Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

Daging Sembelihan Yang Tidak Diketahui Siapa Yang Menyembelihnya

Ketika ada Darul Islam, maka orang murtad tidak diakui hidup di dalamnya; di mana dia hanya punya pilihan dibunuh atau kembali kepada Islam, sehingga yang tinggal di Darul Islam hanyalah kaum muslimin yang sudah jelas sembelihannya adalah halal walaupun tidak diketahui apa si Zaid atau si Amar yang menyembelihnya, dan orang-orang kafir dzimmi Ahli kitab yang sembelihannya halal pula atau kafir dzimmiy yang bukan ahli kitab yang haram sembelihannya yang mana mereka punya pasar tersendiri. Sehingga di Darul Islam tidak akan diperkenankan masuk ke dalam pasar kaum muslimin. Barang-barang yang haram berupa bangkai, sembelihan yang tidak halal bagi orang Islam, Khamr dan yang lainnya. Sehingga setiap muslim tidak ragu perihal kehalalan daging hewan yang dijual di pasar mereka.

Namun ketika yang menguasai kendali urusan di sini adalah orang-orang murtad yang memerintah dengan hukum kafirnya yang mengaku muslim, dan orang-orang murtad dan kafir musyrik lainnya diakui hidup di dalamnya, dan standar kehalalan sembelihan adalah hanya sekedar mengaku Islam dan membaca basmalah walaupun orang itu adalah thaghut atau anshar thaghut yang nyata kekafirannya atau orang murtad yang nyata kemurtaddannya, sehingga sembelihan itu diperkenankan dijual di pasar kaum muslimin. Dan kita pun saat mau membeli daging sembelihan bingung dan tidak tahu apa yang akan kita beli ini sembelihan orang muslim ataukah sembelihan orang murtad atau orang musyrik non ahli kitab, dan apakah yang kita makan beli di warung itu benar sembelihan orang muslim atau bukan?

Kalau kita mengetahui bahwa itu adalah sembelihan orang muslim dan kita ragu atau tidak mengetahui apa dia membaca basmalah atau tidak, maka kita membaca bismillah dan memakannya, berdasarkan hadits Aisyah Radliallahu ‘anha:

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا فَقَالَ سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ

“Bahwa orang-orang berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam: sesungguhnya suatu kaum datang kepada kami dengan membawa daging sedang kami tidak mengetahui apakah mereka itu menyebut nama Allah saat menyembelihnya ataukah tidak? Maka Nabi berkata: Sebutlah nama Allah terhadapnya oleh kalian dan makanlah.” (HR. Al Bukhari)

Orang yang menyembelihnya jelas orang muslim sebagaimana di dalam lanjutan hadits Aisyah Radliallahu ‘anha berkata:

وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Sedang mereka itu orang-orang yang masih dekat dengan masa kekafiran.” Maksudnya mereka itu baru masuk Islam yang belum mengetahui kewajiban membaca bismillah. Dan di dalam satu riwayat:

إن قوما حديث عهدهم بالجاهلية

“Sesungguhnya orang-orang yang masih dekat dengan masa kejahiliyyahan.”

Imam Malik berkata tentang hadits itu di dalam Al Muwaththa: “Dan itu adalah di awal Islam.” (346, Kitab Adz Dzabaaih)

Ad Daruquthniy berkata tentang makna hadits di atas: “Yang menyembelihnya orang muslim, dan yang membuat si penanya ragu adalah karena orang-orang itu baru masuk Islam, maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggugurkan keraguan itu.” (Subulussalam Kitabul Ath’imah, Bab Ash Shaid Wadz Dzabaih, hadits ke dua)

Ini andaikata sudah diketahui penyembelihnya orang muslim dan yang diragukan hanyalah berkaitan dengan pengucapan basmalah…

Namun bila kita mengetahui bahwa yang menyembelihnya adalah orang murtad atau kafir asli non ahli kitab, maka haram dimakan walaupun kita membaca bismillah saat memakannya.

Dan yang menjadi pokok permasalahan di sini dan yang merupakan fenomena di sini di Darur riddah, adalah daging yang tidak diketahui apa orang muslim atau orang murtad yang menyembelihnya? Dan kita tidak bisa berpatokan kepada kehalalan yang dikeluarkan oleh pemerintah murtad atau oleh MUI, karena menurut mereka para anggota dewan, hakim, jaksa, polisi, tentara dan yang serupa dengannya bila mengaku muslim dan membaca bismillah, maka halal sembelihannya.

Dalam hal seperti ini, ketahuilah bahwa daging yang tidak diketahui apa muslim atau orang murtad yang menyembelihnya adalah tidak halal kita makan, karena hukum asal sembelihan itu adalah haram, sebagaimana yang disepakati ulama:

الأصل في الذبيحة التحريم باتفاق

“Hukum asal pada hewan sembelihan adalah haram berdasarkan kesepakatan.” (Al Wajiz Fil Qawa’id Al Fiqhiyyah)

Sehingga ketika terjadi keraguan apakah sebab yang menghalalkan ataukah sebab yang mengharamkan yang menjadikan hewan itu mati, maka dikembalikan kepada hukum asal yaitu haram. Sedangkan dalil hukum asal tersebut, di antaranya adalah hadits Adiy Ibnu Hatim Radliallahu ‘anhu, Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya:

إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ فاذكر اسْمَ اللَّهِ عَلَيْه. فإن أَمْسَكَ عَلَيك فأدركته حيا فاذبحه. وإن أدركته قد قتل ولم بأكل منه فكله. وإن وجدت مع كلبك كلبا غيره وقد قتل فلا تأكل. فإنك لا تدري أيهما قتله. وإن رميت بهمك فاذكر اسم الله. فإن غاب عنك يوما فلم تجد فيه إلا أثر بسهمك فكل إن شئت. وإن وجدته غريقا في الماء فلا تأكل

“Bila kamu melepas anjingmu (yang terlatih) maka sebutlah nama Allah terhadapnya, kemudian bila ia menangkapkan (hewan buruan) buatmu sedangkan kamu mendapatkannya masih hidup, maka sembelihlah! Namun bila kamu mendapatkannya telah terbunuh (oleh anjingmu) sedangkan ia tidak memakan darinya, maka makanlah! Dan bila kamu mendapatkan ada anjing lain bersama anjingmu sedang (hewan buruannya) telah terbunuh maka jangan kamu makan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui mana diantara dua anjing itu yang membunuhnya! Dan kalau kamu menembakkan panahmu, maka sebutlah nama Allah, kemudian bila hewan buruan itu lenyap darimu satu hari (terus kamu menemukannya) dan tidak mendapatkan padanya kecuali bekas (tembakan) panahmu, maka makanlah kalau kamu mau, namun bila kamu mendapatkannya tenggelam di air maka jangan kamu makan.” (Muttafaq ‘alaih)

Perhatikan sabdanya: “Dan bila kamu mendapatkan ada anjing yang lain bersama anjingmu sedangkan (hewan buruannya) telah terbunuh maka jangan kamu makan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui mana diantara dua anjing itu yang membunuhnya.” Di sini kematian hewan diragukan apakah oleh sebab yang menghalalkan (yaitu anjing yang dilepas si pemburu) atau oleh sebab yang mengharamkan (anjing yang lain), maka Rasulullah mengunggulkan sisi keharaman yang merupakan hukum asal sembelihan. Dan hal serupa pula di dalam sabdanya: “Namun bila kamu mendapatkannya (yaitu hewan yang ditembak) tenggelam di air maka jangan kamu makan.” Di sini diragukan apakah kematiannya karena sebab tertembak panah ataukah karena tercekik air, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengunggulkan sisi pengharaman yang merupakan hukum asal sembelihan….

Begitu juga daging yang dijual di pasar atau di warung atau yang diberikan oleh thaghut di tahanan atau di LP sebagai jatah makanan, kita tidak mengetahui apakah itu hasil sembelihan orang muslim atau orang murtad atau kafir asli, maka statusnya dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu haram, dan tidak boleh berdalil dengan hadits Aisyah radliyallahu ‘anha di atas untuk menghalalkannya dengan sekedar membaca bismillah, karena hadits itu berkenaan dengan sembelihan orang muslim namun diragukan apa dia membaca bismillah saat menyembelihnya atau tidak, makanya imam Ash Shan’aniy berkata: Adapun yang diragukan di dalamnya (apa membaca bismillah atau tidak) sedangkan yang menyembelihnya adalah orang muslim, maka ia seperti yang dikatakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. “Sebutlah nama Allah dan makanlah.” Adapun yang tidak diketahui apakah yang menyembelihnya orang muslim atau murtad atau yang lainnya yang tidak halal sembelihannya, maka yang berlaku padanya adalah ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam hadits ‘Adiy Ibnu Hatim Radliallahu ‘anhu: ”Maka jangan kamu makan, karena kamu tidak mengetahui mana diantara dua anjing itu yang membunuhnya!”

Itulah hukum daging yang kita tidak ketahui apakah yang menyembelihnya orang muslim ataukah orang murtad atau yang lainnya, seperti yang selama ini dijadikan jatah makanan buat kita di tahanan…

Semoga dipahami dan diamalkan…

Wallahu ta’ala a’lam…

وصى الله على نبينا محمد واله وصحبه وسلم

والحمد لله رب العالمين

2 Syawal 1431 H
Abu Sulaiman, Mu’taqal PMJ
NKB

Filed under: FIQH, SYUBHAT

11 Responses

  1. Lezard Valeth says:

    Jazaka Allah atas ilmunya.

  2. Jazakallah Khairan, Ustadz, saya kalau harus membeli daging (ayam) di pasar, saya membeli ayam yang masih hidup dan menyembelihnya sendiri kemudian untuk urusan membersihkan bulu dan yang lainnya saya serahkan ke penjual, hanya ada yang mengatakan bahwa makanan ayam tersebut berasal dari pakan yang mengandung unsur babi (misal kalau ayamnya tidak masuk standar KFC, CFC dll sehingga dijual di pasar), bagaimana hukumnya dengan daging ayam tersebut?

  3. Abu salman says:

    Kalau kerja d dpartemen agama atw d MUI,hukumy apa?

  4. [...] DAGING SEMBELIHAN YANG TIDAK DIKETAHUI SIAPA YANG MENYEMBELIHNYA [...]

  5. idris says:

    hadis tentang anjing bruan adalah bila anda menemukan anjing lain di skitar bruan anda maka jgn d mkan, ini adalah suatu hal yg pasti bila menemukan atopun mengetahui ada anjing lain yg mengejar bruan yg sama,maka jgn d mkan, bila tdk ada anjing lain bagaimana?? Hadist tentang brung yg di panah kmudian anda menemukan matinya dlm air maka jgn d makan, ini jg adlah suatu kpastian bhw bila brung matinya terdapat di air maka jgn d mkan, bila tdk d air bgaimn?? Bgitu jg dgn sembelihan d pasar2 yg ad d sluruh blahan dunia,bila antum mnemukan dgn psti,tdk mngada2, tdk mngira2 dlm psar2 tersbut ada org2 murtad ato org2 musyrik asli yg sembelihannya,atopun ada bangkai yg bercampur ato tdk terpisah dgn sembelihan org2 islam maka jgn d mkn, ingat k dua hdist bruan d atas adalah kpastian bkan mngada2 atopun mngira2. Adapun bila anda tdk mnemukan sm skali dgn pasti, ato ragu2 ad org2 murtad dan org2 musyrik asli yg smbelihannya ato pun bangkai yg bercampur dgn smbelihan org2 islam maka hadist yg d pkai adalah hadist ibunda aisyah tentang sembelihan jg hadist dging kambing yg d brikan oleh org yhudi yg d dlm kmbing tersbut ad racunnya. Jg rosullah pernah mmenuhi undangan mkn org2 yhudi yg d dlm jmuan trsbut ada gjih dging nmun tetap d mkn. Ini adalah hal yg tdk perlu d cri ksalahannya krn td adnya suatu sebab yg pasti oleh krn itu, ustad tdk dpt dgn bgtu sj mengharmkan smbelihan yg anda tdk tau dgn psti pembatal semblhan trsebut. Krn rosulullah sndri tdk menanyakan bgaimana dan apakah d sembelih dgn nma Allah ato tek trhadap dging yg d brikan oleh org yhudi dan thadap gjih yg ad di jmuan mkn org yhudi, bgitu jg dgn hadist ibunda aisyah tntang semblihan, hal tsbut adlah ktidakpastian dlm hal pnyemblihannya. Wallohu ‘a’lam. Berhati2lah wahai ustad dlm fatwa, jgn mendhului Allah dan rosul-NYA. Wallohu ‘a’lam bishowab.
    ===============================

    Admin:

    Rasululloh makan sembelihan orang yahudi karena Allah menghalalkan sembelihan ahli kitab (Al Maidah: 5).
    Tentang hadits Aisyah sudah dijelaskan di atas.
    Justru jika anda ragu atau tidak mendapati kepastian sembelihan orang muslim atau orang ahli kitab, maka kembalikan kepada hukum asalnya:
    الأصل في الذبيحة التحريم باتفاق

    “Hukum asal pada hewan sembelihan adalah haram berdasarkan kesepakatan.” (Al Wajiz Fil Qawa’id Al Fiqhiyyah)

  6. jogjadata says:

    untuk sembelihan halalan thoyiban, silahkan berkunjung ke web kami http://ayamsembelih.weebLy.com
    ayam sembelih sempurna halalan thoyiban insya allah

  7. jogjadata says:

    untuk sembelihan halalan thoyiban silahkan berkunjung ke web kami :

    http://ayamsembelih.weebLy.com

    insya allah sembelihan kami halalan thoyiban, bersih dan sehat

  8. bibitbidara says:

    terimakasih Pak ustad, saya awalnya ragu, tapi Anda menjelaskan dengan dalil, cukup dicerna dengan fikiran jernih, dan saya membenarkan apa yang Anda tulis. Mudah – mudahan Allah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Amin…..

  9. Alnech says:

    Saya diajarkan sejak kecil oleh orang tua saya, “jangan makan bakso, karena kita tidak tahu bakso itu olahan daging apa?”
    Keluarga kami, jika ingin makan daging ayam, ya tinggal ke pasar beli ayam hidup, sembelih sendiri. Ibarat kata, “Tangan sendiri lebih dijamin kebersihannya dibanding sendok orang lain”.
    Kita pun rela mencari air 2km jauhnya untuk sekedar berwudhu (karena masih ada air). Apakah susah jika kita sekedar beli ayam hidup untuk kita sembelih sendiri, dibanding beli ayam di pasar yang tidak jelas asal muasal semebelihnya?
    Saya setuju sekali dengan tulisan ustadz ini, dan mohon izin untuk dicopy. Jazakallah Khairan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,283,934 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 349 other followers

%d bloggers like this: