertawa. Ibnu Baththal berkata: mudharah adalah termasuk akhlak kaum mukminin, yaitu sopan terhadap manusia dan lembut tutur kata serta tidak kasar kepada mereka saat berbicara, dan hal itu tergolong sebab terkuat untuk melunakan hati. Dan sebagian orang mengira bahwa mudharah itu adalah mudahanah maka ia sudah keliru, karena mudharah itu dianjurkan sedangkan mudahanah adalah diharamkan dan perbedaannya adalah bahwa mudahanah itu diambil dari kata diha-an yaitu sesuatu yang nampak di atas sesuatu dan menutupi dalamnya, dan para ulama menafsirkannya bahwa ia adalah berinteraksi dengan orang fasik dan menampakan ridla terhadap apa yang ia lakukan tanpa mengingakarinya, sedangkan mudharah adalah lemah lembut terhadap orang bodoh dalam mengajarinya, dan terhadap orang fasik dalam melarangnya dari perbuatannya, tidak kasar terhadapnya saat tidak nampak apa yang ia lakukan serta mengingkarinya dengan ucapan dan perbuatan yang lembut apalagi kalau dibutuhkan kepada pelunakan hatinya, serta hal-hal serupa itu. Dan Al Bukhari menuturkan dalam bab ini hadis ‘Aisyah: seorang laki-laki meminta izin masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau berkata: (Izinkan dia masuk, sungguh dia seburuk-buruknya anak suku atau seburuk-buruknya saudara sukunya). Kemudian tatkala dia masuk maka beliau berbicara lembut kepadanya (dan dalam suatu riwayat: beliau ramah kepadanya) maka saya bertanya: wahai Rasulullah tadi engkau berbicara seperti itu terus engkau berbicara lembut kepadanya. Maka beliau berkata: hai ‘Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya disisi Allah adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena menghindari kekejiannya.

Filed under: AQIDAH, SYIRIK, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID, Uncategorized

2 Responses

  1. Wahid Muslim says:

    Terus kalau sikap kita kepada guru PAI, orang-orang di depag, mentri agama, serta yang di KUA bagaimana? Apakah dihukumi sama?

    Kemudian kalau sama, bagaimana nasib mereka yang berguru kepada guru PAI yang PNS, dan yang wali nikah di KUA?

    Terus siapakah yang akan mendakwahi mereka jika kalangan islamis menjauhi bidang-bidang tersebut? Bukankah mereka berada disitu unt mengurangi kerusakan lebih besar? Ingat kalangan Liberal banyak menguasai UIN, STAIN, atau IAIN. Jadi kita menarik semua PNS yang berakidah tauhid dan cinta jihad serta membiarkan kalangan liberal menguasai lembaga-lembaga tersebut. Atau kita beramah tamah dan berdakwah dengan PNS yang memegang guru PAI dan KUA.

    Bayangkan, jika guru PAI dikuasai kalangan liberal. Bukan tauhid yg ditanamkan, tapi pluralisme. Sekarang masih banyak guru yg menanamkan kisah nabi ibrahmi, melarang ikutan natal, dan valentine, mendakwahkan bahaya TBC. Dll. Apa mereka juga kita hujat krn PNS tapi mengapaikan usaha mereka dalam mempertahankan akidah murid-murid mereka dari subhat pancasila?

  2. Wahid Muslim says:

    Saya alumni sekolah sekuler, tolong pencerahanya. Alhamdulilah Allah membimbing saya dg guru-guru yg masih ada kecintaan terhadap Islam. Serang saya kuliah di kampus milik ormas Islam.

    Yang selalu mengelitik, bagaimana sikap guru-guru agama saya yang PNS? Kita tahu bagaiman sumpah PNS. Apakah mereka termasuk anshar taghut dan tidak perlu dihormati, dan haram sembelihanya?

    Padahal merekalah yg menghalau sekularisme disekolah sekuler. Mereka pula yg memperjuangkan rohis dll.

    Masalah pendidikan, ormas islam menyediakan lembaga pendidikan yg lebih aman. Tapi tak cukup sekolah sekuler pemerintah lebih menyebar, dan kalangan liberal juga mulai berkembang. Apa kita mengiklaskan PNS dari guru PAI dan KUA dipegang orang liberal?

    Bagaimana dg POLISi yang betaubat tapi tetap menjadi Polisi? Ini realita dan ada.

    Apakah tdk lebih baik Polisi dan tentara negara ini dikuasai kalangan pondok. Dibanding dikuasai kalangan sekuler dan kafir asli. Jadi mujahid dan tentara/polisi sinergi menegakan daulah islam. Kalau salah, apakah salah tentara yg membunuh Anwar Sadat? Dia juga masuk lewat jalur itu, tapi niat unt mengkudeta negara sekuler. Bagaimana? Tolong pencerahanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,028,081 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 273 other followers

%d bloggers like this: