Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Kupasan Syirik Hukum Dalam Tafsir Adlwaul Bayaan (Bag. 1)

Oleh:
Abdurrahman Ibnu ‘Aziz As Sudais

Alih Bahasa:
Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

M u q a d d i m a h

Segala puji hanya bagi Allah, kepada-Nya kami memuji, kepada-Nya kami meminta pertolongan, dan kepada-Nya kai memohon ampunan.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuahn yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, dan kepada keluarganya, dan para shahabatnya.

Amma ba’du:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. bid’ah terbesar dalam agama adalah bid’ah dalam hal aqidah, dan di antara bid’ah terbesar dalam masalah aqidah yang diada-adakan pada zaman ini, yaitu keyakinan bahwa ber-tahakum (berhakim) kepada syari’at selain syari’at Allah berupa qawwanin wadl’iyyah jahiliyyah (hukum-hukum buatan) yang di mana hal itu merupakan sampah pemikiran manusia dan kotoran akalnya yang semuanya telah dihukumi oleh Al Khaliq sebagai hawa nafsu dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla :

يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” (Shaad: 26)

Allah menjadikan selain kebenaran adalah hawa nafsu yang menyesatkan, keyakinan  bahwa hal tersebut di atas[1] paling tidak hanyalah menyebabkan kefasikan, atau kesalahan yang bisa diampuni, ini apabila tidak ada bagi pelakunya udzur dan hujjah-hujjah yang mengeluarkannya dari lingkungan dosa juga kefasikan, apalagi dari kekufuran.

Menjadikan hawa nafsu ini kesesatan dan thaghut sebagai hukum

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” (Yunus: 32)

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat” (Al Baqarah: 256)

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

“Mereka hendak berhakim kepada thaghut”. (An Nisa: 60)

Saya katakan bahwa menerapkan itu semua sebagai rujukan pada jiwa-jiwa manusia, kehor,atannya, dan harta benda mereka adalah merupakan bentuk kedzaliman terbesar dan dosa terberat, pelakuklnya meikul dosanya dan dosa orang dia paksa untuk berhukum kepadanya.

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al Ankabut: 13)

Kedua mushibah ini merupakan sekian dari apa yang telah umum di seluruh negeri kaum muslimin tanpa pengecualian, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

أول ما تفقدون من دينكم الحكم، وآخر ما تفقدون منه الصلاة

 “Sesuatu yang pertama kali hilang dari kalian adalah hukum, dan sesuatu yang paling terakhir hilang darinya adalah shalat”

Dan dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 حد يعمل به في الأرض خير لأهل الأرض من أن يمطروا أربعين صباحا

“Had yang diamalkan di bumi lebih baik bagi penghuni bumi daripada mereka diberi hujan daripada 40 hari”

Dan di antara yang memperjelas kerusakan yang merata yang telah diisyaratkan tadi adalah bahwa kita mengetahui begitu besarnya dosa memilah-milah syari’at, sehingga sebagiannya diterapkan dan sebagian yang lain ditinggalkan.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (٨٥)

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Al Baqarah: 85)

فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. (Al Maidah: 14)

Peninggalan umat Islam pada masa sekarang ini terhadap sebagian dari peringatan tersbut dan berpalingnya mereka darinya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thahaa: 124) merupakan penyebab bencana yang mereka terjatuh ke dalamnya, berupa perpecahan, dan perselisihan. Di dunia ini tidak pernah terjadi permusuhan, kebencian, perpecahan dan perselisihan di antara umat Muhammad, kecuali sebabnya adalah keberadaan sebagian mereka yang meninggalkan sebagian dari apa yang mereka diingatkan dengannya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan berdasarkan pada ayat ini.

Saya ulangi, saya katakan: Sesungguhnya ini adalah keadaan para penguasa (pemerintah) umat ini pada masa sekarang, (yaitu) memilih bagian-bagian yang menarik hawa nafsu mereka, tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingannya, serta yang tidak membuat mereka sulit di hadapan tuan-tuan mereka dari barat. Penguasa ini merasa cukup dari syari’at ini hanya sekedar menerapkan masalah-masalah perdata (ahwaal syakhshiyyah), (penguasa) itu hanya menerapkan masalah-masalah pidana (hudud) saja dan membuangnya dalam hal yang berkenaan dengan ekonomi, hhubungan luar negeri, jihad, dan yang lainnya yang masih banyak, dia mencapakkannya di belakang, dan (pemerintah-pemerintah) yang lainnya mencampakkan syari’at itu hingga masalah-masalah yang berhubungan dengan ahwaal syakhshiyyah. Dan semua (macam pemerintah-pemerintah) itu di dalam agama Allah hukum mereka itu adalah satu, karena orang yang mencampakkan satu ayat sama statusnya dengan yang mencampakkan seluruhnya, dan semuanya terkena firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” (Al Baqarah: 101)

Dan termasuk bid’ah dalam aqidah adalah keyakinan penentuan hukum dengan suara terbanyak -demokrasi- adalah hal yang boleh-boleh saja tidak ada masalah, sehingga menurut banyak orang tidak berdosa bila rakyat itu menjadi sumber hukum, bahkan sebagian orang yang baik saking bersemangatnya ia mengatakan: Sesungguhnya rakyat bila disuruh memilih, tentu mereka tidak akan memilih kecuali Islam, dan terluput dari benak mereka bahwa Islam itu wajib dijadikan rujukan baik rela atau terpaksa, dan bila ayoritas tidak menginginkannya, maka pendapat mereka itu tidak usah dihiraukan.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak keberatan  dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisa’: 65)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An Nur: 63)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.

Tatkala thesisku dalam meraih gelar magister adalah seputar manhaj Asy Syaikh Al Imam panutan Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah di dalam kitabnya yang tidak duanya Adlwaa-ul Bayan Fi Iidlaahil Qur’an maka ada yang membuat pandangan saya tertarik yaitu pembahasan beliau tentang masalah-masalah yang telah saya sebutkan tadi dan juga pembahasan yang lainnya seputar berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla dengan pembahasan yang rinci yang didukung dengan dalil-dalil dari Kitabullah serta dari Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga pembahasannya itu sangat bagus, kuat lagi jelas, maka saya berpandangan bahwa termasuk hak beliau yang sangat ahli atas saya dan termasuk hak umat yang wajib saya tunaikan adalah saya berusaha mengeluarkan buat umat ini kunuuz (simpanan-simpanan) riwayatnya dan para imamnya, apalagi di saat kebutuhan akan simpanan ini sangat mendesak. Maka usaha yang saya lakukan tidak lain hanyalah memaparkan ucapan beliau rahimahullah tentang masalah ini, dan perkataannya itu ada di tiga tempat dalam tafsirnya Adlwaa-ul Bayan:

Pertama: Ketika membahas firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al Isra (9):

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus”

Kedua: ketika membahas firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (٢٦)

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26)

Ketiga: Ketika menjelaskan firman Allah:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah” (Asy Syuraa: 10)

Adapun judul yang keempat, maka bukan tulisannya dari Al Adlwaa, tetapi ditulis oleh sebagian ikhwah dari perkataannya yang direkam dalam pita kaset ketika pelajarannya di Mesjid Nabawi tentang tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٣١)

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)

Pada akhirnya saya meminta kepada Allah agar memberikan manfaat kepada penulisnya dan pembacanya serta melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada pembicaranya. Sesungguhnya Dia-lah Penolong dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas hal itu. Semoga shalawat serta salam selalu dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Ditulis oleh

Abdurrahman Abdul ‘Aziz As Sudais

******

TEMPAT PERTAMA

Syaikh rahimahullah saat menerangkan firman-Nya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (Al Israa: 9)

Berkata:

Dan di antara petunjuk Al Qur’an kepada jalan yang lebih lurus adalah penjelasannya bahwa setiap orang yang mengikuti tasyri’ (hukum/aturan) selain tasyri’ yang dibawa penghulu anak Adam Muhammad Ibnu Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (atau) mengikuti tasyri’ yang bertentangan dengan Islam (maka perlakuannya) itu adalah kufrun bawwah mukhrijun minal millah al islamiyyah (kekufuran yang sangat jelas yang mengeluarkan dari agama Islam).

Ketika orang-orang kafir berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kambing mati, siapa yang membunuhnya?” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah-lah yang mematikannya”, lalu mereka berkata: “Apa yang kalian sembelih dengan tangan-tangan kalian halal, sedangkan apa yang sisembelih Allah dengan tangan-Nya yang mulia, kamu mengatakannya haram, kalau begitu kalian lebih baik daripada Allah!?” Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla  menurunkan firman-Nya tentang mereka ini:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121)

Dibuangnya hufuf Fa’ dari firman-nya إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ menunjukan akan qasam (sumpah) yang dibuang, sebagaimana perkataan (ulama nahwu) dalam Al Khulashah:

جَوَابَ مَا أَجَّرْتَ فَهُوَ مُلْتَزِمٌ

وَاحْذِفُ لَدَى اجْتِمَاعِ شَرْطٍ وَقَسَمٍ

Di saat berkumpulnya syarat dan qasam, maka buanglah jawaban yang paling akhir (dari keduanya), dan ini adalah keharusan.

Karena kalau jumlah itu adalah jawab bagi syarat tentulah dibarenagi dengan Fa’ sebagaimana yang dikatakan dalam Al Khulashah:

شَرْطًا لإِنْ أَوْ غَيْرِهَا لَمْ يَنْجَعِلْ

وَاقْرِنْ بِفَا حَمًا جَوَابًا لَوْجُعِل

Dan sertakanlah Fa’ suatu keharusan pada jawab yang diperintukan buat syarat In atau yang lainnya

Itu adalah qasam (sumpah) dari Allah ‘Azza wa Jalla, Dia bersumpah dengannya bahwa siapa orangnya yang mengikuti syaitan dalam penghalalan bangkai, maka dia itu musyrik, dan kemusyrikan ini mengeluarkannya dari agama Islam dengan ijma kaum muslimin, dan di hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla akan memaki-makinya dengan firman-Nya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Kami telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (Yasin: 60)

Karena ketaatan dia dalam hukumnya yang meyelisahi wahyu merupakan penyembahan diri kepadanya (Syaitan), Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka” (An Nisa: 117)

Yaitu mereka tidak menyembah kecuali terhadap syaitan, dan yang demikian itu dengan berupa mengikuti hukum tersebut.

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka” (Al An’am: 137)

Allah menamai mereka sebagai “syurakaa” (sekutu-sekutu) karena mereka mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan Allah berfirman tentang (Khaliluhu) kekasih-Nya:

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan” (Maryam: 44)

Yaitu dengan mentaatinya dalam kekufuran dan maksiat. Dan ketika ‘Adiy Ibnu Hatim menanyakan kepada Nabi tentang firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepadanya bahwa makna ayat itu adalah sesungguhnya mereka mentaatinya dalam mengharamkan apa-apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah, ayat yang semakna dengan ini sangatlah banyak.

Dan yang sangat aneh adalah orang yang menjadikan selain hukum Allah sebagai rujukan kemudian ia mengklaim/mengku Islam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisa: 60)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir itu.” (Al Maidah: 44)

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Al An’am: 114)

*********

TEMPAT KEDUA

Tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

 ” وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا “

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26)

Firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Dibaca seperti itu oleh seluruh ahli qara’at yang tujuh kecuali Ibnu ‘Amir, yaitu sebagai pemberitahuan (khabar) dan laa adalah naafiyah, jadi maknanya: “Dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengambil seorang sekutupun dalam hukumnya, bahkan hukum itu hanyalah milik-Nya sendiri, sekali-kali tidak ada hukum bagi selain-Nya. Maka yang halal itu adalah apa yang telah Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang telah diharamkan-Nya, agama itu adalah apa yang telah Dia syari’atkan, dan keputusan itu adalah apa yang telah Dia putuskan. Ibnu ‘Amir sedang beliau dalam deretan ahli qira’at yang tujuh, membaca وَلا تُشْرِكْ dengan bentuk larangan (nahyi), maknanya: Wahai Nabi Allah, janganlah engkau menyekutukan, atau janganlah engkau wahai mukhathab (orang yang diajak bicara) menyekutukan seorangpun dalam hukum Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi murnikanlah hukum itu hanya bagi Allah dari kotoran penyekutuan yang lainnya dalam hukum-Nya.

Dan hukum Allah ‘Azza wa Jalla yang disebutkan dalam firman-Nya:

يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. Adalah mencakup segala yang Allah ‘Azza wa Jalla putuskan, dan tasyri’ masuk di dalamnya secara pasti.

Dan apa yang dikandung oleh ayat yang mulia ini, yaitu bahwa al hukmu hanyalah milik Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya di dalamnya sesuai dua qira’at tadi, telah datang penjelasan dalam ayat-ayat yang lain seperti firman-Nya:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ

“Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal” (Yusuf: 67)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Asy Syuraa: 10)

Dan firman-Nya‘Azza wa Jalla:

ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al Mukmin: 12)

Dan firman-nya ‘Azza wa Jalla:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 88)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash: 70)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al Maidah: 50)

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci?” (Al An’am: 114)

Dan ayat-ayat lainya.

Dipahami dari ayat ini:

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi: 26). Bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum para pembuat hukum selain apa yang telah disyari’atkan Allah sesungguhnya mereka itu adalah musyrikuuna billaah (menyekutukan Allah). Mafhum ini telah dijelaskan dalam ayat-ayat yang lain, seperti firman-Nya tentang orang yang mengikuti hukum (tasyri’) syaitan dalam penghalalan bangkai[2] dengan dalih bahwasanya hal itu adalah sembelihan hal itu adalah sembelihan Allah:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121)

Allah menjelaskan dengan tegas bahwasannya mereka itu musyrikun (menyekutukan Allah) dikarenakan ketaatan mereka (kepadanya). Sedangkan isyraak (penyekutuan) dalam ketaatan ini serta mengikuti syari’at (hukum) yang menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah apa yang dimaksud dengan “menyembah kepada syaitan” dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (Yasin: 60)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla tentang Nabi-Nya Ibrahim:

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (٤٤)

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.” (Maryam: 44)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا (١١٧)

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,” (An Nisa’: 117)

Yaitu mereka itu tidak menyembah kecuali kepada syaitan, dan hal itu dikarenakan mereka mengikuti syari’atnya. Dan oleh Allah menamakan orang-orang yang ditaati dalam maksiat yang telah mereka hiasi dengan nama syurakaa (sekutu-sekutu) dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ

“Dan Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak” (Al An’am: 137)

Rasulullah telah mejelaskan kepada ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu ‘anhu ketika dia bertanya kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, kemudian para kaumnya mengikuti mereka dalam hal ini, dan yang demikian itu merupakan bentuk perbuatan mereka menjadikan para pembeda dan para rahib sebagai tuhan.[3]

Di antara dalil yang lebih jelas dalam hal ini adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menerangkan dalam surat An Nisaa bahwa orang-orang yang menginginkan berhukum dengan selain syari’at Allah sangat di anggap aneh pengakuan mereka bahwasanya mereka itu termasuk orang-orang mukmin, karena klaim mereka akan iman yang disertai keinginan untuk berhukum kepada thaghut merupakan puncak kedustaan yang layak mengundang keanehan, dan itu dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا (٦٠)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisa: 60)

Dengan nash-nash samawi yang telah kami sebutkan ini, maka jelaslah dengan sejelas-jelasnya:

أَنَّ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الْقَوَّانِيْنَ الْوَضْعِيَّةَ الَّتِيْ شَرَعَهَا  الشَّيْطَانُ عَلَ أَلْسِنَةِ أَوْليَائِهِ مُخَالِفَةً لِمَا شَرَعَهَا اللهُ جَلَّ وَ عَلاَ عَلَى أَلْسِنَةِ رُسُلِهِ – صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ – أَنَّهُ لاَ يَشُكُّ فِيْ كُفْرِهِمْ وَ شِرْكِهِمْ إِلاَّ مَنْ طَمَسَ اللهُ بَصِيْرَتَهُ وَ أَعْمَاهُ عَنْ نُوْرِالْوَحْيِ مِثْلَهُمْ

“Sesungguhnya yang mengikuti qawaniin wadl’iyyah (undang-unang buatan) yang disyari’atkan oleh syaithan lewat lisan-lisan wali-walinya[4] yang bertentangan apa yang telah disyari’atkan Allah ‘Azza wa Jalla lewat lisan-lisan para rasul-Nya -semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka- sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang bashirahnya telah dihapus oleh Allah dan dia itu dibutakan dari cahaya wahyu-Nya seperti mereka.”

PERINGATAN PENTING

Ketahuilah bahwasanya harus dibedakan antara peraturan undang-undang yang menyebabkan kafir penerapannya terhadap pencipta langit dan bumi, dengan peraturan yang tidak menyebabkan hal tersebut.

Dan penjelasannya adalah sebagai berikut: Sesungguhya peraturan itu terbagi dua, idaariy dan syar’iy. Adapun peraturan idaariy, yang dimaksudkan dengan penetapannya adalah untuk penertiban urusan dan penyempurnaannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka hal ini tidak dilarang dan tidak ada perselisihan di antara para shahabat dan orang-orang yang setelahnya. Umar Ibnu Khaththab radliyallahu ‘anhu telah melakukan hal ini yang di mana tidak pernah ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti pencatatan nama-nama prajurit untuk penertiban serta pengabsenan yang hadir dan yang tidak hadir sebagaimana yang telah kami jelaskan maksud darinya “Bani Israail” dalam pembicaraan ‘aqilah (kerabat orang) yang menaggung diyat pembunuhan secara khatha’ (salah) padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal ini, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui ketidakikut-sertaan Ka’ab Ibnu Malik dalam perang Tabuk kecuali setelah beliau sampai ke Tabuk. Contoh yang lain adalah Umar radliyallahu ‘anhu membeli rumah Shafwan Ibnu Umayyah dan menjadikannya sebagai rumah tahanan di Makkah Al Mukarramah, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar tidak pernah melakukannya. Dan hal seperti ini berupa perkara idariyyah yang dibuat untuk menertiban/menyempurnakan perkara-perkara yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka hukumnya boleh-boleh saja, seperti pengaturan urusan para pegawai, dan pengaturan jadwal pekerjaan dengan cara yang tidak menyalahi syari’at. Macam peraturan-peraturan seperti ini adalah tidak apa-apa dan ini tidak keluar dari kaidah-kaidah syari’at berupa pertimbangan maslahat-maslahat umum.

Adapun peraturan syar’iyyah (hukum) yang bertentangan dengan syari’at Pencipta langit dan bumi, maka penerapannya adalah kekafiran terhadap Pencipta langit dan bumi. Sebagai contoh adalah klaim bahwa tidak adil melebihkan laki-laki terhadap perempuan dalam harta warisan dan keharusan menyamakan keduanya dalam warisan itu. Juga klaim yang menyatakan bahwa berpoligami dengan beberapa isteri merupakan kedzaliman, klaim bahwa cerai itu kedzaliman atas wanita, dan bahwa rajam dan potong tangan dan yang semisalnya merupakan biadab yang tidak layak diterapkan pada manusia, dan yang lainnya.

Maka menerapkan hukum ini terhadap jiwa-jiwa masyarakat umum, harta bendanya, kehormatannya, keturunannya, akalnya, dan agama-agamanya adalah kekufuran terhadap Pencipta langit dan bumi, serta pembangkangan terhadap peraturan langit yang telah ditetapkan oleh Yang Menciptakan makhluk seluruhnya, sedang Dia lebih mengetahui akan kemaslahatan mereka. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari adanya pembuat syari’at (hukum) lain bersama-Nya.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy syuraa: 21)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (Yunus: 59)

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa-apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An Nahl: 116)

Dan telah kami jelaskan dengan cukup tentang macam ini di dalam surat Bani Israil tentang penafsiran firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (Al Israa: 9)

Bersambung….

Baca juga artikel lainnya:


[1] Maksudnya bertahakum kepada selain hukum Allah ‘Azza wa Jalla

[2] Bentuk penghalalan itu banyak sekali, di antaranya:

  • Tidak adanya sangsi atas orang yag melkukannya, seperti orang yang meninggalkan shalat tidak diberi sangsi, orang yang murtad tidak diberi hukuman, orang yang minum dan judi tidak diberi sangsi, dll.
  • Penetapan batas atas adanya sangsi dengan keadaan tertentu, seperti bila wanita melakukan zina bila dia itu dewasa dan dengan sukarela maka tidak ada sangsi.
  • Menetapkan batasan tidak bolehnya maksiat hanya di tempat-tempat tertentu saja atau memberikan lokasi khusus untuk itu seperti lokalisasi pelacuran dan perjudian.
  • Perbuatan maksiat dianggap bukan dianggap sebagai pelanggaran hukum, bahkan diberikan perlindungan hukum, seperti bank-bank dengan sistem bung (riba). (Pent)

[3] Di antara bentuk pengharaman adalah:

  • Pemberian sangsi terhadap orang yang melakukan apa yang dibolehkan di dalam Islam, seperti pemberian sangsi kepada pejabat yang yang poligami, pemberian sangsi atas muslimah yang berjilbab, dan lain-lain.
  • Pembatasan bolehnya hal yang disyari’atkan di dalam Islam pada saat-saat tertentu saja, seperti bolehnya berhijap pada hari-hari tertentu saja, dll. (Pent)

[4] Wali-wali syatan dalam masalah ini di antaranya adalah orang-orang yang tugasnya membuat hukum dan perundang-undangan atau dengan kata lain adalah dewan legislatif yang di mana mereka itu jajaran orang-orang yang merubah ketentuan-ketentuan hukum dan aturan Allah, mereka ini adalah pentolan thaghut nomer ke dua yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, dan para pelaksana hukum-hukum itu (badan yudikatif) dan para pihak yang berkuasa (eksekutif) yang di mana mereka itu adalah pentolan thaghut nomer ketiga yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah (Lihat: Majmu’atuttauhid Risalah Fi Makna Ath Thaghut 10). (Pent)

Filed under: BANTAHAN, FATWA, MURJI'AH, SYIRIK, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID

One Response

  1. sofyanattsauri says:

    Assalaamu’alaikum,..afwan mau nanya,..apakah tulisan diatas tulisannya syaikh sudais pembaca quran yg murotal-nya terkenal di indonesia itu?..ana jga pernah dengar bhw beliau (syaikh sudais) ini pernah diPenjara di saudi,apakah ini syaikh sudais yg sama?..ana jga pernah dengar wkt beliau datang di Indonesia ada yg nanya ke syaikh kenapa kuku beliau kayak bekas dicabut?..,
    Wssalaam
    ___________
    Admin:
    Syaikh Abdurrahman As Sudais penulis buku itu bukan As Sudais imam Masjidil Haram yang murathalnya tersebar. Penulis masih mendekam di penjara thaghut Saudi sudah lebih dari 7 tahun karena aqidahnya. Perbedaan antara dua Sudais itu adalah seperti air suci dengan air najis….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,338,061 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 365 other followers

%d bloggers like this: