Jihad Menegakkan Tauhid & Membela Sunnah

Icon

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (Al-Mumtahanah: 4)

NKRI DAN SIKAP MUWAHHID TERHADAPNYA

NKRI DAN SIKAP MUWAHHID TERHADAPNYA

(Abu Sulaiman Aman Abdurrahman)

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat semuanya. Wa Ba’du:

Sesungguhnya jika orang kafir ragu atau tidak mengetahui kekafiran dirinya sendiri, maka itu bisa kita maklumi. Namun sangatlah tidak wajar kalau orang yang mengaku bara dari orang kafir, namun tidak mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah kafir, padahal segala tingkah laku, keyakinan dan ucapannya sering dia lihat dan dia dengar.

Banyak orang yang mengaku Islam bahkan mengaku dirinya bertauhid tidak mengetahui bahwa negara tempat ia hidup dan pemerintah yang yang bertengger di depannya adalah kafir. Ketahuilah, sesungguhnya keIslaman seseorang atau negara bukanlah dengan sekedar pengakuan, tapi dengan keyakinan, ucapan dan perbuatannya.

Sesungguhnya kekafiran Negara Indonesia ini bukanlah hanya dari satu sisi yang bisa jadi tersamar bagi orang yang rabun. Perhatikanlah, sesungguhnya kekafiran negara ini adalah dari berbagai sisi, yang tentu saja tidak samar lagi, kecuali atas orang-orang kafir. Inilah sisi-sisi kekafiran Negara Indonesia dan pemerintahnya:

  • Berhukum dengan selain hukum Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Indonesia tidak berhukum dengan hukum Allah, tetapi berhukum dengan qawanin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang merupakan hasil pemikiran setan-setan berwujud manusia, baik berupa kutipan atau jiplakan  dari undang-undang penjajah (seperti Belanda, Portugis, dll) maupun undang-undang produk lokal. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

“…Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Al Maaidah: 44)

Ayat ini sangat nyata, meskipun kalangan Murji-ah yang berkedok Salafiy ingin memalingkannya kepada kufur asghar dengan memelintir tafsir sebagian salaf yang mereka tempatkan bukan pada tempatnya.

Negara dan pemerintah negeri ini lebih menyukai undang-undang buatan manusia daripada Syari’at Allah, maka kekafirannya sangat jelas dan nyata. Kekafiran undang-undang buatan ini sangat berlipat-lipat bila dikupas satu per satu, di dalamnya ada bentuk penghalalan yang haram, pengharaman yang halal, perubahan hukum/ aturan yang telah Allah tetapkan dan bentuk kekafiran lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Seseorang di kala menghalalkan keharaman yang sudah di-ijma-kan, atau mengharamkan kehalalan yang sudah di-ijma-kan, maka dia kafir murtad dengan kesepakatan fuqaha”. (Majmu Al Fatawa 3/267)

Bahkan Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa di antara pentolan thaghut adalah: Orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan. Kemudian beliau menyebutkan dalilnya, yaitu Surat Al Maidah: 44 tadi. (Risalah fie Ma’na Thaghut, lihat dalam Majmu’ah At Tauhid).

Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

“Tidak ada perselisihan di antara dua orang pun dari kaum muslimin bahwa orang yang memutuskan dengan Injil dari hal-hal yang tidak ada nash yang menunjukkan atas hal itu, maka sesungguhnya dia itu kafir musyrik lagi keluar dari Islam.” (Dari Syarh Nawaqidul Islam ‘Asyrah, Syaikh Ali Al Khudlair)

Bila saja memutuskan dengan hukum Injil yang padahal itu adalah hukum Allah -namun sudah dinasakh-, merupakan kekafiran dengan ijma kaum muslimin, maka apa gerangan bila memutuskan perkara dengan menggunakan hukum buatan setan (berwujud) manusia, sungguh tentu saja lebih kafir dari itu…

Syaikh Abdurrahman ibnu Hasan rahimahullah berkata:

“Siapa yang menyelisihi apa yang telah Allah perintahkan kepada Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cara ia memutuskan di antara manusia dengan selain apa yang telah Allah turunkan atau ia meminta hal itu (maksudnya minta diberi putusan dengan selain hukum Allah) demi mengikuti apa yang dia sukai dan dia inginkan, maka dia telah melepas ikatan Islam dan iman dari lehernya, meskipun dia mengaku sebagai mukmin.” (Fathul Majid: 270)

Apakah presiden, wakilnya, para menterinya, para pejabat, para gubernur hingga lurah, para hakim dan jaksa, apakah mereka memutuskan dengan hukum Allah atau dengan hukum buatan? Apakah mereka mengamalkan amanat Allah dan Rasul-Nya atau amanat undang-undang? Jawabannya sangatlah jelas. Maka dari itu tak ragu lagi bahwa mereka itu adalah orang kafir.

  • Apakah RI ini berhukum dengan syari’at Allah? Jawabannya: TIDAK.
  • Apakah RI tunduk pada hukum Allah? Jawabannya: TIDAK.

Berarti RI adalah negara jahiliyyah, kafir, zhalim dan fasiq, sehingga wajib bagi setiap muslim membenci dan memusuhinya, serta haramlah mencintai dan loyal kepadanya.

  • Mengadukan kasus persengketaannya kepada thaghut

Di antara bentuk kekafiran adalah mengadukan perkara kepada thaghut. Saat terjadi persengketaan antara RI dan pihak luar, maka sudah menjadi komitmen negara-negara anggota PBB adalah mengadukan kasusnya ke Mahkamah Internasional yang berkantor di Den Haag Belanda. Maka inilah yang dilakukan RI, misalnya saat terjadi sengketa dengan Malaysia tentang kasus Pulau Sipadan dan Ligitan, mengadulah negara ini ke Mahkamah Internasional. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim bahwa dirinya beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan sebelum kamu, seraya mereka ingin merujuk hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir terhadapnya. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sangat jauh”. (An Nisaa: 60)

Yang jelas sesungguhnya negara ini pasti mengadukan kasus sengketanya dengan negara lain kepada Mahkamah Internasional, padahal Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul serta ulil ‘amri di antara kalian. Kemudian bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan lebih indah akibatnya”. (An Nisaa: 59)

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“(Firman Allah) ini menunjukkan bahwa orang yang tidak merujuk hukum dalam kasus persengketaannya kepada Al Kitab dan As Sunnah serta tidak kembali kepada keduanya dalam hal itu, maka dia bukan orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim: 346)

Hukum internasional adalah rujukan negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sedangkan itu adalah salah satu bentuk thaghut dan merujuk kepadanya adalah kekafiran dengan ijma ‘ulama.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Siapa yang meninggalkan hukum paten yang diturunkan kepada Muhammad ibnu ‘Abdillah –sang penutup para Nabi- dan ia justeru merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang merujuk hukumkepada ILYASA dan ia lebih mendahulukannya daripada hukum (yang dibawa Rasulullah). Siapa yang melakukan itu, maka dia kafir dengan ijma’ kaum muslimin”. (Al Bidayah wan Nihayah: 13/119)

Jadi ‘konstruksi’ Ilyasa atau Yasiq tersebut adalah sama persis dengan kitab-kitab hukum yang dipakai di negara ini dan yang lainnya

  • Negara dan pemerintah ini berloyalitas kepada orang-orang kafir, baik yang duduk di PBB atau yang ada di Amerika, Eropa dll, serta membantu mereka dalam rangka membungkam para muwahhidin mujahidin

Bukti atas hal ini sangatlah banyak. Salah satunya yang paling menguntungkan kaum kuffar barat dan timur, yang banyak menjebloskan para mujahidin ke dalam sel-sel besi adalah diberlakukannya Undang-undang Anti Jihad (menurut bahasa mereka Undang-undang Anti Terorisme), dan tentu saja negara ini pun ikut aktif dalam hal itu dengan memberlakukan UU Anti Terorisme.© Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

“……..Dan siapa yang tawalliy (memberikan loyalitas) kepada mereka di antara kalian, maka sesungguhnya dia tergolong bagian mereka”. (Al Maaidah: 51)

Syaikhul Islam Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah telah menyebutkannya dalam risalah beliau tentang Pembatal Keislaman.

  • Memberikan atau memalingkan hak dan wewenang membuat hukum dan undang-undang kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Telah kita ketahui bahwa hak menentukan hukum atau aturan atau undang-undang adalah hak khusus bagi Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, jika itu dipalingkan kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’ala maka menjadi salah satu bentuk dari syirik akbar. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

  • “Dan Dia tidak menyertakan seorangpun dalam hukum-Nya.”

Dalam qiro’ah Ibnu ‘Amir yang mutawatir:

Dan janganlah kamu sekutukan seorang pun dalam hukum-Nya.(Al Kahfi: 26)

  • Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah.(Yusuf: 40)

Tasyri’ (pembuatan hukum) adalah hak khusus Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, sehingga pelimpahan sesuatu darinya kepada selain Allah adalah syirik akbar, sedangkan di NKRI hak dan wewenang pembuatan hukum/ aturan diserahkan kepada banyak sosok dan lembaga, yaitu kepada MPR, DPR, DPD, Presiden dll.

Inilah bukti-buktinya:

  • UUD 1945 Bab II Pasal3 ayat 1: “Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan Undang Undang Dasar”. Ini artinya MPR adalah arbab (tuhan-tuhan) selain Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Orang-orang yang duduk sebagai anggotanya adalah orang-orang yang mengaku sebagai ilah (tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya dalam Pemilu adalah orang-orang yang mengangkat ilah yang mereka ibadati. Sehingga ucapan setiap anggota MPR: “Saya adalah anggota MPR” bermakna “Saya adalah tuhan selain Allah”.
  • UUD 1945 Bab VII Pasal 20 ayat 1: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang undang”. Padahal dalam Tauhid pemegang kekuasaan Undang-undang/hukum/aturan tak lain hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.
  • UUD 1945 Bab VII Pasal 21 ayat 1: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan undang-undang”.
  • Bab III PAsal 5 ayat 1: “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat”.

Bahkan kekafirannya tidak terbatas pada pelimpahan wewenang hukum kepada para thaghut itu, tapi semua diikat dengan hukum yang lebih tinggi, yaitu UUD. Rakyat lewat lembaga MPR-nya boleh berbuat apa saja TAPI harus sesuai dengan UUD, sebagaimana dalam UUD 1945 Pasal 1 (2): “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar”.

Presiden pun kekuasaannya dibatasi oleh UUD sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Bab III Pasal 4 (1): “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar”.

Jadi jelaslah, BUKAN menurut Al Qur’an dan As Sunnah, tetapi menurut Undang-Undang Dasar Thaghut. Apakah ini Islam atau kekafiran…?!

Bahkan bila ada perselisihan kewenangan antar lembaga pemerintahan, maka putusan final diserahkan kepada Mahkamah Konstitusi, sebagaimana dalam Bab IX Pasal 24c (1): “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar, memutuskan pembubaran Partai Politik dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum”.

Perhatikanlah, padahal dalam ajaran Tauhid, semua harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya:

“…….Kemudian bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, bila kalian (memang) beriman kepada Allah dan Hari Akhir”. (An Nisaa: 59)

Dalam tafsir ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “(Ini) menunjukkan bahwa orang yang tidak merujuk dalam hal sengketa kepada Al Kitab dan As Sunnah dan tidak kembali kepada keduanya dalam hal itu, maka dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir ”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim 2/346)

Demikianlah, dalam Islam Al Qur’an dan As Sunnah adalah tempat untuk mencari keadilan, tetapi dalam ajaran thaghut RI keadilan ada pada hukum yang mereka buat sendiri.

  • Pemberian hak untuk berbuat syirik, kekafiran dan kemurtadan dengan dalilh kebebasan beragama dan HAM

Undang Undang Dasar Thaghut memberikan jaminan kemerdekaan penduduk untuk meyakini ajaran apa saja, sehingga pintu-pintu kekafiran, kemusyrikan dan kemurtadan terbuka lebar dengan jaminan UUD. Orang yang murtad dengan masuk agama lain merupakan hak kemerdekaannya dan tak ada sanksi hukum atasnya, padahal dalam ajaran Allah Subhaanahu Wa Ta’ala orang yang murtad hanya memiliki dua pilihan: Kembali pada Islam atau menerima sanksi bunuh, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

Siapa yang mengganti dien-nya, maka bunuhlah dia”. (Muttafaq ‘Alaih)

Berhala-berhala yang disembah baik yang berbentuk batu atau selainnya dan budaya syirik dalam berbagai bentuk, seperti meminta-minta ke kuburan, membuat sesajen, memberikan tumbal, mengkultuskan sosok dan bentuk-bentuk syirik lainnya mendapatkan jaminan perlindungan sebagaimana tercantum dalam:

  • Bab XI Pasal 28 I (3): “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”.
  • Bab XI Pasal 29 (2): “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu“.

Mengeluarkan pendapat, pikiran dan sikap, meskipun berbentuk kekafiran adalah hak yang dilindungi negara:

  • Bab X A Pasal 28E (2): “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”.
  • Bab X A Pasal 28E (3): “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”.

  • Menyamakan antara orang kafir dengan orang muslim

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat yang sangat banyak.

Tidaklah sama (calon) penghuni neraka dengan penghuni surga…

(Al Hasyr: 20)

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman seraya mengingkari orang yang menyamakan antara dua kelompok dan membaurkan hukum-hukum mereka:

  • Apakah Kami menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang mujrim (kafir)”. (Al Qalam 35-36)
  • Dan apakah orang-orang yang beriman itu seperti orang-orang yang fasiq? (As Sajdah: 18)
  • Katakanlah: Tidak sama orang yang busuk dengan orang yang baik”. (Al Maaidah: 100)
  • Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ingin memilah antara orang kafir dengan orang mukmin:

Agar Allah memilah orang yang buruk dari orang yang baik”. (Al Anfaal 37)

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menginginkan adanya garis pemisah syar’i antara para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya dalam hukum-hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan budak undang-undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka, sehingga termaktub dalam UUD 1945 Bab X Pasal 27 (1): “Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Maka dari itu mereka MENGHAPUS segala bentuk pengaruh agama dalam hal pemilahan dan perbedaan di antara masyarakat. Mereka sama sekali tidak menerapkan sanksi yang bersifat agama dalam UU mereka. Mereka tidak menggunakan sanksi yang telah Allah turunkan, dan yang paling fatal adalah tak ada sanksi bagi orang yang murtad. Karena mereka menyamakan semua pemeluk agama dalam hal darah dan kehormatan, kemaluan dan harta, serta mereka menghilangkan segala bentuk konsekuensi hukum akibat kekafiran dan kemurtadan.

Renungkanlah, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala membedakan antara muslim dan kafir, tapi hukum thaghut justeru menyamakannya. Maka siapakah yang lebih baik? Tentulah aturan Allah Yang Maha Esa.

  • Sistem yang berjalan adalah demokrasi

“Kekuasaan (hukum) ada di tangan rakyat” (bukan di Tangan Allah), itulah demokrasi, dan sistem inilah yang berjalan di negara ini. Dalam UUD 1945 Bab I Pasal 1(2): “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD”. Sehingga disebutkan juga dalam Bab X A Pasal 28 I(5): “Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka……”dll

Kedaulatan, kekuasaan serta wewenang hukum dalam ajaran dan dien (agama) demokrasi ada di tangan rakyat atau mayoritasnya. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

  • “Dan apa yang kalian perselisihkan di dalamnya tentang sesuatu, maka putusannya (diserahkan) kepada Allah”. (Asy Syura: 10)

( “Kemudian bila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, bila kalian memang beriman kepada Allah dan Hari Akhir”. (An Nisaa: 59)

  • “(Hukum) putusan itu hanyalah milik Allah”. (Yusuf: 40)

Namun para budak UUD mengatakan: “Putusan itu hanyalah milik rakyat lewat wakil-wakilnya, apa yang ditetapkan oleh Majelis Rakyat ‘boleh’, maka itulah yang halal, dan apa yang ditetapkan ‘tidak boleh’, maka itulah yang haram”. Inilah yang dimaksud oleh pasal di awal pembahasan point ini.

Dalam agama demokrasi, keputusan yang benar yang mesti dijalankan adalah hukum atau putusan mayoritas, sebagaimana yang dinyatakan UUD 1945 Bab II Pasal 2(3): “Segala putusan Majelis Permusyawaratan rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak”. Padahal Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan:

  • Dan bila kamu mentaati mayoritas orang yang ada di bumi, tentulah mereka menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (Al An’am: 116)
  • “Dan tidaklah mayoritas manusia itu beriman, meskipun kamu menginginkannya”. (Yusuf: 103)
  • “….namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya”. (Al Jatsiyah: 26)
  • “….Namun mayoritas manusia itu tidak mensyukurinya”. (Ghafir: 61)
  • “……Namun mayoritas manusia itu tidak beriman”. (Ghafir: 59)
  • “Dan mayoritas manusia tidak mau, kecuali mengingkari”.(Al Furqaan: 50)
  • “Dan mayoritas mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mereka itu menyekutukan(Nya)”. (Yusuf: 106)
  • “Dan mayoritas mereka tidak suka pada kebenaran”. (Al Mu’minuun: 70)
  • “….Bahkan mayoritas mereka tidak memahami”. (Al ‘Ankabuut: 63)

Cobalah bandingkan dengan agama demokrasi yang dianut oleh pemerintah dan Negara Kafir Republik Indonesia (NKRI) !!

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan:

Dan putuskan di antara mereka dengan pa yang telah Allah turunkan dan jangan ikuti keinginan-keinginan mereka, serta hati-hatilah mereka memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepadamu”. (Al Maaidah: 49)

Tetapi dalam agama demokrasi: Putuskanlah di antara mereka dengan apa yang mereka gulirkan dan ikutilah keinginan mereka serta hati-hatilah kamu menyelisihi apa yang diinginkan rakyat…

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan Dia tidak menyertakan seorangpun dalam hukum-Nya”. (Al Kahfi: 26)

Namun dalam agama demokrasi, bukan sekedar menyekutukan selain Allah dalam hukum, tetapi hak dan wewenang membuat hukum itu secara frontal dirampas secara total dari Allah dan dilimpahkan kepada rakyat (atau wakilnya).

Rakyat atau wakil-wakilnya adalah tuhan dalam agama demokrasi, maka seandainya ada orang yang mau menggulirkan hukum Allah (misalnya sebatas pengharaman khamr atau penegakkan rajam) tentu saja harus disodorkan dahulu kepada DPR untuk dibahas bersama presiden, demi mendapatkan persetujuan bersama. (Betapa mengerikannya hal ini, karena wahyu Allah -Tuhan alam semesta- harus terlebih dahulu mendapat persetujuan makhluk bumi yang hina…ed)

Dalam realitanya pengguliran hukum Allah itu tak mungkin terwujud, karena setiap peraturan tak boleh bertentangan dengan konstitusi negara, yaitu UUD 1945.

Agama demokrasi menjamin bahwa rakyat memiliki hak untuk bebas memilih, bila rakyat memilih kekafiran dan kemusyrikan, maka itulah kebenaran…

Enyahlah ajaran busuk ini dan enyahlah syaithan yang mewahyukannya…!!!

  • NKRI berlandaskan Pancasila

Pancasila -yang notabene hasil pemikiran manusia- adalah dasar negara ini, sehingga para thaghut RI dan aparatnya menyatakan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, dasar negara RI serta sumber kejiwaan masyarakat dan negara RI, bahkan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia dan setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan serta lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah. (Silahkan lihat buku-buku PPKn atau yang sejenisnya).

Jadi dasar negara RI, pandangan hidup dan sumber kejiwaannya bukanlah Laa ilaaha illallaah, tapi falsafah syirik Pancasila thaghutiyyah syaithaniyyah yang digali dari bumi Indonesia bukan dari wahyu samawiy ilahiy.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

Itulah Al Kitab (Al Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi orang-orang yang bertaqwa”.(Al Baqarah: 2)

Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila, pedoman hayati bagi bangsa dan pemerintah Indonesia. (=Inilah Pancasila, tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi bangsa dan pemerintah Indonesia)

Kemudian kami katakan kepada mereka: Inilah Pancasila, sungguh tak ada keraguan, sebagai pedoman kaum musyrikin Indonesia.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

“……..Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia..(Al An’am: 153)

Tapi mereka mengatakan: Inilah Pancasila Sakti, maka hiasilah hidupmu dengan moral Pancasila.

Dalam rangka menjadikan generasi penerus bangsa ini sebagai orang yang Pancasilais (baca: musyrik), para thaghut menjadikan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau Pendidikan Kewarganegaraan atau Tata Negara atau Kewiraan sebagai mata pelajaran bagi para sisiwa atau mata kuliah wajib bagi para mahasiswa. Siapa yang tak lulus dalam matpel atau matkul ini, maka jangan harap dia lulus dari lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Dalam kesempatan ini, marilah kita kupas beberapa butir dari sila-sila Pancasila yang sempat (bertahun-tahun) wajib dihafal, diujikan dan dijadikan materi penataran P4 di era ORBA:

Sila ke-1 Butir ke-2:

Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya. Seandainya ada muslim yang murtad dengan masuk Nasrani, Hindu atau Budha, maka berdasarkan Pancasila itu adalah hak asasinya, kebebasannya, dan tidak ada hukuman baginya, bahkan si pelaku mendapat jaminan perlindungan. Hal ini jelas membuka lebar-lebar pintu kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid, Rasulullah bersabda:

“Siapa yang merubah dien (agama)nya, maka bunuhlah dia” (Muttafaq ‘alaih)

Di sisi lain banyak orang muslim tertipu, karena dengan butir ini mereka merasa dijamin kebebasannya untuk beribadat, mereka berfikir toh bisa adzan, bisa shalat, bisa shaum, bisa zakat, bisa haji, bisa ini bisa itu, padahal kebebasan ini tidak mutlak, kebebasan ini tidak berarti kaum muslimin bisa melaksanakan sepenuhnya ajaran Islam, lihatlah apakah di Indonesia bisa ditegakkan had? Apakah kaum muslimin bebas untuk ikut serta di front jihad manapun? Tentu tidak, karena dibatasi oleh butir Pancasila yang lain.

Sila ke-1 Butir ke-1:

Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang beradab

Ya, beradab menurut ukuran isi otak mereka, bukan beradab sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Contoh: Ada orang yang murtad dari Islam, lalu ada muslim yang menegakkan hukum Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dengan membunuhnya, maka orang yang membunuh demi menegakkan hukum Allah ini jelas akan ditangkap dan dijerat hukum thaghut lalu dijebloskan ke balik jeruji besi.

Berdasarkan butir ini, seorang muslim pun tidak bisa nahyi munkar, contoh: jika seorang muslim melihat syirik –sebagai kemunkaran terbesar- dilakukan, misalnya ada yang menyembah batu atau arca, minta-minta ke kuburan, mempersembahkan sesajen atau tumbal, maka bila ia bertindak dengan mencegahnya atau mengacaukan acara ritual musyrik itu, maka sudah pasti dialah yang ditangkap dan dipenjara (dengan tuduhan mengacaukan keamanan atau merusak program kebudayaan dan pariwisata, ed ), padahal nahyi munkar adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya dalam agama Islam. Lalu apakah arti kebebasan yang disebutkan itu? Bangunlah wahai kaum muslimin, jangan kau terbuai sihir para thaghut…

Sila ke-2 Butir ke-1:

Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara

sesama manusia

Maknanya adalah tidak ada perbedaan di antara mereka dalam status derajat, hak dan kewajiban dengan sebab dien (agama), sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

  • Katakanlah: Tidak sama orang yang buruk dengan orang yang baik, meskipun banyaknya yang buruk menakjubkan kamu”. (Al Maaidah: 100)
  • “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan yang bisa melihat, tidak pula kegelapan dengan cahaya, dan tidak sama pula tempat yang teduh dengan yang panas, serta tidak sama orang-orang yang hidup dengan yang sudah mati”. (Faathir: 19-22)
  • “Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga”. (Al Hasyr: 20)
  • “Maka apakah orang yang mu’min (sama) seperti orang yang fasiq? (tentu) tidaklah sama…” (As Sajdah: 18) (Sedangkan kaum musyrikin dan thaghut Pancasila menyatakan: “Mereka sama…”)

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka apakah Kami menjadikan orang-orang Islam (sama) seperti orang-orang kafir. Mengapa kamu (berbuat demikian): Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu memiliki sebuah Kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu baca, di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?”. (Al Qalam: 35-38)

Sedangkan budak Pancasila menyamakan antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir.

Jika kita bertanya kepada mereka: Apakah kalian mempunyai buku yang kalian pelajari tentang itu?

Mereka menjawab: Ya, tentu kami punya, yaitu buku PPKn dan buku-buku lainnya yang di dalamnya menyebutkan: Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia.

Wahai orang yang berfikir, apakah ini Tauhid atau kekafiran….?

Sila ke-2 Butir ke-2

Saling mencintai sesama manusia

Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu, kaum sekuler, kaum liberal, para demokrat, para quburiyyun, para thaghut dan orang-orang kafir lainnya. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyatakan:

”Engkau tidak akan mendapati orang-orang yang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu adalah ayah-ayah mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau karib kerabat mereka” (Al Mujaadilah: 22).

Pancasila berkata: Haruslah saling mencintai, meskipun dengan orang non muslim (baca: Kafir).

Namun Allah memvonis: Orang yang saling mencintai dengan orang kafir, maka mereka bukan orang Islam, bukan orang yang beriman.

Jadi jelaslah bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mengajarkan Tauhid, sedangkan Pancasila mengajarkan kekafiran. Dia berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai auliya yang mana kalian menjalin kasih sayag terhadap mereka”. (Al Mumtahanah: 1)

“Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian”. (An Nisaa: 101)

Renungilah ayat-ayat suci tersebut dan amati butir Pancasila di atas. Lihatlah, yang satu arahnya ke timur, sedangkan yang satu lagi ke barat.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang ajaran Tauhid yang diserukan oleh para Rasul:

“…Serta tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”. (Al Mumtahanah: 4)

Namun dalam ajaran thaghut Pancasila: Tidak ada permusuhan dan kebencian, tapi harus toleran dan tenggang rasa dengan sesama manusia apapun keyakinannya.

Apakah ini tauhid atau syirik? Ya tauhid, tapi bukan tauhidullah, namun tauhid (penyatuan) kaum musyrikin atau tauhidut thawaaghiit.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah

dan benci karena Allah”.

Namun seseorang yang beriman kepada Pancasila akan mencintai dan membenci atas dasar Pancasila. Dia itu mu’min (beriman), tapi bukan kepada Allah, namun iman kepada thaghut Pancasila. Inilah makna yang hakiki dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun Yang Maha Esa dalam agama Pancasila bukanlah Allah, tapi itulah Garuda Pancasila yang melindungi pemuja batu dan berhala !!!

Enyahlah tuhan esa yang seperti itu…dan enyahlah pemujanya…

Sila ke-3 Butir ke-1

Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan

Inilah yang dinamakan dien (agama) nasionalisme yang juga merupakan salah satu bentuk ajaran syirik, karena menuhankan negara (tanah air). Dalam butir di atas disebutkan bahwa kepentingan nasional harus didahulukan atas kepentingan apapun, termasuk kepentingan golongan (baca: agama). Jika ajaran Tauhid (dien Islam) bertentangan dengan kepentingan syirik dan kekufuran negara, maka Tauhid harus mengalah. Sedangkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

  • “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya”. (Al Hujurat: 1)

  • “Katakanlah: Bila ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, karib kerabat kalian, harta yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah yang engkau sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah….” (At Taubah: 24)

Maka dari itu jika nasionalisme adalah segalanya, maka hukum-hukum yang dibuat dan diterapkan adalah yang disetujui oleh kaum kafir asli dan kaum kafir murtad. Syari’at Islam yang utuh tak mungkin ditegakkan, karena menurut mereka syari’at (hukum) Allah Subhaanahu Wa Ta’ala sangat-sangat menghancurkan tatanan kehidupan yang berdasarkan paham nasionalis.©

Sebenarnya jika setiap butir dari sila-sila Pancasila itu dijabarkan seraya ditimbang dengan Tauhid, tentulah membutuhkan waktu dan lembaran yang banyak. Penjabaran di atas hanyalah sebagian kecil dari bukti kerancuan, kekafiran, kemusyrikan dan kezindiqan Pancasila sebagai hukum buatan manusia yang merasa lebih adil dari Allah. Uraian ini insya Allah telah memenuhi kadar cukup sebagai hujjah bagi para pembangkang dan cahaya bagi yang mengharapkan lagi merindukan hidayah.

Maka setelah mengetahui kekafiran Pancasila ini, apakah mungkin bagi seseorang yang mengaku sebagai muslim masih mau melantunkan lagu: “Garuda Pancasila… akulah pendukungmu… … … sedia berkorban untukmu… …?’ Sungguh, tak ada yang menyanyikannya, kecuali seorang kafir mulhid atau orang jahil yang sesat, yang tidak tahu hakikat Pancasila.

Pembaca sekalian, demikianlah sebagian kecil dari sisi-sisi kekafiran NKRI. Ini hanyalah ringkasan kecil dari kekafiran-kekafiran nyata yang beraneka ragam.

Intinya, jelaslah bahwa Negara dan pemerintahan ini kekafirannya berlipat-lipat. Setiap negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak tunduk pada aturan Allah, maka negara tersebut adalah negara kafir, negara zhalim, negara fasiq dan negara jahiliyyah berdasarkan uraian nash-nash syar’iy di atas. Begitu juga pemerintahnya, karena tidak akan berdiri suatu negara tanpa ada pemerintah pelaksananya. Sehingga wajib atas setiap orang muslim untuk membenci dan memusuhinya serta haram cinta dan loyalitas kepadanya.

Setelah memahami hal ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa TIDAK BENAR memerintahkan kaum muslimin untuk loyal kepada pemerintah semacam ini dengan menggunakan dalil surat An Nisa: 59 tentang kewajiban taat kepada ulul amri, karena ulil amri dalam ayat tersebut adalah “dari kalangan kalian” yang berarti dari kalangan orang-orang yang beriman, sedangkan pemerintahan NKRI ini sudah kita ketahui bahwa mereka BUKAN orang-orang yang beriman, akan tetapi justeru mereka adalah thaghut, orang musyrik, orang-orang kafir lagi murtad, sedangkan orang-orang murtad itu adalah lebih buruk daripada orang kafir asli berdasarkan ijma para ulama. Jadi, jelaslah isi ayat itu tidak sesuai  dengan pemerintah ini.

Akan tetapi yang tepat bagi pemerintah semacam ini adalah:

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”. (At Taubah: 12)

Jadi yang tepat bukan harus ditaati, bukan pula diberi loyalitas, akan tetapi yang semestinya ada adalah sikap qital (perang).

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka bunuhilah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah ditempat-tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (At Taubah: 5)

Jika mereka bertaubat, maksudnya bertaubat dari kemusyrikannya, dari kethaghutannya, dari kekafirannya, mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah mereka jalan dan jangan diganggu. Sedangkan jika pemerintahan ini tidak bertaubat dari kethaghutannya, dari Pancasilanya, dari demokrasinya dan dari kekufuran lainnya, maka mereka masih masuk ke dalam cakupan ayat ini.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan (wali-wali) syaitan itu” (An Nisa: 76)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dalam rangka mengokohkan hukum Allah, menjunjung tinggi ajaran-Nya, sedangkan orang-orang kafir ─yang di antaranya adalah pemerintahan NKRI ini dan ansharnya─ mereka berjuang, berperang, berkiprah dengan segala cara dalam rangka mengokohkan sistem thaghut. Jadi, mereka berperang di jalan thaghut, maka bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin ? Allah menyatakan “sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu”.

Perhatikanlah… mereka bukan ulil amri, akan tetapi mereka adalah wali-wali syaitan yang Allah perintahkan untuk memeranginya.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan perangilah mereka itu, sampai tidak ada fitnah, dan dien (ketundukan) hanya bagi Allah semata” (Al Baqarah: 193)

Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, tidak ada lagi ideologi syirik, tidak ada lagi kekafiran, tidak ada lagi penghalang kepada jalan Allah, tidak ada lagi penindasan terhadap kaum muslimin yang taat kepada Allah… bukan taat kepada Pancasila atau Undang Undang Dasar atau demokrasi, tapi hanya taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selama Ad Dien (ketundukan) belum sepenuhnya kepada Allah, maka al qital (perang) belum berhenti, selama fitnah (bencana) terhadap kaum muslimin yang taat dan berkomitmen dengan ajaran Allah masih dikejar-kejar atau dipersempit hidupnya, masih ditangkapi, dipenjarakan dan masih dibunuhi… maka berarti masih ada fitnah !! Selama kemusyrikan didoktrinkan maka fitnah masih ada. Selama fitnah masih ada maka al qital tidak akan berhenti.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu (dibinasakan)”. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu semata-mata untuk Allah”. (Al Anfal: 38-39)

Jadi, al qital tidak akan berhenti terhadap para penguasa yang menentang aturan Allah, yang menyebar fitnah (bencana) kemusyrikan dan penindasan terhadap kaum muslimin, merampas dan memeras harta kaum muslimin, baik dengan cara kasar maupun halus, maka qital tidak akan berhenti terhadap pemerintah yang seperti ini.

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas dari kamu” (At Taubah: 123)

Perangilah orang-orang yang ada disekitar kamu, yang ada di dekat kamu dan dalam realitanya bukan hanya dekat, akan tapi mereka telah menguasai harta, diri, dan tanah air kita. Merekalah thaghut penguasa negeri ini, merekalah orang-orang kafir itu. Mereka telah sekian lama memerangi, menindas diri dan merampas harta kaum muslimin. Mereka mewajibkan ini dan itu yang bertentangan dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Merekalah orang-rang kafir yang dekat, maka tidak usah jauh-jauh pergi berperang untuk mencari orang kafir, ini yang dekat justeru sudah memusuhi dan memerangi semenjak dahulu. Bahkan para ulama sepakat bahwa memerangi penguasa murtad adalah lebih harus didahulukan memeranginya daripada orang-orang kafir asli, apalagi orang-orang kafir yang jauh…

  1. 6. Hadits ‘Ubadah ibnu Shamit (HR. Bukhari dam Muslim)

«دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه، فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في مَنْشَطِنا ومَكْرَهِنا وعُسْرِنا ويُسْرِنا وأَثَرَةٍ علينا، وأن لا ننازع الأمر أهله، قال: إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان«

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kami, maka kami membai’atnya, maka di antara yang beliau ambil janjinya atas kami adalah kami membai’at(nya) untuk senantiasa mendengar dan taat, saat senang dan saat benci, di waktu sulit dan waktu mudah kami, serta saat kami diperlakukan tidak adil dan agar kami tidak merampas urusan dari yang berhak (penguasa) kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata dengan bukti dari Allah  yang ada pada kalian””

Sedangkan kita sudah banyak melihat bentuk-bentuk kekafiran yang dianut dan masih senantiasa dilakukan penguasa negeri ini, sehingga tidak layak berdalil dengan surat An Nisa: 59 untuk menggelari pemerintah ini sebagai ulil amri, akan tetapi yang tepat adalah ayat-ayat yang baru saja dibahas dan ditambah dengan hadits ini.

Para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak sah untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Bila pemimpin tersebut asalnya muslim kemudian muncul kekafiran darinya, maka wajib untuk mencopotnya dan menggantinya dengan pemimpin yang muslim. Bila tidak mampu mencopotnya karena mereka menggunakan kekuasaan untuk mempertahankannya, maka wajib diperangi.

An Nawawi rahimahullah berkata: “Al Qadli ‘Iyadl berkata: Para ulama telah ijma bahwa kepemimpinan itu tidak sah bagi orang kafir dan bahwa seandainya si pemimpin menjadi kafir maka dia terlengser – sampai ucapannya – Bila muncul darinya kekafiran atau perubahan terhadap syari’at atau bid’ah, maka dia keluar dari statusnya sebagai pemimpin dan gugurlah (kewajiban) taat kepadanya, serta wajib atas kaum muslimin untuk bangkit menentangnya dan mencopotnya serta mengangkat pemimpin yang adil (sebagai pengganti) bila hal itu bisa mereka lakukan. Dan bila hal itu tidak terbukti bisa dilakukan kecuali bagi suatu kelompok maka mereka wajib bangkit menentangnya dan mencopot orang kafir itu, dan tidak wajib mencopot ahli bid’ah kecuali bila mereka memperkirakan mampu menentangnya, namun bila ternyata jelasa bahwa mereka itu tidak mampu, maka tidak wajib bangkit melawannya, dan hendaklah orang muslim hijrah dari negerinya ke negeri yang lain dan lari dengan agamanya.” (Shahih Muslim Bi Syarh An Nawawi 12/229, dari Al ‘Umdah: 489)

Namun dalam relaita zaman ini, kekafirannya bukanlah kekafiran yang bersifat personal, akan tetapi kekafiran yang kolektif dan sistematis, sehingga jika penguasa yang satu mati, maka sistemnya belum mati dan orang-orang setelahnya akan menggantikan dia, karena sistem kafirnya tidak mati dan tetap mengakar.

Tugas kita adalah wajib menggalang kekuatan dengan langkah awalnya adalah mengerahkan segala kemampuan dalam menggencarkan dakwah Tauhid yang berkesinambungan untuk mencabut akar-akar loyalitas terhadap thaghut di tengah masyarakat, sehingga thaghut tidak mempunyai tempat lagi di tengah-tengah masyarakat ini.

Jihad terhadap thaghut ini haruslah menjadi opini kaum muslimin, kaum muslimin harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah ini, sehingga tidak hanya dipikul oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Bukan berarti seluruh kaum muslimin harus terjun dengan menenteng senjata, tapi yang paling penting bagi mereka adalah harus memahami betul bahwa penguasa negeri yang mana mereka hidup di dalamnya adalah penguasa murtad kafir yang tidak boleh diberikan loyalitas, sehingga dengan kesadaran itu lunturlah dukungan kepada para thaghut dan tumbuhlah loyalitas kepada orang-orang yang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila ini terwujud, maka kondisi akan berubah, dukungan kepada thaghut akan berganti dengan penentangan, sehingga mudahlah untuk menjatuhkan para thaghut itu.

BERSABARLAH…!!! Proses ini tidak mudah dan tidak akan terjadi begitu saja, tahap awal yang patut dilakukan adalah memberikan bayan (penjelasan) atau penyampaian risalah tauhid, karena perlu penyadaran terhadap masyarakat tentang kenapa penguasa negeri ini dikatakan sebagai penguasa kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu” (Al Baqarah: 191)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka pernah mengusir kaum muslimin. Rasulullah diperintahkan untuk mengusir orang-orang kafir sebagaimana mereka telah mengusir Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan… para thaghut itu telah mengeluarkan orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam dari jajaran masyarakat dengan cara menanamkan image negatif tentang mereka, memprovokasi, memfitnah dan membodoh-bodohi masyarakat dengan menuduh orang-orang yang bertauhid sebagai orang-orang bodoh, tidak memahami Islam secara utuh, orang yang dangkal pikiran atau orang yang haus dunia dan kekuasaan, maka menjadi wajiblah pula bagi kaum muslimin untuk mencopot para thaghut ini dari benak masyarakat dengan cara menyebarkan ilmu syar’iy, khususnya tentang tauhid dan kewajiban memerangi penguasa semacam itu.

Begitu pula dalam masalah harta, sebagaimana para thaghut itu telah menjauhkan orang-orang berkomitmen dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari harta mereka, bahkan thaghut selalu berupaya mempersulit hidup mereka, maka wajib pula bagi orang-orang yang bertauhid yang komit terhadap ajaran-Nya untuk menjauhkan thaghut dari harta yang mereka miliki, karena sebagian besar harta yang jatuh ke tangan thaghut digunakan untuk mempersenjatai tentara mereka untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan orang-orang Quraiys agar dilanda paceklik, dengan tujuan agar mereka mendapatkan kesusahan sehingga tidak lagi menindas kaum muslimin dan dana yang mereka keluarkan tidak digunakan untuk mendukung hal itu. Maka haramlah atas setiap muslim untuk membayar atau menyerahkan harta kepada penguasa kafir dalam bentuk apapun, kecuali dalam kondisi terdesak atau dipaksa, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al Maaidah: 2)

dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Janganlah kalian menyerahkan harta-harta kalian kepada orang-orang bodoh itu” (An Nisa: 5)

Perhatikanlah… jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang menyerahkan harta kaum muslimin kepada orang-orang yang tidak bisa menggunakan dengan benar, sedangkan bentuk kebodohan yang paling dasyat adalah orang-orang yang tidak suka dengan ajaran tauhid, salah satunya yaitu para thaghut. Allah menyatakan:

“Dan tidak ada yang benci kepada Millah Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri” (Al Baqarah: 130)

Jadi, seharusnya harta yang diambil dari kaum muslimin, mereka pergunakan di jalan Allah, bukan di jalan thaghut yang digunakan untuk memerangi Allah dan kaum muslimin.

Hendaklah diketahui bahwa pemerintahan thaghut ini adalah pemerintahan yang tidak sah, tidak syar’iy, tidak diakui secara Islam. Mereka adalah pemerintah yang memaksakan diri, begitu pula hukum dan undang-undangnya tidak sah, oleh sebab itu kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk taat pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah thaghut ini, bahkan bebas untuk melanggarnya selama memenuhi dua syarat, yaitu: selama tidak melakukan sesuatu yang dilarang syari’at dan selama tidak menzhalimi orang muslim lainnya.

Demikianlah sikap kita kaum muslim terhadap para thaghut penguasa negeri ini, bukan loyal dan taat kepada mereka, tapi ingatlah bahwa kita adalah orang-orang yang ditindas, diperangi dengan berbagai cara: kasar dan halus, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, tapi… sungguh banyak kaum muslimin tidak menyadarinya. Ini karena kebanyakan kaum muslimin belum memahami hakikat Laa ilaaha illallaah. Mereka mengira penguasa negeri ini adalah muslim, karena para thaghutnya itu shalat, shaum, zakat, bahkan haji berkali-kali, padahal penguasa negeri ini telah melanggar hal yang paling penting dan fundamental, yaitu syahadat Laa ilaaha illallaah…

Namun bila ternya kondisi kita lemah dari memerangi mereka, maka kewajiban kita adalah mempersiapkan diri untuk mencapai kadar kemampuan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sebagaimana mempersiapkan diri untuk jihad dengan menyiapkan kekuatan dan kuda-kuda yang ditambatkan itu adalah wajib di saat gugurnya jihad karena kondisi lemah, karena sesungguhnya sesuatu yang mana kewajiban tidak bisa terealisasi kecuali dengan hal itu maka sesungguhnya hal itu adalah wajib.” (Majmu’ Al Fatawa 28/259, dari Al ‘Umdah: 490)

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat serta para pengikutnya sampai hari kiamat. Alhamdulillaahirrabbil’aalamiin…


© Diantaranya adalah: UU No.15 Th. 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Peraturan Pemerintah No.24 Th. 2003 tentang Tata Cara Perlindungan terhadap Saksi, Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim dalam perkara Tindak Pidana Terorisme.(ed.)

© Perhatikanlah, demi Allah pada hakikatnya tak ada kaum nasionalis Islami atau yang sering juga disebut  kaum nasionalis religius, karena Islam tak mengenal cinta negara atau bangsa atau tanah air dengan membabi buta, yang menjadi ukuran cinta dan benci adalah hanya keimanan. Islam mengajarkan bahwa kepentingan agama adalah segalanya, jelaslah tak ada kepentingan yang boleh didahulukan di atas kepentingan agama Allah, apalagi kepentingan negara kafir ini. (ed.)

Filed under: AQIDAH, BANTAHAN, BERITA, FATWA, FIRQAH, JIHAD, MANHAJ, MURJI'AH, SALAFI, SALAFY, SYIRIK, SYUBHAT, TAKFIR, TAUHID, , , , , , ,

57 Responses

  1. ali hasan says:

    jazakumullah Khoiron Katsiro Ustadz, ana copyin artikel2ny, gpp kan

  2. yahya says:

    wah negara indonesia kafir ya ustadz ?
    ustadz sekarang tinggal dimana ?
    sudah hijrah ke negara islam belum ?

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Memang hukum hijrah dari negeri muslim/kafir yang dikuasai oleh orang-orang kafir ke negeri muslim/kafir yang dikuasai oleh kaum muslimin pada saat ini adalah fardhu ‘ain bagi seluruh kaum muslimin… baik mampu maupun tidak mampu… tahu jalan maupun tidak tahu jalan… jika tidak dilakukan maka… menanggung dosa besar…

    Tapi kewajiban itu bisa gugur bagi seseorang… jika dia mampu MENAMPAKKAN DIN/KEYAKINANNYA (IDZAHURUDDIN) dihadapan thaghut khususnya dan umat secara umum… sebagaimana Al Abbas diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak berhijrah ke Madinah karena beliau dapat idzharuddin di Mekkah… walaupun akhirnya dipaksa ikut ke Badar untuk memerangi kaum Muslimin…

    Namu jangan dikira makna idzharuddin disini adalah bolehnya shalat, zakat, puasa dan amalan-amalan lainnya… tidak… tapi idzharuddin itu adalah menampakkan Tauhid serta keberlepasan diri dari syirik dan para pelakunya… dengan istiqamah secara terangan-terangan dan terbuka… kepada ummat/masyarakat… khususnya dihadapan thaghut…

    Blog ini dan dakwah serta kajian rutin secara terbuka yang kami lakukan… insya Allah adalah salah bentuk dari idzharuddin… yang mana kami tentunya tidak boleh dan tidak akan pernah puas dan tenang dengan keadaan seperti ini… mudah-mudahan Allah beri kesabaran kepada kami… dalam meniti jalan ini sampai terbukanya kesempatan bagi kami untuk berjihad memerangi thaghut ini secara terbuka… Ya ALLAH mudahkanlah bagi kami dalam mengusahakan terbukanya kesempatan itu…

    Wallahu A’lam

  3. benar..benar muantab! Kalau ana hijrah dari negeri ini, minimal kenegeri dengan spesifikasi seperti habasyah gimana ustadz.

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Hijrah yang paling utama pada saat ini adalah hijra ke negeri yang sedang berlangsung jihad… silakan antum hijrah ke sana jika mampu dan tahu jalannya… semoga Allah mudahkan…

    Namun jika tidak mampu… sebaiknya antum idzahruddin dan siapkan diri/i’dad (iman & fisik) untuk menyongsong jihad di negeri ini…

    Barakallahu Fik

  4. Abu Musyaffa says:

    Jazakallahu ustadz, kita memang harus memurnikan tauhid kita, mulai dari diri, keluarga, dan masyarakat sekitar kita. Inilah jihad awal kita sebelum memasuki fase jihad berikutnya. Allahu Akbar!!!

  5. PEMBERONTAK SUCI says:

    DEMI TEGAKNYA DIEN ISLAM,…ANA SEBARKAN TULISAN INI,…………..ALLOHU AKBAR,…….

  6. yayatr says:

    Assalamu’alaikum wr wb,sgala puji bagi Alloh Rob semesta alam,rindu rasa nya bila berkumpuldgn saudara2seiman seaqidah,pembicaraan nya hanya keindahan akhirat dan busuk nya maksiat,ditengah semakin tak jelas nya langkah di mana yg dibicarakan hanya perekrutan dan uang,semaentara kualatas ibadah pribadi nya amburadul,alhamdulillah sy di pertemukan dgn situs ini,insya Alloh kajian nya sy copy dan disebarkan tapi rasa nya sy ingin sekali tuk berkumpul dan mengaji di tmpt anda walaupun tak berniat lepas dari shof sy bolehkah?karena iman sy lemah sy butuh pengsibghohan dan butuh teladan yg masih hidup dan sy rasa klw skedar mendengarkan bedah buku kurang cukup.wslmalkm,yayatr pulogadung

  7. abuhadid says:

    @yahya, kalimat antum persis dgn apa yg disampaikan oleh KAUM MUSYRIKIN mekah dahulu, lihat QS.14.13(yang artinya) “Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”…sejarah berulang. tiap generasi akan membawa tokoh figurenya yg mewarisinya. hanya pergantian nama saja, dulu kaum musryikin mekah sekarang ‘yahya’dan sejenisnya. betul begitu wahai @yahya ?

  8. pengen jadi Mujahid says:

    jadi status penduduk RI adalah Musyrikin Ustad..
    karena kekafiran RI telah jelas

    kemudian kalau telah jatuh Hujjah maka disebut kafir secara Mua’yan..

    benar gak ustad..

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Hati-hati antum menyimpulkan… yang dibahas dalam tulisan ini adalah NEGARA/DAULAH (PENGUASA) bukan NEGERI/BALAD (PENDUDUKNYA/PENGHUNINYA)…

    Untuk NKRI sudah jelas adalah negara kafir… tapi penduduknya adalah mayoritas kaum muslimin… atau bisa juga dikatakan negeri kaum muslimin yang berada dalam kekuasaan orang-orang kafir…

    Wallahu A’lam

    Barakallahu Fik

  9. pengen jadi Mujahid says:

    Ustad ana mau ikut barisan ustadz.. harap konfirmasinya

  10. kaskuser says:

    kutip:
    Blog ini dan dakwah serta kajian rutin secara terbuka yang kami lakukan… insya Allah adalah salah bentuk dari idzharuddin… yang mana kami tentunya tidak boleh dan tidak akan pernah puas dan tenang dengan keadaan seperti ini… mudah-mudahan Allah beri kesabaran kepada kami… dalam meniti jalan ini sampai terbukanya kesempatan bagi kami untuk berjihad memerangi thaghut ini secara terbuka… Ya ALLAH mudahkanlah bagi kami dalam mengusahakan terbukanya kesempatan itu…

    “gmn ustadz kalo ada yg nyuri start idzharuddin dgn bom istihad?”oia,bom istihad dinegeri ini gmn ustad hukumnya?”

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Mereka umat yang sudah lalu… yang selangkah lebih maju dalam beramal… amalan mereka untuk mereka… semoga Allah merahmati dan membalas amal shaleh mereka dengan balasan yang sebesar-besarnya… dan mengampuni seluruh dosa-dosanya…

  11. Pikiran Terang says:

    saya ud koment dua kali kok ga bisa-bisa ya..

    kalo ttg status wni bagaimana ustad..

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Untuk WNI atau orang per orang harus dilihat perbuatan dan ucapannya… serta terpenuhinya syarat dan tidak adanya penghalang…

    Silkan antum baca seluruh arikel yang ada di blog ini… khususnya seri materi tauhid… semoga Allah mudahkan untuk bisa memahaminya

    Wallahu A’lam

  12. abu shahlaa says:

    Apakah dan siapakah orang2 fasik itu??

    Sudahkah kita mengikuti METODE DAKWAH sprti yg dicontohkan Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam?? Maupun yg beliau sabdakan tentang realitas zaman skrg,pdahal beliau tdk prnah mengalaminya??

    Apalah artinya andaikata METODE DAKWAH kita memang tdk sejalan dgn yg diuswahkan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam??

    Bidah?
    Bidah mukafiroh?
    Fasik?

    Kita termasuk di dlmnya kah?

    Pemahaman yg benar dlm satu sisi tidak lantas membuat otomatis jalan yg ditempuh jg benar??

    Di dalamnya ada adab2 akhlak yg terpuji yg beliau Shalallahu Alaihi Wassalam uswahkan..

    Apakah antum sudah lakukan..???

    Dan ini inti permasalahanya..

    Sangatlah berat ancaman kpd org2 yg fasik itu..

    Islam itu adlh pertengahan trmasuk dlm keseluruhan perkara..

    Perkara yakhfur biththogut adlh musykila yg HAQ! Tdk berbeda pendpat kita dlm memahaminya..

    Tapi … METODE DAKWAH seharusnya kita mencontoh dr Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasslam.

    Semoga antum mengerti dan memahami apa yg ana maksudkan..selesai.

    Allahu Yussalimukum wa barokallohu fiikum..

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Monggo mas dijelaskan siapakah orang fasik itu…? dan bagaimanakah seharusnya METODE DAKWAH yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam…? mudahan-mudahan kami mendapat pencerahan yang shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih dari antum… sehingga kami bisa melaksanakannya…

    Wa fiikum Barakallah

  13. Newbie says:

    Assalamu’alaikum..
    mohon maaf saya baru belajar dan ingin bertanya ustadz, 1. apakah PNS semisal guru (atau semacamnya yang tidak berkaitan dengan badan2 yang berurusan UU) juga bisa dikategorikan sebagai musyrik/kafir?
    2. boleh tidak, jika menjadi guru PNS dengan tujuan untuk mencerdaskan dan meluruskan aqidah masyarakat?
    3. trus semisal guru PNS sebagai musyrik/kafir, untuk menghindari kemusyrikan/kekafiran apakah harus langsung keluar dari pekerjaan, atau masih diperbolehkan bertahan sebelum ada pekerjaan lain?

    karena banyaknya juga artikel2 yang intinya mengatakan jika kita mengingkari negara yang sah di kategorikan seorang sesat, membuat saya bingung..
    mohon doa dan bimbingannya dalam menemukan jalan kebenaran. Syukron
    Wassalamu’alaikum..

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Admin:

    Wa’alaikumussalam,

    Perlu dicatat dan ditekankan disini kepad anda bahwa dakwah tauhid adalah dakwah untuk menyeru kepada ummat agar kembali kepada tauhid yang murni dan benar sesuai dengan pemahaman salafush shalih… bukan untuk status seseorang saja…

    Adapun tentang pertanyaan anda… silakan baca seri materi tauhid no 14 dan 17 di blog ini… namun sebelum itu saya sarankan sebaiknya baca seluruh isi materi tauhid 1-17 agar pemahamannya tidak sepotong-sepotong dan bisa lebih jelas dan menyeluruh insya Allah…

    Semoga Allah memberikan kemudahan kepada anda untuk dapat memahaminya…

    Barakallahu Fik

  14. Ar-Ribath says:

    Aneh tulisan Aman Abdurrahman ini seolah berbicara UUD atau Pancasila itu dikultuskan dan disucikan oleh rakyat indonesia bak sebuah kitab suci….

    Saya rasa Aman sudah berlebihan, tulisan yang dia buat lebih condong kepada sekedar menggiring opini pribadi dan kelompoknya belaka. Aman sudah berlebihan dan hiperbola dalam masalah undang-undang….

    Seolah Belajar PPKN seperti Belajar Dien…
    Padahal Sudah jelas Pancasila itu tepatnya tidak pernah disakralkan dan dikultuskan seperti pandangan naif dan hiperbola aman abdurrahman

    Pancasila kan jelas-jelas dalam perkembangannya hanya sebagai formalitas belaka, simbol belaka.
    tidak ada orang waras yang mensakralkan apalagi menTuhankan pancasila…itu hanya prasangka hiperbola dan naif dari Aman belaka

    UUD 45 secara naif disamakan seperti ketundukan kepada Al-quran…padahal jelas2 UUD 45 sudah jadi pasal karet yang dipermainkan orang…tidak konsisten orang menjalankannya

    Jika Aturan dan UUD itu disakralkan dan dituhankan, mengapa banyak pelanggaran dan ketidak konsistenan terjadi? mengapa banyak orang yang menginjak2 Undang2 atas dasar kepentingan pribadi dan kelompok…

    ITu bukti bahwa UUD dan pancasila tidak pernah dituhankan bahkan mereka menjadikan semua itu hanya sebagai alat belaka dan formalitas yang menjemukan, yang dari hari kehari orang semakin tidak lagi mengindahkan itu semua…

    Politisi dan orang2 tidak terikat secara mutlak kepada aturan2 tertulis seperti undang2, mereka lebih condong pada pikiran dan kesepatakan yang dibuat antar kelompok, aturan2 itu cuma formalitas belaka yang jika mereka bisa mengakali dan lepas dari ikatannya ya mereka lakukan…perturan manusia itu tidak konsisten dan bisa diakal….

    jadi jauh dari opini hyperbolis Aman bahwa UUD dan Pancasila diTuhankan …jauh sekali…. itu hanya semacam pemaksaan opiini yang hiperbolis belaka berlabel islam

    orang anak2 sekolah saja paling bosan dan jemu dengan PPKN, ga di gubris guru2 ngajar..kok tau2 di pertuhankan aneh betul

    Aman …Aman…

  15. abdul hadi says:

    Allahu Akbar….!!! barakallahu fikum

  16. umarhadid says:

    buat @Yahya
    -Bukankah Rosulullah pada awal-awal dakwah tauhid tinggal di Makkah bahkan selama 40 thn + 13 tahun setelah diangkat menjadi Rosul??. Bukankah Makkah waktu itu masih negeri kafir/musyrik??
    – Bukankah Najasyi tinggal di negeri yang hampir semua penduduknya kafir dan hanya dia saja yang muslim, tetapi Rosul memerintahkan para shahabat untuk hijrah kesana, karena mereka bisa idzharud din di Habasyah??
    lalu apa masalahnya tinggal di negeri kafir, jika kita masih bisa idzharuddien??

  17. Armed says:

    Assalamu’alaikum wr wb….
    sampai kapan kita bertahan dengan situasi seperti ini?
    kenapa kita tidak mencoba memerangi pemerintah yg menggunakan sistim thaghut seperti sekarang ini,
    seperti yg saudara kita lakukan di Afganistan, Irak, Palestina sana?
    tak cukupkah keberanian kita untuk itu?
    bukankah berjuang dijalan yang benar itu Insyaallah menang?

  18. @mas Ribath, lalu kenapa sila satu berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” kok bukan “Tuhan Yang Maha Esa”. Awalan dan akhiran ke-an itu mempunyai beberapa arti di antaranya-menjadi sesuatu sebagaimana kata yang disisipi.Misal kesatuan artinya menjadikan sesuatu itu satu. Jadi kalau Ketuhanan itu artinya……jadi Ust. Aman ndak hiperbolik kok!

  19. NKRI emang sistem kufur dan tidak ada halangan untuk kudeta akan tetapi kita lihat kekuatan kaum muslimin yang yang benar-benar mengerti ini.
    renungkanlah marhalah jihad di bawah ini:
    Pertama: Firman Alloh ta’ala:
    Artinya:”Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am 106). Ini tahapan awal jihad. Tidak diperintahkan untuk berperang karena jumlah masih sedikit dan masih lemah.

    Kedua: Firman Alloh ta’ala:
    Artinya:”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. al-Hajj 39). Ini tahapan kedua ketika ummat islam kuat. Alloh mengizinkan berperang ketika di dzalimi.

    Ketiga: Firman Alloh ta’ala:
    Artinya:”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah, jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Anfal 39) Ini tahapan ketiga. Alloh telah mewajibkan ummat islam untuk berjihad.

  20. abu yusuf says:

    yang namanya ar ribath itu nampaknya seperti orang yang paling pintar ya?ga sadar apa kalo UUD 45 itu dijadikan pedoman untuk membuat banyak hukum oleh DPR kita ini??? dan banyak hukum itu yang bertentangan dengan al quran dan sunnah?semoga antum bisa berfikir..

  21. orang AWAM says:

    @Ribath..: nt ketololan.. nih dikasih jelas sedikit yee… Musyrikin ntu contoh kayak nt.. dibilang ud nyembah berhala juga gak ngaku kayak nt Azzumar :3.. yang parahnye saking butanya kayak nt ud didepan NERAKA juga gak ngaku MUSYRIK

    aL-AN’AAM 22. Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) Kami?.”
    23. Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.”

    KENAPE bisa begitu
    24. Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.

    karena mereka itu BUDEK kayak nt… kalau pun udeh diurai kalau MUSYRIKIN sekarang ntu sama aj ama nyang dulu tetap aj bakal bilang ntu kan cerita untuk orang dulu

    25. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.”

    akibatnye ntu orang kayak nt gak seneng ngeliat kebenaran kayak gini ampe bikin koment ala GOBLOKnya pun dipakai, akhirnye gak berguna PETUNJUK itu sama sekali

    26. Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

    sebelum menyesal sebaiknye nt pelajari lagi benar-benar yah…

    27. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

    tapi inget kalo dasar PENDUSTA dibalikin kebumi pun bakal BEGONO Lagi kayak NT

    28. Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya[466]. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

    SIAPA sih PENDUSTA NTU.. yaa.. kayak NT.. Karena TOLERAN AMA KEKAFIRAN

    Alqolam :8. Maka janganlah kamu ikuti PENDUSTA.
    9. Maka mereka menginginkan supaya kamu TOLERAN lalu mereka TOLERAN (pula kepadamu).

  22. Armed says:

    Kita harus tegas dalam menyatakan sikap,
    yang benar katakan benar, yang salah katakan salah..

    menolak NKRI juga harus terang-terangan,
    tanpa kompromi….

  23. yusuf says:

    assalamualaikum….
    wah ustad bagaimana dengan ketaatan kepada ulil amri anda???….walaupun pemimpin kita taghut kita diwajibkan untk tetap taat. menegakkan syariat agama islam itu harus keseluruhan ustad tidak hanya sebgian saja!! khususnya seperti di indonesia ini. dimulai dari individunya masing-masing terlebih dahulu.lha wong pemikiran anda belum disyariatkan dengan benar menurut alquran dan assunnah koq dengan mudah mentafir. jangan-jangan anda ini teroris khawarij` menghalalkan segala cara untuk mentaqfir.terus nanti anda melakukan pengeboman sana sini.mendukung aksi terorisme.jihad bunuh diri itu sesat ustad. andakan tau hukumnya. anda kan tau orang kafir mana yang harus dimusnahkan orang kafir mana yang harus diperangi. hanya akan menodai kaum muslimin yang bersih saja, mencoreng muka kuam muslimin, oleh anggapan orang2 kafir dan orang awam lainnya.

    dan satu lagi mengenai blog ini. mengapa yang berbicara di blog ini hanya anda saja ustad, mana ustadz yang lain yng mengemukakan pemahaman yang salah itu.

  24. Armed says:

    Kenapa pertanyaan an tidak dijawab?

  25. atik says:

    @Ar ribath,….antum belajar dulu apa yg dimaksud dien itu,baru nanti kasih komentar ust.Amman hafidzahulloh..!

  26. ikhwan biasa says:

    @Ar-Ribath
    coba antum baca tafsir surat (Q.S.9:31) di situ sangat jelas apa yang dimaksud dengan makna MENTUHANKAN…ana berharap antum mebacanya dengan niat yang ikhlas mencari kebenaran dan merendahkan hati antum dalam memahami ayat tersebut…Syukron

  27. Cirankya says:

    MUmet mikiri Negara

  28. ka pirun says:

    atik btw hafidzullah itu gelar baru ya, rosulullah, sahabat, tabiin tabiin ulama ulama salafusholeh ko ga pernah dikasih gelar itu. lo jgn ngada-ngada ya itu bidah tau ga lo. kalo itu bae tentu orang mukmin terdahulu pake gelar itu.
    aman abdurohman nama yg cukup bagus kalo ini benar nama asli,dalam surat annisa ayat 71 gw baca orang beriman disuruh maju ke medan perang secara kelompok maupun bersama-sama. mendingan lo ama kelompok lo yg hebat hebat itu maju man, daripada ngemeng doang man. atau sekalian pimpin revolusi di indonesia ini. gw ikut man. jangan cari aman doang lo, ngomong mulu buku laris bayar zakat ga lo n pajak
    =====================================
    Admin:
    Dari orang yang saya ketahui, baru anda orang pertama yang mengaku kafir dan bangga.
    Ya…. kafir ya… juhal
    hafidzahullah itu doa yang diperuntukkan bagi orang muslim yang masih hidup.
    Ya…. munafik ya… kadzab
    udah pasti elo ga bakalan ikut.

  29. ghulam says:

    kalo taufik blom nyampek ama orang yang gak ngerti ya gak ngrti jugak…..kita hanya bisa memohon pd allah moga umat islam di indonesia ini mendapat taufik dan hidayahNya..amiin..

  30. fajri huda says:

    untuk ar- ribat .
    saya kira sudah jelas pancasila di jadikan dasar negara…..dan dijadikan tolak ukur pembuatan UU Negara di negara kafir ini…bukan masalah pentingnya dan mana ambil pusing terhadap pancasila.yang di maksud saudara abu sulaiman yang saya sayangi disini adalah jika anda melanggar maka UU buatan kaum kafir yang bertolak ukur pada pancasila lah yang menetapkan hukumannya yang pada akibatnya anda lebih takut terhadap hukuman buatan manusia dari pada hukuman Allah Swt ,,,,,,
    maka ada yang lebih DARI ITU selain ketetapan Allah swt. ??????NAUZUBILLAHIMZLK

  31. matabatin says:

    Kami pemuda muslim yg anti dengan kekerasan siap menghadang salabi, salafin n khawarijj yg mengaku sebagai islam yg benar, yg akan membuat rusuh disini…islam tidak butuh kekerasan..islam butuh mujahid yg menyebarkan keindahan islam dgn kedamaian, kesantunan…

    ayat qur’an surat al hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
    blog ini adalah blog setan..makan dari padi yang ditanam petani indonesia..minum dari air yg mengalir dari tanah indonesia..kalau kalian yg mau berbuat onar dinegeri ini..segera tinggalkan negeri ini, cari negara yg menurut kalian benar..
    ==================================
    Admin:
    Kekafiran yang sebenarnya adalah beriman dengan sebagian ayat dan menolak sebagian ayat dari ayat2 Alloh. Beriman kepada ayat2 mutasyabihat tapi menolak ayat2 muhkam. Telah jelas ayat2 perintah u beribadah hanya kepada Alloh, hukum termasuk ibadah, ayat perintah jihad, dll.
    Setan2 makan, minum, hidup di bumi ALLOH tapi tidak suka dengan tegaknya Dienulloh. silahkan anda cari bumi yang lain.

  32. Armed says:

    dari segi perundangan-undangan mungkin memang Indonesia tidak bisa dikatakan negara Islam,
    tapi dari segi hukum positif yg sedikit banyak mengambil dasarnya dari ajaran Islam, tidakkah itu sebagai permulaan yg baik untuk perjuangan kita selanjutnya?
    bukankah segala sesuatunya itu harus secara perlahan, tidak ujug-ujug langsung dirombak total?

    yg lebih penting sekarang adalah bagaimana menyatukan hati kaum muslimin yg mana masih banyak yg tidak peduli dengan masalah ini, sehingga perjuangan ini menjadi lebih mudah…
    toh apa gunanya kita berjuang mati-matian jika umat Islam sendiri tidak mendukung?

    intinya, menurut saya lebih baik jika diskusi ini dilakukan secara langsung, sehingga bisa mengurangi kesalahpahaman dan terhindar dari provokasi pihak yg tidak bertanggungjawab,
    =========================================
    Admin:
    Setiap hukum selain hukum ALLOH adalah hukum thoghut, setiap hukum thoghut adalah negatif tidak ada yang positif. Orang Islam wajib mengikuti sunnah Rasululloh SAW. beliau tidak ikut ke dalam kekafiran quraisy dan merubahnya sedikit2. Tapi Beliau melaksanakan perintah ALLOH SWT. untuk tegas menolak (baca tafsir surat Al Kafirun), berdakwah, hijrah, i’dad dan jihad. Inilah ajaran Islam.
    Diskusi secara langsung sudah berulangkali diadakan,
    Hadakalloh

  33. abu says:

    akhi sekalian, hati2 ! untuk admin uomment seperti yahya dan ar ribat dak bisa delet aja

  34. fajri huda says:

    sedikit pengetahuan
    pancasila buatan nya soekarno
    ingat sejarah,soekarno adalah orang-orang yang berada dalam kebingungan…..milih masyumi atau pki
    eh malah bikin PnI yang menuhankan pancasila tujuannya nyatuin komunis ama islam ….jdi ngapain ikutin orang bingung…
    dasar bodoh gk tau sejarah….yang ikut pancasila berarti orang bingung.

  35. warga NII says:

    yg masih bingung dinegara mana kita hidup silahkan googling ajah mengenai sejarah NKRI dan NII.

    setiap umat akan dipergilirkan kekuasaannya.mungkin selama 60tahunan ini NII telah dijajah NKRI,tapi bukan berarti NKRI akan kekal selama2nya.jangan mendahului hak Allah,Allah lah yg mengusai masa depan bumi dan alam semesta, termasuk NKRI.Orang2 yg masih bingung gak usah ngusir2 kaum muwahid dari NKRI karena NKRI punya Allah.justru yg merasa gak mau diatur dengan hukum Allah(al-quran dan hadist) di bumi ini dan merasa PANCASILA dan UUD 45 lebih bisa mengatur dan mengayomi NKRI yg bhinneka ini, tunggulah sampai futuh NKRI karena kami juga menunggu.

  36. debukuda says:

    pancasila dan UUD 45 ?….selagi masih bikinan manusia peluang kesalahannya adalah sangat besar, sunnguh lain sekali dengan ke-otentikan wahyu dari langit AL-QUR’AN DAN SUNNAH ..wallahua’alam…

  37. Amir says:

    Saya jadi bingung kenapa ya kok kita MUDAH sekali mengafirkan seseorang,memang betul Pancasila,demokrasi,atau sistem apapun menggantikan sisem Allah adalah kufur,APAKAH SEMUANYA DIKAFIRKAN SECARA UMUM ATAU MUTLAK? SAYA BERPENDAPAT HUKUM MENINGGALKAN SHALAT KARENA MALAS ADALAH KUFUR AKBAR DARI 2 PENDAPAT MASYUR TETAPI SAYA ITU NGGAK MENGAFIRKAN MEREKA MEMBABI BUTA TUH YANG MALAS SHALAT WALAUPUN MEREKA SUDAH SAYA NASEHATI. KAN DI INDONESIA BELUM ADA YANG DIAKUI SEBAGAI ULAMA,BAHKAN YANG ADA MUI DI MANA TEMPATNYA BERBAGAI ‘ULAMA’ BERKUMPUL DARI BERBAGAI ALIRAN/ORGANISASI/KELOMPOK TETAPI JUGA TAK MEMFATWAKAN SESAT DAN MENYESAT KEPADA PEMERINTAH APALAGI MENGAFIRKAN PADAHAL SEPERTI LIA EDEN DAN AHMADIYAH SUDAH DIVONIS SESAT DAN MENYESATKAN.APAKAH MEREKA MURJI’AH??!!
    ==============================
    Admin: Anda harus bisa membedakan masalah inti Islam (tauhid), masalah zhohiroh (seperti mengingkari wajibnya sholat, menginjak mushhaf, dll), masalah khofiyyah/samar (seperti Al Qur’an adalah Kalamulloh, ALLOH berada diatas ‘Arsy, dll). Kalau anda sudah mengerti, maka anda akan bisa membedakan antara takfir orang yang melanggar tauhid dengan takfir orang yang melanggar sholat ataupun takfir ahlul bid’ah.
    Orang Islam harus berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih. Apabila orang yang dianggap ulama, mengeluarkan pendapat yang menyelisihi dalil maka tinggalkanlah. Janganlah ta’ashub (taqlid buta).
    Kalau anda adalah orang yang ingin mencari kebenaran (bukan sekedar mencari perdebatan) maka ketika anda akan berkomentar, anda akan terlebih dahulu membaca artikel2 di blog ini, apakah kami mengkafirkan pelaku syirik akbar itu membabi buta atau berdasarkan dalil. Apakah kami mengkafirkan secara mutlak ataukah merinci dengan detail berdasarkan dalil.
    Hadakalloh

  38. Amir says:

    Assalamu ‘alaikum
    Kemarin setelah mengomentari bahkan saya juga sudah membaca sebagian besar artikel ini memang ada benarnya, tetapi saya bilang pada komentar sebelumnya bahwa MUI tak mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan kepada Pemerintah Indonesia,padahal mereka kumpulan ‘ulama’ diakui Indonesia dari berbagai kelompok Islam apalagi mengafirkan saja belum apakah mereka murjiah? Bahkan ada perbedaan pendapat ulama mengenai apakah sudah lansung kafir bila mereka menolak setelah ditegakkan hujjah. Saya kutip salah seorang pengurus MUI Pusat sebenarnya saya(anggota MUI) sudah mendengar tentang surat yang diberikan kepada Presiden,MPR,DPR oleh beberapa kelompok Islam tetapi hal itu tak bisa dijadikan patokan karena kita pun harus tahu siapa mereka. Intinya(menurut anggota MUI) harus terpenuhi syarat-syarat takfir dan siapa yang menjadi hakim yang memvonis kafir tersebut. Kalaupun syarat2 terpenuhi nah yang kedua siapa hakim(ulama) yang menvonisnya,seperti orang meninggalkan shalat karena malas menurut pendapat terkuat kufur akbar tetapi tak setiap orang berhak mengafirkannya. Sekian kutipan anggota MUI. SAYA ITU MERAGUKAN HAKIMNYA YANG MEMVONIS,KECUALI ADA KESEPAKATAN BERSAMA UMAT ISLAM.
    ======================================
    Admin: Wa ‘alaikumussalam wr wb.
    Alhamdulillah, dari sekian orang yang mengaku salafi, anda termasuk orang yang membaca artikel di blog ini sebelum berkomentar.
    Yang menjadi permasalahan disini adalah anda berfikir bahwa yang berhak untuk memvonis kafir hanyalah ulama. Dapatkah anda datangkan dalil dari Al Qur’an, sunnah ataupun ijma yang mengatakan hal itu?
    Akhi… yang berhak memvonis kafir seseorang itu hanyalah ALLOH Subhanahu wa Ta’ala. Dan ALLOH memberitahukan kepada kaum muslimin mengenai sifat2/ciri2 orang kafir (seperti:memposisikan diri mempunyai hak yang merupakan kekhususan ALLOH, menyekutukan ALLOH dalam beribadah, dsb) melalui Al Qur’an dan Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan melalui hadits2nya.
    Akhi… Ketika ALLOH berfirman: Qul yaa ayyuhal kaafiruun…. Apakah perintah ini hanya untuk Rasululloh? Apakah hanya untuk ulama?
    Sebaiknya anda membaca artikel2 seri materi tauhid dari awal hingga akhir. Terutama artikel Takfir Pelaku Syirik Akbar

    http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-10-takfir-pelaku-syirik-akbar/

    Hadakalloh

  39. amir says:

    Assalamu ‘alaikum
    Ya akhi kita sebagai thalibul ilmi seharusnya memahami dasar-dasar ahlus sunnah wal jamaah,jangan kita langsung mengafirkan mereka para pemimpin dan sebagian rakyat. Bukan berati kita murji’ah,masalahnya anta tak memahami maksud ana dan saudara fahrul di komentar Bantahan terhadap Syaikh Al-Albani (Kedua). Karena ana telah banyak bertukar pikiran dg saudara fahrul lewat emailnya. Bahkan ana sudah tahu maksudnya dan ana meragukan ustadz yang pernah menegakkan hujjah kepada Presiden RI ttg wajibnya berhukum Islam dan semacamnya. Maaf ana sebutkan nama Ustadznya yaitu Abu Bakr Ba’asyir(pendiri dan amir Jamaah Ansharut Tauhid) yang pernah datang dan menasehati bahkan mengirim surat kepada Presiden ttg penegakkan syari’at Islam secara kaffah. Beliau(Ustadz Abu Bakr Ba’asyir)memiliki kredibilitas diragukan karena beliau pernah berujar bahwa harus ada bai’at kepada amir jamaah karena tak ada pemimpin Islam ini merupakan bai’at bid’ah. Sedangkan bai’at syat’i afalah kepada penguasa Islam yang menguasai/menstabilkan kekuasaan.
    Bahkan bagaimana bisa menyebutkan bahwa darul Islam harus ada penegakkan syariat Islam keseluruhan,tetapi ada syi’at Islam yang merata di seluruh negeri maka itulah pengertian darul Islam
    Kami para ahlus sunnah wal jamaah atau anda anggap itu sebagai murji’ah(padahal murji’ah memisahkan amal dari iman,sedangkan kami tidaklah). Kami tak langsung mengafirkan para pemimpin karena menurut kami manhaj salaf belum cukup kuat dan merata,apalagi dakwah tauhid harus ditegakkan,kesyirikan dan kebi’ahan harus diberantas dahulu,kemudian masalah siyasah ada waktunya,kita harus melalui beberapa fase temasuk hukumiyah(untuk masalah tak berhukum islam merupakan kufur asghar scara hukum asalnya kecuali khawarij selalu menggap kufur akbar bahkan melemahkan atsar Ibnu Abbas). Apalagi Indonesia telah dikenal ttg kesyirirkan maka pemberantasan harus dimulai dahulu.
    Apa saya harus membuat pembantahan untuk sebagian artikel?
    ========================
    Admin:
    Saya tidak akan banyak berkomentar karena semua syubhat salafiyun irjaiy sudah dibahas tuntas pada artikel2 di blog ini.
    Saya hanya menghimbau bagi para pencari kebenaran agar membaca dengan teliti artikel2 di blog ini, seraya mengharap taufiq & hidayah-Nya.
    Di dalam hukum takfir muayyan pelaku syirik akbar, ada perbedaan antara tegaknya hujjah dengan faham hujjah. Silahkan baca:

    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/06/hukum-takfier-muayyan-dalam-syirik-akbar/

    Kesalahkaprahan pemikiran salafiy irjaiypun sudah dibahas:

    http://millahibrahim.wordpress.com/2010/02/08/salah-kaprah-salafiy-irjaiy/

    Dan artikel2 lainnya.
    Kami ahlus sunnah wal jama’ah di dalam melaksanakan perintah ALLOH Subhanahu wa Ta’ala untuk menegakkan Kalimatulloh dibumi ini adalah dengan semaksimal kemampuan kami. Kami tidak memisahkan antara dakwah dengan siyasah.
    Kalau anda bilang siyasah ada waktunya, maka saya tanya, kapankah waktunya tiba??? Saya rasa waktunya tidak akan pernah tiba untuk orang2 seperti anda karena kalian taat kepada thaghut yang kalian anggap ulil amri. Kalian haramkan jihad tanpa al imam ala a’zhom. Sedangkan sarana menuju al imam al a’zhom yaitu bai’at, kalian tutup rapat2 dengan ungkapan bid’ah.
    hadakalloh

  40. amir says:

    Penjelasan Hai’ah Kibaril Ulama’

    Segala puji hanya milik Allah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya serta orang yang mengikuti jalan beliau. Amma ba’du:

    Majlis Hai’ah Kibaril Ulama’ pada rapat ke-49, yang berlangsung di Taif mulai 2/4/1419 H, telah mempelajari berbagai tragedi yang terjadi di banyak negara-negara islam dan lainnya, yang berupa pengafiran, dan pengeboman, serta kerugian yang ditimbulkan oleh hal tersebut, berupa pembunuhan dan pengrusakan sarana umum.

    Menimbang betapa bahayanya perkara ini, dan akibatnya, yang berupa pembunuhan orang tak bersalah, pengrusakan harta benda yang dilindungi, menimbulkan rasa takut, mengganggu stabilitas keamanan dan kedamaian masyarakat, maka Majelis menganggap perlu untuk mengeluarkan penjelasan tentang hukum tindakan tersebut, dalam rangka menasihati untuk Allah dan untuk hamba-Nya, menunaikan tanggung jawab, menghilangkan kesamar-samaran dalam pemahaman, maka kami katakan -wa billahit taufiq-:

    Pertama:

    Takfir (pengafiran) adalah hukum syar’i, rujukannya adalah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana halnya menghalalkan, mengharamkan dan mewajibkan adalah hak Allah dan Rasul-Nya, demikian pula dengan pengafiran.

    Tidaklah setiap perkataan atau perbuatan yang disifati dengan kekufuran adalah kufur besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Dan karena rujukan hukum pengafiran adalah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh bagi kita untuk mengafirkan, kecuali orang yang jelas-jelas telah dikafirkan oleh Al Quran dan As Sunnah, tidak cukup hanya sekedar syubhat atau prasangka belaka, karena hal ini memiliki konsekuensi hukum yang besar.

    Apabila hukum hudud (pidana) harus dibatalkan dengan sebab adanya syubhat,-walaupun akibatnya lebih ringan dari pada takfir-, maka takfir lebih pantas untuk dibatalkan dengan sebab adanya syubhat.

    Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari menghukumi kafir orang yang bukan kafir, beliau bersabda:

    أيما امرئ قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما إن كان كما قال وإلا رجعت عليه

    “Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya: ‘wahai orang kafir’, maka pengafiran itu pasti mengenai salah seorang dari mereka, jika betul apa yang ia katakan (maka habis perkara-pent) jika tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya.” (HR. Bukhory, pada kitab: Al Adab Bab: “Barang siapa yang mengafirkan saudaranya tanpa ada alasan, maka ia seperti ucapannya sendiri” no: 6104, dan Muslim, pada kitab Al Iman, Bab: “Penjelasan tentang keimanan seseorang yang mengatakan kepada saudaranya orang muslim, wahai orang kafir” no: 60)

    Kadang ada dalam Al Quran dan As Sunnah dalil yang dapat dipahami bahwa perkataan atau perbuatan atau keyakinan tertentu adalah kekafiran, akan tetapi pelakunya tidak kafir dengan sebab adanya penghalang dari pengafiran.

    Hukum ini selayaknya hukum-hukum lainnya, tidak dapat sempurna kecuali jika terpenuhi sebab-sebab dan syarat-syaratnya, serta telah hilang penghalangnya, seperti dalam hukum warisan, sebabnya adalah kekerabatan -sebagai contoh-, kadang kala ia tidak dapat mewarisi, disebabkan adanya penghalang, yaitu perbedaan agama, demikian juga halnya dengan pengafiran, seorang mukmin dipaksa untuk berbuat kekafiran, maka ia tidak kafir karenanya.

    Seorang muslim kadang kala mengucapkan kata-kata kafir, karena hanyut oleh kegembiraannya atau karena marah, atau yang lainnya, maka dia tidak dikafirkan karenanya, karena tidak sengaja mengucapkannya, seperti dalam kisah orang yang mengatakan: “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu, dia salah (ucap) karena sangat gembira.” (HR. Muslim, pada kitab: At Taubah, Bab: “Anjuran untuk bertaubat dan gembira dengan taubat” no: 2747)

    Tergesa-gesa dalam mengafirkan, akan mengakibatkan banyak masalah, seperti penghalalan darah dan harta, mencegah hak warisan, pembatalan pernikahan, dan hukum-hukum lainnya bagi orang murtad. Lalu bagaimana seorang mukmin berani untuk melakukannya, hanya karena ada sedikit syubhat?!

    Dan apabila pengafiran itu ditujukan kepada pemerintah, maka ini lebih dahsyat akibatnya, karena akan mengakibatkan perlawanan, pemberontakan, kekacauan, pertumpahan darah, kerusakan pada masyarakat dan negeri. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk melawan pemerintah, beliau bersabda:

    إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم فيه من الله برهان

    “… kecuali bila kalian telah melihat kekufuran yang nyata, dan kalian memiliki bukti dari Allah.”

    Sabda beliau: “kecuali bila kalian telah melihat kekufuran yang nyata.” memberi faedah bahwa tidak cukup sebagai alasan prasangka dan isu, dan sabda beliau “kekufuran” bahwa tidak cukup sebagai alasan, perbuatan kefasikan -walaupun besar- seperti kezaliman, minum khamar, bermain judi atau mengerjakan yang haram. Dan sabda beliau “yang nyata” bahwa tidak cukup sebagai alasan, kekafiran yang tidak jelas atau nampak. Dan sabda beliau “dan kalian memiliki bukti dari Allah” yaitu harus ada dalil yang jelas, yang shohih, berhubungan langsung dengan permasalahan, sehingga tidak cukup dengan dalil yang lemah dan tidak berhubungan langsung. Dan sabda beliau “dari Allah” menunjukkan bahwa tidak ada artinya perkataan seorang ulama’, bagaimanapun tingkat ilmu dan amanahnya, jika perkataannya itu tidak dilandasi oleh dalil yang jelas dan shohih dari Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketentuan-ketentuan tersebut menunjukkan akan bahayanya perkara ini.

    Kesimpulannya: tergesa-gesa dalam mengafirkan sangat besar bahayanya, karena firman Allah ta’ala:

    قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُون

    “Katakanlah sesungguhnya Rabbku mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan permusuhan tanpa kebenaran, dan untuk kamu berbuat syirik kepada Allah yang tidak pernah diturunkan keterangan padanya, serta untuk kamu berkata atas nama Allah dengan apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-A’raaf: 33)

    Kedua:

    Akibat yang dihasilkan oleh keyakinan menyeleweng ini, berupa penghalalan darah, pelecehan kehormatan, perampasan harta benda, baik milik perorangan atau umum, peledakan pemukiman dan kendaraan, pengrusakan sarana umum, seluruh perbuatan ini dan sejenisnya seluruh kaum muslimin sepakat akan keharamannya dalam syariat. Karena semuanya mengandung pengrusakan harta benda, mengganggu stabilitas keamanan, dan kehidupan masyarakat yang damai dan tenteram, serta pengrusakan sarana umum, yang dibutuhkan oleh setiap orang.

    Islam telah melindungi harta, kehormatan, dan badan kaum muslimin, serta mengharamkan untuk dilanggar, dan sangat menekankan akan keharamannya, bahkan wasiat akhir yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu haji wada’, beliau bersabda:

    فإن دماءكم وأموالكم عليكم حران كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا إلى يوم تلقون ربكم ألا هل بلَّغت؟ قالوا: نعم، قال: اللهم اشهد. متفق عليه

    “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram di antara kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini, dan di tempat ini,” kemudian beliau bersabda: “Apakah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Ya Allah saksikanlah.” (Telah lalu takhrij hadits ini)

    Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    كل المسلم على المسلم حرام ماله وعرضه ودمه

    “Setiap orang muslim diharamkan atas muslim yang lainnya, darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim pada kitab Al Birru was Shilah, Bab: “Keharaman menzalimi seorang muslim dan meremehkannya” no: 2564)

    Dan beliau juga bersabda:

    اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة

    “Hati-hatilah kalian dari kezaliman karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim pada kitab Al Birru was Shilah, Bab: “Keharaman menzalimi seorang muslim dan meremehkannya” no: 2578)

    Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah mengancam orang yang membunuh jiwa yang dilindungi dengan seberat-berat ancaman, Allah berfirman tentang perbuatan membunuh seorang mukmin:

    وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

    “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam dia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya serta melaknatnya dan Dia menyediakan baginya adzab yang pedih.” (Qs. An-Nisa’: 93)

    Dan Allah berfirman tentang perbuatan membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan orang muslim, yang dilakukan dengan tidak sengaja:

    فَإِنْ كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنُُ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

    “Jika yang terbunuh itu dari orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kalian maka si pembunuh itu membayar diyah kepada keluarga yang terbunuh itu dan memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.” (Qs. An-nisa’: 92)

    Apabila seorang kafir yang memiliki perjanjian damai bila dibunuh dengan tidak sengaja, si pembunuh harus membayar diyah dan kafarohnya, maka bagaimana halnya jika dia dibunuh dengan sengaja? maka kejahatannya lebih besar dan dosanya lebih berat.

    Dalam hadits shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau pernah bersabda:

    من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة

    “Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki jaminan keamanan, maka dia tidak akan dapat mencium bau surga.” (HR. Bukhory pada kitab: Al Jizyah, Bab: “Dosa pembunuh orang kafir yang memiliki jaminan keamanan dengan tanpa alasan” no: 3166)

    Ketiga:

    Sesungguhnya Majelis, di samping menjelaskan hukum mengafirkan manusia tanpa bukti dari Al Quran dan As Sunnah dan bahaya mengucapkan hal ini, dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, berupa kejelekan dan pengaruh buruk, Majelis juga menyatakan kepada dunia internasional, bahwa agama Islam berlepas diri dari ideologi menyeleweng ini, dan tragedi yang terjadi di sebagian negara, berupa penumpahan darah orang-orang yang tak berdosa, peledakan rumah-rumah, kendaraan, prasarana umum dan perorangan, serta pengrusakan kantor instansi pemerintahan, adalah perbuatan jahat dan islam berlepas diri darinya.

    Demikian pula setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, berlepas diri darinya dan sesungguhnya tindakan tersebut adalah perbuatan orang yang telah menyimpang pemikirannya, yang sesat akidahnya, sehingga hanya dialah yang menanggung dosa dan kejahatannya. Tindakannya tidak bisa anggap bagian dari ajaran agama Islam, dan juga tidak dapat dinisbatkan kepada kaum muslimin yang menjalankan ajaran Islam, yang berpegang dengan Al Quran dan As Sunnah. Tindakan tersebut murni sebagai tindak pengrusakan dan kejahatan yang ditentang oleh syariat islam dan fitrah. Oleh karena itu banyak dalil-dalil syariat yang mengharamkannya dan memperingatkan kita dari berkawan dengan pelakunya.

    Allah berfirman:

    وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَافِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي اْلأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ

    “Dan di antara sebagian manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dia persaksikan kepada Allah atas kebenaran isi hatinya padahal dia penentang yang sangat keras, dan apabila dia berpaling dia berjalan di atas bumi dengan membuat kerusakan di dalamnya dan membinasakan tanaman serta hewan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (Qs. Al Baqoroh: 204-206)

    Dan yang wajib dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada, adalah saling nasihat-menasihati dengan kebenaran, bahu membahu di atas kebaikan, ketakwaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara yang bijak, pelajaran yang baik, dan diskusi yang kondusif, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    “Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 2)

    Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ

    “Dan orang-orang beriman yang laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya, merekalah yang mendapat rahmat Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah: 71)

    Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    َالْعَصْرِ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

    “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Qs. Al Ashr: 1-3)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الدين النصيحة. قلنا: لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

    “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) berkata: “Untuk siapa ya Rasulullah?” beliau bersabda: “Untuk Allah, kitab, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin -secara umum-.” (Telah lalu takhrij hadits ini)

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    مثل المؤنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

    “Permisalan kaum mukminin dalam sikap cinta mencintai, kasih mengasihi dan persatuan mereka, bagaikan satu tubuh, jika salah satu organnya mengeluh sakit, niscaya seluruhnya turut demam dan gelisah.” (Telah lalu takhrij hadits ini). Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali.

    Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia agar menjaga seluruh kaum muslimin dari kejelekan, dan menunjukkan semua pemimpin kaum muslimin kepada setiap hal yang mendatangkan kebaikan bagi rakyat dan negara, dan semoga Allah menghancurkan kerusakan dan pelakunya. Dan semoga Allah menolong agama dan meninggikan kalimat-Nya, serta memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada, dan menolong kebenaran dengan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong dan Yang Kuasa atasnya. Sholawat dan salam semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

    Hai’ah Kibaril Ulama’

    Ketua Majlis:

    Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.

    Anggota:

    1. Muhammad bin Ibrahim bin Jubair.

    2. Rasyid bin Sholeh bin Khunain.

    3. Sholeh bin Muhammad Al Luhaidan.

    4. Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan.

    5. Abdullah bin Abdir Rahman Al Ghudaiyyan.

    6. Abdullah bin Sulaiman Al Mani’.

    7. Hasan bin Ja’far Al ‘Atmy.

    8. Abdullah bin Abdir Rahman Al Bassam.

    9. Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin.

    10. Muhammad bin Abdillah As Subaiyyil.

    11. Nashir bin Hamad Ar Rasyid.

    12. Abdil Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syeikh.

    13. Abdur Rahman bin Hamzah Al Marzuqy.

    14. Muhammad bin Sulaiman Al Badr.

    15. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Alus Syeikh.

    16. Dr. Bakr bin Abdillah Abu Zaid.

    17. Muhammad bin Zaid Al Sulaiman.

    18. Dr. Abdullah bin Abdil Muhsin At Turky.

    19. Dr. Sholeh bin Abdir Rahman Al Athram.

    20. Dr. Abdul Wahhab bin Ibrahim Abu Sulaiman.
    =============================
    Admin:
    Kembali saya tidak banyak berkomentar. Karena jika saya jawab, maka kalian akan memfitnah saya dengan ucapan: “siapa kamu berani menjawab /membantah Hai’ah Kibaril Ulama’?” walaupun yang saya bawakan hanyalah dalil & penjelasan ulama salaf.
    Masalah ini sudah terjawab tuntas pada artikel2 di blog ini.
    Hadakalloh

  41. umarhadid says:

    @Amir:
    Menurut antum Lia Eden kafir atau masih muslim??
    (Kalau berdasar keterangan antum diatas,dia belum kafir karena MUI hanya mengatakan dia sesat dan menyesatkan bukan kafir, apakah begitu?).
    Lalu ana bertanya :
    – Pernahkah MUI sepanjang berdirinya menghukumi Kafir secara muayyan kepada seseorang?
    – MUI dibentuk tahun 1975, berarti sebelum itu tidak mungkin ada orang bisa dihukumi kafir secara muayyan di Indonesia ya?

  42. fickar says:

    assalamu’alaikum,,@yang nulis artikel

    yaudah yang bisa diperbuat untuk Indonesia apa dnk,,perbaiki,,jgn bilang kafir2 melulu ,,ga selesai urusan,,

    apa dengan bilang kafir urusan jadi selesai,,?
    ======================
    Admin:
    Wa ‘alaikumussalam, apakah anda kira kami hanya bilang kafir2 saja??? Jelas anda berkomentar tanpa membaca terlebih dahulu isi artikel ini dan artikel2 lainnya di blog ini. Yang kami lakukan adalah menjelaskan kekafiran sistem, kekafiran dari para pengusung sistem tersebut, dan yang lainnya. Kami jelaskan berdasarkan dalil dan sesuai dengan realita yang ada. Kami lakukan ini adalah agar kita semua mengetahuinya, memahaminya, menjauhi & berlepas diri darinya (kekafiran & kesyirikan), beribadah hanya kepada ALLOH Subhanahu wa Ta’ala. Bagi para pengusungnya & pembelanya agar bertaubat, kembali kepada Islam. Inilah dakwah ilalloh yang kami lakukan untuk Islam & kaum muslimin terutama di negara Indonesia ini.
    Hadakalloh

  43. zaid says:

    kenapa para murji’i suka masuk ke situs2 yg berbeda pendapat dengannya, dan kemudian mencelanya ya…???? apa yg diajarkan mereka seprti itu ya????

  44. Amir says:

    Assalamu ‘alaikum
    @Amir:
    Menurut antum Lia Eden kafir atau masih muslim??
    (Kalau berdasar keterangan antum diatas,dia belum kafir karena MUI hanya mengatakan dia sesat dan menyesatkan bukan kafir, apakah begitu?).
    Lalu ana bertanya :
    – Pernahkah MUI sepanjang berdirinya menghukumi Kafir secara muayyan kepada seseorang?
    – MUI dibentuk tahun 1975, berarti sebelum itu tidak mungkin ada orang bisa dihukumi kafir secara muayyan di Indonesia ya?

    Assalamu ‘alaikum
    Anda mengatakan seolah-olah diri anda seorang ulama,siapa yang bilang diri anda seorang ulama?
    Malah dari semua tulisan bisa dibantah tuh. Dan dari pernyataan anta sendiri seolah-olah anta seorang berilmu dan berhak mengafirkan orang lain. Akhi kami pernah bertemu anggota JIL padahal dia punya pemikiran kafir,tetapi kami belum bisa mengafirkan karena kami bukan seorang ulama.

  45. Lezard Valeth says:

    ^ Karena mereka itu khawarij.

  46. umarhadid says:

    Amir says:
    26 June 2010 at 15:06
    “Anda mengatakan seolah-olah diri anda seorang ulama,siapa yang bilang diri anda seorang ulama?”

    Answer : Lha malah tanya, bukankah anda yang barusan mengatakan saya ‘seolah-olah seorang ulama’??!.
    Lagipula mana perkataan saya yang menunjukkan”seolah-olah diri saya seorang ulama’?”
    ” Qul haatu burhaanakum, in kuntum shoodiqiin..”

    Amir says : “Malah dari semua tulisan bisa dibantah tuh.”
    Answer : Alhamdulillah, ana tunggu bantahannya (jawaban pertanyaannya).

    ” liyahlaka man halaka ‘an bayyinah, wa yahya man hayya ‘an bayyinah…”

  47. intifadhah says:

    mereka semua adalah kafir mu’ayan saudaraku…!!!!

  48. hmmm says:

    yg ditanya lia eden bkn jil, klo lompat jgn jauh2

  49. Amir says:

    Assalamu’alaikum
    Saya hanya ingin memberitahukan bahwa:
    Fatwa syaikhul islam mengenai negeri maridin.

    Negeri maridin adalah negeri islam yang dikuasai oleh orang kafir namun mereka membiarkan kaum muslimin memperlihatkan syi’ar-syi’ar agama islam di sana seperti sebuah negeri islam yang terkenal di Turki dan dikuasai oleh Al Aratiqah selama tiga abad kemudian dikuasai oleh Tartar namun mereka membiarkan kaum muslimin dihukumi oleh Al Aratiqah.

    Syaikhul islam berkata mengenai negeri tersebut,” Adapun apakah negeri mereka itu negeri perang (kafir) atau negeri islam maka ia terdiri dari dua makna, tidak sama dengan negeri islam yang berjalan padanya hukum-hukum islam, tidak pula sama dengan negeri kafir yang penduduknya orang-orang kafir, namun ia adalah macam yang ketiga dimana orang islam di dalamnya di perlakukan sesuai dengan porsinya, dan orang yang keluar dari syari’at islam diperangi sesuai dengan porsinya juga.”[20]

    Syaikhul islam tidak mengkafirkan pemerintah negeri maridin tidak juga tentaranya padahal mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dan menolong mereka atas kaum muslimin, karena belum terwujudnya illat (alasan) hukum untuk dikafirkan yaitu ridla kepada agama orang-orang kafir itu dan membela mereka karena agama tersebut, dan ini sama keadaannya dengan kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang telah kita sebutkan.

    Maka cobalah renungkan perkataan-perkataan ulama islam tersebut, mereka sangat berhati-hati untuk memvonis kafir, tidak ada yang berani dan tergesa-gesa kecuali mereka yang sedikit ilmu dan wara’nya. Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan kebenaran dan memberi taufiq kepada pemerintah kita untuk berpegang kepada syari’at islam yang mulia ini, Amin.
    [20] Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 28/241.

  50. Aditya says:

    Kalau saya lihat tulisan-tulisan ini berarti seharusnya kafirnya diperinci,saya heran kok bisa dikafirkan ya penguasa itu,apa gak lihat realitanya dahulu ya?
    ================================
    Admin:
    memang sulit kalau hanya lihat2 tulisan dari judulnya saja. Coba anda baca isi dari tulisan2 di blog ini secara keseluruhan. Ada rincian2 kekafiran. Ada pula dalil2 mengapa penguasa itu dikafirkan sesuai realita.
    Hadakalloh

  51. pertama says:

    @admin.. tolong ditanggapi komentar dari Amir.
    makasih

  52. Abu Tarno says:

    Ana setuju bgt dgn yg antum paparkan… Memang demikianlah seharusnya ketundukan seorang hamba pada Khaliqnya. Tunduk setunduk-tunduknya… sami’na wa atokna.. Sangat sedikit ustadz yg berani mengatakan haq adalah haq.. Ayo ustadz.. ana mendukungmu…

  53. Ochan says:

    @amir. Saya bantu admin jawab terhadap amir.
    Kamu nukil ucapan syaikhul islam terus menyimpulkan kesimpulan yg tidak ada kaitan sama sekali dgn ucapan beliau.
    Amir, mana ucapan ibnu taimiyyah yg menyatakan bahwa beliau tidak kafirkan orang2 yg memberikan loyalitas kepada orang2 kafir dan menolong mereka atas muslimin?
    Ibnu taimiyyah hanya bicara bahwa masyarakat muslim yg negerinya dikuasai orang kafir adalah tetap diperlakukan sebagai muslim..sedang orang yg murtad adalah diperlakukan sebagai murtad.

    Adapun syarat yg kamu katakan bahwa yg loyal kepada kaum kafir dan membantu mereka atas kaum muslimin adalah tidak dikafirkan kecuali kalau ridla kepada agama mereka, maka ini adalah pemahaman jahmiyyah yg sesat yg banyak dianut oleh kaum salafi maz’um masa sekarang, seperti kamu. Di mana segala kekafiran selalu disyaratkan keyakinan hati.
    Jauhi salah kaprah salapi!

  54. ramb says:

    merekA gak suka disebut salafi maz’um jadi sebut saja salafi jahiliyah karena mereka memang ngikut paham abu lahab abu jahal. abu lahab abu jahal kan orang salaf (Orang dulu)jadi saran saya mereka gak usah ditanggapi..

  55. pras says:

    admin menulis:
    Hati-hati antum menyimpulkan… yang dibahas dalam tulisan ini adalah NEGARA/DAULAH (PENGUASA) bukan NEGERI/BALAD (PENDUDUKNYA/PENGHUNINYA)…

    Untuk NKRI sudah jelas adalah negara kafir… tapi penduduknya adalah mayoritas kaum muslimin… atau bisa juga dikatakan negeri kaum muslimin yang berada dalam kekuasaan orang-orang kafir…

    tanggapan:
    Dari pemikiran diatas sama saja dengan pemikiran takfir tapi muncul dengan prinsip baru sperti tawaqquf atau tabayun yakni mereka tidak mau menyatakan keislaman atau kekafiran seseorang dari kaum muslimin kecuali setelah tabayun mendapat kejelasan dan membuktikannya. Sebab taqawuff utk tidak menyatakan keislamannya seorang muslim berarti menolak keislamannya sampai dapat dibuktikan. Secara tidak langsung sama artinya kafir tdk langsung.

    berarti penduduk NKRI/Balad adalah kafir tidak langsung lalu apa bedanya dengan pemikiran takfir ?

    ======================
    Admin:

    Anda tidak mengerti maksud tulisan, tapi sudah anda simpulkan & bantah!

    Manhaj ahlussunnah wal jama’ah adalah tidak mengeluarkan seorang muslim pun dari islam kecuali telah jelas diketahui pembatal darinya.
    Jadi seorang yang mengaku & berpenampilan muslim, maka dia kita hukumi sebagai muslim, kecuali jika nampak darinya pembatal keislaman.

    Pahamkah kau?

  56. sigit says:

    @adimin
    ya akhi ….. tetap tegarlah janganlah kita bersedih dengan ucapan para pembela thogut. Jalan yang hak dan yang batil jelas berbeda. mereka hendak memadamkan cahaya alloh dengan mulut dan ucapan mereka, mereka membodohi kaum muslimin mereka mengaku orang alim dengan maksud untuk mengkaburkan yng hak. ingatlah seburuk buruk suara dalah suara khimar, walaupun beda jamaah, mudah mudahan alloh suatu saat mempertemukan kita dalam rahmatnya
    @matabatin
    ucapanmu sungguh kelewat batas, pertanggungjawabkanlah nanti di akhirat, setiap kali para penghancur thogut membaca tulisanmu mereka akan mengutukmu termasuk aku.

  57. yahya says:
    10 February 2010 at 16:49

    wah negara indonesia kafir ya ustadz ?
    ustadz sekarang tinggal dimana ?
    sudah hijrah ke negara islam belum ?

    _______

    saya bukan admin, tapi saya perlau untuk menjawabnya jawab
    1.ya, jelas kafir
    karena TIDAK berpedoman kpd AL-Qur’an dan Sunnah Rasul
    tapi diganti dg undang2 bikinan manusia
    pancasial, uud 1945, KUHP dll
    2.kita semua adalah ustad, admin termasuk ete sendiri tinggal di sebuah plenat yg bernama bumi
    bumi ini milik ALLAH, bukan milinya burung garuda
    bumi ini ciptaan ALLAH, bukan ciptaan burung garuda
    manusia cuma numpang hidup sebentar dan nanti pasi akan mati dan masuk kubur
    jadi sbg calon mayat dusah seharusnya tunduk dan patuh kpd hukum/aturan ALLAH
    bukan tunduk dan patuh kpd pancasial, uud 1945, KUHP, undang2 dll
    3.hijrah ke negara ISLAM
    kalo mampu silahkan
    kalo pun masih menetap, harus istiqomah menjaga TAUHID
    agar jangan sampe ikut2-an syirik

    tapi sebaliknya ustad Aman justru dipenjara
    pelacur dipelihara,
    koruptor dipotong masa tahannya
    orang bebuat syirik dipersilahkan, alasannya melesarikan budaya neek moyang dll

    jelas NKRI negara kafir bin syirik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Millahibrahim Islamic Calendar Widget

Infaq


Bantulah Dakwah Tauhid Dengan Infaq Anda, Karena Selain Untuk Blog Ini, Infaq Anda Untuk Kebutuhan Dakwah Tauhid.

ad

Tulisan Terakhir

Statistik Kunjungan

  • 1,337,484 kunjungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 365 other followers

%d bloggers like this: