Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Bantahan mudah Terhadap Para Pengudzur Pelaku Syirik Akbar Dengan Sebab Kebodohan

الرَّدُّالسَّهْلعَلَىأَهْلِالْعُذْرِبِالْجَهْل

PENULIS:
SYAIKH MUHAMMAD SALIM WALAD MUHAMMAD AL AMIN AL MAJLISIY

ALIH BAHASA:
ABU SULAIMAN AMAN ABDURRAHMAN

Sungguh telah merebak kaidah pengudzuran dengan sebab kejahilan secara muthlaq secara pesat, dan ia dianut oleh para ulama penguasa dan para pengikut mereka, terus di atasnya mereka membangun kaidah-kaidah yang sangat berbahaya, dan mereka mereka mensyaratkan dalam penegakkan hujjah syarat-syarat yang tidak mungkin bisa direalisasikan, sehingga mereka menyimpang dan tergelincir jauh, di mana mereka mengudzur para penguasa yang menggugurkan syari’at yang loyalitas kepada Yahudi dan Nashara dengan meninggalkan kaum mukminin, (dan mereka mengudzur) para tentara yang berperang di jalan thaghut dengan sebab kejahilan mereka. Sehingga terjadilah ketimpangan-ketimpangan di dalam permasalahan Al Kufru dan Al Iman dan orang-orang sesatpun mendapatkan keleluasaan  jalan untuk melakukan kedurjanaan, penghempasan jihad dan pengguguran hukum-hukum Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Dan di sini terkoyaklah usus-usus, tercopotlah jantung-jantung, terpotong-potonglah anggota tubuh, teralirlah darah-darah dan berlinanganlah air mata. Sebagian du’at di negeri kami mengatakan: Bila ada seseorang di antara kita mengatakan “bahwa Allah itu ada dua maka dia tidak diudzur dengan sebab kejahilannya karena semua orang di sini mengetahui bahwa Allah itu Esa, adapun bila hal itu dikatakan oleh seseorang di negeri China maka dia itu diudzur dengan sebab kejahilannya dan karena sebab tidak adanya peluang (untuk mencari) ilmu”. Maka apa makna Laa ilaaha illallah bagi orang yang mengatakan bahwa Allah itu dua? Dan apakah hal yang mendorong untuk mengudzurnya sedangkan dia itu telah menggugurkan kalimat tauhid pada maknanya yang tertinggi?

Sesungguhnya engkau wahai saudara pembaca tentu pasti terheran-heran bila telah mengetahui bahwa pernyataan itu adalah dilontarkan oleh salah seorang yang mengklaim mengikuti manhaj As Salaf Ash Shalih. Sungguh pemahaman telah terbalik dan ketimpangan-ketimpangan telah terjadi pada permasalahan Al Kufru dan Al Iman. Dan saat kita mengetahui bahwa tidak boleh memintakan ampunan kepada Allah bagi kaum musyrikin, tidak boleh loyal kepada mereka, tidak boleh menjalin pernikahan dengan mereka dan tidak boleh shalat di belakang mereka atau menshalatkan mereka, dan juga tidak boleh memakan sembelihan mereka serta menguburkan mereka di pekuburan kaum muslimin, maka jelas nampaklah di hadapan kita urgensi pembahasan ini, dan ia adalah pembahasan yang membutuhkan kepada pengamatan, maka amatilah dengan seksama. Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

 “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahui(nya).” (QS. Az Zukhruf [43]: 86)

Allah ta’ala mengabarkan bahwa kesaksian terhadap tauhid itu tidaklah bermanfaat kecuali disertai ilmu, dan sedangkan kejahilan itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi keabsahan pengucapan. Dan hal itu dijelaskan oleh firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

 “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) selain Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Maka ini memberikan penjelasan bahwa ilmu adalah syarat dalam perealisasian syahadat tauhid Laa ilaaha illallah, dan ini secara jelas gamblang menggugurkan klaim pengudzuran dengan sebab kejahilan.

Dan tatkala kaum musyrikin diajak kepada tauhid, maka Allah menghikayatkan ucapan mereka:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad [38]: 5)

Di mana mereka memahami makna kalimat tauhid dan syahadatul haq, akan tetapi mereka tidak menyambut ajakannya. Dan bila keadaannya adalah seperti itu maka bagaimana diudzur orang-orang quburiyyun yang mengucapkan kalimat tauhid kemudian mereka membatalkannya karena kejahilan dengan istighatsah kepada orang-orang yang sudah mati dan penyembelihan hewan di sisi kuburan mereka serta pebatal-pembatal syahadat lainnya? Dan bagaimana diudzur para penguasa yang memberlakukan hukum thaghut lagi loyal kepada orang-orang kafir serta memerangi para penyeru kebenaran.

Bila para pengudzur dengan sebab kejahilan itu mengatakan bahwa ilmu adalah syarat di dalam tauhid, maka bagaimana mereka mengudzur orang yang jahil terhadap tauhid dan menghukuminya sebagai orang yang bertauhid, dan bila mereka tidak mensyaratkan ilmu terhadap tauhid itu, maka mereka itu adalah para penyeru kepada kejahilan dan kesesatan.

Sesungguhnya manusia adalah berada dalam kebodohan selagi mereka itu jauh dari wahyu, sehingga orang yang belum sampai wahyu kepadanya maka dia itu adalah orang yang bodoh. Allah ta’ala berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 3)

Barangsiapa belum sampai risalah kepadanya, maka dia itu berada dalam kebodohan namun tidak ada udzur baginya dalam hal itu, karena sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dan mitsaq untuk bertauhid agar tidak beralasan dengan ketidaktahuan atau sikap taqlid kepada para pendahulu. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (١٧٣) وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” Dan demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raf: 172-174)

Jadi (ghaflah) kelengahan, kebodohan dan taqlid itu bukanlah udzur yang bisa diterima, dan tidak diudzur di dalam kekafiran itu kecuali mukrah (orang yang dipaksa) yang hatinya tentram dengan keimanan. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٦) ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (١٠٧) أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. An Nahl [16]: 106-108)

Maka setiap orang yang jatuh dalam kekafiran tanpa paksaan, maka dia itu telah melapangkan dadanya untuk kekafiran dan dia itu termasuk orang-orang yang lengah, sedangkan tidak diragukan lagi bahwa kelengahan ini yang mana kebodohan tergolong bagian darinya adalah menghantarkan pelakunya kepada kemusyrikan, maka bagaimana dia bisa diudzur dengannya sedangkan hal itulah yang menghantarkan kepada kemusyrikan tersebut.

Dan ketahuilah bahwa orang-orang yang bodoh itu tidaklah dipaksa, di mana Allah telah memfithrahkan mereka di atas keimanan dan telah memberikan akal kepada mereka serta menegakkan di hadapan mereka bukti-bukti yang jelas dan tanda-tanda yang menunjukan terhadap keesaan-Nya, sehingga mereka itu adalah lengah selagi tidak mentauhidkan Allah, dan mereka lengah selagi belum datang kepada mereka rasul yang Allah utus, sedangkan kelengahan itu tidaklah bisa lenyap kecuali dengan iman dan tauhid.

Dan perhatikanlah firman Allah ta’ala:

ذَلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

“Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.” (QS. Al An’am [6]: 131)

Di mana mereka tidak tertimpa kebinasaan di dunia karena lenyapnya risalah, namun demikian mereka itu lengah sebagaimana di dalam firman-Nya Ta’ala:

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (QS. Yasiin [36]: 6)

Sedangkan orang-orang yang belum diberikan peringatan itu tidaklah diudzur dengan sebab kejahilan mereka, di mana Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadits Anas:

أن رجلا قال: يا رسول الله أين أبي ؟ قال: في النار فلما قفَّى دعاه فقال: إن أبي وأباك في النار

“Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah di mana bapakku? Maka beliau menjawab: “Di dalam neraka,” dan tatkala orang itu pergi maka beliau memanggilnya dan terus berkata: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka.”

 وعن عائشة رضي الله عنها قالت: (قلت: يا رسول الله إن ابن جدعان كان في الجاهلية يصل الرحم ويُطعم المسكين فهل ذاك نافعه ؟ قال: لا ينفعه إنه لم يقل يوما ربِّ اغفر لي خطيئتي يوم الدين)

“Dan dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: Saya berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya Abdullah Ibnu Jud’an di masa jahiliyyah dia sering menyambung tali shilaturrahmi dan memberikan makan kepada orang miskin, aka apakah hal itu bermanfaat baginya? Maka beliau berkata: Tidak bermanfaat baginya, karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun mengatakan “ Ya Rabbi ampunilah dosaku di hari pembalasan,” (HR Muslim)

Ahmad meriwayatkan bahwa dikatakan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedangkan beliau telah kedatangan rombongan Banul Muntafiq:

(يا رسول الله هل لأحد ممن مضى من خير في جاهليتهم فقال رجل من عرض قريش: والله إن أباك المنتفق لفي النار (قالها للسائل )، فقال الذي سأل رسولَ الله صلى الله عليه وسلم: فلكأنه وقع حرّ بين جلدي ووجهى ولحمى مما قال لأبي على رؤوس الناس، فهممت أن أقول وأبوك يا رسول الله ثم إذا الأخرى أجمل فقلت يا رسول الله وأهلك قال: وأهلي لعمر الله ما أتيت عليه من قبر عامري أو قرشي من مشرك فقل أرسلني إليك محمد فأبشرك بما يسوءك تجر على وجهك وبطنك في النار)

“Wahai Rasulullah apakah bagi orang yang telah terdahulu ada kebaikan di masa jahiliyyah mereka? maka seorang pria dari kalangan Quraisy berkata: Demi Allah sesungguhnya bapakmu Al Muntafiq itu benar-benar di dalam neraka (dia mengatakannya kepada si penanya),” Maka orang yang bertanya kepada Rasulullah صلىاللهعليهوسلم itu berkata: Maka seolah rasa panas menyengat menjalar di antara kulit dan wajahku tersebut karena ucapan orang itu kepada bapakku di hadapan khalayak ramai, maka saya berniat untuk mengatakan “Dan bapak engkau juga wahai Rasulullah” kemudian ternyata ada ucapan lain yang lebih baik, maka sayapun berkata: Wahai Rasulullah dan keluarga engkau juga? Maka beliau berkata: “Dan keluarga saya juga, demi Allah tidaklah kamu meliwati kuburan orang musyrik mana saja baik itu dari Banu ‘Amir ataupun Quraisy, maka katakanlah bahwa Muhammad telah mengutusku kepadamu untuk memberikan kepadamu kabar yang menyedihkanmu yaitu kamu akan digusur telungkup di atas wajah dan perutmu di dalam neraka.”[1]

Maka perhatikanlah orang-orang yang lengah (bodoh) itu yang belum mendapatkan peringatan, namun demikian mereka itu tidak diudzur dan bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mereka itu di dalam neraka, maka bagaimana bisa diudzur orang-orang yang mana Al Qur’an telah sampai kepada mereka dan terus mereka masih saja bodoh lagi lengah lagi melakukan kemusyrikan. Dan hendaklah dalam permasalahan ini kita mengamati Kitabullah secara seksama.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ (٦٤) وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٦٥) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (٦٦) وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang bodoh?” Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya…” (QS. Az Zumar [39]: 64-67)

Pemalingan ibadah atau sebagiannya kepada selain Allah adalah syirik (akbar), dan memerintahkannya juga adalah syirik, namun demikian orang-orang jahil (bodoh) itu disifati sebagai orang-orang yang  musyrik dan mereka tidak diudzur dengan sebab kejahilannya itu. Dan ini tergolong dalil yang paling kuat di dalam permasalahan ini di mana Allah menuturkan keterhapusan amalan dengan sebab syirik yang diperintahkan oleh orang-orang yang bodoh itu yang:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

 “tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az Zumar [39]: 67)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاء اللّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلاَ آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم حَتَّى ذَاقُواْ بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إَلاَّ تَخْرُصُونَ

“Orang-orang yang mempersekutukan (Allah) akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al An’am [6]: 148)

Maka mereka itu dinamakan Allah sebagai orang-orang musyrik padahal mereka itu tidak memiliki sedikitpun ilmu, namun mereka itu hanya mengikuti praduga-praduga saja, tapi mereka itu tidak diudzur dengan sebab hal itu.

قُلْ فَلِلّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. (QS. Al An’am [6]: 149)

Dan ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa hujjah itu bisa saja telah tegak atas seseorang, namun dia tetap di atas kejahilannya walaupun hujjah telah ditegakkan, maka apakah dia itu diudzur ataukah bahwa selagi dia itu jahil maka hujjah belum tegak terhadapnya sehingga harus (jelas diketahui) bahwa dia itu mengetahui dan membangkang? Bila para pengudzur itu mengatakan bahwa dia itu tidak diudzur, maka apa perbedaannya di antara dua keadaan itu sedangkan sebab pengudzuran itu masih tetap ada yaitu kejahilan. Dan bila mereka mengatakan bahwa dia itu diudzur, maka apa pengaruhnya penegakkan hujjah itu sedangkan hukumnya tetap tidak berubah. Dan ini memberikan penjelasan kepadamu bahwa penyematan syirik atau kufur itu adalah ada terbukti sebelum penegakkan hujjah.

Sesungguhnya tidak ada perbedaan prihal penegakkan hujjah terhadap orang kafir yang bukan muharib, namun para pengudzur itu menyelisihi prihal penyematan nama musyrik atau kafir sebelum penegakkan hujjah terhadap pelakunya, di mana mereka itu membedakan antara keterjatuhan seseorang di dalam kekafiran dengan keterjatuhan vonis kafir terhadapnya, dan (mereka membedakan) antara orang yang telah kafir dengan orang yang melakukan perbuatan yang menunjukan terhadap kekafiran, dan membedakan antara orang yang telah kafir dengan orang yang telah ada padanya sifat yang mengkafirkan. Dan mereka sangat berlebih-lebihan dalam menghati-hatikan dari takfier (pengkafiran) dan dalam mengingatkan terhadap mawani’nya dan pemberian perumpamaan serta kemungkinan-kemungkinan, yang mana hal itu menjadikan banyak dari mereka lebih dekat kepada Irja. Kita memohon hidayah kepada Allah.

Sesungguhnya di dalam hal-hal ini terdapat perincian yang sangat penting, ya memang, akan tetapi mayoritas mereka itu tidak memberikan perincian.

Allah Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ

 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.” (QS. At Taubah [9]: 31)

Apa engkau tidak memperhatikan kaum muqallidin itu yang taqlid kepada para rahib mereka sehingga mereka terjatuh di dalam kemusyrikan sedang mereka itu orang-orang yang ikut-ikutan lagi bodoh yang tidak diudzur dengan sebab hal itu. Dan ini ‘Adi Ibnu Hatim dahulu tidak mengetahui bahwa sikap ketundukan dan kepasrahan diri kepada ulama dalam hal tahlil dan tahrim adalah suatu macam dari peribadatan kepada mereka, di mana ia saat masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan pada lehernya ada kalung salib yang terbuat dari perak dan ia mendapatkan beliau membaca ayat ini: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah…” maka ia berkata: “Sesungguhnya mereka itu tidak mengibadati mereka,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Ya sesungguhnya para alim ulama dan para rahib itu mengharamkan yang halal atas mereka dan menghalalkan yang haram bagi mereka kemudian mereka itu mengikuti para rahib dan alim ulama itu, maka itulah peribadatan mereka terhadap alim ulama dan para rahib itu,” maka iapun masuk Islam semoga Allah meridlainya. Haditsnya ini telah diriwayatkan oleh Ahmad, At Tirmidziy dan Ibnu Jarir. Dan telah ada dari Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas dalam tafsir ayat ini bahwa mereka itu mengikuti mereka di dalam apa yang mereka halalkan dan apa yang mereka haramkan, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Katsir.

Dan telah ada dalam Ash Shahihain dari Abdullah Ibnu ‘Amr Ibnu Al ‘Ash berkata: Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung Dia cabut dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama sehingga bila Dia tidak menyisakan seorang alimpun, maka manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh kemudian mereka ditanya dan terus merekapun menfatwakan tanpa dasar ilmu sehingga mereka itu sesat dan menyesatkan.”[2]

Mereka itu adalah kaum yang menfatwakan dengan dasar kebodohan sehingga mereka sesat lagi menyesatkan orang-orang bodoh yang taqlid kepada mereka, namun mereka tidak diudzur dengan sebab kejahilan mereka itu dan kejahilan mereka itu tidak menghalangi mereka dari mendapatkan sematan sebagai orang-orang yang sesat, sedangkan ini adalah pada orang-orang yang asalnya mereka itu berstatus sebagai orang-orang Islam, supaya tidak dikatakan bahwa dalil-dalil yang lalu itu adalah prihal orang-orang yang asalnya mereka itu berstatus sebagai orang-orang musyrik.

Dan ketahuilah semoga Allah membimbing kalian bahwa orang yang taqlid itu adalah orang yang bodoh, maka apakah ia itu diudzur dengan sebab hal itu sedangkan penyakit taqlid itu adalah dasar yang menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, di mana Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

 ‘Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (QS. Al Maidah [5]: 104)

Maka perhatikanlah firman-Nya ”tidak mengetahui apa-apa”  maka orang yang paling bodoh adalah orang yang mengikuti orang-orang yang bodoh, dan hal itu terjadi secara sering pada orang-orang musyrik, Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (٥١) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (٥٢) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (٥٣) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al Anbiya [21]: 51-54)

Dan perhatikanlah bagaimana Allah menyebutkan bahwa bapak-bapak mereka itu adalah berada di dalam kesesatan yang nyata padahal sesungguhnya Ibrahim belum menegakkan hujjah kepada mereka. Dan sama saja apakah hal ini adalah prihal syirik atau bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan, maka tetap saja kejahilan dan taqlid itu bukanlah udzur. Muslim dan para penyusun kitab As Sunan telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan dari pahalanya seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya seraya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia memikul dari dosanya seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya seraya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.”[3]

Maka mereka itu walaupun orang-orang yang bodoh tapi tetap saja memikul dosa tatkala taqlid kepada orang yang mengajak mereka kepada kesesatan sedangkan mereka itu tidak mengetahui bahwa diri mereka itu berada di dalam kesesatan, namun mereka tidak diudzur dengan sebab hal itu. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُواْ أَوْلاَدَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ اللّهُ افْتِرَاء عَلَى اللّهِ قَدْ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ

 “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan (kebohongan) terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am [6]: 140)

Dan berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (٢٤) لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”, (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An Nahl [16]: 24-25)

Dan orang yang mencermati tentu mendapatkan bahwa hal ini mengkhususkan keumuman firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi…” (At Taubah [9]: 115)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

 “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)

Mereka itu adalah orang-orang yang menyesatkan dari jalan Allah tanpa dasar ilmu yaitu di atas kebodohan dari diri mereka namun Allah Ta’ala tidak mengudzur mereka, bahkan justeru Allah menyiapkan bagi mereka adzab yang menghinakan, meskipun disebutkan sebab nuzul yang lain bagi ayat ini, akan tetapi yang menjadi patokan adalah keumuman lafadh bukan kekhususan sebab.

Dan termasuk hal aneh yang paling mengherankan adalah sikap sebagian mereka yang tidak menamakan orang-orang musyrik sebagai orang-orang musyrik dengan dalih bahwa risalah belum sampai kepada mereka atau hujjah belum tegak atas mereka, padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah [9]: 6)

Sungguh Allah telah menamakan mereka sebagai kaum musyrikin sebelum mereka mendengar firman Allah dan mereka itu adalah orang-orang yang bodoh. Dan begitu juga firman-Nya Ta’ala:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah [98]: 1)

Sungguh Allah telah menamakan mereka sebagai kaum musyrikin sebelum datangnya bukti yang nyata.

Dan Allah menuturkan bahwa Fir’aun itu telah melampaui batas sebelum Dia mengutus Musa kepadanya, di mana Dia berfirman:

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

“Pergilah kepada Fir’aun; Sesungguhnya ia telah melampaui batas”. (QS. Thaha [20]: 24)

Dan berfirman:

يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ

 “Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,” (QS. Thaha [20]: 39)

Sedangkan ini adalah sebelum risalah, di mana Fir’aun dinamakan oleh Allah sebagai musuh sebelum risalah datang kepadanya. Dan Dia berfirman:

وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu,” (QS. Asy Syu’ara [26]: 10).

Di sini Allah menamakan mereka sebagaiana orang-orang dhalim sebelum Musa datang kepada mereka sebagai rasul.

Dan Allah Ta’ala telah menamakan perbuatan kaum musyrikin sebagai fahisyah (perbuatan keji) sebelum tegaknya hujjah dan Dia tidak mengudzur mereka dengan sebab kejahilan dan sikap taqlid mereka kepada leluhur mereka, di mana mereka itu dahulu melakukan thawaf di Baitullah dalam kondisi telanjang, maka Allah membantah kedunguan dan kebodohan mereka itu dan menamakan perbuatan mereka itu sebagai fahisyah di dalam firman-Nya:

وَإِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً قَالُواْ وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءنَا وَاللّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء أَتَقُولُونَ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Al A’raf [7]: 28)

Dan berfirman:

فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ

 “Berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam, dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”  (QS. Al Baqarah [2]: 198).

Allah telah menamakan mereka sebagai orang-orang yang sesat sebelum adanya petunjuk dan sebelum datanganya risalah. Dan ini semua memberikan unjuk kepadamu bahwa nama musyrik itu sudah ada terbukti sebelum risalah bagi orang yang merealisasikan tauhid.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ (١٢) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. “Ingatlah, sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al Baqarah [9]: 11-13)

Maka lihatlah orang-orang munafiq itu yang tidak merealisasikan iman dan justeru mereka mencap orang-orang mukmin sebagai orang-orang yang bodoh serta mereka tidak mengetahui bahwa diri merekalah orang-orang yang bodoh itu, namun mereka tidak diudzur dengan kebodohan mereka itu. Dan begitu juga mereka itu membuat kerusakan di muka bumi bahkan mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka itu tidak menipu kecuali terhadap diri mereka sendiri akan tetapi mereka itu tidak sadar, namun mereka itu tidak diudzur dengan sebab ketidaksadaran mereka itu. Dan sungguh Ibnu Jarir telah sangat bagus saat menafsirkan ayat ini dalam membantah terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa kekafiran itu tidak terjadi kecuali dengan pembangkangan, dan hal itu dinukil darinya oleh Ibnu Katsir serta mengukuhkannya.

Dan bisa saja sebagian mereka mengatakan bahwa hal ini prihal orang-orang kafir atau orang-orang munafiq yang asli, sebagaimana ia kebiasaan orang-orang yang suka mengudzur, maka ia dibantah dengan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat [49]: 2)

Sedangkan sudah maklum bahwa amalan itu tidaklah terhapus secara total kecuali dengan kekafiran:

وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa yang kafir terhadap keimanan maka hapuslah amalannya.” (QS. Al Maidah [5]: 5)

Atau dengan kemusyrikan:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu” (QS. Az Zumar [39]:  65)

Maka nampak jelaslah bahwa orang jahil itu bisa terjatuh ke dalam kemusyrikan sedangkan dia tidak menyadarinya, sehingga dia menyekutukan Allah dan amalannyapun terhapus.

Bahkan sesungguhnya dia itu terkadang mengira bahwa dirinya itu berada di atas jalan yang benar karena kebodohannya, sedangkan dia itu tidak diudzur dengan sebab hal itu. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (١٠٣) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi [18]: 103-104)

Dan berfirman:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (QS. Al Mujadilah [58]: 18)

Dan berfirman:

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلاَلَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ اللّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُون

“Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al A’raf [7]: 30)

Dan dalam hadits Banul Muntafiq yang lalu dijelaskan bahwa orang yang mati di atas kemusyrikan sebelum diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah masuk nerak, dikatakan kepada beliau wahai Rasulullah apa yang menyebabkan mereka itu diperlakukan demikian, sedangkan mereka itu dahulu di atas amalan yang mereka tidak cakap melakukannya kecuali itu saja, dan dahulu mereka itu mengira bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berbuat perbaikan, namun ternyata hal itu bukan udzur bagi mereka, maka bagaimana bisa diudzur orang yang telah sampai Al Qur’an kepadanya sedang dia masih saja berlumuran kemusyrikan, di mana kebodohan mereka itu adalah kebodohan karena keberpalingan dari mentadabburi Al Qur’an dan dari mengamalkannya, yaitu kebodohan karena taqlid dan ketundukan kepada para tokoh.

Berapa banyak orang yang dikafirkan dengan sebab ucapan atau perbuatan yang tidak dia ketahui bahwa ucapan atau perbuatan yang dilakukannya itu bisa mengkafirkan, namun dia tidak diudzur dengan sebab ketidaktahuannya itu. Dan di antara yang memperjelas hal itu adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah kamu mencari-cari alasan, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At Taubah [9]: 65-66)

Mereka itu tidak mengetahui bahwa perbuatan mereka itu mengkafirkan, akan tetapi ketidaktahuan dan takwil mereka itu tidak berguna bagi mereka, karena sikap serius, bercanda dan kejahilan di dalam kekafiran itu adalah sama, sedangkan ini adalah prihal orang-orang yang asalnya orang-orang yang beriman, dan begitu juga kaum Nuh ‘alaihissalam, asal muasal mereka itu adalah orang-orang yang beriman terus mereka menyembah berhala karena kejahilan mereka.

Sungguh Al Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu’anhuma prihal firman Allah Ta’ala:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.” (QS. Nuh [71]: 23)

Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata:

أسماء رجال صالحين من قوم نوح فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون أنصابا وسموها بأسمائهم ،يقول ابن عباس: حتى إذا هلك أولئك وتنسَّخ العلم عُبدت

(Mereka adalah) nama-nama pria-pria yang shalih dari kau Nuuh, tatkala mereka meninggal maka syaithan membisikan kepada kaum mereka agar mereka membuatkan patung-patung di majelis-majelis yang dahulu biasa mereka duduk di sana dan menamainya dengan nama-nama mereka. Ibnu ‘Abbas berkata: Sehingga saat mereka telah meninggal dan ilmu lenyap maka berhala-berhala itu diibadati,” (HR Al Bukhari: 4636)

Dan ada dalam atsar bahwa Iblis berkata kepada mereka: Seandainya kalian melukis gambar-gambar mereka, maka kalian seolah memandang kepada mereka, maka merekapun menggambarnya kemudian mereka itu mati dan tumbuhlah kemudian orang-orang setelah mereka, maka Iblispun berkata kepada mereka: Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ini dahulu adalah menyembah mereka,” (HR Ibnu Humaid)

Mereka itu tidaklah mengibadatinya kecuali karena kebodohan mereka, karena ilmu saat itu telah lenyap dan musnah sebagaimana yang dikatakan Ibnu ‘Abbas. Sehingga syirik itu tidak masuk kepada manusia kecuali saat kejahilan merajalela, maka bagaimana bisa kita membayangkan bahwa kebodohan itu sebagai udzur yang mana sematan musyrik tidak bisa melekat bersamanya. Sungguh demi Allah ini adalah hal yang sangat aneh.

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُواْ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Kemudian, Sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar  Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang.” (QS. An Nahl [16]: 119)

Allah Ta’ala telah menamakan amalan mereka sebagai kesalahan, dan Dia menyebutkan bahwa mereka itu melakukannya dengan kebodohan, namun sifat perbuatan itu tidaklah berubah walaupun ada kebodohan, di mana kesalahan adalah kesalahan baik mereka mengerjakannya atas dasar ilmu ataupun di atas kebodohan, karena syirik adalah syirik, dan orang musyrik yang mengucapkan atau melakukan kemusyrikan adalah musyrik baik dia mengetahui prihal kemusyrikannnya maupun jahil, maka dia disebut orang musyrik walau dia melakukannya dengan kejahilan sebagaimana syiriknya dinamakan syirik walau ia dilakukan dengan kejahilan.

Sesungguhnya termasuk hal yang aneh sikap sesorang bertanya tentang istighfar (memintakan ampunan kepada Allah) bagi ayahnya yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat, hapal Al Qur’an, menunaikan hal-hal fardlu dalam Islam dan ia mati dia atas kemusyrikan istighatsah (meminta pertolongan) kepada orang-orang yang sudah mati, melakukan penyembelihan di sisi kuburan mereka serta menggantungkan azimat, terus si muftinya berkata kepadanya: “Apakah kamu sudah menegakkan hujjah kepadanya?” Terus dia menjawab: “Belum.” Maka si mufti berkata: “Mintakanlah ampunan baginya, karena sesungguhnya dia itu jahil.” Dan saat kita mengetahui bahwa tidak boleh memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, menjalin pernikahan dengan mereka, shalat di belakang mereka atau menshalatkan mereka, memakan sembelihan mereka, dan menguburkan mereka di pekuburan kaum muslimin, maka nampak jelaslah di hadapan kita pentingnya materi ini.

Sedangkan banyak orang dari kalangan yang mengudzur (pelaku syirik) karena kebodohan adalah memandang bahwa hal-hal itu adalah boleh, karena mereka tidak memandang orang-orang itu sebagai kaum musyrikin walaupun mereka itu melakukan kemusyrikan atau mengucapkan perkataan kekafiran, di mana mereka mengudzur orang-orang itu dengan sebab kejahilan mereka. Dan mereka atas hal itu memiliki berbagai syubhat:

Di antaranya: Kisah Dzatu Anwath, di mana diriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsiy:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما خرج إلى خيبر مر بشجرة للمشركين يقال لها ذات أنواط يعلقون عليها أسلحتهم فقالوا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنوط كما لهم ذات أنواط فقال النبي صلى الله عليه وسلم سبحان الله هذا كما قال قوم موسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة والذي نفسي بيده لتركبن سنن من كان قبلكم

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala keluar menuju Khaibar beliau melewati sebatang pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzatu Anwath yang mana mereka biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di atasanya, maka mereka (sebagian shahabat) berkata: Wahai Rasulullah jadikanlah Dzatu Anwath bagi kami sebagai mereka mereka memiliki Dzatu Anwath,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Subhanallah ini adalah seperti apa yang dikatakan kaum Musa “Jadikanlah bagi kami tuhan sebagaimana mereka memiliki banyak tuhan” demi Dzat Yang mana jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh kalian benar-benar akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kalian.” (HR At Tirmdziy: 2180).

Bila kita mengamati tentu kita akan mendapatkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang baru masuk islam, namun mereka itu hanyalah bermaksud tasyabbuh (menyerupai) kaum musyrikin dalam masalah ini secara khusus, mereka menginginkan sebatang pohon yang mana mereka duduk-duduk di bawahnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka di atasnya. Dan musyabahah (keserupaan) dengan kaum musyrikin itu bisa terjadi pada sebagian sifat namun hal itu tidak memestikan tasyabbuh (penyerupaan) dengan mereka, dan hal itu dijelaskan oleh sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kalian”, di mana pembuatan Dzatu Anwath itu bukanlah bentuk penjadian tuhan-tuhan selain Allah akan tetapi menyerupainya, dan hal itu dikatakan oleh para ulama muhaqqiqin seperti Asy Syathibiy, Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya.

Kemudian kita katakan: Siapa orangnya yang mengira bahwa shahabat yang mulia menginginkan tuhan-tuhan di samping Allah sedangkan mereka itu telah mengetahui bahwa hal itu bertentangan dengan syahadatul haq bahkan hal itu telah diketahui oleh kaum musyrikin sebagaimana yang telah Allah firmankan tentang mereka:

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا

 “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? “ (QS. Shaad [38]: 5)

Maka bagaimana kaum musyrikin mengetahuinya sedangkan para shahabat tidak mengetahuinya sehingga mereka diudzur dengan sebab kejahilannya padahal Al Qur’an itu turun dengan bahasa mereka dan sedangkan mereka mengetahuinya:

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,” (QS. Fushshilat [41]: 3)

Jadi hadits Dzatu Anwath adalah prihal kecaman keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam salah satu tampilan dari tampilan-tampilan mereka.

Adapun hadits Abu Hurairah:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الرجل الذي لم يعمل حسنة قط وقال إنه لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين فلما مات فعلوا ما أمرهم به من ذر جسده في البر والبحر بعد حرقه فأمر الله البحر فجمع ما فيه وأمر البر فجمع ما فيه ثم قال لم فعلت هذا ؟ قال: من خشيتك يا رب وأنت أعلم فغفر الله له)، والحديث متفق عليه.

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan prihal seorang pria yang tidak melakukan suatu kebaikan pun dan berkata: Sesungguhnya seandainya Allah telah menguasainya tentu Dia akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah dia kenakan kepada seorangpun, kemudian tatkala orang itu mati maka keluarganya melakukan apa yang diperintahkannya, yaitu berupa menaburkan abu jasadnya di daratan dan di lautan setelah ia dibakar, maka Allah memerintahkan lautan untuk mengumpulkan jasadnya yang ada di dalamnya dan memerintahkan daratan untuk mengumpulkan apa yang ada di dalamnya, terus Dia berkata: Kenapa kamu melakukan hal ini? Maka dia berkata: Karena takut kepada Engkau Wahai Rabb sedangkan Engkau lebih Mengetaui,” maka Allah pun mengampuninya.” Dan hadits ini Muttafaq ‘alaih.

Maka kami katakan: Pertama, dari mana kita bisa mensifati bahwa pria ini yang telah merealisasikan buah ilmu yaitu khasyyah (rasa takut kepada Allah) bahwa dia itu jahil, sedangkan Allah Ta’ala telah mengatakan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir [35]: 28)

Maka sebelum mereka itu mengudzurnya dengan sebab kejahilan kenapa kita tidak menetapkan keimanan baginya karena dia itu telah merealisasikan khasyyah (rasa takut kepada Allah), di mana Allah mengatakan:

فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 “Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. At Taubah [9]: 13)

Sedangkan khasyyah itu adalah ciri ilmu dan iman, dan orang yang punya khasyyah itu adalah manusia yang paling jauh dari kekafiran dan kejahilan. Adapun orang kafir maka kita tidak mungkin memperkirakan ada khasyyah (rasa takut) kepada Allah darinya sedangkan dia itu jahil terhadap tauhid, berbeda halnya dengan pria itu yang telah merealisasikan tauhid, dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahad bahwa dia itu “tidak mengamalkan suatu kebaikanpun selain tauhid” sehingga hadits ini keluar dari masalah yang sedang dipertentangkan, dikarenakan sesungguhnya pria itu adalah seorang muwahhid sedangkan pembicaraan kita ini adalah tentang orang yang bodoh terhadap tauhid.

Dan apa yang dikatakan sebagian mereka bahwa si pria itu ragu terhadap qudrah Allah adalah tidak bisa diterima, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim yang di dalamnya ada sabdanya:

وإن الله يقدر على أن يُعذبَني

Dan sesungguhnya Allah kuasa untuk mengadzab saya”

Dan ada yang mengatakan: Bahwa dia itu ragu prihal qudrah Allah terhadap mumtani’aat (hal-hal yang tidak mungkin/mustahil) yaitu prihal qudrah Allah terhadap segala sesuatu, di mana mereka mengatakan: Gambaran yang pelik pada pengumpulan jasadnya itulah yang ia ragukan di dalamnya dan ia itu sama sekali tidak ragu prihal pokok qudrah Allah Ta’ala, dengan dalil bahwa dia memerintahkan keluarganya untuk membakar jasadnya serta menabur abunya di daratan dan di lautan, dan seandainya dia itu jahil atau ragu prihal qudrah Allah secara muthlaq tentu dia tidak membutuhkan kepada hal itu (yaitu pembakaran jasadnya dan penaburannya di daratan dan di lautan). Sesungguhnya keberadaan bahwa Allah itu kuasa terhadap segala sesuatu adalah tergolong ilmu yang kadang tidak dirasa jelas bagi sebagian orang yang beriman kepada pokok qudrah Allah. Allah Ta’ala berfirman prihal “orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah [2]: 259).

Dan ada yang mengatakan bahwa pria itu tidak bisa mengendalikan ucapannya, di mana ia itu seperti ucapan seorang pria (dalam hadits yang lain): “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu,” akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dia itu salah ucap karena saking bahagianya. Maka barangsiapa diketahui dengan bukti-bukti yang shahih lagi jelas bahwa dia itu lupa atau salah ucap serta tidak memaksudkan apa yang dia katakan atau lakukan maka dia itu tidak kafir, akan tetapi  –dengarkanlah– dengan bukti-bukti yang shahih yang bisa diterima lagi nampak. Karena sesungguhnya hukum asal adalah pengkafiran setiap orang yang mengucapkan kalimat kekafiran atau melakukannya walaupun ada kemungkinan khatha’ (tidak ada maksud) atau lupa sampai jelas nyata (kemungkinan) itu atau ada bukti-bukti yang menjelaskannya, karena cukup kita menjelaskan bahwa ucapan atau perbuatan itu adalah kekafiran.

Dan ada yang mengatakan juga bahwa ucapan pria itu tergolong majaz ucapan orang-orang Arab, yaitu menggabungkan keraguan dengan keyakinan, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

 “Dan Sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Saba’ [34]: 24)

Di mana ia adalah gambaran keraguan yang dimaksudkan keyakinan darinya.

Dan ada yang mengatakan bahwa dia itu termasuk ahli fatrah di mana sekedar tauhid sudah cukup baginya karena belum ada syari’at yang datang kepadanya.

Dan ada yang mengatakan bahwa dia itu hidup di zaman yang mana di saat itu boleh memaafkan orang kafir dalam syari’at mereka, berbeda dengan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ada yang mengatakan bahwa ia adalah termasuk qadlaya al a’yaan (permasalahan kasuistik individu yang tidak memiliki keumuman), dan takwil-takwil lainnya.

Dan seandainya termasuk kaidah baku para ulama itu adalah mengudzur orang yang jahil terhadap tauhid, tentulah mereka mengatakan: Sesungguhnya pria ini adalah jahil terhadap qudrah Allah sedangkan dia itu diudzur dengan sebab kejahilannya,” dan tentulah mereka tidak membutuhkan kepada pentakwilan yang tidak samar atas mereka pencelaannya dan mereka tidak beralih kepadanya kecuali di saat dlarurat.

Dan ada yang mengatakan bahwa pria ini adalah jahil terhadap suatu sifat Allah, sedangkan para ulama telah berselisih prihal pengkafiran orang yang jahil terhadap suatu sifat, ya tidak setiap, karena sesungguhnya di antara sifat-sifat itu ada sifat yang mana tauhid tidak sah kecuali dengan mengetahuinya.

Adapun yang diriwayatkan Ibnu Majah dan yang lainnya berupa sujud Mu’adz kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ia pulang dari Syam, maka sesungguhnya ia itu tergolong sujud tahiyyah (penghormatan), dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang darinya dengan sabdanya:

لا تفعل، لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها

“Jangan kamu lakukan, seandainya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang tentu aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya.”[4]

Kemudian ketahuilah bahwa Mu’adz adalah orang yang dipilih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendebat Ahli Kitab dan mengajak mereka (kepada tauhid) sebagaimana di dalam Ash Shahihain, maka bagaimana ia jahil terhadap tauhid dan sujud ibadah kepada selain Allah.

Dan bila engkau merujuk tafsir-tafsir pada firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2]: 34).

Dan firman-Nya:

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf.”  (QS. Yusuf [12]: 100)

Tentu engkau akan mendapatkan bahwa sujud tahiyyah itu dahulu disyari’atkan sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa pelarangan darinya. Silahkan rujuk (tafsir) Al Qurthubi, Ibnu Katsir dan Fathul Qadir milik Asy Syaukaniy.

Dan para pengudzur (pelaku syirik akbar karena kejahilan itu) berdalih juga dengan kisah Al Hawariyyin dalam firman Allah Ta’ala:

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 “(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. (QS. Al Maidah [5]: 112)

Di mana mereka itu mengklaimbahwa kau Hawariyyin itu ragu prihal qudrah Allah dan mereka itu diudzur dengan sebab mereka, dan mereka tidak mengetahui bahwa telah ada qira’ah (هَلْ تَسْتَطِيعُ رَبَّكَ) dengan ت (ta) dan harakat fathah pada huruf ba (ب) yang mana qira’ah itu dibaca oleh Al Kisaai, Ibnu ‘Abbas, Ali, ‘Aisyah dan yang lainnya, sehingga terhadapnyalah dibawa qira’at yang lain yang mana ia itu bermakna: Apakah Rabb-mu mengijabah engkau,” sedangkan ini adalah hal yang maklum di kalangan orang arab.

Kemudian di antara ulama ada orang yang mengkafirkan mereka dengan sebab hal itu, kemudian Nabi mereka menyuruh mereka bertaubat “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman” dan ini adalah pendapat Ibnu Jarir Ath Thabariy, kemudian mereka bertaubat dan bertaqwa kepada Allah sebagaimana di dalam firman-Nya Ta’ala:

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ

 “Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah.” (QS. Ash Shaff [61]: 14)

Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa mereka itu tidak ragu terhadap qudrah Allah Ta’ala, dan Al Baghawi menuturkan pendapat itu dari kalangan shahabat, dari Ali, ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya.

Dan di antara syubhat mereka adalah berdalih dengan firman Allah Ta’ala:

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami  jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah [2]: 286)

Dan firman-Nya:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ

 “Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya,” (QS. Al Ahzab [33]: 5)

Dan hadits-hadits shahih yang semakna dengannya yang sudah maklum prihal terangkatnya khatha (ketersalahan) dan lupa, di mana para pengudzur itu berkata: Sesungguhnya kejahilan itu termasuk khatha. Dan pernyataan ini bukanlah ini tempatnya, karena sesungguhnya ia adalah prihal orang mukmin yang mengetahui tauhid dari kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan prihal orang yang jahil terhadap tauhid yang tidak merealisasikan iman, sedangkan telah lalu bagi kita firman Allah Ta’ala:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

 “supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat [49]: 2)

Sedangkan orang yang khatha (tersalah) itu tidaklah menyadari.

Dan sungguh sangat aneh sikap berdalihnya sebagian orang dengan firman Allah Ta’ala:

قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ

“(Yusuf) berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui?”. (QS. Yusuf [12]: 89)

Mereka berkata: Sesungguhnya mereka itu diudzur dengan sebab kejahilan mereka di dalam firman-Nya Ta’ala:

لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”. (QS. Yusuf [12]: 92)

Dan walaupun dikatakan bahwa saudara-saudara Yusuf itu adalah dahulu (saat berbuat) masih anak-anak kecil sebagaimana yang dikatakan Al Qurthubiy dan yang lainnya di dalam firman Allah Ta’ala, ”ketika kamu tidak mengetahui” akan tetapi sesungguhnya ayat itu adalah hujjah atas diri mereka (para pengudzur) berdasarkan firman-Nya tentang mereka:

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ

“Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf [12]: 91)

Mereka mengakui kesalahan mereka, dan seandainya mereka itu diudzur tentulah mereka itu tidak bersalah. Dan hal ini dikuatkan oleh firman-Nya Ta’ala:

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

“Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf [12]: 97)

Maka ini menguatkan bahwa mereka itu adalah bersalah dan tidak diudzur dengan sebab kejahilan mereka seandainya benar bahwa ia adalah kejahilan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang berdalih dengannya. Dan apapun keadaannya ia itu bukanlah kejahilan terhadap tauhid, dan oleh sebab itu maka Ya’qub memintakan ampunan bagi mereka kepada Rabbnya karena sesungguhnya Dia itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan hendaklah kalian ketahui bahwa pemaafan itu bukanlah termasuk bahasan al ‘udzru bil jahli (pengudzuran dengan sebab kebodohan).

Dan mereka berdalih dengan juga dengan sumpah Umar dan dengan ucapan Ibrahim:

هَذَا رَبِّي

“Inilah tuhanku.” (QS. Al An’am [6]: 76)

Serta hal lainnya, dan demi Allah sungguh lemahlah permasalahan yang dihujjahi dengan hal seperti ini.

Dan ketahuilah wahai saudara-saudara yang mulia bahwa mereka itu (yaitu para pengudzur) mencampuradukan antara pemaafan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang menghinanya atau melakukan hal lainnya berupa kekafiran yang mengharuskan vonis kafir dan eksekusi mati, dengan pengudzuran dengan sebab kejahilan. Karena sesungguhnya orang-orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau melecehkannya di saat beliau hidup dan beliau tidak memerintahkannya untuk dibunuh adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengudzur mereka dengan sebab kejahilan, akan tetapi beliau hanyalah memaafkan mereka, karena hak dalam hal itu adalah miliknya, sedangkan kita tidak boleh membiarkan hak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan para ulama telah membahas tuntas hal itu, seperti Al Qurthubiy, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Al Hafidh Ibnu Hajar. Dan Allah Ta’ala telah berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf [7]: 199)

Dan Abu Bakar Al Farisiy Asy Syafi’iy di dalam kitabnya “Al Ijma’” telah menukil ijma atas kekafiran orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan kita juga mendapatkan para pengudzur itu mencampuradukan antara istitabah dengan pengudzuran dengan sebab kejahilan, di mana setiap kali mereka mendapatkan istitabah maka mereka mengatakan: “Ia adalah udzur dengan sebab kejahilan,” semoga Allah membimbing kita kepada kebenaran.

Dan ketauhilah bahwa para fuqaha tidak menuturkan udzur dengan sebab kejahilan di dalam bab riddah (bahasan kemurtaddan) dalam tulisan-tulisan mereka, akan tetapi mereka hanyalah menuturkan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang mana pelakunya menjadi kafir, dan mereka berkata: Sesungguhnya barangsiapa yang melakukannya, maka dia murtad, dan mereka tidak mengecualikan orang yang bodoh, bahkan sesungguhnya seabagian fuqaha itu mengatakan bahwa si pelaku diberi tenggang waktu menunggu beberapa hari dengan harapan dia itu mengetahui setelah ketidaktahuannya. Dan ini adalah hal yang menggugurkan pernyataan adanya pengudzuran dengan sebab kejahilan, sedangkan ini adalah isyarat dari mereka bahwa kemurtaddan itu bisa terjadi dengan sebab kejahilan. Dan hal itu telah diisyaratkan oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dalam kitab “At Tawassuth Fi Ushuliddirn”.

Dan makna ini diketahui secara umum di kalangan para ulama seperti Al Qadli ‘Iyadl dalam Asy Syifa, di mana beliau menegaskan secara tegas ketidakadaan udzuran dengan sebab kejhahilan dalam hal tauhid. Asy Syaukaniy berkata prihal kemurtaddan: ”dalam keterbuktiannya (riddah) itu tidak disyaratkan mengetahui” terhadap makna apa yang dikatakan orang yang mendatangkan ucapan atau perbuatan kekafiran, dan hal ini adalah hal yang diketahui umum dalam kitab-kitab para ulama, bahkan Al Qarafiy telah menukil ijma terhadap tidak adanya udzur dengan sebab kejahilan dalam ushuluddien, dan hal ini dikatakan oleh Ath Thabariy dan yang lainnya, atau dengan ungkapan orang-orang muta’akhkhirin: “Tidak ada udzur dengan sebab kejahilan dalam syirik akbar.”

Dan di sini saya katakan sesungguhnya seyogyanya memberikan perincian antara permasalahan-permasalahan yang ada udzur dengan sebab kejahilan di dalamnya supaya tidak terjadi kerancuan.

Adapun tauhid dan ushuluddien, maka orang yang jahil dalam hal ini tidaklah diudzur sama sekali, karena peribadatan kepada selain Allah tidak mungkin ada kecuali dari orang kafir walaupun dia terang-terangan mengaku muslim.

Dan adapun hal yang tidak mungkin diketahui kecuali lewat jalur nash seperti khabariyyat (permasalahan yang bersifat pemberitahuan/kabar-kabar), maka orang yang jahil terhadapnya tidaklah dikafirkan kecuali setelah dia diberitahu tentangnya, kemudian bila dia sudah mengetahuinya dan terus mengingkarinya maka dia kafir, dan hal ini adalah seperti penghalalan hal-hal yang diharamkan dan pengingkaran kewajiban. Maka kejahilan macam ini pelakunya tidaklah diudzur secara muthlaq, akan tetapi dia diudzur bila tidak ada madhannatul ‘ilmi (peluang kesempatan untuk mengetahui), namun bila madhannatul ‘ilmi itu ada sedangkan si orang itu memiliki kemungkinan untuk mempelajari maka dia itu tidak diudzur, sehingga ditegakkan had terhadapnya dalam hal yang menuntut ada had di dalamnya, sebagaimana dalam kisah Qudamah Ibnu Madh’un bersama Umar Ibnul Khaththab padahal Qudamah itu melakukan takwil. Dan di sini juga saya katakan: Bukan takwil secara muthlaq, karena sesungguhnya Ibnu ‘Arabiy, Al Hallaj dan yang lainnya dari kalangan penganut paham Wihdatul Wujud adalah melakukan takwil juga, namun demikian mereka itu adalah orang-orang kafir, karena takwil itu tidaklah bermanfaat di dalam ushul tauhid yang mana ia (tauhid) tidak terealisasi kecuali dengannya, karena sesungguhnya ushul tauhid itu adalah hal qath’iy yang tidak ada peluang takwil di dalamnya.

Dan sungguh para ulama telah sepakat terhadap kekafiran orang yang tidak mentauhidkan Allah dari kalangan ahli fatrah, namun yang mereka perselisihkan itu hanyalah prihal pengujian atau pengadzabannya di hari kiamat. Sehingga dari sini kita mengetahui bahwa perdalihan para pengudzur itu dengan firman Allah Ta’ala:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Dan Kami tidak akan meng’azab sehingga Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Israa’ [17]: 15)

Adalah keluar dari lingkaran perselisihan, karena sesungguhnya kita tidak berbicara tentang pengadzaban di akhirat, akan tetapi yang kita bicarakan itu adalah tentang pengkafirannya di dunia, (dan perlu di ketahui) bahwa adzab yang ada dalam ayat itu adalah adzab duniawiy sebagaimana yang disandarkan Al Qurthubiy dan yang lainnya kepada jumhur ulama.

Dan di sini saya katakan: Bila saja Zaid Ibnu ‘Amr Ibnu Naufal adalah muwahhid sebagaimana di dalam Shahih Al Bukhari, maka apa statusnya orang-orang yang tidak merealisasikan tauhid di zamannya, sedangkan tidak ada lawan tauhid kecuali syirik dan kekafiran.

Dan ketahuilah wahai saudara-saudara seiman bahwa orang mengudzur orang yang istighatsah (meminta tolong) kepada selain Allah lagi menyembelih hewan persembahan di kuburan para wali dan shalihin juga mengenakan berbagai azimat, bagaimana dia tidak mengudzur tentara dari bala tentara thaghut yang mengunuskan senjatanya kepada wali-wali Allah lagi menjadi pijakan yang kuat untuk mengokohkan pemerintahan thaghut. Sesungguhnya si tentara itu sama sekali tidak melakukan macam kemusyrikan yang dilakukan oleh orang quburiy (penyembah kuburan) itu, namun dia itu mengkalim bahwa dia adalah tentara muslim yang dikomandani oleh presiden muslim bagi negara muslim. Kemudian bila engkau katakan kepadanya: “Kamu ini berperang di jalan thaghut,” maka dia berkata: “Saya berlindung kepada Allah,  justeru saya berperang di jalan Allah, dan seandainya tidak ada tentara kami tentu tidak akan ada ketenangan dan ketentraman dengan izin Allah, dan justeru yang akan terjadi adalah kekacauan dan merebaknya kerusakan.” Bahkan dia mengatakan: ”Sesungguhnya dia dalam jabatannya itu terdapat mashalahat bagi Islam dan kaum muslimin”.

Dan bila engkau katakan kepadanya bahwa sesungguhnya dia itu membela pemerintahan yang tidak menegakkan hukum Allah, tentu engkau melihatnya tidak mengetahui hal itu. Sehingga orang-orang yang berjalan di jalan orang-orang yang mengudzur orang yang terjatuh ke dalam kekafiran dengan sebab kejahilan itu tentulah akan mengudzur para thaghut itu dan para pembesar mereka yang menggugurkan syari’at Allah yang loyal kepada Yahudi dan Nashrani lagi cenderung kepada orang-orang dhalim lagi menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dengan cara menyebarluaskan perbuatan-perbuatan keji dan munkar, yang menyerupai orang-orang kafir dalam pedoman kehidupan mereka dan pemerintahannya. Kita memohon hidayah dan kelurusan kepada Allah.

Apa engkau tidak mengetahui bahwa bala tentara thaghut Saudi yang memerangi para pemuda mujahid dan para syaikh yang berjihad dengan ilmu mereka yang dipenjara, adalah para tentara itu menyangka bahwa mereka itu berjihad di jalan Allah dan bahwa para pemuda itu adalah orang-orang sesat dan para ulama mereka itu adalah salah, sebagaimana hal itu telah di fatwakan oleh para ulama versi mereka, sedangkan mereka (yaitu ulama pemerintah itu) juga adalah bala tentara yang membela thaghut dengan pena, lisan dan kedudukan mereka di tengah manusia.

Sedangkan ini adalah pintu yang dari celahnyalah digugurkan jihad di banyak negeri, sebagaimana yang dilakukan ikhwan kita di Afghanistan, Al Jazair, Irak dan negeri-negeri lainnya yang mana para mujahidin berperang di sana melawan bala tentara yang loyal kepada thaghut dan mengaku muslim. Dan dalam sikap mengudzur mereka itu adalah terdapat pematahan terhadap tekad kuat para pemuda yang memiliki ‘izzah dengan Islam yang ingin membelanya lagi bersemangat untuk meraih kesyahidan di jalan Allah.

Maka kami katakan kepada orang-orang yang mengudzur dengan sebab kejahilan dalam tauhid dan mereka melontarkan pengudzuran secara muthlaq di dalam selain tauhid serta tidak membatasinya: Kajilah dalil-dalil dan berupayalah mencari kebenaran dan perujukan kepada Al haq, kemudian bila yang kalian dengar ini adalah haq maka rujuklah kalian kepadanya, dan bila ternyata tidak sejalan dengan apa yang ada pada kalian maka paling tidak atau minimal adalah kalian mengudzur kami sebagai bentuk kalian menerapkan kaidah kalian sendiri dan berdiri di atasnya supaya kalian tidak terjatuh dalam sikap kontradiksi, karena kami tidak mengatakan kecuali apa yang kami ketahui. Dan Allah-lah yang membimbing kepada kebenaran.

Ya Allah, perlihatkanlah kebenaran kepada kami sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami sikap mengikutinya, dan perlihatkanlah kebathilan kepada kami sebagai kebathilan dan jangan Engkau jadikan kami sebagai pengikutnya, serta jadikanlah kami sebagai para pembawa petunjuk yang mendapatkan petunjuk bukan orang-orang yang sesat dan bukan pula orang-orang yang menyesatkan.

اللهم صلِّ وسلم على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

والحمد لله رب العالمين.

Muhammad Salim Walad Muhammad Al Amin Al Majlisiy

09/09/1426H

Download Bantahan Mudah.pdf  di sini

http://www.tawhed.ws


[1] Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Ahmad dalam Zawaidul Musnad (4/13). Ibnul Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad (3/588) setelah menuturkannya secara sempurna: Ini adalah hadits yang besar lagi agung yang mana keagungan, kebesaran dan kemuliaannya menunjukan bahwa ia itu telah muncul dari lentera kenabian, yang tidak dikenal kecuali dari hadits Abdurrahman Ibnul Mughirah Ibnu Abdirrahman Al Madaniy yang telah diriwayatkan darinya oleh Ibrahim Ibnu Hamzah Az Zubairiy, sedangkan keduanya adalah tergolong ulama besar Madinah, keduanya adalah tsiqat lagi dijadikan hujjah di dalam Ash Shahih, di mana imam ahli hadits yaitu Muhammad Ibnu Ismail Al Bukhari telah berhujjah dengan keduanya. Dan diriwayatkan oleh para imam ahlussunnah di dalam kitab-kitab mereka dan mereka menyambutnya dengan penerimaan serta menghadapinya dengan penyerahan diri dan ketundukan. Dan seorangpun dari mereka tidak mencelanya dan tidak mencela seorangpun dari para perawinya. Dan di antara yang meriwayatkannnya adalah: Al Imam Abu Abdirrahman Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Hanbal di dalam Musnad ayahnya dan di dalam Kitab As Sunnah dan berkata: Telah menulis kepada saya Ibrahim Ibnu Hamzah Ibnu Muhammad Ibnu Hamzah Ibnu Mush’ab Ibnu Az Zubair Az Zubairiy: Saya telah menulis kepadamu hadits ini, dan saya telah menyodorkannya dan telah mendengarnya sesuai dengan apa yang telah saya tulis kepadamu, maka sampaikanlah hadits ini dari saya. Dan di antara mereka adalah: Al Hafidh Al Jalil Abu Bakar Ahmad Ibnu ‘Amr Ibnu Abi ‘Ashim An Nabil di dalam Kitab As Sunnah miliknya. Dan di antara mereka juga: Al Hafidh Abu Ahmad Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Sulaiman Al ‘Assal di dalam Kitabul Ma’rifah. Dan di antara mereka juga: Hafidh zamannya dan muhaddits masanya Abul Qasim Sulaiman Ibnu Ahmad Ibnu Ayyub Ath Thabraniy di dalam banyak kitab-kitabnya. Dan di antara mereka juga: Al Hafidh Abu Muhammad Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Hayyan Abu Asy Syaikh Al Ashbahaniy di dalam Kitabus Sunnah. Dan di antara mereka juga: Al Hafidh Ibnu Al Hafidh Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ishaq Ibnu Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Mandah Hafidh Ashfahan. Dan di antara mereka juga: Al Hafidh Abu Bakar Ahmad Ibnu Musa Ibnu Mardawaih. Dan di antara mereka juga: Hafidh zamannya Abu Nu’aim Ahmad Ibnu Abdillah Ibnu Ishaq Al Ashbahaniy serta sejumlah para huffadh selain mereka yang sangat panjang bila dituturkan semuanya. Ibnu Mandah berkata: Hadits ini telah diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq Ash Shan’aniy dan Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Hanbal serta yang lainnya, dan ia telah meriwayatkannya di Irak di hadapan kumpulan para ulama dan para ahli agama sejumlah para imam di antaranya Abu Zur’ah Ar Raziy, Abu Hatim dan Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ismail dan tidak seorangpun dari mereka mengingkarinya dan tidak ada yang mempermasalahkan isnadnya, bahkan justeru mereka meriwayatkannnya secara dengan bentuk penerimaaan dan penyerahan penuh, dan tidak ada yang mengingkari hadits ini kecuali orang yang jahid (menolak setelah  mengetahui) atau orang yang jahil (bodoh) atau orang yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan ini adalah ucapan Abu Abdillah Ibnu Mandah. Selesai. Dan Al Haitsami berkata di dalam Al Majma’ (10/615): Diriwayatkan oleh Abdullah dan Ath Thabraniy dengan hal yang serupa itu sedangkan salah satu dari dua jalur Abdullah isnadnya adalah muttashil dan para perawinya adalah tsiqat, sedangkan isnad yang lain dan isnad Ath Thabraniy adalah mursal dari ‘Ashim Ibnu Laqith: Sesungguhnya Laqith. Dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: Isnadnya dla’if lagi musalsal dengan orang-orang yang majhul.

[2] Diriwayatkan oleh Al Bukhari (100) dan Muslim (2673).

[3] HR Muslim (2674).

[4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1853), berkata dalam Az Zawaid: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. As Sindiy berkata: Seolah ia memaksudkan bahwa ia itu shahih isnadnya. Syaikh Al Albaniy berkata: Hasan Shahih.

Filed under: AQIDAH, BANTAHAN, FIRQAH, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID, Uncategorized

3 Responses

  1. danu says:

    Beruntung orang yang memperoleh ILMU YANG BERMANFAAT, yang dengannya bertambah taqwanya sehingga ia semangkin berpaling dari thoghut bukan malah menjadi pembela thoghut. Jazakallahu khairan ya Ustadz semoga Antum senantiasa dilindungi Allah dan istiqamah.

    Like

  2. sahabat says:

    Sesungguhnya masalah ini adl berdasarkan NASH & IJMA shg tdk ada celah sedikitpun untuk mengakalinya.

    Beruntunglah mrk yg istiqamah menghidupkan SUNNAH YG ASING ini.

    Semoga 4JJI merahmati kalian wahai duat tauhid.

    Like

  3. abdulloh7 says:

    Reblogged this on Abdulloh7.

    Like

Silakan Berikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,372,329 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 379 other followers

%d bloggers like this: